Share

Ditinggal lagi?

Penulis: Olivia
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-10 22:48:20

Mila melangkah cepat keluar dari gedung kantor sore itu. Tasnya nyaris terlepas dari bahu karena gerakannya yang tergesa-gesa. Ia bahkan lupa berpamitan dengan beberapa rekan yang biasanya selalu ia sapa. Kepalanya terasa penuh, dadanya sesak, dan perutnya kembali bergejolak tidak nyaman.

“Tenang, Mila… tenang,” gumamnya pada diri sendiri sambil mengenakan helm.

Namun pikirannya tidak bisa diam. Sejak siang tadi, rasa mual itu datang dan pergi, yang ia bisa pikirkan adalah kemungkinan paling te
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Mau Dekat?

    “Kalau ku bantu sekarang, besok pagi nggak ada jatah.” Dengan nada mengejek Sevi membuat Arlan cemberut lucu.Setelah mandi air hangat yang meredakan lelah, Arlan dan Sevi keluar kamar mandi dengan piyama couple yang pernah mereka beli beberapa waktu lalu, warna lembut dengan motif sederhana yang entah kenapa terasa jauh lebih nyaman malam itu.Mereka duduk bersandar di kepala ranjang, masih membahas pernikahan Mila.“Miko kelihatan nggak berhenti senyum,” kata Sevi pelan.“Dia emang nunggu hari itu lama,” jawab Arlan.Sevi mengangguk. “Aku senang banget lihat mereka.”Tak lama kemudian, kalimatnya terputus. Napasnya melambat.Ia tertidur di pelukan Arlan.Arlan menatap wajahnya beberapa detik, mengusap pelan rambut yang jatuh di dahi Sevi, sebelum akhirnya ikut memejamkan mata.\\\Minggu pagi datang tanpa alarm.Cahaya matahari masuk melalui tirai tipis apartemen. Hari libur terasa lebih ringan, meski sore nanti Arlan masih harus menghadiri meeting di luar kantor.Mereka tidak terb

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Mau Nyoba?

    Di penghujung acara, suasana mulai lengang. Lampu-lampu aula masih menyala hangat, namun sebagian tamu sudah berpamitan. Mila dan Miko berdiri berdampingan di dekat pelaminan, wajah keduanya lelah tapi bahagia. Sevi memeluk Mila erat. “Selamat ya,” bisiknya tulus. Mila membalas pelukan itu lebih lama dari biasanya. “Kamu jangan pulang dulu,” katanya setengah manja. “Nginep aja.” Sevi tertawa pelan. “Mulai malam ini kamu bukan punya aku lagi.” Mila cemberut kecil, masih enggan melepas. Di belakang mereka, Miko dan Arlan saling bertukar pandang sebelum kompak menarik pasangan masing-masing dengan lembut. “Udah, istri saya,” ujar Miko pelan pada Mila. “Iya, calon istri saya juga capek,” timpal Arlan santai. Drama kecil itu berakhir dengan tawa. Sevi dan Arlan lalu berpamitan pada orang tua Mila dan Miko, mengucapkan selamat sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan gedung. \\\ Di dalam mobil, keheningan terasa nyaman. Sevi duduk di kursi penumpang, kepa

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Nikah

    Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Pagi itu rumah Mila sudah ramai sejak subuh. Keluarga, perias, tim dokumentasi, dan beberapa kerabat dekat hilir mudik memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Sevi sudah berada di sana sejak malam sebelumnya. Ia memang “dipaksa” menginap oleh Mila, alasannya sederhana, Mila tidak mau sendirian menghadapi hari sebesar ini.Semalaman mereka hampir tidak tidur.Mila lebih banyak diam, menatap langit-langit kamar.“Aku deg-degan,” bisiknya pelan.Sevi menggenggam tangannya. “Wajar. Tapi kamu nggak sendiri.”Ia tahu, di balik senyum dan kesiapan Mila, ada campuran rasa haru, gugup, dan tanggung jawab besar. Bukan hanya menjadi istri, tapi juga calon ibu.Arlan sempat bersikeras ingin ikut menginap, namun Sevi langsung menolak mentah-mentah.“Fokus saja jadi tamu rapi besok,” katanya tegas.Akhirnya mereka hanya sempat video call sebelum tidur. Arlan menggoda, Sevi pura-pura galak, tapi di ujungnya sama-sama tersenyum.Menjelang pagi, Mila sudah duduk

