Home / Romansa / Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah! / Bab 5 Minta Maaf Pada Babuku!

Share

Bab 5 Minta Maaf Pada Babuku!

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-05-13 19:33:03

Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya.

"Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--"

"Lalu siapa?" Zayn beralih menatap Azalea. Tatapan yang menuntut untuk gadis itu jujur. Lagi-lagi Azalea terdiam, Zayn tahu pada dasarnya gadis itu tidak mau membocorkannya karena takut.

"Kamu--" Zayn mengalihkan tatapan pada Yiyi, anak perempuan yang biasa paling lantang bergosip dan mentertawakan Azalea.

"Aku--" Yiyi tergagap, ia panik apalagi saat perhatian semua orang langsung beralih ke arahnya. "Zayn, aku tidak tahu apa pun. Bukan aku yang melakukannya!"

"Bukan kamu? Semua orang tahu kamu benci anak miskin ini. Apa kamu pikir bisa membodohiku?" tanya Zayn dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Yiyi terpojok, jika ia mengelak lagi, maka ia hanya akan semakin membuat Zayn marah. Dan itu akan membawa masalah yang lebih besar untuknya.

"Zayn, maafkan aku..." Yiyi langsung memohon. "Bukan aku yang memotong rambut Lea, aku hanya bicara pada Alya…"

Pada akhirnya Yiyi mengatakan semuanya, dari awal saat ia sengaja menabrak Azalea dan mencuri kertas ulangan milik Alya.

Ekspresi di wajah Zayn semakin mengeras dan kaku. Dia langsung menarik hoodie Azalea lagi dan melangkah keluar kelas, menuju kelas Alya.

"Zayn! Tunggu!" Yiyi dan dua temannya yang panik langsung berlari mengikutinya.

Saat itu Alya sedang duduk di meja sambil menatap cermin kecil dan bersolek.

Brak!

Tanpa aba-aba, Zayn datang langsung merebut cermin itu dan melemparnya ke lantai hingga pecah. Sontak keributan itu membuat suasana tegang dan senyap sesaat.

"Zayn? Apa yang kamu lakukan?" sentak Alya kesal. Ia turun dari meja. Ia belum berpikir apa pun, selain Zayn yang memang suka membuat masalah dengannya.

Zayn adalah sepupunya, tentu saja gadis itu juga cukup berkuasa di sekolah. Ia bukan tidak takut pada Zayn, hanya saja egonya terlalu tinggi.

"Kamu memotong rambutnya?" tanya Zayn tanpa basa-basi.

Alya melirik ke arah Azalea di belakang Zayn, lalu memutar bola matanya, ekspresinya tanpa takut.

"Kalau iya, memang kenapa? Dia anak beasiswa miskin yang membuat sekolah kita ternoda. Harusnya bukan hanya rambut, sekalian kurusak saja seragamnya agar tidak lagi sekolah di sini. Ada masalah dengan itu?"

Alya tersenyum sinis dengan tatapan remeh pada Azalea. Ia tidak berpikir Zayn akan membela si udik, karena dilihat dari segi mana pun, Zayn tidak mungkin melakukan itu.

"Sambung rambutnya lagi," titah Zayn datar.

Sontak saja Alya melotot, ia menatap Zayn dengan ekspresi terkejut. "Sambung rambut? Maksudnya?"

"Anak ini babuku. Rambut pendeknya mengusik penglihatanku. Karena kamu yang memotongnya, jadi aku mau kamu menyambungnya lagi. Seperti semula."

"A--pa? Zayn, kamu bercanda? Mana mungkin--"

"Kalau tidak mungkin, cepat minta maaf," potong Zayn tanpa perasaan.

Alya terdiam dengan wajah memerah. Ia tidak mungkin sudi minta maaf pada anak beasiswa miskin, tentu itu terasa seperti mencoreng harga dirinya.

"Mau minta maaf atau tidak?" Zayn mengulang lagi, kini ia merogoh ponselnya di saku lalu menekan nomor seseorang. Saat telepon tersambung, terdengar suara Haikal di seberang yang segera membuat mata Alya membulat.

"Haikal, putuskan hubunganmu dengan Alya--"

"Tunggu!" sela Alya cepat. "Tidak! Kamu tidak boleh melakukannya Zayn! Atas dasar apa kamu memerintah Haikal putus denganku?!"

