LOGINMelihat keributan itu, beberapa memilih tidak peduli namun Ezra tidak bisa. Ia mungkin tidak suka Azalea, tetapi melihat wanita dikasari ia pun tidak bisa tinggal diam. "Semua bisa dibicarakan baik-baik! Tidak perlu main tangan!" Ezra melerai. "Lagian, kamu memang anak haram! Kenapa marah jika ada yang berkata begitu?!" Ezra bicara dengan entang, ia tidak peduli jika Alvano ikut kesal padanya. Toh, apa yang ia katakan memang fakta. "Jaga mulutmu--!" Alvano menunjuk Ezra, ia tidak terima. Keduanya yang memang berselisih sejak awal justru makin mengobarkan api permusuhan. Ajang balas dendam pun akhirnya pecah. Alvano dan Ezra berduel dengan tenaga penuh. Bugh! Alvano lebih dulu melayangkan pukulan. Tidak terima, Ezra ikut membalas. Adu tinju pun semakin memanas hingga suasana kelas riuh dan berantakan. "Berhenti! Kenapa kalian malah jadi ribut!" teriak salah satu anak, tapi tidak dihiraukan. Azalea pun kebingungan, masalah yang awalnya antara Alvano dan Azalea, sekarang justru m
Zayn mengerti apa maskud kakeknya, ia bahkan tetap tenang tanpa rasa panik sedikit pun. Zayn tersenyum miring. "Kakek, aku selalu mendoakanmu panjang umur. Jadi tidak perlu terburu-buru, bukankah aku masih harus lulus sekolah, kuliah sampai sarjana, lalu lanjut magister?" katanya santai, dengan nada suara yang rendah dan membujuk. "Tapi kalau memang Kakek merestuiku untuk menikah muda, misal sekolah sambil punya istri dan anak, aku tidak keberatan. Tapi bukan dengan keturunan dari ketiga teman kakek yang itu!" imbuhnya lebih berani dengan senyum menantang. Zayn sengaja mengatakan itu, karena ia tahu jelas kakeknya yang punya ambisi menikahkan keturunannya dengan anak cucu dari ketiga sahabatnya dulu. Mendengar ucapan Zayn, jelas saja wajah Adinata memerah, ia merasa tersindir apalagi di sana juga ada Naura yang jelas cucu dari Suryanegara. "Zayn," sebut Adinata dengan suara penuh penekanan. "Kamu--""Kakek!" Zayn yang melihat perubahan ekspresi kakeknya langsung pura-pura panik.
Azalea jauh lebih tertegun ketimbang Zayn yang terdiam lalu menatap Azalea saat gadis itu memundurkan wajahnya. Buru-buru Azalea menutupi bibirnya. "Zayn, kamu mengagetkanku! Kalau mau bicara, tidak usah dekat-dekat!" omel Azalea cemberut. Ia seolah sangat kesal, tatapannya pada Zayn geregetan dan gemas. "Marah?" Zayn mengangkat sebelah alisnya, seakan aneh dengan respon Azalea yang malah bersungut padanya. "Kamu menciumku. Aku korbannya."Kening Azalea berkerut protes, mana bisa ia malah dituduh mencium! Padahal sudah jelas, ia melakukannya secara tidak sengaja karena Zayn yang lebih dulu memposisikan diri begitu dekat! "Apa perpustakaan ini tempat untuk pacaran?" Teguran dari suara yang familiar membuat Zayn dan Azalea menoleh. Sedangkan Azalea masih bingung, siapa lelaki tua yang menatap tajam ke arahnya? "Kakek." Zayn berdiri tegap, ia mengahadap ke arah kakeknya yang berdiri bersama Naura. "Aku tidak melakukan itu."Wajah Adinata tegang dan kaku. "Lalu apa yang kamu lakuk
"Zayn, terima kasih." Azalea kembali berterima kasih setelah turun dari motor Zayn. Ia merasa senang dengan perjalanan singkat tadi, ada banyak pelajaran yang kembali bisa ia petik sepulang dari yayasan anak-anak berkebutuhan khusus. "Aku bisa antar sampai rumah." Zayn kembali bicara."Tidak, Zayn. Sampai sini saja.""Ibumu akan marah?" Zayn masih duduk di sepeda motornya. Azalea menggeleng dengan senyum ragu. "Mm, mungkin tidak. Tapi sebaiknya jangan--""Jika itu Alvano, bisa antar-jemput sampai depan pintu?" Tidak biasanya, Zayn sedikit bawel saat ini. Ekspresi wajah Zayn mungkin datar, namun Azalea merasa Zayn sedang membandingkan dirinya dengan Alvano."Ah, apa? Tidak. Alvano pun sama. Aku akan memintanya berhenti di sini. Ibuku bukan benci kalian, tapi mungkin beliau agak kuno. Jadi tidak memperbolehkan aku terlihat sering bersama pria." Azalea meringis canggung. Ia bicara seperti itu hanya agar Zayn mau mengerti tanpa tersinggung. Ia tidak mungkin memberitahu jika ibunya m
