LOGINPagi itu dimulai lebih cepat dari biasanya. Jam masih menunjukkan pukul lima lewat sedikit, suasana rumah masih sunyi, bahkan udara terasa lebih dingin dari biasanya.Arlan dan Sevi sudah duduk di meja makan bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Mama Arlan sudah berdiri di dapur sejak tadi.“Aduh, Mama nggak sempat masak yang berat,” gumamnya sambil meletakkan dua piring roti panggang di meja. “Yang biasa masak belum datang jam segini.”Sevi langsung menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Ma. Ini juga udah cukup banget.”Arlan menarik kursi dan duduk. “Iya, Ma. Kita juga cuma butuh ganjel perut.”Mama tersenyum kecil, lalu menuangkan susu ke dalam gelas.“Yang penting jangan sampai berangkat kosong.”Sevi mengangguk. “Iya, Ma.”Mereka bertiga makan dalam suasana yang tenang. Tidak banyak percakapan, hanya suara kecil sendok dan gelas yang sesekali terdengar.Papa Arlan belum bangun. Rumah masih terasa seperti setengah terjaga.Setelah selesai, Sevi segera membereskan sedikit piringnya.
“Itu sekretarisnya Arlan… suka centil ke Arlan. Males banget.”Hening.Satu detik.Dua detik.Lalu..Tatapan tajam langsung mengarah ke Arlan.Mata mama mendelik. Papa ikut menoleh perlahan.Arlan yang awalnya santai langsung terdiam. Gelas air di tangannya menggantung di udara, belum sempat ia teguk.“Bukan..” ia mencoba membuka suara.Namun mama sudah lebih dulu memotong. “Arlan.” Nada suaranya berubah menjadi dingin. “Ini maksudnya apa?”Sevi hanya melipat tangan, bersandar kembali ke sofa. Wajahnya tenang, tapi matanya jelas menunggu jawaban. Arlan menelan ludah. Situasi yang tadi hangat, seketika berubah.Ia menarik napas.“Ma… Pa… ini nggak seperti yang kedengarannya kok,” ucapnya pelan.Papa menyandarkan tubuhnya ke depan, mengubah posisi duduk. Kedua tangannya bertumpu di paha, dagunya ditopang jemari.“Ya terus seperti apa?” tanyanya datar.Arlan mengusap tengkuknya.“Itu… Sonya, sekretaris aku… dia memang akhir-akhir ini agak..”“Agak apa?” potong mama.Arlan diam sejenak, m
“Mandi bareng? Sekalian mandiin bawah, hehehe.”Arlan langsung berdiri dengan semangat, seolah lupa kalau beberapa jam lalu ia masih meracau karena demam. Tanpa menunggu jawaban, ia sudah melangkah cepat ke arah kamar mandi.Sevi hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkahnya.“Kok bisa ya…” gumamnya sambil bangkit perlahan. “Orang yang tadi pagi ngeluh panas, sekarang malah semangat banget mandi bareng.”Ia menggeleng kecil, namun senyumnya tidak hilang.Tak lama kemudian, suara air terdengar dari dalam kamar mandi, diiringi sesekali suara Arlan yang memanggil.“Sev! Lama banget!”“Iya, sabar!” balas Sevi.Begitu masuk, suasana berubah menjadi lebih ringan. Candaan kecil, percikan air, dan tawa. Bukan Arlan namanya kalau tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Beberapa kali ketika ia membantu Sevi menyabuni punggungnya, tangannya bergerak kedepan dan meremas dada bulat Sevi."“Uhh, Lan... ja-jangan disitu.”Bukannya berhenti, kedua jari Arlan menjepit ujung dada Sevi yang kini ke
