Se connecterAzalea kembali ke kelasnya, ia tidak menangis, hanya duduk diam sembari menenangkan diri. Namun sialnya karena ia sekelas dengan Naura, mau tak mau ia harus kembali melihat wajah memuakan itu. Naura sering kali mencuri pandang pada Azalea, memberi senyum penuh ejekkan namun Azalea memilih memalingkan wajahnya. Sepanjang pelajaran, Azalea tidak bisa fokus. Beruntung bel pulang berbunyi. Ia bisa menghela napas lega, mengemasi barang-barangnya dan bersiap pulang. "Lea." Azalea kembali menahan napas saat mendengar suara Naura lagi. Padahal ia berniat ingin menjauh. Naura sudah berdiri di samping meja Azalea dan bersedekap. "Tadi waktu kamu pergi, Zayn tetep nggak hukum aku tuh. Dia cuma bilang lain kali jangan keterlaluan, kasian kamu. Itu saja."Azalea pura-pura tak acuh. "Oh ya, Zayn juga bilang. Sekali pun kalian dekat, Zayn akan tetap memihakku. Karena apa pun alasannya Zayn dekat denganmu pada akhirnya, aku adalah salah satu wanita pilihan keluarga Adinata," ucap Naura percaya d
Byur! Cairan minuman dingin beraroma manis itu membasahi wajah hingga bagian dada seragam Azalea. Es batu jatuh berhamburan di atas meja, disusul jeritan kaget dari beberapa murid di sekitar kantin."Naura! Kamu gila, ya?!" Jeje histeris. Ia langsung mendorong bahu Naura kuat-kuat hingga gadis itu terhuyung ke belakang. "Kurang ajar kamu!""Jeje, sudah!" tahan Azalea pelan. Suaranya gemetar, tetapi tangannya dengan sigap menahan Jeje agar tidak semakin tersulut emosi.Azalea menyapu sisa cairan di wajahnya dengan telapak tangan. Belum sempat suasana kantin yang riuh itu mereda, mendadak semua hening saat terdengar langkah kaki dari arah pintu, ada bayangan pemuda yang tidak bisa diabaikan kehadirannya. Zayn muncul di sana, didampingi Varel yang berjalan santai di sampingnya.Zayn mengernyit halus saat menangkap kekacauan pada Azalea, terutama saat mendapati gadis itu berdiri basah kuyup.Ekspresi Zayn berubah, tidak hanya dingin dan kaku, namun ada gurat marah di wajahnya. Me
Azalea melongo, mencerna ucapan Jeje dengan tatapan polos. Setelah beberapa detik tertegun, ia menggeleng pelan, merasa tidak yakin."Dia mengklaimku sebagai miliknya hanya sebagai babu," ujar Azalea dengan raut cemberut. "Apa menurutmu ada cinta di sana?"Jeje mendengus geli melihat betapa polosnya sahabat di hadapannya ini. Ia menyandarkan punggung ke kursi lalu melipat kedua tangan di dada."Babu mana yang diajak menginap di apartemen? Babu mana yang tangannya dikecup dengan manis begitu?" cerocos Jeje gemas. "Lea, bangun! Kalau Zayn cuma menganggapmu babu, dia bakal menyuruh orang lain untuk mengurus semua kebutuhannya. Tapi dia maunya cuma kamu!"Azalea mengulum bibirnya rapat-rapat. Logikanya mencoba menolak, tetapi detak jantungnya kembali berdegup kencang mengingat perlakuan Zayn tadi. "Tapi kami memang tidak berpacaran, Je. Zayn juga tidak pernah bilang kalau dia menyukaiku," cicit Azalea pelan seraya memainkan sedotan di gelasnya."Laki-laki seperti Zayn itu bertinda
"Dan satu lagi--" Zayn masih bicara. Permintaannya serius. "Di sana, kamu tetap harus jadi 'babu'-ku," tambah Zayn dengan nada santai tanpa dosa. Tangannya bergerak mengusap pelan rambut pendek Azalea yang sudah tertata rapi. Azalea melotot lebar, refleks menepuk bahu tegap Zayn cukup keras penuh protes. "Zayn! Kamu banyak maunya!""Oh, ya?" Zayn menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura berpikir. "Jangan harap bisa langsung pulang kalau aku masih ingin bertahan satu atau dua hari di pulau itu," bisiknya lagi. "Kamu benar-benar sewenang-wenang!" gerutu Azalea seraya mengerucutkan bibirnya sebal. Namun, ia tidak bisa memungkiri ada rasa hangat yang mendesir di dadanya. Cara Zayn mengusulkan hal itu menyiratkan bahwa pemuda itu sebenarnya hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama berdua bersamanya. Zayn terkekeh puas melihat wajah cemberut Azalea yang menggemaskan. Ia merengkuh pinggang Azalea lebih erat, mengikis jarak hingga dahi mereka saling menempel pelan."Bagaimana? Dea
Azalea tidak memperpanjang celotehan Varel dan memilih langsung beranjak menuju ruang dewan siswa.Begitu sampai di depan pintu berpelitur gelap itu, pintunya mendadak terbuka dari dalam. Pak Heru-- sang pembina keluar dengan membawa beberapa berkas. Azalea yang terkejut buru-buru menghentikan langkahnya dan membungkuk sopan."Selamat siang, Pak Heru," sapa Azalea ramah."Siang, Azalea. Kebetulan sekali, Zayn masih ada di dalam," ujar Pak Heru mengangguk pelan sebelum melangkah meninggalkan koridor.Azalea menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, lalu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Di ruangan yang tenang itu, Zayn tampak terduduk. Mendengar langkah kaki mendekat, pemuda itu mendongak. Begitu menyadari siapa yang datang, raut wajah Zayn berubah datar dan tak acuh, meski tatapan matanya menancap tajam, seolah siap menuntut penjelasan atas pesan singkatnya yang diabaikan semalam.Paham betul arti tatapan itu, Azalea langsung melancarkan aksi penyelam
Azalea mengangguk, ia terkekeh pelan sembari berbalik menjauh. Ia mendekati anak-anak lagi setelah mobil Zayn melaju pergi. Azalea merasa pilihannya cukup tepat, berada di panti membuatnya tidak perlu merasa kesepian. Di sana ada banyak anak-anak lucu yang menemaninya. Gadis itu juga mendapat kamar yang cukup nyaman, ruangannya terpisah dari tempat tidur anak-anak panti. Malamnya Azalea belajar, mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok.Ponsel di mejanya bergetar, ada pesan masuk, namun Azalea yang tanggung ingin merampungkan tugasnya memilih untuk tidak melihatnya dulu. Hingga jam menunjuk pukul sepuluh, Azalea baru selesai. Ia meraih ponselnya, ingin mengecek pesan namun ternyata ponsel itu mati kehabisan baterai. Pantas saja tadi hanya bergetar sekali. Azalea mengambil charger dan mengisi dayanya lebih dulu. Niatnya ia menunggu beberapa menit untuk menyalakan ponselnya, tapi rasa kantuk itu tidak tertahan. Tanpa menunggu Azalea menghempaskan tubuhnya ke ranjang, dan mat
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet







