LOGINSevi dengan sigap merebahkan dirinya, sedangkan Arlan langsung melucuti semua yang Sevi kenakan saat ini. Arlan menatap penuh puja oleh pemandangan Sevi yang tanpa busana, gerakan tangan Sevi yang menutupi area intim ya malu-malu membuat Arlan semakin gemas.“Ngapain ditutupin gitu?” Tanyanya sambil menciumi seluruh badan Sevi.“Umm, ge-geli sayang.”Tak butuh waktu lama, Sevi menggeliat pelan dan merasakan bawahnya sudah terasa basah. Kejantanan yang sedari itu tegak, kini sudah menggesek pelan pada labia, mencari titik enak Sevi yang katanya sekecil kacang tanah. Tangan kirinya ikut mengelus bagian enak Sevi, sedangkan satunya memijat dada secara bergantian.“Di-disitu sayang.. Enak banget,” racau Sevi.Semakin Sevi meracau dan mendesah, Arlan begitu semangat menggerakkan pinggulnya ke depan belakang. Yang di dalam semakin mengetat, tanda akan dekat untuk mengeluarkan cairan kenikmatan. Sedangkan Arlan yang merasa terjepit membuatnya semakin mengerutkan kening dan langsung mencabu
Acara berjalan dengan khidmat. Semua orang tampak larut dalam suasana hangat yang tercipta. Percakapan berlangsung dengan sopan, diselingi senyum dan anggukan dari masing-masing pihak keluarga. Namun di balik itu, ada dua orang yang tidak sepenuhnya menikmati momen tersebut.Arlan masih terlihat sedikit cemberut. Wajahnya tenang, tetapi jelas ada rasa tidak puas yang ia sembunyikan. Baginya, keputusan menunda hingga pertengahan bulan keenam terasa terlalu lama.Sementara itu, Sevi duduk di sampingnya dengan pikiran yang justru tidak kalah sibuk. Ucapan tentang “balak” tadi terus terngiang di kepalanya. Ia berusaha fokus, namun bayangan-bayangan kecil tetap muncul tanpa diminta.Di luar mereka berdua, suasana justru terasa lega.Orang tua, keluarga, bahkan para saudara yang hadir terlihat bahagia. Obrolan tentang rencana ke depan mulai mengalir, disambung dengan tawa ringan dan candaan khas keluarga.Setelah sesi utama selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan sederhan
“Si sekretaris Arlan nggak buat ulah lagi kan?”Suara Mama Arlan terdengar pelan namun penuh kehati-hatian. Tangannya masih sibuk merapikan salah satu bingkisan terakhir, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya ada di sana.Sevi yang duduk di sampingnya tersenyum tipis.“Aman, Ma. Akhir-akhir ini balik kayak dulu.”Mama Arlan mengangguk pelan, meski keraguan masih tersisa di wajahnya.“Bagus deh…” gumamnya. “Waktu kamu cerita kemarin, Mama agak khawatir… sama was-was juga sama dia. Padahal Mama juga nggak tahu orangnya yang mana. Tapi kayak…”Kalimat itu menggantung.Seolah ada firasat yang sulit dijelaskan.Tiba-tiba, dari belakang, Arlan datang dan langsung memeluk pundak mamanya dengan manja.“Tenang, Ma,” ucapnya lembut. “Percayain semua ke Arlan sama Sevi.”Mama sedikit terkejut, namun tangannya refleks mengelus lengan Arlan.“Arlan juga jaga jarak. Apapun kegiatan di luar kantor, pasti Arlan libatin Sevi,” lanjutnya.Mama menoleh, menatap anaknya lebih dalam.“Iya… Mama paham,”
Hari berganti hari tanpa terasa. Waktu yang sempat terasa lambat kini justru berjalan cepat, seolah semua hal sedang bergerak menuju satu titik yang sama. Hingga akhirnya, hari yang dinanti itu benar-benar tiba.Sore itu, setelah pulang kerja, Sevi dan Arlan tidak banyak membuang waktu. Keduanya langsung bersiap menuju rumah utama Arlan. Beberapa tas sudah disiapkan, berisi pakaian dan perlengkapan yang akan mereka bawa ke Lembang keesokan harinya.Suasana kontrakan Sevi terasa sedikit berbeda. Ada kesibukan kecil, namun di balik itu terselip rasa antusias yang sulit disembunyikan.“Mandinya nanti aja di rumah Mama, sayang,” ucap Arlan sambil memasukkan barang ke dalam tas.Sevi yang sedang berdiri di depan cermin hanya mengangguk.“Iya, ini cuma cuci muka aja.”Ia lalu menoleh sedikit.“Itu tas yang di atas meja rias aku kamu bawa nggak?”Arlan berhenti sebentar, berpikir.“Iya, satu kan?”“Iya... Udah di mobil kok.”Sevi mengangguk puas.“Terus tas baju udah di bagasi kan?”“Udah, a
