Mag-log inDentum suara musik gym dan aroma samar disinfektan bercampur keringat langsung menyambut Sonya begitu ia mendorong pintu kaca gym. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat, dan area olahraga itu sudah jauh lebih lengang dibanding biasanya.Sonya mengembuskan napas panjang. Bahunya yang kaku karena seharian mengetik draf proyek susu kemasan perlahan mulai mengendur. Matanya otomatis mengedar, memindai area treadmill hingga rak dumbbell. Nihil.Sampai akhirnya, langkah Sonya terhenti di dekat meja resepsionis. Sosok tinggi tegap dengan kaus polo hitam khas trainer sedang berdiri membelakanginya, sibuk merapikan beberapa berkas jadwal member.“Mas Bima,” panggil Sonya, suaranya agak pelan namun berhasil membuat pria itu menoleh cepat.Bima sempat tertegun sesaat melihat siapa yang datang. “Eh, Sonya? Tumben jam segini baru dateng?”Sonya hanya tersenyum tipis, senyum yang terlihat lebih lelah dari biasanya. Ia berjalan mendekat lalu menyandarkan pinggulnya ke tepian meja resepsi
“Kita akan merger dengan lini bisnis baru saya di Malang. Mulai bulan depan, semua jalur distribusi produk susu kemasan mereka ada di bawah kendali penuh tim kamu, Arlan.”Arlan yang baru saja hendak meneguk air putih langsung tersedak.Ia menatap Om Wijaya dengan mata membelalak, mengabaikan beberapa kepala divisi yang langsung saling lirik dengan wajah tegang.“Tunggu, Om,” potong Arlan cepat sambil menyeka bibirnya dengan tisu. “Sejak kapan Om punya perusahaan susu? Bukannya fokus perusahaan om dari dulu cuma di properti dan logistik?”Om Wijaya terkekeh hambar, suara tawanya terdengar mendominasi ruang rapat yang dingin itu. “Bisnis itu soal mencium peluang, Arlan. Jangan kaku. Industri dairy lagi naik daun, dan saya baru saja mengakuisisi pabrik pengolahan susu segar terbesar di sana. Masalahnya, manajemen lama mereka sampah! Makanya, saya mau kamu yang pegang kendali mutlak untuk pemasarannya.”Buntalan berkas tebal setebal kamus dilemparkan ke tengah meja dengan suara berdebu
Langkah kaki Arlan terdengar tergesa-gesa menyusuri koridor lantai utama kantornya. Di belakangnya, Sonya berjalan setengah berlari sambil mendekap beberapa map tebal dan sebuah tablet yang terus menyala menampilkan grafik saham. Suasana kantor pagi itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi obrolan santai di dekat mesin kopi atau tawa renyah karyawan di bilik kubikal. Semua orang tampak tegang.Penyebabnya karena kedatangan om Wijaya, paman Arlan yang juga merupakan salah satu taipan properti terbesar di negeri ini. Setelah negosiasi panjang selama hampir tiga bulan, beliau akhirnya resmi menyuntikkan dana segar dalam jumlah fantastis ke perusahaan Arlan.Bagi perusahaan, ini adalah lompatan besar. Namun bagi Arlan, ini berarti mulainya masa-masa "purgatori". Om Wijaya terkenal sebagai investor yang perfeksionis, bertangan besi, dan tidak mentoleransi keterlambatan barang sedetik pun.“Jadwal rapat dengan tim legal jam berapa, Son?” tanya Arlan tanpa menoleh
Malam itu gym sudah jauh lebih sepi. Lampu bagian bawah sebagian dimatikan, hanya menyisakan beberapa titik cahaya di area resepsionis dan ruang kerja trainer.Bima duduk selonjoran di ruangannya sambil memainkan botol air mineral yang sudah hampir kosong. Pikirannya masih penuh oleh Sonya.Tentang siapa perempuan itu sebenarnya dan gosip yang ia dengar. Serta tentang dirinya sendiri yang mulai nyaman.Ponselnya sedari tadi terbuka pada chat Arlan. Awalnya ia ragu ingin cerita, namun akhirnya jemarinya bergerak juga. “Lan, lu pernah curiga gak sih sama Sonya?”Tak butuh waktu lama, balasan masuk. “Kenapa emang?”Bima menghela napas panjang sebelum akhirnya menelepon langsung.Beberapa detik kemudian sambungan tersambung.“Kenapa?” suara Arlan terdengar lelah di seberang sana.“Santai dulu dengerinnya.”“Jadi takut.”Bima tertawa hambar. “Kayaknya gue suka sama Sonya.”Hening.Lalu, “Hah?”“Jangan hah doang bangsat.”Arlan langsung duduk tegak di sofa apartemennya. Sevi yang sedang r
Suasana gym siang itu cukup ramai dibanding biasanya. Suara musik terdengar samar dari speaker atas, bercampur dengan suara alat-alat gym dan obrolan para member yang saling menyapa.Bima berdiri di lantai dua dekat pagar pembatas, tangannya sibuk mencatat progres beberapa member di tablet miliknya. Sesekali ia memperhatikan ke bawah untuk memastikan semuanya aman.Tatapannya lalu berhenti pada rombongan Arlan dan Sevi yang baru masuk bersama Miko dan istrinya. Senyum kecil langsung muncul di wajahnya.“Rame banget bawa pasukan,” gumamnya pelan.Ia melihat Sevi tertawa kecil karena Arlan yang masih mengeluh pegal. Tangannya bahkan tidak lepas dari pinggang Sevi sedari masuk tadi, seolah takut wanita itu jatuh.Entah kenapa dada Bima terasa aneh melihat itu, seperti rasa lega yang bercampur sesak tipis. Ternyata Sevi benar-benar bahagia.Bima menghela napas pelan lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri.“Yaudah lah,” batinnya. “Emang harusnya gini kok.”Ia akhirnya turun menghampiri
Pagi itu suasana rumah utama terasa jauh lebih hangat dibanding semalam. Matahari masuk lewat jendela ruang makan, menimpa meja kayu panjang yang penuh dengan sarapan sederhana. Ada bubur ayam, telur dadar, roti panggang, dan teh hangat yang masih mengepul.Mama memang belum benar-benar pulih, wajahnya masih sedikit pucat, namun setidaknya pagi ini beliau sudah bisa duduk sendiri di kursi makan tanpa harus dipapah Papa. Dan itu sudah cukup membuat Arlan kembali hidup.“Ma, nanti kalau badanku udah gede kayak bima, Mama jangan kaget ya kalau aku tiba-tiba jadi atlet.”“Yang ada kamu encok duluan,” sahut Papa santai sambil menyeruput teh.Sevi menahan tawa kecil melihat Arlan yang langsung manyun.“Papa nggak supportif banget sih.”“Mama dukung kok,” ucap Mama sambil tersenyum tipis. “Asal habis olahraga nggak ngeluh badan sakit lagi.”Arlan langsung menunjuk Sevi. “Nih ya Ma, saksi hidup. Semalam aku turun kasur aja bunyi ‘krek’.”“Padahal yang paling heboh ngeluh siapa coba,” balas Se
Udara siang itu terasa berbeda. Hangat, namun tidak menyengat. Matahari bersinar cerah, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa. Angin berembus perlahan, menyapu dedaunan di halaman rumah Sevi, membawa aroma tanah basah dan bunga segar yang sejak pagi dirangkai dengan penuh ketelatenan.Mobil y
Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s
Bermaksud atau tidak,” sela Mila, “hasilnya sama.”Sevi menunduk. “Aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu.” “Maaf?” Mila tersenyum miring. “Kamu selalu punya kata itu.” “Mila,” suara Sevi bergetar. “Aku nggak merebut siapa pun.” “Ya,” balas Mila dingin. “Karena dari awal dia milik kamu, kan.”
Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p







