Beranda / Romansa / Bos, Jangan di Sini! / Perasaan itu Lagi

Share

Perasaan itu Lagi

Penulis: Olivia
last update Tanggal publikasi: 2025-09-04 22:37:55

Hidup Sevi sempat terasa tenang. Setelah ia dan Arlan sepakat untuk backstreet, ia merasa bisa bernapas lega. Desas-desus yang kemarin sempat menggerogoti pikirannya perlahan mereda, bahkan nyaris hilang. Di kantor, semua tampak normal. Tidak ada lagi bisik-bisik yang menyebut namanya bersama Arlan. Tidak ada tatapan aneh dari rekan kerja.

Awalnya Sevi berniat mencari tahu siapa dalang yang menyebarkan rumor itu. Namun, melihat suasana kantor yang kini adem ayem, ia memutuskan untuk mengurungka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
aiiuuu
terus status sevi sama arlan apa dong?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bos, Jangan di Sini!   Orang Dalam

    “Siapa aja?”Suara Arlan terdengar pelan dan mengintimidasi, membuat suasana ruang meeting terasa jauh lebih menegangkan.Pak Reno menunduk dalam. Keringat di dahinya terus mengalir sampai membasahi kerah kemejanya yang mulai kusut.“Saya dipaksa, Pak…”“Itu nggak menjawab pertanyaan saya.”Arlan berjalan mendekat perlahan hingga berdiri tepat di depan meja. Langkah sepatunya menggema pelan di lantai ruangan yang sunyi. Tatapan matanya dingin, tajam, dan penuh tekanan sampai membuat beberapa staf audit ikut menahan napas.Ia mengulang pertanyaan yang sama, lebih lambat dan lebih menekan.“Siapa orangnya?”Pak Reno menggenggam celananya kuat-kuat seperti sedang mencari keberanian untuk bicara. Bibirnya bergetar kecil.Lalu…“Pak Damar…”Deg.Ruangan langsung hening total.Bahkan suara pendingin ruangan terasa begitu jelas di telinga semua orang.Sevi mengernyit pelan. Sedangkan Sonya yang berdiri dekat pintu langsung membelalak tidak percaya.Pak Damar, Nama itu bukan nama asing. Ia ad

  • Bos, Jangan di Sini!   Nama yang Mulai Muncul

    Malam sudah lewat pukul sembilan, namun lampu di lantai utama kantor pusat masih menyala terang.Sebagian besar karyawan sudah pulang sejak dua jam lalu, menyisakan beberapa staf audit, tim IT, dan Arlan yang masih duduk di ruang meeting dengan wajah penuh tekanan.Map-map laporan memenuhi meja panjang di depannya. Kopi hitam ketiga malam itu bahkan sudah dingin sejak setengah jam lalu.Sedangkan Sevi masih setia duduk di samping Arlan sambil sesekali membantu memeriksa data pengeluaran yang terlihat semakin tidak masuk akal.“Ini juga dobel…” gumam Sevi pelan sambil menunjuk layar laptop.Arlan langsung mendekat. Benar saja, invoice pengiriman jalur Malang–Surabaya tercatat dua kali dengan nominal berbeda.Padahal nomor armada yang digunakan sama persis.“Bangsat…” desis Arlan pelan. Tangannya otomatis mengepal.Ia mulai sadar kalau ini bukan sekadar kesalahan administrasi biasa. Seseorang benar-benar sengaja memainkan sistem distribusi perusahaan.Dan pelakunya jelas cukup pintar. K

  • Bos, Jangan di Sini!   Data yang Dihilangkan

    Brak!Kursi kulit di ruang meeting terdorong keras hingga nyaris terbalik.“Siapa yang punya akses server?”Suara Arlan menggema memenuhi ruangan.Tidak ada lagi nada dingin seperti tadi. Kali ini emosinya benar-benar meledak tanpa sisa. Rahangnya mengeras, urat di lehernya terlihat jelas, sementara tatapan matanya membuat beberapa staf bahkan tidak berani mengangkat kepala.Staf IT yang membawa laptop tadi langsung gugup setengah mati.“Pak… akses administrator cuma ada tiga. Saya, Pak Reno bagian keuangan, sama...”“Siapa lagi?”“…mantan supervisor distribusi lama sebelum merger.”Ruangan langsung hening. Arlan tertawa pendek penuh emosi.“Mantan?” ulangnya pelan. “Orang yang udah resign masih punya akses server perusahaan?”“Karena proses perpindahan sistem belum selesai total, Pak…”“Hebat.” Arlan mengangguk kecil sambil tersenyum sinis. “Luar biasa.”Sevi yang berdiri di samping meja mulai khawatir melihat kondisi Arlan. Tangannya sudah mengepal kuat sedari tadi, napasnya juga mu

  • Bos, Jangan di Sini!   Audit Mendadak

    Suasana kantor pusat pagi itu jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada suara candaan ringan antar staf, tidak ada aroma kopi yang biasa memenuhi pantry utama sejak jam delapan pagi. Semua orang berjalan cepat sambil membawa map dan laptop masing-masing, wajah mereka tegang seperti sedang menunggu badai besar datang menghantam.Dan memang benar, badai itu baru saja dimulai.Pintu lift utama terbuka cukup keras hingga beberapa karyawan spontan menoleh. Arlan keluar dengan langkah cepat ditemani dua orang tim audit internal dari pusat holding Om Wijaya.Kemeja hitam yang ia pakai tergulung hingga siku, rahangnya mengeras, sementara matanya tajam menyapu seluruh ruangan kantor.“Pak Arlan…”Beberapa staf langsung berdiri gugup. Namun Arlan tidak membalas sapaan siapa pun.Ia berjalan lurus menuju ruang meeting utama dengan map merah tebal di tangannya. Sonya yang sejak tadi mengikuti dari belakang bahkan sampai harus mempercepat langkah agar tidak tertinggal.Pintu ruang meeting dibuka kasa

  • Bos, Jangan di Sini!   Pelan-pelan Membaik

    Aroma sup ayam hangat memenuhi dapur apartemen kecil itu sejak pagi. Sevi berdiri di depan kompor sambil mengaduk perlahan isi panci, sesekali meniup rambut depannya yang jatuh mengganggu penglihatan. Tubuhnya memang belum sepenuhnya kembali fit seperti biasa, namun setidaknya pagi ini ia sudah tidak lagi pucat seperti beberapa hari terakhir. Dan ia memilih rawat jalan saja, daripada harus di rumah sakit.Rasa nyeri di dadanya perlahan mulai berkurang, begitu juga pikirannya. Semua terasa jauh lebih ringan sejak malam panjang di rumah sakit itu.Mereka akhirnya benar-benar bicara. Bukan sekadar saling meminta maaf sambil menangis, tapi benar-benar membuka isi kepala masing-masing yang selama ini terlalu sibuk memendam semuanya sendiri.Tentang Sonya, Om Wijaya dan tekanan pekerjaan nya. Juga tentang rasa takut kehilangan, bagaimana mereka sama-sama hampir menghancurkan hubungan sendiri karena terlalu sibuk berasumsi.“Ngelamun lagi?” Suara berat Arlan membuat Sevi menoleh.Pria itu b

  • Bos, Jangan di Sini!   Bantuan yang Berlebihan

    “Bawahnya juga distimulasi ya, siapa tau bisa bikin keluar.”Sevi hanya mengangguk pasrah, ia pikir apa salah nya mencoba. Sebab keduanya juga sama-sama bingung, ia juga tak mau jika harus dibantu oleh dokter.Dengan cepat Arlan menanggalkan semua yang menutupi bagian bawah Sevi. Cairan bening mengalir lembut disela-sela, kedutan tipis dari milik Sevi membuat cairan itu menetes di sprei.Jari jemari nya ia basahi sendiri dengan mulutnya sebagai pelumas agar tak terlalu kesat. Jempol nya bergerak memutar di area kacang, sedangkan jari tengah nya masuk menelisik ke dalam mencari titik sensitif wanita nya.“Ahh... Disitu...” Sevi menggeliat tak karuan, sebab di atas dan bawah nya terstimulasi dengan baik dan membuatnya hilang akal. Rasa sakit dan nyeri yang tadi ia rasakan, diganti oleh kenikmatan yang membuatnya lupa bahwa dirinya sedang di bangsal rumah sakit.“Sayanhh.. Kelu..”Gumpalan yang sedari tadi membuat Sevi sengsara kini sudah keluar, berwarna merah segar dan gumpalannya pu

  • Bos, Jangan di Sini!   Special Valentine

    Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Melepaskan

    Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Baikan

    Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status