Sepulang dari kantor, suasana di kontrakan Sevi terasa jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada beban pikiran yang menggantung, tidak ada rasa was-was yang mengganggu. Hari itu berjalan begitu mulus hingga Sevi sendiri merasa ingin menikmati momen kecil yang sering terlewat.Tanpa banyak kata, ia sudah duduk di pangkuan Arlan di sofa ruang tengah. Televisi menyala, namun tidak benar-benar mereka tonton. Fokus mereka sepenuhnya ada satu sama lain.Sevi bersandar, tubuhnya rileks. Tangannya melingkar di leher Arlan, sementara wajahnya perlahan mendekat. Ia mengusap pelan leher Arlan, menikmati kehangatan yang terasa familiar.Arlan tidak menolak. Justru tangannya refleks memeluk pinggang Sevi, menahan tubuh itu agar tidak menjauh.Beberapa detik terasa tenang.Namun Sevi, dengan sifat jahilnya, tidak berhenti sampai di situ. Ia mencium leher Arlan pelan, lalu dengan sengaja mengusik lebih jauh.Sevi menjilat pelan hingga tubuh Arlan menegang seketika, lalu wajahnya be
Di sisi lain, Arlan masih tidak menyadari apa pun. Ia berdiri di depan mejanya, merapikan beberapa dokumen yang tadi sempat ia tinggalkan. Tangannya bergerak cepat, teratur, tanpa beban. Sesekali ia menghela napas ringan, seperti seseorang yang baru saja melewati sesuatu yang melelahkan dan akhirnya menemukan jeda. Hari ini… terasa berbeda.Bukan karena ada sesuatu yang terjadi. Justru karena tidak ada apa-apa.Ia melirik layar komputernya sekali lagi, memastikan tidak ada pekerjaan yang tertinggal. Setelah itu, ia berdiri, merapikan kemeja di bagian lengan, lalu berjalan keluar dari ruangannya.Langkahnya ringan.Lebih ringan dari beberapa hari terakhir.“Pagi,” sapa Arlan kepada salah satu staf yang berpapasan.“Pagi, Pak,” jawab staf itu sambil sedikit menunduk.Arlan mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya.Semua terlihat biasa.Normal.Seperti hari-hari sebelum semua kekacauan itu muncul. Namun ketika ia melewati meja Sonya, langkahnya sempat terhenti. “Dokumen tadi su
Rapat besar mengenai varian susu baru akhirnya usai. Semua karyawan bubar dengan ekspresi puas, membawa harapan baru untuk produk vanilla creamy yang digadang-gadang akan menyaingi susu murni andalan perusahaan.Namun, Arlan justru tidak ikut merasakan semangat itu. Begitu kembali ke ruangannya, ia
Hidup Sevi sempat terasa tenang. Setelah ia dan Arlan sepakat untuk backstreet, ia merasa bisa bernapas lega. Desas-desus yang kemarin sempat menggerogoti pikirannya perlahan mereda, bahkan nyaris hilang. Di kantor, semua tampak normal. Tidak ada lagi bisik-bisik yang menyebut namanya bersama Arlan
Mobil Arlan berhenti tepat di depan kontrakan kecil itu. Nafasnya masih terengah, tangannya bergetar ketika ia mematikan mesin. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju pintu, menekan angka-angka pada gembok digital yang sudah diingatnya dari kunjungan sebelumnya.Pintu terbuka dengan bunyi kl
Kedatangan Alya ke kantor telah mengubah banyak hal. Sevi merasakannya jelas, meski tidak ada yang mengatakannya langsung. Dua hari terakhir, Arlan tidak lagi sama. Tidak ada lagi pesan singkat di pagi hari yang biasanya membuat Sevi tersenyum, menanyakan apakah ia sudah sarapan atau bagaimana kon