Di sisi lain kota, suasana jauh berbeda.Sonya berdiri di tengah lorong supermarket dengan napas tersengal. Tangannya gemetar, matanya memerah, dan dadanya naik turun tidak teratur.Ia baru saja mematikan telepon.Sepihak.Namun bukan itu yang membuatnya kehilangan kendali. Kata-kata Arlan. Nada suaranya. Dan… suara Sevi di belakangnya.“Istri saya udah siap sedia di samping.”Kalimat itu seperti terus terngiang. Menghantam. Mengulang. Tanpa henti.“Sevi sialan…!” suara Sonya tiba-tiba meledak.Beberapa orang langsung menoleh. Namun Sonya tidak peduli.“Sevi sialan… Sevi sialan…!”Ia menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali.Keras.Emosinya meluap tanpa bisa ia tahan. Seolah semua kontrol yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja.“Kenapa sih selalu dia?!”Seorang ibu menarik anaknya menjauh. Beberapa orang mulai berbisik. Satpam yang berjaga segera mendekat.“Kak… kak, tenang dulu ya,” ucapnya hati-hati.Sonya menatapnya dengan mata tajam. Namun beberapa detik kemudian, ia te
Pagi ini Sevi terbangun bukan karena alarm, atau karena cahaya matahari yang menembus tirai, melainkan karena sesuatu yang hangat menyentuh pipinya.Hangat… lama kelamaan terasa panas.Alisnya sedikit mengernyit sebelum akhirnya membuka mata perlahan.Pandangan pertamanya langsung jatuh pada wajah Arlan yang berada sangat dekat di hadapannya.“Lan…?” suaranya masih serak karena baru bangun.Namun tidak ada jawaban. Sebaliknya, Arlan justru meracau pelan.“Panas…”Sevi langsung terbangun sepenuhnya. Tangannya dengan cepat menyentuh dahi Arlan.Panas.Bahkan lebih panas dari yang ia kira.Tubuh Arlan sedikit menggigil, meskipun keringat sudah membasahi pelipisnya.Sevi segera bangkit sedikit, meraih remote AC dan mematikannya. Setelah itu, ia menarik selimut lebih rapat menutupi tubuh Arlan.Namun tiba-tiba...Arlan terbangun.Gerakannya agak kasar, napasnya berat.“Panas… tapi dingin…” gumamnya, menggeleng pelan dengan bingung.Sevi langsung kembali masuk ke dalam selimut, mendekatkan
“Sev… aku...”“Kamu pikir aku marah karena siapa yang di mobil kamu?”Sevi menggeleng pelan. “Bukan itu.”Arlan menatapnya bingung.“Terus…?”Sevi tertawa kecil. Pahit. “Aku marah karena kamu bikin aku ngerasa… harus nebak.”Hening.“Kamu nutup telepon kayak lagi nyembunyiin sesuatu.”Arlan menggeleng cepat. “Nggak, aku cuma...”“Kamu bisa bilang, Lan,” potong Sevi. “Kamu bisa bilang ‘aku lagi nganter Sonya’. Sesederhana itu loh.”Arlan terdiam.“Kamu tahu aku nggak akan marah karena itu.” Sevi menarik tangannya perlahan.Namun Arlan menahannya.“Tapi kamu pilih buat nutup telepon.” Suaranya melemah. “Itu yang bikin capek.”Arlan menunduk. Tubuhnya gemetar. “Aku… takut kamu salah paham…”Sevi menghela napas. “Dan yang kamu lakukan justru bikin aku salah paham.”Arlan terdiam lagi.Semua yang ia pikirkan sebagai ‘melindungi’… justru berubah menjadi luka kecil yang menumpuk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.Suaranya bergetar. “Aku… bodoh ya…”Sevi tidak menjawab. Arlan kembali b
Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men
Miko masih terpaku beberapa detik setelah melihat dua garis merah itu. Tangannya yang memegang alat tes kehamilan terasa dingin, sementara kepalanya justru panas oleh campuran syok dan kesadaran yang datang terlalu cepat.“Mila…” suaranya berat. “Ini… ini bener?”Mila berdiri di depannya dengan mat
Jam istirahat hari itu terasa berbeda. Biasanya Sevi dan Mila makan cepat lalu kembali ke meja masing-masing, tapi kali ini Sevi sengaja menarik kursinya lebih dekat.“Kamu nggak boleh telat makan sekarang,” ujar Sevi sambil membuka bekalnya. “Dokter bilang apa? Jangan sampai telat.”Mila menganggu
Begitu panggilan dari Mila terputus, suasana kamar kembali sunyi. Sevi masih memegang ponselnya beberapa detik, mencerna semua cerita yang baru saja ia dengar. Air matanya sudah kering, tapi dadanya masih hangat oleh rasa haru.Tiba-tiba ponsel itu diambil dari tangannya.“Lan..” Sevi menoleh.Arla







