Share

Tanggung Jawab

Penulis: Olivia
last update Tanggal publikasi: 2026-01-29 23:59:53

Miko berdiri lebih dulu. Ia meraih jaketnya, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Tidak ada lagi kecanggungan seperti sebelumnya, hanya sisa lelah dan perasaan yang akhirnya menemukan tempatnya masing-masing.

“Aku pulang dulu,” ucapnya pelan.

Sevi mengangguk. “Hati-hati di jalan.”

Mila berdiri ikut mengantar. “Aku masih harus lanjutin laporan,” katanya singkat pada Sevi dan Arlan.

Arlan hanya mengangguk, ekspresinya tenang. Ia lalu menoleh ke Sevi yang masih berdiri di dekat pintu.

“Kamu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Wiwik Syarief
aku g suka karakter si mila..kyk gmnaaa gitu yaaa dg teman koq gituu
goodnovel comment avatar
Rahma Dani
kelanjutanya cuma satu bab aja ni kak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bos, Jangan di Sini!   Bimbang

    Bima seharusnya sudah berada di penginapan satu jam yang lalu, setidaknya itu rencana awalnya. Setelah berpisah dengan Arlan dan Sevi, ia memang sempat mengarahkan mobil menuju tempat menginapnya. Namun semakin jauh ia berkendara, semakin sulit pikirannya untuk tenang.Terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu malam. Dan fakta bahwa ia kini tidak lagi bisa menyangkal perasaannya sendiri. Semua bercampur menjadi satu.Akhirnya, tanpa sadar, ia membelokkan mobil ke arah lain. Menjauh dari pusat kota dan menuju kawasan perbukitan yang beberapa kali direkomendasikan warga sekitar.Bukit Bintang, nama itu sempat ia dengar dari pemilik warung beberapa hari lalu.Tempat untuk melihat lampu kota dari ketinggian, beberapa orang datang untuk menikmati malam. Tempat untuk sekadar duduk dan berpikir. Di malam itu, mungkin memang hanya itu yang dibutuhkan Bima, tempat untuk berpikirUdara semakin dingin seiring mobilnya menanjak. Di kanan kiri jalan mulai terlihat warung-warung sederhana yang mas

  • Bos, Jangan di Sini!   Mabuk

    Perjalanan kembali ke hotel berlangsung tenang. Arlan lebih banyak diam selama di dalam mobil. Kepalanya bersandar ke sandaran kursi, sesekali memejamkan mata lalu membukanya lagi. Ia tidak benar-benar mabuk sampai kehilangan kesadaran, tetapi cukup untuk membuat pertahanannya yang biasanya kokoh menjadi sedikit longgar.Sevi yang duduk di sampingnya beberapa kali melirik. "Kamu masih sadar kan sayang?""Sadar kok.""Coba ini berapa?" Sevi memperlihatkan dua jari ke depan Arlan.Arlan membuka sebelah mata. "Kamu pikir aku mabuk berat ya?""Buat mastiin doang.""Dua."Sevi tertawa kecil. "Hehe aman."Saat mobil berhenti di depan hotel, Arlan turun lebih dulu. Langkahnya masih stabil, meski sedikit lebih lambat dari biasanya. Mereka masuk ke lobi lalu menuju lift.Begitu pintu lift tertutup, suasana mendadak sunyi. Tidak ada suara selain dengungan mesin lift. Sevi memperhatikan angka yang terus bertambah di atas pintu.Sementara Arlan berdiri di sampingnya tanpa bicara. Sampai akhirnya

  • Bos, Jangan di Sini!   Malam yang Panjang

    Setelah percakapan itu, suasana meja mereka berubah. Bukan karena ada pertengkaran, justru sebaliknya. Terlalu banyak informasi yang baru saja mereka dengar dan terlalu banyak kemungkinan yang tiba-tiba muncul dalam waktu bersamaan.Akibatnya, tidak ada satu pun yang benar-benar tahu harus berkata apa. Arlan membuka kaleng berikutnya. Sedangkan Bima mengambil botol yang baru datang.Di atas meja, jumlah minuman perlahan bertambah. Bukan hanya satu merek, melainkan beberapa yang berbeda. Sebagian dipesan karena penasaran, sebagian lagi hanya karena mereka membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikiran yang terus bekerja tanpa henti.Namun anehnya, semakin banyak yang diminum, semakin sedikit yang dibicarakan. Arlan dan Bima hanya sesekali saling melirik, lalu kembali diam. Seolah keduanya sedang memproses informasi masing-masing.Dan tanpa perlu dijelaskan, mereka tahu apa yang sedang dipikirkan satu sama lain. Sonya, nama yang menghubungkan semua benang kusut yang selama ini berdiri se

