LOGINSejak malam mengerikan itu, Kittie dilarang keras meninggalkan tempat tidur oleh dokter kemah yang berjaga. Keningnya harus menerima tiga jahitan rapi, sementara suhu tubuhnya masih enggan stabil. “Istirahat total dua hari, tidak boleh ada tawar-menawar,” vonis sang dokter tegas sambil merapikan alat medisnya. “Kalau pusing atau mual berlanjut, evakuasi langsung ke rumah sakit kota.” “dua hari?” Kittie reflek mencoba bangkit, tapi kepalanya langsung berdenyut nyeri. “Tapi jadwalku—”“Berbaring, Nona. Atau saya perpanjang masa isolasi Anda di sini.”Kittie mendengus sebal, terpaksa kembali menjatuhkan kepalanya ke atas bantal dengan bibir mengerucut protes. Tidak lama dari itu, Clara sudah duduk di sisi ranjangnya dengan semangkuk bubur dan wajah yang sembab karena kurang tidur.“Aku hampir pingsan waktu dikabari, Kit!” Clara meniup sesendok bubur dengan tangan yang masih sedikit gemetar. “Kata Reno kamu jatuh di lereng. sendiri yang nemuin kamu di sana. Sumpah, itu adegan penyel
Aiden maju satu langkah lagi. Air hujan menetes deras dari tudung jas hujannya, tapi tatapannya tidak lepas dari dada Zade. Napasnya memburu, bersatu dengan deru angin malam yang dingin. “Jawab aku, Zade.” Suaranya rendah, bergetar menahan amarah yang hampir meledak di tenggorokan. “Kenapa Kittie ada di pelukanmu? Tanpa baju?” Zade tidak bergeming. Ia bahkan tidak repot-repot merapikan rambutnya yang basah kuyup. Ia hanya melirik adiknya sekilas dengan dingin, lalu kembali menatap lurus ke depan.“Kendalikan emosimu, Aiden.”“Jangan menyuruhku—” Aiden mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, buku-buku jarinya memutih “Kittie terkena gejala hipotermia,” potong Zade datar, suaranya mengiris tajam di antara suara hujan. “Suhu tubuhnya anjlok waktu kutemukan di lereng bawah. Kepalanya terbentur dan berdarah. Pakaiannya basah kuyup. Kalau kubiarkan, kau pikir dia akan bertahan?”Rahang Aiden bergerak kaku, mengeras hebat. Sorot matanya yang semula menyala oleh amarah perlahan goyah,b
“Kau membuat ku takut, Kittie.” Zade mengulang kata itu lebih pelan, seolah baru mengakuinya pada dirinya sendiri. “Waktu aku turun tadi dan melihatmu tidak bergerak... Aku… belum pernah merasa begitu.” Ada jeda sejenak di sana. “Aku takut, Kittie.” “Kau Zade Calloway,” Kittie mencoba tersenyum, meski bibirnya masih bergetar hebat. “Kamu seharusnya tidak takut pada apa pun.” Zade menahan napasnya. Sial! Aku tidak seharusnya merasakan ini, pikir Zade berontak di dalam hati. Ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam diri Zade. Dari jarak sedekat ini, Kittie tampak jauh lebih kecil dan rapuh daripada Kittie yang biasanya selalu beradu argumen sengit dengannya. Ada bekas darah yang mengering di kening Kittie, bulu mata yang basah oleh sisa air hujan, serta bibir pucat yang bergetar pelan.Entah kenapa, semua pemandangan itu membuat dada Zade sesak dengan cara yang sama sekali tidak ia mengerti.Aku tidak seharusnya melakukan ini. Zade berusaha menahan sebisanya.Namun, tangannya sud
Zade berhenti seketika begitu mendengar suara dari kejauhan. Suara seorang perempuan—bergetar dan meninggi. Kittie.Tanpa berpikir dua kali, Zade langsung berlari mengarah ke sumber suara.Sekilas, ia sempat menangkap bayangan seseorang ber-hoodie hitam menoleh ke arahnya, lalu berbalik dan lenyap dengan cepat di antara lebatnya pepohonan.Kejar atau turun?Tidak ada waktu untuk menimbang. Matanya menangkap tubuh mungil Kittie yang terbaring kaku di dasar celah batu. “Sialan!” umpat Zade kasar, rahangnya mengeras hebat. Kepanikan ekstrem yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya meremas dadanya tanpa ampun. Ia melompat ke lereng, setengah meluncur setengah berlari, tangannya mencengkeram akar dan batu untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Begitu kakinya menapak didasar lembah, Zade langsung berlutut di sebelah Kittie."Kittie! Hei... buka matamu!" panggil Zade dengan suara bariton yang bergetar panik.Tidak ada reaksi.“Kittie!” Ia menepuk pipinya lebih keras. “Hei! Jangan ma
Kittie merogohnya dengan jemari yang dingin. Satu notifikasi dari Nomor yang sama menyala di layar: [Kamu menghindari mereka seharian. Lucu sekali.][Kamu pikir cuma foto itu yang aku punya?][Aku punya hal-hal lain. Hal yang bisa menghancurkan kamu. Dan seluruh Calloway.]Jantung Kittie seakan berhenti berdetak. Darahnya menyusut dingin ke ujung kaki. Sebelum ia sempat bernapas, pesan kedua menyusul masuk: [Malam ini jam sembilan. Jalur setapak di belakang kabin, sampai pohon tumbang besar. Sendirian.][Kalau ada satu orang pun yang ikut, semuanya kukirim ke seluruh kampus. Termasuk ke ayahmu.]Kittie berdiri kaku di tempatnya. Suara burung-burung malam di pepohonan tiba-tiba terdengar menjauh, menyisakan deru bising di dalam kepalanya sendiri. Ia mengetik cepat dengan panik.[Kamu siapa? Mau apa?]Centang satu. Tidak terkirim.SIALAN! batin Kittie berteriak frustrasi.“Kit?”Kittie tersentak hebat. Clara sudah berdiri di sampingnya dengan wajah heran. “Muka kamu pucat lagi.”“Ng
Kittie terduduk kaku di atas ranjang. Napasnya memburu tak beraturan, sementara alarm ponsel masih menjerit nyaring di balik bantal. Dengan satu tepukan kasar, ia mematikan benda itu.Di ranjang sebelah, Clara menggeliat malas sambil menarik selimut hingga menutupi hidung.“Kit… masih gelap…” gumam Clara parau.“Maaf, Clar. Tidur lagi sana.”Kittie langsung turun dari ranjang dengan kaki yang terasa lemas seperti agar-agar, lalu setengah berlari menuju kamar mandi. Ia menyalakan keran, menangkup air dingin dengan kedua telapak tangannya, dan membasuh wajahnya berkali-kali. Sia-sia. Wajahnya di cermin masih merah merona hingga ke pangkal telinga. “Oke, tenang,” bisiknya pada bayangan sendiri di cermin. “Itu cuma mimpi. Kamu demam, kepalamu sedang kacau, sudah itu saja.” Namun, sialnya, otak membelot begitu saja. Mengapa harus mereka bertiga?“Kita terbiasa berbagi,” suara Zade di Noctra malam itu tiba-tiba terngiang. Disusul bayangan kecupan Aiden di pipinya saat di dapur rumah, ser