Zayn menatapnya datar. "Haikal juga orangku, kamu lupa?"

Alya menggeram rendah. Haikal adalah pacarnya. Lelaki yang sudah membuatnya cinta mati sejak dulu, jadi mana mungkin Alya mau Haikal memutuskan hubungan mereka hanya karena masalah konyol ini?

Dan Haikal sendiri pasti tidak mampu melawan Zayn, dengan hierarki yang sudah tersusun tanpa cela di sekolah ini.

"Jadi?" Zayn tersenyum dingin dengan tatapan mengintimidasi pada Alya.

Sementara Azalea sejak tadi terdiam sambil gemetar. Bagaimana pun, dia bukan tidak senang dibela, tapi dia tahu konsekuensinya setelah ini pasti akan banyak lagi yang membencinya.

Barisan pembenci itu akan bertambah, mungkin bukan hanya teman sekelas atau satu angkatan, tapi seluruh sekolah akan tahu.

"Baiklah," sahut Alya cepat. "Aku akan meminta maaf!"

"Katakan dengan lantang. Sambil berlari lima putaran di halaman dengan anak-anak bodoh ini," titah Zayn lagi, sambil mendorong Yiyi dengan kakinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 12 Skandal dengan 3 Cowok Populer

    ​"Pelayan di tempat biliar?" ulang Azalea dengan gumaman ragu. "Tapi, aku kan masih sekolah, Kak. Apa boleh?"​"Gajinya lumayan, Lea. Itu bukan tempat biliar biasa, tapi biliar lounge elite yang ada fasilitas bar mewah di dalamnya. Jadi, pelanggan yang datang ke sana rata-rata kalangan atas dan anak-anak sekolahan kaya yang suka nongkrong sepulang sekolah," jelas Sean."Tip dari mereka besar sekali. Kalau kamu butuh uangnya cepat untuk satu atau dua minggu ini, aku sarankan itu."​"Tapi, apa tempat seperti itu legal untukku?" tanya Azalea masih sangsi.​"Soal bisa atau tidaknya kerja di sana, itu masalah gampang. Bar utamanya baru ramai malam hari, sedangkan pekerja baru yang dibutuhkan di sif sore. Lagian, aku punya orang dalam yang bisa membuatmu diterima kerja tanpa prosedur yang ribet," tambah Sean lagi.​Azalea tampak berpikir sesaat. Ia memang sangat butuh uang sekarang. Kalau tidak mendesak, tentu saja ia tidak perlu mengorbankan sisa waktunya di luar jam sekolah untuk bekerja.

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 10 Kerja Sampingan

    Setelah selesai dikupas dan dipotong, tanpa aba-aba Zayn menjejalkannya ke mulut Azalea yang tadi sedang bengong. "Hmph--" Gadis itu tertegun. "Kamu bisa memakannya. Semua buah ini, habiskan saja. Aku sudah tidak berselera," ucap Zayn, meletakan kupasan apelnya di piring, kemudian ia mengambil tisu dan bangkit. "Zayn, ini sungguh?" Zayn sudah keluar, pemuda itu bahkan tidak lagi menggubris Azalea yang bertanya memastikan.Meski senang diberi buah-buahan premium, namun Azalea agak takut Zayn akan menagih bayaran setelah Azalea memakannya. "Dia beneran pergi?" Tatapan Azalea mengekor hingga pria itu benar-benar menghilang di balik pintu. "Wah--" Mata Azalea berbinar saat tatapannya beralih pada buah-buahan di meja. "Aku akan membawa pulang sebagian untuk Ibu!" gumamnya senang. Jujur, Azalea jarang sekali mengkonsumsi buah apalagi buah mahal seperti ini, hampir tidak pernah! ***"Haikal!" panggil Alya pada anak lelaki yang berjalan melewati kelasnya. "Sayang, tunggu!" imbuhnya sa

