LOGINKafe industrialis bernuansa minimalis dengan arsitektur estetik ini menjadi tempat pilihan Sofia menunggu kedatangan Rio, dia memesan ice coffe americano karena pening menghadapi banyak komplain konsumen produk skincare jualannya tidak memiliki perubahan signifikan, padahal sudah jelas dia mengambil produk skincare dari supplier di kota besar, hanya menjual kembali produk tersebut dengan mengambil keuntungan lima persen harga dari supplier, tetapi namanya bisnis selalu ada resiko dan resiko itulah membuat otak Sofia agak kacau hari ini.
"Kamu sudah lama menunggu?" Suara Rio membuyarkan lamunan Sofia yang sedari tadi menatap miniatur kaktus di atas meja. Sofia tersenyum manis, dia menyilakan Rio untuk duduk dan merapikan ujung jilbabnya. "Akhirnya, kamu datang Mas, aku baru saja duduk," elak Sofia menatapi wajah tenang Rio. "Baiklah, kamu dari mana?" Rio merogoh saku celananya, menggeluarkan rokok mengambil satu batang. "A-aku, dari drop paket di sekitar sini." Rio mengangguk pelan dan menyulut sebatang rokok dengan korek api pemberianku tadi siang. Kepulan asap mulai tercipta di lingkar meja pilihan Sofia. Pemandangan paling mengerikan bagi Sofia, karena sudah lama sekali dia ingin Rio memahami bahwa jangan sembarangan merokok apalagi saat dekat dengannya, namun Sofia tak punya nyali sebesar sikapku pada Rio seperti saat di perpustakaan. Sofia terlalu halus, lembut, penurut calon istri sholehah bagi Rio yang punya hidup berantakan dengan jalan hidup gelap, apabila dikaji ulang sebagai bahan penelitian mereka tidak cocok secara teori, tetapi Rio manusia biasa, ada satu rahasia mengapa dia berpacaran dengan Sofia selama hampir 2 tahun ini. "Saya tidak bisa lama-lama Sofia, saya harus bersiap ke basecame, nanti malam ada konser band rock metal lokal Primitive Cimpanze, saya harus segera menyiapkan barang dagangan." Mendengar agenda Rio, jelas Sofia tak bisa melarang, "Baiklah, nanti kita sambung di chat ya mas, aku pergi duluan, sampai jumpa." Sofia menenteng tas selempang kecil, berjalan anggun melewati meja-meja kafe, begitu sampai di depan pintu, dia menoleh ke belakang menatap Rio memastikan kekasihnya masih di sana. Tatkala Sofia lenyap dari padangan, Rio langsung mengirim pesan padaku. "Bu Alba, apa kamu sudah di hotel?" Aku baru saja selesai mandi, ponselku berdering singkat notifikasi dari Rio muncul di sana. "Belum, baru selesai mandi Pak Rio. Apa kamu sudah di sana?" "Saya pulang sebentar, nanti berkabar lagi." Saya pulang sebentar, gumamku merenungi pesan terakhir Rio, bukankah dia tadi pulang duluan. Aku mengernyitkan dahi, berusaha berpikir syaraf mana yang putus tetapi otakku memaksa memikirkan hal lain. Pukul 4.15 sore, aku sampai di depan lobby hotel pilihan Rio. Seperti biasa aku tidak cangung mengeluarkan identitas resmi seperti KTP maupun passpor pada petugas hotel, tetapi saat di bagian administrasi, petugas langsung menyilakan aku untuk masuk dan memberi tahu lokasi kamar. Semuanya aman tanpa pemeriksaan detil, begitu aku sampai di depan kamar dan membuka pintu ternyata Rio sudah menungguku. "Kamu dari mana, lama sekali sayang," Rio mengulurkan tangan untuk membantuku melepaskan tas, jaket dan sepatuku, gerakan sigap ini membuatku sedikit memahami, Rio punya gaya hidup teratur. Terlihat jelas cara menempatkan