"Cepat naik!" titah Zayn tanpa mematikan mesin. "Naik? Apa ada tugas untukku?" Azalea ragu, ia pikir tidak mungkin Zayn sengaja datang untuk menjemputnya. Zayn tidak menjawab, namun tatapannya menuntut. Azalea yang sadar jika Zayn tidak sabaran, buru-buru naik. Jangan sampai Zayn tantrum lagi dan membuatnya harus membersihkan kaca gedung. Azalea duduk anteng, ia tidak bicara selagi Zayn fokus menyetir. Jalanan sore lengang saat itu, Zayn melaju cukup kencang hingga sampai di lampu merah, ia berhenti. Tepat saat itu, Haikal dan Naura pun berhenti. Posisi sepeda motor yang Zayn naiki berhenti tepat di sebelah milik Haikal. Keduanya lalu saling menoleh. Haikal dan Naura tampak kaget melihat Zayn yang membonceng Azalea. "Zayn? Lea?" Naura berseru. "Kok, kalian pulang bareng?" Wajah kecewa Naura tergambar jelas, gadis itu bahkan langsung mencebik. Haikal melepas helm full face-nya agar lebih mudah bicara. "Zayn, kamu hendak pulang? Bagaimana kalau kita bertukar? Naura bisa membon
Azalea tertegun, tentu saja ia tidak menyangka akan dituduh seperti itu. Padahal ia sudah berusaha keras untuk bertahan, tapi gerakan kaki Naura di punggungnya membuatnya kesulitan menjadi pijakan. "Hei, Bung! Sebelum bicara ada baiknya cek kebenarannya lebih dulu!" Livia menengahi. "Kebenaran apa? Aku melihatnya sendiri dari tadi. Sudah jelas anak ini tidak bisa profesional."Azalea mematung, ia semakin bingung kenapa Haikal terlihat berubah drastis. Sebelumnya, meski Azalea tidak tahu banyak tentang Haikal, tapi ia tahu pemuda itu sportif, tidak banyak bicara, dan selalu mengedepankan logika. "Dari pada ada korban lagi, sebaiknya dia mundur saja," tegas Haikal yang membuat Azalea tertegun."Tidak bisa," sahut Livia ketus. "Aku ketua timnya di sini. Aku lihat Lea punya potensi. Kamu bukan siapa-siapa."Gadis itu pemberani dan tahu mana yang harus dibela dan dipertahankan. Livia menatap tajam Haikal, sorot matanya penuh pengusiran. "Kamu memilih mempertahankan gadis yang baru sa
Haikal mentertawakan Azalea. Zayn menyentak lengan Azalea agar tidak menghalangi pandangan, lalu berbalik memberi Alvano pelajaran. Sebuah hantaman lutut mendarat di dagu pria itu tanpa aba-aba. Duuug! Kepala Alvano terdongak dengan hidungnya yang berdarah. Ia mimisan. "Arrrgh!" erang Alvano me
Bibir Azalea terbuka, namun tidak ada sepatah kata pun yang terdengar. Ia masih terlihat syok setelah memperhatikan rekaman itu. "Matamu bisa lihat dengan jelas? Apa perlu aku zoom?" Zayn tersenyum miring dengan wajah bodoh Azalea. Alvano bersalah! Dalam rekaman itu jelas tangan Alvano menyikut
"Terimakasih, Yang Mulia!" Azalea keluar dari kelas Zayn dengan senyum cerah, ia menuju ke kelasnya. Di sana Alvano sudah menunggu, namun ia tampak sedang diintimidasi oleh Ezra. "Kita udah cek CCTV, kamu sengaja nyikut Zayn kemarin!" tuduh Ezra lagi. Sejak tadi ia terus mendesak Alvano, namun p
Zayn berdiri di dekat mobilnya, ia merasa sudah bersikap lebih ramah. Namun, Dina menolaknya. Wanita paruh baya itu tidak mau menumpang, malah terburu-buru menyingkir dan menarik Azalea pergi dan memasuki taksi.Sepanjang perjalanan, Azalea terus menatap ibunya dengan bingung. Setelah sampai barula







