Home / Romansa / Bos, Jangan di Sini! / Lega dan.. Ekhem

Share

Lega dan.. Ekhem

Author: Olivia
last update publish date: 2025-12-05 23:51:27

Klinik terasa lebih sepi daripada biasanya. Udara dinginnya menggigit, namun bagi Sevi, ada sesuatu yang lain yang membuat tubuhnya kaku, ketakutan yang sejak semalam menggerogoti ketenangannya.

Arlan berdiri sangat dekat, bahkan terlalu dekat, seolah takut jika Sevi menjauh satu langkah saja, ia akan kembali menghilang dari genggamannya. Sikapnya bukan sekadar proteksi, ini nyata akan kekhawatiran yang menutup seluruh ruang di antara mereka.

Dokter Alvaro memeriksa catatannya. “Baik, sebelum k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Jujur Janggal

    Pagi itu dimulai lebih cepat dari biasanya. Jam masih menunjukkan pukul lima lewat sedikit, suasana rumah masih sunyi, bahkan udara terasa lebih dingin dari biasanya.Arlan dan Sevi sudah duduk di meja makan bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Mama Arlan sudah berdiri di dapur sejak tadi.“Aduh, Mama nggak sempat masak yang berat,” gumamnya sambil meletakkan dua piring roti panggang di meja. “Yang biasa masak belum datang jam segini.”Sevi langsung menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Ma. Ini juga udah cukup banget.”Arlan menarik kursi dan duduk. “Iya, Ma. Kita juga cuma butuh ganjel perut.”Mama tersenyum kecil, lalu menuangkan susu ke dalam gelas.“Yang penting jangan sampai berangkat kosong.”Sevi mengangguk. “Iya, Ma.”Mereka bertiga makan dalam suasana yang tenang. Tidak banyak percakapan, hanya suara kecil sendok dan gelas yang sesekali terdengar.Papa Arlan belum bangun. Rumah masih terasa seperti setengah terjaga.Setelah selesai, Sevi segera membereskan sedikit piringnya.

  • Bos, Jangan di Sini!   Nah kan Kepikiran

    “Itu sekretarisnya Arlan… suka centil ke Arlan. Males banget.”Hening.Satu detik.Dua detik.Lalu..Tatapan tajam langsung mengarah ke Arlan.Mata mama mendelik. Papa ikut menoleh perlahan.Arlan yang awalnya santai langsung terdiam. Gelas air di tangannya menggantung di udara, belum sempat ia teguk.“Bukan..” ia mencoba membuka suara.Namun mama sudah lebih dulu memotong. “Arlan.” Nada suaranya berubah menjadi dingin. “Ini maksudnya apa?”Sevi hanya melipat tangan, bersandar kembali ke sofa. Wajahnya tenang, tapi matanya jelas menunggu jawaban. Arlan menelan ludah. Situasi yang tadi hangat, seketika berubah.Ia menarik napas.“Ma… Pa… ini nggak seperti yang kedengarannya kok,” ucapnya pelan.Papa menyandarkan tubuhnya ke depan, mengubah posisi duduk. Kedua tangannya bertumpu di paha, dagunya ditopang jemari.“Ya terus seperti apa?” tanyanya datar.Arlan mengusap tengkuknya.“Itu… Sonya, sekretaris aku… dia memang akhir-akhir ini agak..”“Agak apa?” potong mama.Arlan diam sejenak, m

  • Bos, Jangan di Sini!   Ngadu ke Mama

    “Mandi bareng? Sekalian mandiin bawah, hehehe.”Arlan langsung berdiri dengan semangat, seolah lupa kalau beberapa jam lalu ia masih meracau karena demam. Tanpa menunggu jawaban, ia sudah melangkah cepat ke arah kamar mandi.Sevi hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkahnya.“Kok bisa ya…” gumamnya sambil bangkit perlahan. “Orang yang tadi pagi ngeluh panas, sekarang malah semangat banget mandi bareng.”Ia menggeleng kecil, namun senyumnya tidak hilang.Tak lama kemudian, suara air terdengar dari dalam kamar mandi, diiringi sesekali suara Arlan yang memanggil.“Sev! Lama banget!”“Iya, sabar!” balas Sevi.Begitu masuk, suasana berubah menjadi lebih ringan. Candaan kecil, percikan air, dan tawa. Bukan Arlan namanya kalau tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Beberapa kali ketika ia membantu Sevi menyabuni punggungnya, tangannya bergerak kedepan dan meremas dada bulat Sevi."“Uhh, Lan... ja-jangan disitu.”Bukannya berhenti, kedua jari Arlan menjepit ujung dada Sevi yang kini ke