barang-barangku dan barang-barangnya, semua terlihat rapi ini kamar hotel bukan kamar pribadi, mengapa serapi ini Rio, desisku dalam hati. Rio menuntunku duduk di tepi ranjang dan memulai sesi foreplay dengan hati-hati, aku menatap lekat, saat kurasakan sentuhan tangan kasar itu membuat bulu kudukku merinding, "Kenapa kau mau melakukan ini padaku?" tanyaku menghentikan gerakan tangannya bermaksud membuka dua kancing bajuku paling atas. "Saya hanya menuruti perintahmu, jika kamu berubah pikiran, saya akan menunggumu sampai siap." Aku merebahkan badan ke kanan, Rio mengikuti gerakanku dengan merebahkan badan ke kiri, sekarang posisi kami berhadapan. Rio memandangiku dengan tatapan memuja sambil terus mengelus rambutku, perlahan Rio mendekatkan tubuhnya hingga aku bisa merasakan suhu tubuhnya yang hangat perlahan menjalar di tubuhku, "Kau belum menjawab pertanyaanku, berapa kali kau tidur dengan wanita lain?" Rio menatapku cukup lama, seperti hendak mengakui dosa pada sang dewa, "ini pertama kali, Alba." Mataku terbelalak terkejut dengan pengakuan Rio, "Waaah, kau membuatku takut." Tangan Rio menepuk-nepuk belakang pundakku, seolah mengisyaratkan dia baik-baik saja. "Bagaimana dengan pacarmu?" tiba-tiba otakku mengingat saat pertama kali Rio menunjukan foto kekasihnya padaku. "Sebelum bersamanya, saya pernah berpacaran selama empat tahun dengan teman SMA-saya. Kami LDR dan berakhir karena dia selingkuh dengan sepupu saya, setelah itu saya bertemu pacar saya yang sekarang. Percayalah, saya tidak pernah mencoba mencicipi tubuh mereka, kamu tahu pacarku sangat alim." "Baiklah, terima kasih sudah jujur padaku, tidakkah ini menyakitkan? Kau harus meninggalkan pacarmu demi bisa tidur denganku dan membayar lunas semua tagihan hotel ini." Rio tidak menjawab, secepat kilat dia mendaratkan bibirnya di atas bibirku, memberiku kecupan lembut sebanyak tiga kali di sana. Kurasakan beberapa saat, jiwaku seperti melayang merasakan nikmat tak terbantahkan dari sentuhan bibir ini. Menyadari perubahan tubuhku, Rio perlahan mengerti cara membuka permainan ini bersamaku dan kembali mengecup bibirku berkali-kali hingga bergairah, begitu terasa denyutan di bagian bawahku, aku langsung menjauhkan sedikit tubuhku dari dekapannya. "Cukup-cukup Mas." Aku menolak melanjutkan foreplay itu karena tidak mau merusak lebih jauh pemuda yang mengaku baru pertama kali tidur dengan wanita ini. Ranum wajah Rio terlihat kaget, tetapi kalah dengan kesabarannya. Aku meluruskan pungungku, menghela napas panjang dan memejamkan mata sejenak. Kurasakan sebelah tangan Rio kini menggengam tanganku, jemarinya masuk ke sela-sela jemariku menimbulkan sensai letupan-letupan aliran darah yang menyatu. Saat memejamkan mata itulah, ingatanku pada sosok Affal mencuat begitu saja, dia seperti hidup dalam jiwaku, mengapa aku bisa berbuat sejauh ini demi cinta, Affal lah jawaban itu. Di samping Rio saat ini aku membuka luka lama, seolah Rio adalah Affal. Affal mengajariku bagaimana cara menyatukan dua tubuh manusia dalam hubungan badan tanpa meminta jatuh cinta dan akhirnya meninggalkan luka teramat dalam seumur hidupku. Dia mencuri kehormatanku sebagai wanita suci untuk memberi makan egonya sendiri dan membuat seolah dirikulah yang salah karena pilihanku sendiri. Aku wanita bernasib malang, menunggu Affal yang lebih mencintai hidupnya sendiri setelah merenggut keperawananku, meninggalkanku terombang ambing sendirian melanjutkan hidup berantakanku tanpa pernah merasa bersalah, tanpa takut karma akan datang dengan bantuan semesta. Mengingat Affal selalu sama, membuat hatiku sakit dan sudut mataku berair, seketika memaksaku membuka mata, kudapati Rio tertidur lelap dengan gengaman tangannya tanpa melepaskan tanganku. Walau masih berpegangan, aku menjaga jarak aman dengan posisi tidurnya sekarang, aku kembali memejamkan mataku siap terlelap dalam bunga tidurku, tanpa sadar sepasang mata menenduhkan itu terus menatapku.Belakangan suasana kantor Fenomena belum berubah, meski ditinggal beberapa orang-orang penting. Benny enggan bertanya kenapa anak buahnya sudah jarang sekali terpantau duduk di tempat, atau direktur perusahaan tidak masuk kerja karena urusan lain. Peluang untuk menghancurkan kantor terbilang 99% berhasil, manakala ia mau memulainya kemarin-kemarin, tetapi Benny bukan orang licik, ia akan membalas dendamnya berhadapan satu lawan satu, tanpa sembunyi juga tanpa terang-terangan, sebab ia punya kaki tangan baru Kang Rizal. "Soal Bambina, apakah kau sudah tau pergerakannya?" Benny menyeruput kopi pemberian Kang Rizal. "Kudengar dia berhasil membuat para penjahat masuk penjara." "What?" Benny terkejut, sehingga cup kopi di tangannya hampir terjatuh. "Benar, kau masih ingat kegiatan liputan terakhir kita bersama Bambina? Pemuda yang sempat kami wawancara adalah salah satu tersangkanya." "Apa maksudmu?" Benny menatap tajam Kang Rizal. "Kami sempat mewawancara untuk mencari tahu apakah a
Alba mengikuti langkah Jay yang membawanya masuk unit, begitu sampai di depan pintu, ada sedikit keraguan untuk masuk. “Kau gadis pemberani, kau tidak takut padaku.” Jay membuka pintu menyilakan Alba untuk masuk. Perlahan tapi pasti akhirnya Alba melangkah masuk, “Aku orang tua, untuk apa aku takut padamu.” Jay menutup pintu membawa gadis kesayangan Rio ini untuk melewati sekat didinding “Wah, tidak kusangka kau kutu buku.” Alba menyentuh rak-rak buku berukuran besar dan terpampang tinggi melebihi setengah meter dari postur tubuhnya. “Apa kau terkejut?” “Tentu saja, Mr. Jay kau pandai membuat orang terkesan setelah mengenalmu lebih jauh.” Jay tersenyum lalu mengambil dua minuman bersoda dari dalam lemari pendingin, melihat Alba masih sibuk mengamati koleksi buku-bukunya, ia sama sekali tidak berpikir Alba sedang merencanakan startegi tertentu. “Kemarilah, lehermu akan patah jika terus mendongak seperti itu.” Alba menoleh lantas menghampiri Jay yang sudah duduk di sofa. “Bol
Alba membalikan badan, mendapati Rio menatapnya. "Apa yang harus aku lakukan? Jika terus begini, aku tidak tahu cara melepasmu." Belah tangan Alba menyusuri wajah pemuda tampan. Rio menyandarkan tangan Alba di atas pipinya,"Kau pasti bisa cepat melupakanku. Jangan menangis, apa kau tahu kau sangat jelek saat menangis? Hidungmu merah seperti tomat.” Rio menarik hidung menggemaskan Alba yang tidak seberapa mancungnya itu. “Aku akan mandi duluan.” Rio beranjak turun dari ranjang, segera bergegas masuk kamar mandi.Alba perlahan turun dari ranjang, meski tubuhnya tidak sama sekali terasa sakit, perasaanya begitu berkecamuk. Ia kembali keluar kamar dan berdiri di depan jendela, pemandangan matahari terbit di depannya sangat indah, ia takjub sendiri. Beberapa saat, sebelum akhirnya ia tidak bisa berbohong perutnya berbunyi. Narrel masuk dapur, ia berjinjit sambil berusaha membuka rak di atasnya. Barangkali, ia dapatkan mi instan atau apapun itu yang bisa mengganjal perutnya. “Aaagh, da
