LOGINHei, 😁 ada yang masih baca sampai bab ini? Komen dong biar Author semangat update. 💃💃😁
"Arrrgggh!" Marvel memekik, tubuhnya yang semula sudah ringkih kini ambruk akibat tembakan yang Rico arahkan ke arahnya. Darah mengucur dari dada Marvel. Lelaki tua itu tergeletak dengan mata melotot. Dor! Tembakan berikutnya dilepaskan oleh pihak kepolisian mengarah ke tangan Rico hingga pistol yang semula digenggam Rico pun terjatuh. "Ah, sial!" Rico mengerang, memegangi tangannya yang berdarah sementara para polisi itu mulai menyergap dan menghampirinya. Tidak ada jalan untuk kabur. "Jangan bergerak!" Peringatan dari polisi menghentikan gerakan Rico dan Alya. Alya meringkuk ketakutan, suara tembakan meruntuhkan nyalinya. Ia hanya bisa berjongkok di sudut ruangan, pasrah saat polisi meraih tangannya dan menyeretnya berdiri. Kedua tangan Alya diborgol. "Lepaskan aku!" Gadis itu ingin memberontak, sayangnya tak mungkin. Ia langsung dipaksa naik ke mobil polisi, sedangkan Marvel dibawa dengan ambulans. "Lepaskan aku, Pak Polisi! Aku tidak salah! Yang membunuh Pak Marvel itu di
Alya mencengkeram pinggiran meja kayu yang berdebu dengan napas memburu. Cahaya remang-remang dari satu-satunya bohlam kuning yang berkedip-kedip membuat bayangan dirinya dan Rico terpantul membayangi dinding beton. "Sial! Kamu bergerak sangat lambat! Bagaimana bisa sekarang kita bahkan terjebak di sini sebelum bisa menghabiskan uang itu untuk bersenang-senang!" gerutu Alya sepanjang waktu saat tahu dirinya dan Rici kini jadi buronan polisi. Tidak ada lagi tempat aman yang bisa mereka singgahi. Alya menyalahkan Rico yang bekerja tidak becus. Padahal dalam bayangannya setelah mereka berhasil mencuri uang bisa langsung kabur ke luar negeri dan hidup enak. Nyatanya, Rico bahkan tidak bisa melakukan sesuatu dengan sempurna. Di atas mereka, tepat di lantai utama kediaman Rico derap langkah sepatu laras tebal terdengar samar namun konstan. Polisi sudah mengepung area luar, dan sebentar lagi mereka akan menyisir bagian dalam rumah."Diam, Alya! Lebih baik tutup mulutmu dan tenang!" bent
"Aku ingin ikut mencarinya!" Azalea bangkit, tanpa pikir panjang ia hendak turun. Ezra dengan cepat langsung meraih lengan dan menahanya. "Lea, sadar Lea! Jangan turun, ini sangat berbahaya. Serahkan semua pada tim SAR!"Azalea menggeleng, air mata membasahi pipinya. Ia hanya tak bisa lagi berpikir. Tiga pemuda itu terus menahan Azalea agar tidak bersikap gegabah hingga akhirnya Azalea kehabisan tenaga. Gadis itu merasa kepalanya berdenyut, dadanya terasa sangat sesak hingga kesulitan bernapas. "Lea, kamu kenapa Lea?" Panik Ezra saat melihat Azalea yang terengah sembari memegangi dadanya. Pandangan Azalea mulai mengabur, ia bahkan tak mampu lagi menopang diri hingga tubuhnya ambruk dan kesadarannya hilang sepenuhnya. Sudah sejak kemarin Azalea kurang istirahat, ditambah tidak ada asupan gizi yang masuk ke perutnya. Ia tidak bernafsu untuk makan karena terus memikirkan kondisi Zayn. "Bawa dia ke rumah sakit!" titah Varan pada Ezra yang sigap membopong tubuh gadis itu ke mobil. S
Atas laporan dari Varan dan Varel yang dibantu oleh seorang pengacara, pihak kepolisian akhirnya bertindak cepat.Paginya, beberapa mobil polisi mendatangi kediaman Adinata. Rumah megah itu tampak sangat sepi, bahkan gerbang utama kini dikunci dari luar menggunakan rantai dan gembok tebal—berbeda dari kemarin saat satpam masih menghadang di sana. Membutuhkan waktu untuk membukanya secara paksa, dan situasi ini semakin memicu kecurigaan polisi.Sama sekali tidak ada satpam maupun pembantu yang keluar saat bel berbunyi berulang kali."Dobrak!" titah pimpinan kepolisian.Beberapa petugas langsung merangsek masuk, menyisir setiap sudut rumah yang lengang dan mencekam. Mereka tidak berhenti menyisir hingga akhirnya menemukan Adinata terbaring lemah di sebuah kamar kecil di area belakang dekat gudang. Alya sengaja memindahkannya dari kamar utama agar tidak mudah ditemukan. Beruntung, lelaki tua itu masih bernapas meski kondisinya sangat kritis.Tak berhenti di situ, polisi yang menyi
"Bukankah mereka anggota Black Viper?" celetuk Varel saat mengecek CCTV jalan di mana Zayn dan mobilnya tampak dikepung oleh beberapa orang memakai sepeda motor dengan atribut khas anggota geng itu. "Astaga, ini juga masuk akal!" Varan berdecih. "Bukan Alya, bagaimana jika anggota Black Viper yang justru saat ini sedang menyekap Zayn?" Varan dan Varel yang bertugas menelusuri kapan terakhir Zayn terlihat dengan mengecek semua CCTV jalan dengan rute yang mungkin Zayn lalui dibuat terkejut dengan fakta baru itu. Keduanya saling tatap dengan pemikiran yang sama. "Mereka menaruh dendam karena Zayn mengalahkan mereka," cetus Varan sembari meremas tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Hal pertama yang ia pikirkan jelas saja Revan yang baru kalah oleh Zayn. Yuda dan kawanannya itu memiliki gengsi selangit, jika sampai kalah dan dipermalukan begini jelas saja mereka pasti ingin membuat perhitungan. Varel manggut-manggut, bukti itu membuat kepala mereka terasa semakin berat karena
"S-saya tidak tahu soal itu! Yang jelas Tuan Zayn ada di dalam dan pesan tidak boleh diganggu!" sahut satpam itu terbata-bata. Tanpa menunggu balasan lagi, ia buru-buru berbalik dan setengah berlari kembali ke dalam pos penjagaan, menutup pintunya rapat-rapat dan tidak memberikan kesempatan anak-anak muda itu menanyainya. Azalea mematung menyaksikan reaksi panik satpam itu. Reaksi yang bahkan tidak mampu disembunyikan dengan baik. "Kalian lihat reaksi dia tadi?" bisik Ezra dengan nada penuh curiga. Varel menyilangkan tangan di dada, napasnya berembus berat. "Reaksi satpam itu jelas banget. Dia panik mendengar nama Tante Marta. Artinya, ada sesuatu yang disembunyikan." "Benar. Tidak mungkin Zayn berdiam di rumah saat tahu tantenya hampir kehilangan nyawa." "Atau justru mereka sengaja menyembunyikan Zayn supaya tidak tahu apa yang terjadi sama Tante Marta," timpal Varan dingin. Tatapannya masih terkunci pada gerbang tinggi di hadapan mereka. "Sekarang semua sudah jelas. H
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--







