LOGIN"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"
Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, apa ini tidak keterlaluan? Di luar sangat panas, mereka bisa pingsan kalau--" "Keterlaluan? Aku sudah berbaik hati," potong Zayn dengan ekspresi dingin. "Aku bisa saja bilang pada guru untuk menskors mereka, atau mengeluarkan mereka dari sekolah ini." Kata-kata dingin Zayn membuat Azalea bergidik dan sontak terdiam. Meski menghukum anak-anak yang merundungnya membuatnya merasa puas dan berterima kasih pada Zayn, Azalea masih berpikir rasional. Ia hanya anak miskin. Memberi hukuman pada pembenci itu hanya melempar Azalea ke masalah yang lebih pelik. "Kamu boleh pergi." Zayn berpindah ke sofa, membaringkan tubuhnya dan memejam. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutupi sebagai wajah dan mata. Di sana tidak hanya ada Azalea, tapi Haikal juga ada. Meski begitu, Zayn sama sekali tidak terpengaruh. Tidak ada rasa sungkan atau pun tidak enak hati. Kalau pun Haikal tidak suka dengan pacarnya yang dihukum, itu bukan urusan Zayn. Tidak mungkin mengganggu tidur raja sekolah, Azalea pun bergegas kembali ke kelas. Selagi Zayn berbaik hati, Azalea memang tidak boleh menyiakan kesempatan seperti ini. "Hm, tuan putri dari keluarga Adinata sepertinya sangat patuh pada Zayn," komentar Ezra sambil terkekeh geli dan menyeruput minumannya. Di sampingnya, Haikal berdiri diam, di balik dinding kaca itu ia melihat gadis yang beberapa bulan ini selalu menempel padanya dan selalu mengklaimnya sebagai pacar. Wajah Haikal pun tanpa ekspresi, seolah apa yang terjadi pada Alya tidak mengusiknya. *** Di kelas, kehadiran Azalea membuat ruangan itu seketika hening. Ruangan yang tadi ramai dengan celotehan siswa kini semua diam, menatap ke arah Azalea dengan tatapan yang berbeda. Mungkin tidak lagi remeh, tapi ada sedikit ketakutan di sana. Mereka tidak lagi terang-terangan merundungnya, memilih tak acuh dan mungkin enggan berurusan dengan Azalea karena takut salah sedikit saja bisa menyinggung Zayn. Meski hanya babu, ternyata Azalea cukup diperhatikan. "Setidaknya biarkan saja dia, nanti kalau si raja sekolah sudah bosan dan muak, kita tidak perlu repot-repot! Zayn sendiri yang akan mendepak gadis beasiswa miskin itu!" bisik-bisik mereka. "Yap, bisa jadi ini juga salah satu permainan Zayn. Cowok dingin itu mana mungkin sungguh memperhatikan babu ... dia pasti hanya sedang bosan dan main-main." Mereka diam-diam tertawa. Azalea menundukkan kepalanya, pura-pura fokus pada lembaran buku di mejanya. Anggap saja suara mereka hanya dengungan lebah. Di halaman, Alya hampir pingsan. Ia tersungkur duduk di bawah pohon setelah menyelesaikan hukumannya, diikuti oleh Yiyi dan yang lain. "Oh my God! Aku hampir mati," gumam Alya menyugar rambutnya dan mengibaskan tangan kepanasan. "Aku pikir Zayn tidak mungkin tega menghukummu. Ternyata hanya demi babu miskinnya, Zayn bahkan memberimu hukuman seperti kami." Yiyi duduk di samping Alya. Ucapannya terkesan memprovokasi. Alya melirik Yiyi dengan sinis. "Semua ini gara-gara kamu!" Ia menyentak napasnya. Alya kesal pada Zayn, tapi lebih kesal lagi pada Yiyi yang beraninya membodohinya. "Apa? Tidak, aku kan hanya--" "Kamu yang menghasutku! Dan bahkan kamu juga yang pasti menghilangkan kertas ulanganku demi membuat Azalea bermasalah. Sejak awal, harusnya kamu yang aku habisi!" Alya yang sempat kelelahan kini kembali garang. Ia sama sekali enggan dekat apalagi disetarakan dengan siswi seperti Yiyi. Meski orang tua Yiyi kaya raya, tapi kelasnya tidak sebanding dengan keluarga Adinata. Yiyi gugup, matanya melebar tidak percaya. Ratu sekolah, dengan cepat berubah mood dan berbalik marah padanya. "Alya, maaf ... aku--" "Kamu, dan dua temanmu ikut aku!" titah Alya. "Hukumanmu masih belum selesai! Selain dari Zayn, kamu harus dapat hadiah dariku karena sudah berani mempermainkanku!" sentak Alya cepat, lalu memerintah temannya untuk menggiring Yiyi dan gengnya. Dengan Alya pun, Yiyi tidak berani