Rio segera beranjak membuka pintu apartemen, begitu pintu terbuka tidak ada orang, tetapi hanya sebuah karangan bunga, kening Tristan mengernyit, ia baru pertama kali dikirimi hadiah aneh.Alba yang masih duduk di atas ranjang segera mendekati Tristan. “Apa yang terjadi? Wow, kau mendapat karangan bunga?” “Aneh,” desis Rio membuka penutup plastik lalu membaca pengirimnya. Benny Aluwi. “Untuk apa Benny mengirimimu bunga krisan ini?” Narrel bertanya penasaran. Rio tidak menjawab, ia langsung membuang hadiah itu ke tempat sampah. Menarik tangan Alba untuk kemudian duduk bersama di sofa. “Kau tidak perlu tahu, lupakan soal hadiah konyol itu dan mari fokus tentang Naura.” “Baiklah.” Alba bersila di atas sofa sambil menatap lurus-lurus sepasang mata meneduhkan yang membuat detak jantungnya berdebar-debar. “Sebelum aku menceritakan detail kejadian Naura, ada sesuatu yang membuatku ganjil belakangan ini.” “Emhem, katakanlah.” “Naura mengigitku dan bekas lukanya masih ada sampai seka
“Berhentilah mengumpat bosmu, sudah tentu benar aku mengirimmu, apa pemikiranmu hanya soal kekesalan?” Tristan menambah laju kecepatan mobilnya.“Riioo! Apa kau mau membunuhku!” Teriak Alba keras-keras, yang sama sekali tidak dipedulikan Rio. Begitu menemui satu perhentian lampu merah, Rio mengendurkan laju mobilnya. Ia tertawa melihat Alba kehabisan napas.Alba tidak lagi bisa mendebat. Begitu rambu lalu lintas menghijau, Rio berbelok ke kiri, Alba tidak familiar dengan kawasan tersebut, tetapi ia memiliki firasat buruk.Raut wajah Rio berubah dingin, ia terus melanjukan mobilnya hingga menemui dua belokan, ia mengambil arah kanan jalan.“Kau tidak akan membawaku ke apartemen, kan?”“Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, bisakah kau temaniku untuk malam ini saja?” Rio melepaskan seatbelt yang masih melingkar di badan Alba, untuk kemudian megajak Alba untuk turun dari mobil.Pemandangan yang asing bagi Alba, sebab ia baru pertama kali menjejakkan kaki di apartermen semegah istana layak
Dua bulan berlalu, tanpa ada kabar apapun dari Affal, jika Alba tak menghubungi maka Affal takkan menghubungi, samar-samar terdengar dari benak Alba, seperti apa kehidupan Affal di kampus, mengapa ia sama sibuknya seperti rutinitas yang Alba lakukan setiap hari, ia memang tidak haus perhatian Affal, hanya saja hubungan ini tidak punya kejelasan sedari awal "Apa kau sibuk?" Alba mendongakan kepala mendapati rekan kerjanya menyapa. "Tidak juga, aku akan masuk kelas pukul 10 ada apa?" Alba menarik kursi lain agar temannya bisa duduk "Tidak ada, kau masih suka menulis di web novel?" Alba tersenyum,"Tidak seintens dulu," "Aku suka membaca tulisanmu di website sekolah, kau berbakat." Alba cukup risih saat orang lain memuji karya tulisnya, sebab ia tak lebih pandai dari Affal, padahal jelas Alba lulusan sarjana sastra indonesia, sementara Affal menempuh sastra arab, tetapi potensi Affal sangat terlihat saat pertama kali Alba membaca karya Affal berjudul Bidadari Turun Dari Surga,







