Share

Bab 5

Auteur: Zee Alzera
last update Date de publication: 2026-02-18 10:26:30

Kafe industrialis bernuansa minimalis dengan arsitektur estetik ini menjadi tempat pilihan Sofia menunggu kedatangan Rio, dia memesan ice coffe americano karena pening menghadapi banyak komplain konsumen produk skincare jualannya tidak memiliki perubahan signifikan, padahal sudah jelas dia mengambil produk skincare dari supplier di kota besar, hanya menjual kembali produk tersebut dengan mengambil keuntungan lima persen harga dari supplier, tetapi namanya bisnis selalu ada resiko dan resiko itulah membuat otak Sofia agak kacau hari ini.

"Kamu sudah lama menunggu?" Suara Rio membuyarkan lamunan Sofia yang sedari tadi menatap miniatur kaktus di atas meja.

Sofia tersenyum manis, dia menyilakan Rio untuk duduk dan merapikan ujung jilbabnya. "Akhirnya, kamu datang Mas, aku baru saja duduk," elak Sofia menatapi wajah tenang Rio.

"Baiklah, kamu dari mana?" Rio merogoh saku celananya, menggeluarkan rokok mengambil satu batang.

"A-aku, dari drop paket di sekitar sini."

Rio mengangguk pelan dan menyulut sebatang rokok dengan korek api pemberianku tadi siang. Kepulan asap mulai tercipta di lingkar meja pilihan Sofia. Pemandangan paling mengerikan bagi Sofia, karena sudah lama sekali dia ingin Rio memahami bahwa jangan sembarangan merokok apalagi saat dekat dengannya, namun Sofia tak punya nyali sebesar sikapku pada Rio seperti saat di perpustakaan.

Sofia terlalu halus, lembut, penurut calon istri sholehah bagi Rio yang punya hidup berantakan dengan jalan hidup gelap, apabila dikaji ulang sebagai bahan penelitian mereka tidak cocok secara teori, tetapi Rio manusia biasa, ada satu rahasia mengapa dia berpacaran dengan Sofia selama hampir 2 tahun ini.

"Saya tidak bisa lama-lama Sofia, saya harus bersiap ke basecame, nanti malam ada konser band rock metal lokal Primitive Cimpanze, saya harus segera menyiapkan barang dagangan."

Mendengar agenda Rio, jelas Sofia tak bisa melarang, "Baiklah, nanti kita sambung di chat ya mas, aku pergi duluan, sampai jumpa."

Sofia menenteng tas selempang kecil, berjalan anggun melewati meja-meja kafe, begitu sampai di depan pintu, dia menoleh ke belakang menatap Rio memastikan kekasihnya masih di sana.

Tatkala Sofia lenyap dari padangan, Rio langsung mengirim pesan padaku.

"Bu Alba, apa kamu sudah di hotel?"

Aku baru saja selesai mandi, ponselku berdering singkat notifikasi dari Rio muncul di sana.

"Belum, baru selesai mandi Pak Rio. Apa kamu sudah di sana?"

"Saya pulang sebentar, nanti berkabar lagi."

Saya pulang sebentar, gumamku merenungi pesan terakhir Rio, bukankah dia tadi pulang duluan. Aku mengernyitkan dahi, berusaha berpikir syaraf mana yang putus tetapi otakku memaksa memikirkan hal lain.

Pukul 4.15 sore, aku sampai di depan lobby hotel pilihan Rio. Seperti biasa aku tidak cangung mengeluarkan identitas resmi seperti KTP maupun passpor pada petugas hotel, tetapi saat di bagian administrasi, petugas langsung menyilakan aku untuk masuk dan memberi tahu lokasi kamar. Semuanya aman tanpa pemeriksaan detil, begitu aku sampai di depan kamar dan membuka pintu ternyata Rio sudah menungguku.

"Kamu dari mana, lama sekali sayang," Rio mengulurkan tangan untuk membantuku melepaskan tas, jaket dan sepatuku, gerakan sigap ini membuatku sedikit memahami, Rio punya gaya hidup teratur. Terlihat jelas cara menempatkan barang-barangku dan barang-barangnya, semua terlihat rapi ini kamar hotel bukan kamar pribadi, mengapa serapi ini Rio, desisku dalam hati.