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 9 Menjenguk Pacar

    "Mencium orang pingsan?" Zayn menarik sudut bibirnya. "Maksudnya aku hendak menciummu, begitu? Apa kamu sedang bermimpi?" Zayn mengelak dengan tenang dan senyum mencibir, meski begitu ia hanya memundurkan wajahnya sedikit.Mata gadis itu membulat penuh waspada."Kalau kamu bukan mau mencium, lalu untuk apa mendekatkan wajahmu sedekat itu?!" Azalea tidak lagi sabar untuk terus menahan napas. Jadi ia menyentak napasnya, hingga membuat Zayn benar-benar menjauhkan wajah tampannya. "Sialan! Napasmu bau!" "Maka dari itu, lebih baik kamu menjauh." Azalea memalingkan wajahnya. Ia masih lemas, tidak ada tenaga untuk berdebat apalagi bertengkar dengan Zayn, namun ia sendiri tidak berani mengusir pemuda itu. "Bau napas orang miskin yang kekurangan makan memang seperti napas naga," hina Zayn.Napas naga? Diam-diam, Azalea melirik sinis. Zayn tidak lagi menggubris respon atau pun tatapan kesal itu. "Di pinggir keningmu, apa itu bekas luka?" tanya Zayn dengan raut serius. Azalea buru-buru m

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 8 Ciuman Ilegal

    Alya menyambar ponselnya, tidak ingin gadis kampung itu lama-lama menatapnya. Setelahnya ia bergegas pergi dengan menyenggol bahu Azalea hingga gadis itu terhuyung. "Lea!" Sean menangkapnya. "Kamu tidak apa-apa?" Azalea tersadar dari lamunannya. "Maaf, Kak Sean. Aku tidak apa-apa." Azalea memaksakan senyumnya. Ia kembali fokus pada gantungan baju yang dibawanya, lalu mengekor Sean. Sepanjang langkahnya masih tidak bisa fokus, wajah dokter di ponsel Alya mengingatkannya pada foto usang milik ibunya. "Taruh sana!" titah Bu Marta pada Sean, wanita paruh baya itu tampak masih sibuk dengan layar tabletnya--membuat sketsa desain. Azalea termangu, menatap wajah wanita yang mungkin seumuran dengan ibunya. Namun, karena Marta berkecukupan, jelas dari segi penampilan dan perawatan diri pun berbeda, jadi tampak lebih muda. Sekilas Marta melirik ke arah Azalea, gadis berambut pendek yang memakai topi itu terus melihat ke arahnya. Marta bukan seseorang yang ramah pada semua orang, jadi ia

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 7 Mirip Laki-Laki

    "Tapi ini sudah di luar sekolah, apa aku harus tetap jadi babumu?" Azalea membenarkan posisi duduknya, dia baru sadar sedang naik mobil mewah yang sepanjang hidupnya baru kali ini. Di luar, Ezra dan Haikal masih berdiri dengan tercengang, melihat mobil mewah itu melaju bahkan tanpa menyapa mereka sedikit pun. "Apa ini? Kamu lihat? Tuan muda itu bahkan tidak menggubris kita!" Heboh Ezra, seolah tidak terima dengan sikap dingin Zayn, meski sudah tahu persis watak temannya itu.Yang Ezra tidak habis pikir, Zayn mengacuhkannya dan malah mengajak si udik naik mobil itu. Haikal tersenyum miring, menepuk pundak Ezra. "Sudahlah, ayo pulang!"***​"Zayn, tidak perlu sambung rambut. Aku rasa bakal ribet dan aku tidak yakin bisa merawatnya nanti," ujar Azalea ragu saat Zayn membawanya ke penata rambut ternama itu.​Zayn hanya mendengus tipis, matanya menatap datar pantulan Azalea di cermin. "Terserah," sahutnya singkat. ​Tanpa membuang kata, Zayn menggerakkan dagunya sedikit, sebuah instruk

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 6 Aku Masih Butuh Babu

    "Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, apa ini tidak keterlaluan? Di luar sangat panas, mereka bisa pingsan kalau--""Keterlaluan? Aku sudah berbaik hati," potong Zayn dengan ekspresi dingin. "Aku bisa saja bilang pada guru untuk menskors mereka, atau mengeluarkan mereka dari sekolah ini."Kata-kata dingin Zayn membuat Azalea bergidik dan sontak terdiam.Meski menghukum anak-anak yang merundungnya membuatnya merasa puas dan berterima kasih pada Zayn, Azalea masih berpikir rasional. Ia hanya anak miskin. Memberi hukuman pada pembenci itu hanya melempar Azalea ke masalah yang lebih pelik. "Kamu boleh pergi." Zayn berpindah ke sofa, membaringkan tubuhnya dan memejam. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutupi sebagai wajah dan mata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status