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Undangan

    Hari-hari menjelang pernikahan terasa berjalan cepat.Mila kini jauh lebih terbiasa dengan kehamilannya. Mual pagi sudah jarang datang, tubuhnya mulai beradaptasi, dan yang paling terasa adalah sikap Miko yang semakin protektif. Setiap langkahnya diawasi, setiap makanan diperhatikan, setiap jadwal diatur agar Mila tidak kelelahan.Awalnya Mila sempat protes.“Aku hamil, bukan sakit,” katanya suatu malam.Namun Miko hanya menjawab singkat, “Kamu bawa dua nyawa sekarang. Biar aku yang ribet.”Dan sejak itu, Mila berhenti berdebat.Undangan sudah selesai disebar kemarin. Lusa adalah hari pernikahan mereka.Mila sebenarnya ingin sederhana saja. Akad, makan bersama keluarga dekat, selesai. Tapi kenyataannya berbeda. Ia dan Miko sama-sama anak tunggal. Kedua orang tua mereka seperti menemukan proyek hidup baru dalam pesta ini.Daftar tamu terus bertambah.Dari pihak mamanya Mila, dari orang tua Miko, relasi bisnis, teman lama, kerabat jauh yang bahkan Mila nyaris lupa wajahnya.“Apa nggak k

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Tobat kah?

    Suasana kafe kembali hening setelah Alya duduk lagi.Arlan masih terlihat waspada. Tatapannya tidak lagi setegang beberapa menit lalu, tapi tetap menyimpan jarak. Sevi bisa merasakan itu dari cara jemarinya menggenggam gelas kopi dengan kencang.“Aku tahu kamu masih nggak percaya sama aku,” ucap Alya pelan, menatap Arlan tanpa defensif.Arlan tidak menyangkal. “Aku cuma nggak mau ada masalah lagi.”“Enggak bakal,” jawab Alya cepat, lalu melembut. “Aku janji. Aku udah capek bikin hidup orang lain berantakan… termasuk hidupku sendiri.”Sevi memperhatikan wajah wanita di depannya. Tidak ada lagi sorot ambisi yang dulu terasa tajam. Yang ada hanya lelah.“Aku kira dulu aku cinta,” lanjut Alya lirih. “Tapi mungkin caraku salah. Kalau emang cinta itu benar, harusnya dia nggak maksa. Nggak merusak.”Arlan terdiam.Alya tersenyum kecil, getir namun tenang. “Mungkin memang jodoh nggak akan mempertemukan kita dengan cinta yang salah.”Kalimat itu membuat Sevi menatapnya lebih lama.“Sekarang ak

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Alya Bebas?

    Pagi itu berjalan pelan, hangat, dan terlalu nyaman untuk menjalankan hari. Arlan bangun lebih dulu. Cahaya matahari tipis menyusup dari celah tirai hotel, membias lembut di atas seprai putih yang kusut. Ia menoleh ke samping.Sevi masih tertidur, rambutnya berantakan, sebagian menutup pipi, sebagian lagi terurai di bantal. Bekas-bekas 'kegiatan' semalam tergambar jelas di lehernya yang samar memerah.Arlan tersenyum kecil.Tangannya terangkat, mengelus rambut Sevi pelan. Ujung jarinya menyibak helaian yang menutupi wajah sang wanita.Sevi menggeliat pelan.“Hmm…” gumamnya.Arlan menunduk, mengecup keningnya ringan. “Bangun, calon istriku.”Sevi membuka satu mata, lalu yang satunya lagi. Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangkat tangan dan memeluk tubuh Arlan yang setengah duduk.“Manja sekali calon istriku ini ya?” goda Arlan.“Biarin,” jawab Sevi dengan suara serak khas bangun tidur.Ia menyusupkan wajahnya ke dada Arlan, memeluk lebih erat.Arlan terkekeh. “Kalau kayak gini ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status