  • Bos, Jangan di Sini!   Rencana

    Di sisi lain kota, suasana jauh berbeda.Sonya berdiri di tengah lorong supermarket dengan napas tersengal. Tangannya gemetar, matanya memerah, dan dadanya naik turun tidak teratur.Ia baru saja mematikan telepon.Sepihak.Namun bukan itu yang membuatnya kehilangan kendali. Kata-kata Arlan. Nada suaranya. Dan… suara Sevi di belakangnya.“Istri saya udah siap sedia di samping.”Kalimat itu seperti terus terngiang. Menghantam. Mengulang. Tanpa henti.“Sevi sialan…!” suara Sonya tiba-tiba meledak.Beberapa orang langsung menoleh. Namun Sonya tidak peduli.“Sevi sialan… Sevi sialan…!”Ia menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali.Keras.Emosinya meluap tanpa bisa ia tahan. Seolah semua kontrol yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja.“Kenapa sih selalu dia?!”Seorang ibu menarik anaknya menjauh. Beberapa orang mulai berbisik. Satpam yang berjaga segera mendekat.“Kak… kak, tenang dulu ya,” ucapnya hati-hati.Sonya menatapnya dengan mata tajam. Namun beberapa detik kemudian, ia te

  • Bos, Jangan di Sini!   Terganggu

    Pagi ini Sevi terbangun bukan karena alarm, atau karena cahaya matahari yang menembus tirai, melainkan karena sesuatu yang hangat menyentuh pipinya.Hangat… lama kelamaan terasa panas.Alisnya sedikit mengernyit sebelum akhirnya membuka mata perlahan.Pandangan pertamanya langsung jatuh pada wajah Arlan yang berada sangat dekat di hadapannya.“Lan…?” suaranya masih serak karena baru bangun.Namun tidak ada jawaban. Sebaliknya, Arlan justru meracau pelan.“Panas…”Sevi langsung terbangun sepenuhnya. Tangannya dengan cepat menyentuh dahi Arlan.Panas.Bahkan lebih panas dari yang ia kira.Tubuh Arlan sedikit menggigil, meskipun keringat sudah membasahi pelipisnya.Sevi segera bangkit sedikit, meraih remote AC dan mematikannya. Setelah itu, ia menarik selimut lebih rapat menutupi tubuh Arlan.Namun tiba-tiba...Arlan terbangun.Gerakannya agak kasar, napasnya berat.“Panas… tapi dingin…” gumamnya, menggeleng pelan dengan bingung.Sevi langsung kembali masuk ke dalam selimut, mendekatkan

  • Bos, Jangan di Sini!   Mau Udahan atau Lanjut?

    “Sev… aku...”“Kamu pikir aku marah karena siapa yang di mobil kamu?”Sevi menggeleng pelan. “Bukan itu.”Arlan menatapnya bingung.“Terus…?”Sevi tertawa kecil. Pahit. “Aku marah karena kamu bikin aku ngerasa… harus nebak.”Hening.“Kamu nutup telepon kayak lagi nyembunyiin sesuatu.”Arlan menggeleng cepat. “Nggak, aku cuma...”“Kamu bisa bilang, Lan,” potong Sevi. “Kamu bisa bilang ‘aku lagi nganter Sonya’. Sesederhana itu loh.”Arlan terdiam.“Kamu tahu aku nggak akan marah karena itu.” Sevi menarik tangannya perlahan.Namun Arlan menahannya.“Tapi kamu pilih buat nutup telepon.” Suaranya melemah. “Itu yang bikin capek.”Arlan menunduk. Tubuhnya gemetar. “Aku… takut kamu salah paham…”Sevi menghela napas. “Dan yang kamu lakukan justru bikin aku salah paham.”Arlan terdiam lagi.Semua yang ia pikirkan sebagai ‘melindungi’… justru berubah menjadi luka kecil yang menumpuk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.Suaranya bergetar. “Aku… bodoh ya…”Sevi tidak menjawab. Arlan kembali b

  • Bos, Jangan di Sini!   Titik Terendah

    Pagi itu, bahkan matahari pun terasa enggan naik.Awan menggantung berat, sama seperti perasaan Arlan sejak beberapa minggu terakhir. Ruang kerjanya sunyi, hanya ada tumpukan berkas, laptop yang masih menyala sejak subuh, dan kopi dingin yang bahkan tak sempat ia minum.Arlan menatap layar di depan

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Bos, Jangan di Sini!   Yang Menenangkan

    Bau mie instan yang pekat masih memenuhi udara kontrakan itu, bercampur dengan aroma bawang goreng dan uap panas yang belum sempat menguap. Namun perhatian Sevi teralih seluruhnya ketika wajah Arlan muncul di ambang pintu dengan wajah emosi yang masih menempel kuat… dan lebam ungu besar di pipi kir

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Bos, Jangan di Sini!   Rapat Penuh Perasaan

    Arlan memulai presentasinya dengan napas yang tertata. Suaranya terdengar stabil, walau di dadanya banyak hal berdesakan kenangan, penyesalan, dan secercah keteguhan yang baru ia temukan beberapa waktu terakhir.“Produk ini… sebenarnya sudah kami rancang jauh sebelum semua masalah terjadi. Ini adal

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Bos, Jangan di Sini!   Kabar dari Dokter

    Lorong kantor yang setengah gelap itu dipenuhi udara dingin dari AC. Suasananya hening, sampai Sevi merasa ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri ketika dokter itu berdiri di depannya.Dokter Alvaro menatap Sevi dengan lembut, sama seperti dulu saat ia masih terjebak dalam lingkaran rasa sakit

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status