Rio menuntunku duduk di tepi ranjang dan memulai sesi foreplay dengan hati-hati, aku menatap lekat, saat kurasakan sentuhan tangan kasar itu membuat bulu kudukku merinding, "Kenapa kau mau melakukan ini padaku?" tanyaku menghentikan gerakan tangannya bermaksud membuka dua kancing bajuku paling atas.

"Saya hanya menuruti perintahmu, jika kamu berubah pikiran, saya akan menunggumu sampai siap."

Aku merebahkan badan ke kanan, Rio mengikuti gerakanku dengan merebahkan badan ke kiri, sekarang posisi kami berhadapan. Rio memandangiku dengan tatapan memuja sambil terus mengelus rambutku, perlahan Rio mendekatkan tubuhnya hingga aku bisa merasakan suhu tubuhnya yang hangat perlahan menjalar di tubuhku, "Kau belum menjawab pertanyaanku, berapa kali kau tidur dengan wanita lain?"

Rio menatapku cukup lama, seperti hendak mengakui dosa pada sang dewa, "ini pertama kali, Alba."

Mataku terbelalak terkejut dengan pengakuan Rio, "Waaah, kau membuatku takut." Tangan Rio menepuk-nepuk belakang pundakku, seolah mengisyaratkan dia baik-baik saja.

"Bagaimana dengan pacarmu?" tiba-tiba otakku mengingat saat pertama kali Rio menunjukan foto kekasihnya padaku.

"Sebelum bersamanya, saya pernah berpacaran selama empat tahun dengan teman SMA-saya. Kami LDR dan berakhir karena dia selingkuh dengan sepupu saya, setelah itu saya bertemu pacar saya yang sekarang. Percayalah, saya tidak pernah mencoba mencicipi tubuh mereka, kamu tahu pacarku sangat alim."

"Baiklah, terima kasih sudah jujur padaku, tidakkah ini menyakitkan? Kau harus meninggalkan pacarmu demi bisa tidur denganku dan membayar lunas semua tagihan hotel ini."

Rio tidak menjawab, secepat kilat dia mendaratkan bibirnya di atas bibirku, memberiku kecupan lembut sebanyak tiga kali di sana. Kurasakan beberapa saat, jiwaku seperti melayang merasakan nikmat tak terbantahkan dari sentuhan bibir ini.

Menyadari perubahan tubuhku, Rio perlahan mengerti cara membuka permainan ini bersamaku dan kembali mengecup bibirku berkali-kali hingga bergairah, begitu terasa denyutan di bagian bawahku, aku langsung menjauhkan sedikit tubuhku dari dekapannya.

"Cukup-cukup Mas." Aku menolak melanjutkan foreplay itu karena tidak mau merusak lebih jauh pemuda yang mengaku baru pertama kali tidur dengan wanita ini. Ranum wajah Rio terlihat kaget, tetapi kalah dengan kesabarannya.

Aku meluruskan pungungku, menghela napas panjang dan memejamkan mata sejenak. Kurasakan sebelah tangan Rio kini menggengam tanganku, jemarinya masuk ke sela-sela jemariku menimbulkan sensai letupan-letupan aliran darah yang menyatu.

Saat memejamkan mata itulah, ingatanku pada sosok Affal mencuat begitu saja, dia seperti hidup dalam jiwaku, mengapa aku bisa berbuat sejauh ini demi cinta, Affal lah jawaban itu.

Di samping Rio saat ini aku membuka luka lama, seolah Rio adalah Affal. Affal mengajariku bagaimana cara menyatukan dua tubuh manusia dalam hubungan badan tanpa meminta jatuh cinta dan akhirnya meninggalkan luka teramat dalam seumur hidupku. Dia mencuri kehormatanku sebagai wanita suci untuk memberi makan egonya sendiri dan membuat seolah dirikulah yang salah karena pilihanku sendiri.

Aku wanita bernasib malang, menunggu Affal yang lebih mencintai hidupnya sendiri setelah merenggut keperawananku, meninggalkanku terombang ambing sendirian melanjutkan hidup berantakanku tanpa pernah merasa bersalah, tanpa takut karma akan datang dengan bantuan semesta.

Mengingat Affal selalu sama, membuat hatiku sakit dan sudut mataku berair, seketika memaksaku membuka mata, kudapati Rio tertidur lelap dengan gengaman tangannya tanpa melepaskan tanganku. Walau masih berpegangan, aku menjaga jarak aman dengan posisi tidurnya sekarang, aku kembali memejamkan mataku siap terlelap dalam bunga tidurku, tanpa sadar sepasang mata menenduhkan itu terus menatapku.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 105

    Rio menambah kecepatan mobil, setelah aku tidak lagi menimpali argumennya. Dalam kesunyian yaang sengaja diciptakan ini, aku kembali pada mode overthinkingku perihal sebaiknya hubunganku ini harus aku kemanakan. "Kamu mau mendengar lagu?" Rio menoleh sekilas padaku. "Humm, tidak perlu." "Baiklah, jangan sinis padaku Alba." "Hemm, aku biasa saja. Mas Rio yang baperan." "Ya ampun, setelah lama kupikirkan, ternyata berada di dekatmu, membuatku merasa menemukan ibu kedua selain ibuku." "Hah? Maksudkmu?" "Yups kamu mirip ibuku, Alba." "Astaga, kamu sedang ngomong apa sih, Mas?" "Saya bilang cara kamu bicara sama cerewetnya seperti ibu saya." "Humm, oke oke kalau gitu aku nggak ngomong. Awas aja setelah ini kamu ngajak aku ngomong." Aku mengeser tubuhku menghadap pintu mobil dan mengedarkan pandanganku ke luar jendela kaca mobil. "Eeeh, jangan ngambek, gitu dong sayang." Rio menyentuh lenganku, namun dengan satu tepisan saja, aku bisa menanggalkan tangan R

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 104

    “Baiklah, kamu memang bisa membuat saya terkesan kali ini.” Ujarku kembali menyempurnakan make-upku. Dalam pantulan cermin di depanku, Rio sudah siap dengan agenda makan malam kami, meski kami belum lama saling berdebat, bertingkah tidak jelas, namun kerandoman ini selalu diciptakan diantara kami. Entah dari pihak Rio, maupun di pihakku. Rio mengecek arlojinya sekilas, lantas kembali menatapku, “Butuh waktu berapa lama lagi sayang?”“Hum, lima menit lagi kita berangkat ya.”“Oke.” Rio berjalan menjauhi tempat di mana aku sedang duduk di depan meja rias, dia kembali duduk di sofa dan meraih ponselnya dari atas meja.Aku mengenakan lipstick berwarna rose and shine untuk menambah kesan elegan, tidak terlalu menyala juga tidak begitu kusam, standart dan tampak kehilahan segar sperti habis makan buah naga, oh tidak. Maksudku, warna itu warna kesukaanku dan cocok sekali dengan undertone wajahku. Aku berdiri dengan gaun pilihan Rio mengecek dan merapikan bajuku serta mematut-matutkan wa

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 103

    Aku masuk kamar mandi, menghela napas panjang, sebelum buang air kecil sekaligus membuang kenangan-kenangan yang diciptakan Rio selama ini. Aku tidak bohong, hubungan ini hanya akan membuatku semakin terluka, bukan jenis hubungan sehat dan layak dipertahankan. Lalu bagaimana sekarang, aku harus bisa meyakinkan Rio agar dia kembali pada kehidupan normalnya sebagai manusia dan tetap menolak ajakan gila, untuk menikah dengannya, meski ucapan pemuda ganteng itu benar-benar membuatku tersadar, tidak ada yang bisa mengendalikan hal-hal di luar kendali, aku tidak menyangkal kebenaran bahwa aku dan Affal mungkin tidak akan bisa bertemu lagi, apalagi menikah. Affal kriteriaku, sementara aku bukanlah kriterianya, aku mencintainya dengan setulus hati, dia tidak demikian, lantas mengapa aku memilih untuk tidak menikah dengan siapapun selain pria psikopat yang tidak peduli soal tangung jawab itu. Jawabannya, bukanlah perihal cintaku yang sudah habis, tetapi aku menutup luka-lukaku sendiri

