INICIAR SESIÓNSevi menggenggam erat paper bag berisi termos sup hangat itu. Jemarinya sampai memutih karena terlalu kuat mencengkeram pegangan kantong tersebut.Padahal pagi tadi ia sengaja bangun lebih awal hanya untuk memasak sup sederhana kesukaan Arlan. Kaldu ayam yang direbus pelan, irisan wortel kecil, kentang, dan daun bawang yang ia tabur terakhir agar aromanya tetap segar.Ia tahu hari ini kantor sedang kacau karena Om Wijaya kembali menekan banyak hal sekaligus. Semua divisi seperti dipaksa berlari tanpa jeda.Maka Sevi mengurungkan niat mengantar sarapan pagi ke ruangan Arlan.“Nanti siang aja deh…” pikirnya tadi.Namun sekarang, berdiri di depan pintu kaca ruang kerja Arlan, Sevi justru merasa keputusan itu salah besar.Dari celah tirai yang sedikit terbuka, ia bisa melihat semuanya dengan sangat jelas.Arlan berdiri di depan papan tulis kaca penuh coretan distribusi produk. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan, wajahnya terlihat lelah sekali. Namun di sampingnya ada Sonya yang berdiri
Jarum jam di ruang tengah apartemen masih menunjukkan jam enam pagi. Namun Sevi masih duduk diam di sofa.Kedua lututnya ia tarik ke dada, dibalut selimut tebal yang sudah tidak lagi memberi rasa hangat. Lampu ruang tamu sengaja ia matikan, menyisakan cahaya redup dari dapur dan layar ponsel di atas meja.Chat dengan Arlan masih terbuka. Pesan terakhir yang ia kirim satu jam lalu belum berubah sama sekali.Masih centang dua abu-abu. Tidak ada tanda dibalas, apalagi dibaca. Hingga pagi ini pun, Arlan belum pulang.Ini adalah pertama kalinya sejak mereka bersama, Arlan benar-benar menghilang semalaman tanpa kabar yang jelas. Sevi berulang kali mencoba berpikir positif, mungkin Arlan ketiduran di kantor, mungkin pekerjaannya benar-benar menumpuk, atau siapa tau handphone-nya habis baterai.Namun semakin matahari memperlihatkan cahaya nya, pikiran buruk perlahan mulai masuk tanpa izin.“Kalau dia sama orang lain gimana…?”Kalimat itu membuat dada Sevi langsung terasa sesak sendiri. Ia bu
Aroma mentega yang meleleh di atas teflon biasanya selalu berhasil menenangkan Sevi setiap pagi. Namun hari ini terasa berbeda, bahkan wangi roti panggang yang hangat pun tidak mampu mengusir mendung di wajahnya.Sevi berdiri diam di depan wastafel dapur apartemen sambil menatap layar ponsel yang menyala redup di sampingnya. Pesan dari Arlan semalam masih terpampang jelas di layar chat mereka.“Kamu tidur duluan aja, jangan nungguin.”Kalimat sederhana saja memang, tapi entah kenapa terasa begitu dingin untuk ukuran seorang tunangan.Sevi menghela napas panjang. Kompor di depannya ia matikan pelan, membiarkan roti yang tadi dipanggang setengah matang itu mulai mengeras sendiri di atas teflon.Pikirannya kembali berisik. Hubungan mereka memang masih baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran besar, Arlan juga masih sering bersikap manis seperti biasanya.Tapi justru itu yang membuat Sevi takut, semua hal itu terlalu biasa. Hingga tanpa sadar, mereka mulai terbiasa menjalani hari tanpa bena
Dentum suara musik gym dan aroma samar disinfektan bercampur keringat langsung menyambut Sonya begitu ia mendorong pintu kaca gym. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat, dan area olahraga itu sudah jauh lebih lengang dibanding biasanya.Sonya mengembuskan napas panjang. Bahunya yang kaku karena seharian mengetik draf proyek susu kemasan perlahan mulai mengendur. Matanya otomatis mengedar, memindai area treadmill hingga rak dumbbell. Nihil.Sampai akhirnya, langkah Sonya terhenti di dekat meja resepsionis. Sosok tinggi tegap dengan kaus polo hitam khas trainer sedang berdiri membelakanginya, sibuk merapikan beberapa berkas jadwal member.“Mas Bima,” panggil Sonya, suaranya agak pelan namun berhasil membuat pria itu menoleh cepat.Bima sempat tertegun sesaat melihat siapa yang datang. “Eh, Sonya? Tumben jam segini baru dateng?”Sonya hanya tersenyum tipis, senyum yang terlihat lebih lelah dari biasanya. Ia berjalan mendekat lalu menyandarkan pinggulnya ke tepian meja resepsi
“Kita akan merger dengan lini bisnis baru saya di Malang. Mulai bulan depan, semua jalur distribusi produk susu kemasan mereka ada di bawah kendali penuh tim kamu, Arlan.”Arlan yang baru saja hendak meneguk air putih langsung tersedak.Ia menatap Om Wijaya dengan mata membelalak, mengabaikan beberapa kepala divisi yang langsung saling lirik dengan wajah tegang.“Tunggu, Om,” potong Arlan cepat sambil menyeka bibirnya dengan tisu. “Sejak kapan Om punya perusahaan susu? Bukannya fokus perusahaan om dari dulu cuma di properti dan logistik?”Om Wijaya terkekeh hambar, suara tawanya terdengar mendominasi ruang rapat yang dingin itu. “Bisnis itu soal mencium peluang, Arlan. Jangan kaku. Industri dairy lagi naik daun, dan saya baru saja mengakuisisi pabrik pengolahan susu segar terbesar di sana. Masalahnya, manajemen lama mereka sampah! Makanya, saya mau kamu yang pegang kendali mutlak untuk pemasarannya.”Buntalan berkas tebal setebal kamus dilemparkan ke tengah meja dengan suara berdebu
Langkah kaki Arlan terdengar tergesa-gesa menyusuri koridor lantai utama kantornya. Di belakangnya, Sonya berjalan setengah berlari sambil mendekap beberapa map tebal dan sebuah tablet yang terus menyala menampilkan grafik saham. Suasana kantor pagi itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi obrolan santai di dekat mesin kopi atau tawa renyah karyawan di bilik kubikal. Semua orang tampak tegang.Penyebabnya karena kedatangan om Wijaya, paman Arlan yang juga merupakan salah satu taipan properti terbesar di negeri ini. Setelah negosiasi panjang selama hampir tiga bulan, beliau akhirnya resmi menyuntikkan dana segar dalam jumlah fantastis ke perusahaan Arlan.Bagi perusahaan, ini adalah lompatan besar. Namun bagi Arlan, ini berarti mulainya masa-masa "purgatori". Om Wijaya terkenal sebagai investor yang perfeksionis, bertangan besi, dan tidak mentoleransi keterlambatan barang sedetik pun.“Jadwal rapat dengan tim legal jam berapa, Son?” tanya Arlan tanpa menoleh
Udara siang itu terasa berbeda. Hangat, namun tidak menyengat. Matahari bersinar cerah, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa. Angin berembus perlahan, menyapu dedaunan di halaman rumah Sevi, membawa aroma tanah basah dan bunga segar yang sejak pagi dirangkai dengan penuh ketelatenan.Mobil y
Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s
Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men
Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk malu-malu melalui celah gorden, jatuh tepat di lantai kamar kontrakan Sevi. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika Sevi berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang ia ikat setengah. Kemeja kerjan