  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Terhubung

    Awalnya Bima berniat berpura-pura tidak melihat mereka. Itu rencana yang muncul selama kurang lebih tiga detik. Setelah itu ia menyadari rencana tersebut mustahil dilakukan.Arlan dan Sevi berada tepat di depannya. Jarak mereka tidak sampai dua puluh meter. Dan semakin lama ia memandang, semakin besar kemungkinan mereka juga menyadari keberadaannya.Benar saja, saat Bima berdiri dari bangku dan melangkah mendekat, Sevi yang sedang berbicara tiba-tiba berhenti. Mata perempuan itu membesar, tangannya refleks menunjuk ke arah depan."Arlan.""Hm?""Itu..."Arlan mengikuti arah telunjuknya, lalu membeku."...Bima?"Beberapa detik berikutnya terasa aneh bagi ketiganya. Karena tidak ada satu pun yang menyangka akan bertemu di sini.Bukan di Jakarta, di kantor, apalagi di gym. Melainkan di tengah Kota Malang, pada malam hari, ketika masing-masing sedang menjalankan misi yang bahkan tidak mereka ceritakan satu sama lain.Bima berjalan mendekat. Arlan dan Sevi ikut mendekat. Mereka berhenti be

  • Bos, Jangan di Sini!   Nggak Mungkin Kebetulan

    Malam di Malang terasa berbeda dibanding malam-malam yang biasa dijalani Bima. Mungkin karena udara yang lebih dingin. Atau mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak sedang duduk di depan laptop menelusuri jejak yang terus menghilang.Sejak sore tadi ia sebenarnya tidak mendapatkan perkembangan berarti mengenai Sonya. Petunjuk yang ia kumpulkan masih sama, belum cukup kuat untuk memastikan apa pun dan belum cukup jelas untuk membawanya langsung kepada perempuan itu.Karena itulah, setelah berjam-jam berkutat dengan catatan dan lokasi-lokasi yang sudah ia datangi, Bima akhirnya menyerah untuk malam ini.Bukan menyerah mencari, hanya berhenti sejenak. Ia membutuhkan jeda, mengambil sedikit ruang untuk bernapas.Mobil yang dikendarainya melaju santai meninggalkan kawasan Batu menuju pusat Kota Malang. Lampu-lampu kendaraan membentuk garis panjang di sepanjang jalan. Sesekali ia membuka jendela sedikit agar udara malam masuk ke dalam mobil.Dingin, tetapi menyegar

  • Bos, Jangan di Sini!   Malam di Kayutangan

    Dua puluh menit kemudian mereka sudah berada di kawasan Kayutangan. Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern yang penuh lampu mencolok, tempat ini memiliki suasana yang lebih hangat. Bangunan-bangunan lama berdiri di sepanjang jalan, beberapa sudah direnovasi tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Lampu jalan berwarna kekuningan memantul di trotoar yang bersih. Orang-orang berjalan santai, sebagian berfoto, sebagian lagi duduk menikmati malam.Arlan memasukkan kedua tangannya ke saku jaket."Aku baru tahu Malang punya tempat kayak ini."Sevi yang berjalan di sampingnya menoleh. "Kamu kalau ke luar kota memang pernah lihat apa selain ruang rapat dan hotel?""Itu fitnah.""Tapi fakta kan, hahhaa.""Aku pernah lihat bandara juga."Sevi langsung tertawa. "Makin parah."Arlan ikut tersenyum kecil.Biasanya ia akan membalas lebih banyak, tetapi malam itu ia justru menikmati melihat Sevi tertawa. Sudah cukup lama mereka tidak memiliki waktu seperti ini.Beberapa bulan terakhir hidup mereka ter

  • Bos, Jangan di Sini!   Special Valentine

    Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Bos, Jangan di Sini!   Tangisan Bersama

    Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Makin Overthinking

    Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status