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 102

    Tidak sulit membuat ego laki-laki dan harga dirinya hancur, cukup selalu beri makan egonya, enakin mainanya dan turuti kemauannya. Bagaimana perihal hancurnya, terletak pada saat dia kehilangan dirimu dan tidak bisa menemukanmu lagi entah mencari keberadaanmu, atau berusaha mencarimu di dalam jiwa-jiwa wanita lainnya, mungkin jika itu ada. Aku melepaskannya saat Rio sudah ingin mencapai puncaknya, begitu mau keluar dia lari ke kamar mandi dan menumpahkan cairan pelumas alami itu di sana. Aku tertawa kecil penuh kemenangan. Itu balasan stimpal atas komentar-komentarnya terhadapku tadi. Aku berdiri kembali duduk di tepi ranjang dengan menyilangkan kedua kakiku dan merengangkan kedua tanganku di sisi kanan dan kiri badanku. Rio keluar dari kamar mandi, tampaknya dia hanya mencuci kontolnya. "Sayang, puas ya sudah ngerjain saya habis-habisan?" "Sini Mas, kenyotin susu montokku." Rio tidak berkutik, diam seribu bahasa. Dia berlutut di depanku, sembari menatap bergili

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 101

    "Jangan Alba, maksudnya saya tidak mau." Aku terdiam, kututup mulutku dan menyaksikan sisa cairan Rio tumpah di tempat pertamanya tadi. Setelah itu dalam tempo lembat kulihat dia mengambil tisu basah dan kembali membersihkan badanku. "Selesai sayangku." ujar Rio duduk bersila di samping tubuhku yang masih terbaring rileks di atas ranjang. "Jam berapa sekarang Mas?" tanyaku menatapnya yang kemudian mengambil ponselnya di atas nakas. "Oh jam empat sore." "Apa? Kita tidur lama sekali berarti, kurang lebih lima jam?" "Emhem, lapar sayang?" Aku mengusap perutku, "Hehe, lapar sih Mas, mau makan di luar aja?" "Hemm, baiklah. Kalau begitu, kita siap-siap dulu." "Udah ada tempatnya?" "Ada sayang, wait." Rio membuka ponselnya dan mencari informasi terkait tempat makan tujuan kami, aku bangun dari rebahku dan duduk di sampingnya, dia lantas menunjukkannya padaku. "Raswara Coffee And Eatery." "Yups, itu tempat yang lagi viral, beberapa kali kulihat fyp di sosmed."

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 100

    Aku harus berubah, lebih mencintai diriku sendiri sehingga kutemukan tujuan hidupku selain daripada menyayangi orang-orang terdekatku dan kucing-kucingku selalu selamanya begitu. Jika pada akhirnya kutemukan cinta baru, aku akan lebih bisa menjaga diriku, meletakkan logika berpikirku di atas perasan kasihan, perasaan sayang dan segala jenis perasaan-perasaanku pada orang yang mencintaiku. Biar mereka mencintaiku lebih besar dan menghargai peranku sebagai wanita membawa value diri dan bukan untuk direndahkan sebagai pelampiasan nafsu. Aku gila seks, namun aku tidak pernah berniat menjual diriku pada laki-laki lain, selain orang yang kucintai baik dengan ketulusan cinta maupun kesenangan nafsu belaka. Jika suatu saat nanti Affal membaca bukuku ini, semoga dia akan memahamiku, bahwa tokoh Rio yang kuciptakan ini, adalah figur kesenjangan antara relitas dan imajinasiku perihal manusia di sekitarku termasuk adegan-adegan yang buat dalam alur cerita ini adalah bentuk representasi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status