melawan. Anak itu seperti kerbau dicucuk, menuruti setiap ucapan Alya. *** Zayn berdiri, ia hendak keluar saat bel pulang sekolah berbunyi. Sebelum itu, ia berdiri tegap di hadapan Haikal, memperhatikan sekilas ekspresi anak itu. "Kamu tidak terima?" tanya Zayn dengan senyum miring tanpa dosa. Haikal paham apa yang Zayn maksud--masih tentang Alya yang mendapat hukuman. Ia hanya mengendikkan bahu acuh. "Kamu bebas melakukannya." Mendengar itu, Zayn mendengus kecil melihatnya yang tidak protes sedikit pun meski ia menghukum kekasihnya. Lalu dengan enteng Zayn keluar dari ruangan. Ezra yang tadi duduk anteng buru-buru mendekati Haikal. "Ada apa sih dengan dia hari ini? Zayn sepertinya bukan cuma kebanyakan makan angin, tapi ada jin botol yang merasukinya," celoteh Ezra masih tak habis pikir karena apa yang Zayn lakukan terasa sangat tidak sejalan dengannya. "Jangan diambil pusing, ia mungkin hanya ingin bermain-main dengan permainan yang berbeda," ucap Haikal acuh, mulai melangkah pergi diikuti Ezra. Keduanya berjalan berdua sampai di tempat parkir. Mereka kira Zayn sudah pulang lebih dulu, ternyata tidak, cowok dingin itu masih bersandar di mobilnya. "Ah? Kamu nungguin kita?" Ezra tertawa senang, ia pikir Zayn berubah pikiran dan akan ikut dengannya untuk nongkrong. "Zayn, aku sudah mengambilnya!" ucap Azalea yang datang terengah-engah lalu menyodorkan bulpoint mahal milik Zayn. Gadis itu baru saja berlari ke kelas Zayn untuk mengambil barang Zayn yang katanya tertinggal. Zayn menerimanya, lalu membuka pintu mobil dan memberi perintah pada Azalea. "Masuk." "Apa? Ah, tidak, aku pulang sendiri saja," tolak Azalea. Tidak hanya sungkan, tapi ia merasa ingin pulang secepatnya. "Aku bilang masuk," ulang Zayn menarik tangan Azalea sampai gadis itu terperosok di dalam mobil mewahnya. "Zayn! Tapi--" "Aku masih butuh babu," ucap Zayn singkat. Wajahnya datar, menatap ke depan dan menyuruh supirnya untuk segera melajukan mobil.Jika saat itu Kakek Adinata yang memberi cincin untuk Azalea sebagai perwakilan keluarga Adinata, sekarang Zayn memberikannya langsung. Ia memesannya sendiri, cincin lamaran yang diukir nama Zayn dan Azalea dengan sangat indah. "A-ku mau Zayn." Azalea mengulurkan jemarinya saat Zayn hendak menyelipkan cincin itu. Senyum Azalea merekah, matanya berbinar haru. Ia lalu berbalik dan menatap ke arah inkubator. "Sayang, lihat! Ayahmu melamar Mama!" Azalea mengangkat jemarinya dan mendekatkannya ke arah inkubator. Ia tahu anaknya belum bisa lihat, namun kebahagiaan itu pasti juga si kembar rasakan. Zayn dan Azalea lalu pulang. Keduanya pergi bersama, sepanjang jalan melawati kota terang yang penuh dengan warna-warni lampu. Sedikit berbeda dari tempat asal mereka, namun suasana romantis di mana pun tetap bisa mereka rasakan. *** Kediaman Adinata masih sama, yang membuat berbeda adalah sekarang ada ruangan khusus yang dijadikan sebagai kamar si kembar. Adinata menyambut kedatanga
Telinga Zayn berdengung. Suara-suara di sekitarnya terdengar sangat jauh dan terdistorsi, seolah berada di dalam air. Saat kesadarannya ditarik paksa ke permukaan, rasa sakit menusuk kepalanya."Arrrrghhh!" Zayn mengerang lemah. Tangannya mencoba terangkat untuk memegang kepala, tetapi gerakannya sangat berat dan bergetar hebat.Ezra dan yang lainnya tersentak panik. Tanpa membuang waktu, Ezra berteriak memanggil dokter yang bersiaga di rumah itu."Dia sadar? Apa Zayn benar-benar sadar?" gumam Ezra cemas, mondar-mandir sembari memperhatikan dokter yang buru-buru memeriksa refleks dan pupil mata Zayn.Adinata yang mendengar keributan dari lantai bawah bergegas naik. Langkah kakinya terhenti di ambang pintu, matanya berkaca-kaca menatap sang cucu di atas ranjang. Setelah satu tahun koma, tubuh Zayn yang terbaring kaku itu akhirnya menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dadanya naik turun dengan napas yang nyata."Bagaimana kondisinya, Dok?" suara Adinata bergetar saat menghampiri r
Waktu berputar begitu cepat, berbulan-bulan yang terasa sangat singkat untuk Azalea berhasil menghabiskan waktunya di sekolah elit. Sekolah yang saat pertama kali ia datang disambut dengan banyak kemalangan, namun karena itu juga ia menemukan pelindungnya. Tepat setelah ujian nasional selesai Azalea langsung dikirim ke luar negeri oleh keluarga Adinata untuk melakukan program bayi tabung. Ia sungguh-sungguh akan menjadi menantu keluarga Adinata dengan mengandung calon pewaris. Sedangkan Zayn, ia juga menjalani pengobatan. Beberapa kali keluarga Adinata mengundang dokter ahli dari berbagai negera, pernah juga Zayn yang dibawa langsung ke salah satu rumah sakit terkenal di luar. Sayangnya, kondisinya masih koma meski menunjukan beberapa perubahan yang baik. Saat ini pemuda itu terbaring, baru saja selesai diperiksa. Teman-temannya yang sejak tadi menunggu akhirnya diperbolehkan untuk masuk menjenguknya. "Zayn, kami datang." Suara Ezra yang paling nyaring di antar yang lain. V
Dokter mengangguk.“Ya. Operasi pertama baru salah satu dari serangkaian tindakan yang harus dilakukan. Kami perlu terus memantau kondisi otaknya dan memastikan tidak terjadi komplikasi yang lebih parah.”Azalea merasa kedua kakinya kembali kehilangan tenaga.Ezra segera berdiri di sampingnya dan menopang tubuhnya.“Dokter...” suara Azalea hampir tidak terdengar. “Berapa besar kemungkinan dia selamat?”Dokter terdiam sejenak.“Kami akan melakukan segala yang kami bisa. Tetapi saya harus jujur, dua puluh empat jam ke depan sangat penting.”Azalea menatap dokter itu dengan mata berkaca-kaca. “Bolehkah saya melihatnya?”“Belum sekarang. Setelah kondisinya cukup stabil, pasien akan dipindahkan ke ICU.”Azalea mengangguk perlahan. Dia kembali menatap pintu ruang operasi. ***Satu bulan setelah insiden. Azalea keluar dari kelas, pelajaran sudah selesai harusnya ia pulang namun kali ini langsung ke rumah sakit. Ia datang sendiri, sudah biasa setiap hari Azalea akan menyempatkan waktunya u
Azalea berlari begitu cepat, bahkan tidak lagi mempedulikan sekitar saat Ezra bilang Zayn hampir sampai di rumah sakit namun kondisinya tidak sadar. Azalea menyambut di depan saat brankar yang membawa tubuh Zayn baru saja turun dari ambulans. "Zayn!" Azalea langsung mencengkeram pinggiran brankar dan ikut berlari mendorongnya menunju IGD. "Zayn, kamu harus bertahan. Zayn--" Azalea menggenggam tangan yang terasa lemas dan tidak bergerak itu. Sekilas ia lihat wajah Zayn gang juga pucat dan dipenuhi dengan luka lebam juga luka terbuka. Azalea hanya bisa mengiring sampai di depan pintu, tenaga medis mendorong masuk brankar itu dan menahan Azalea untuk tetap di luar lalu pintu tertutup dengan cepat. "Zayn aku menunggumu!" histeris Azalea. Ia hampir saja jatuh terduduk namun Ezra sigap menahannya dari belakang lalu memapahnya untuk duduk di kursi tunggu. "Lea tenanglah. Yang penting Zayn sudah ketemu, kamu tidak boleh begini. Jangan sampai kesehatanmu kembali drop!" Ezra begitu telate
"Arrrgggh!" Marvel memekik, tubuhnya yang semula sudah ringkih kini ambruk akibat tembakan yang Rico arahkan ke arahnya. Darah mengucur dari dada Marvel. Lelaki tua itu tergeletak dengan mata melotot. Dor! Tembakan berikutnya dilepaskan oleh pihak kepolisian mengarah ke tangan Rico hingga pistol yang semula digenggam Rico pun terjatuh. "Ah, sial!" Rico mengerang, memegangi tangannya yang berdarah sementara para polisi itu mulai menyergap dan menghampirinya. Tidak ada jalan untuk kabur. "Jangan bergerak!" Peringatan dari polisi menghentikan gerakan Rico dan Alya. Alya meringkuk ketakutan, suara tembakan meruntuhkan nyalinya. Ia hanya bisa berjongkok di sudut ruangan, pasrah saat polisi meraih tangannya dan menyeretnya berdiri. Kedua tangan Alya diborgol. "Lepaskan aku!" Gadis itu ingin memberontak, sayangnya tak mungkin. Ia langsung dipaksa naik ke mobil polisi, sedangkan Marvel dibawa dengan ambulans. "Lepaskan aku, Pak Polisi! Aku tidak salah! Yang membunuh Pak Marvel itu di
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus







