LOGINDalam beberapa detik, Thea hanya diam. Giginya bahkan sampai bergemeletuk menahan geram. Ia masih tidak habis pikir kalau mulut Kavian ternyata tetap setajam dulu.
Delapan tahun berlalu tanpa pertemuan. Thea sempat berpikir waktu akan mengubah banyak hal dalam diri pria itu. Mungkin membuatnya lebih dewasa, lebih lembut. Setidaknya sedikit lebih mudah diajak bicara. Ternyata, ia terlalu banyak berharap. “Kak Kav, kamu ini memang nggak bisa, ya, bicara yang baik sedikit?” balas Thea. Nadanya terdengar lebih ketus dari yang ia inginkan. “Kalau nggak bisa, sebaiknya diam saja.” Tatapan mereka bertemu. Rahang Kavian tampak mengeras. Entah karena tersinggung atau sekadar tidak suka dibantah, namun Thea sama sekali tidak peduli. Kali ini ia tidak akan mundur hanya karena pria itu menatapnya seperti itu. Suasana di ruang tamu itu mendadak terasa sempit. Untungnya, ketegangan di antara mereka belum sempat berkembang ketika terdengar langkah kaki dari arah dapur. “Lho, kenapa pada berdiri di situ?” Laras datang sambil membawa sepiring camilan. Ia meletakkannya di atas meja sebelum memandang keduanya bergantian. “Sini duduk, Nak Kav. Tante baru bikin kopi.” Kavian melirik jam tangannya. Wajahnya tampak melunak saat menatap Laras. “Ah, nggak usah repot-repot, Tante. Aku sebenarnya mau balik. Kebetulan masih ada yang harus dikerjakan.” “Oh, ya sudah kalau begitu.” Laras terlihat sedikit kecewa, tetapi juga tidak memaksa. Kavian kemudian mengangguk sopan kepada Laras sebelum melangkah menuju pintu. Thea sendiri tak berkata apa-apa. Meski tanpa sadar, pandangannya mengikuti punggung pria itu sampai melewati pagar rumahnya. Begitu Kavian menghilang dari pandangan, Thea baru mengembuskan napasnya yang sejak tadi rasanya seperti tertahan di tenggorokannya. “Dia datang buat apa, Bu?” Laras yang kini sudah duduk di sofa langsung menoleh. “Dia? Siapa maksudmu?” Thea mengernyit sambil menunjuk ke arah pintu. “Ya ... Kak Kav.” “Oh.” Laras terkekeh. “Kamu memanggilnya seperti orang asing saja.” Thea tidak menjawab. “Mau bagaimana pun juga, dia lebih tua darimu. Yang sopan sedikit.” “Hm,” gumamnya pelan, kemudian beralih duduk ke dekat ibunya. Ia mengambil salah satu camilan, tetapi belum sempat menggigitnya ketika ibunya berbicara lagi. “Nak Kavian datang membawa tasmu.” Tangan Thea berhenti di udara. “Tas?” “Iya. Tasmu tertinggal di rumahnya semalam.” Baru saat mendengar itu Thea langsung teringat. Semalam, setelah mengetahui bahwa Kavian yang memberinya napas buatan, ia benar-benar kehilangan akal sehat. Bahkan ia seperti tak punya muka di depan semua orang yang mengerumuninya. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya segera pulang tanpa harus bertemu pandang lagi dengan siapa pun. Bahkan, tasnya pun tak sempat ia ambil Thea mengembuskan napas yang berat. Padahal rumah mereka bahkan tidak sampai lima puluh meter. Kalau ia sudah sadar tasnya tertinggal, tentu ia bisa mengambilnya sendiri. Meski harus menelan malu dan kembali menginjak halaman rumah Kavian. “Nak Kavian juga nitip obat flu,” lanjut Laras. “Katanya buat jaga-jaga kalau kamu sakit setelah kecebur di kolam.” Thea menoleh cepat. “Obat?” “Iya. Ada di tasmu.” Thea segera mengambil tas yang diletakkan di sofa. Tangannya membuka resleting dengan gerakan cepat. Benar saja. Di sana ada sebuah strip obat flu terselip di antara barang-barangnya. Thea menatap benda kecil itu tanpa berkata-kata. Benda itu terasa seperti langsung mengusiknya. Semalam, Kavian menyelamatkannya. Pagi ini, pria itu datang mengembalikan barang yang tertinggal. Ternyata, dia juga masih sempat meninggalkan obat untuknya. “Perhatian sekali, ya, Nak Kavian?” Suara Laras begitu ringan, namun Thea malah semakin lama menatap obat di tangannya. Kalau dulu, mungkin perhatian sekecil ini sudah cukup membuat hatinya melambung tinggi. Sekarang tidak lagi. Ia sudah terlalu jauh berjalan untuk kembali menjadi gadis yang sama. “Mungkin dia cuma merasa bertanggung jawab karena aku kena musibah di rumahnya.” Thea memasukkan kembali obat itu ke tas. Apa pun maksud Kavian, ia tidak ingin menebaknya, apalagi peduli. Delapan tahun lalu, ia pernah terlalu mudah mengartikan setiap perhatian pria itu sebagai harapan. Kali ini, ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Thea baru saja hendak bangkit ketika Laras mendekat dan menyenggol lengannya. “Thea.” “Iya, Bu?” Laras menurunkan suara, seolah hendak membicarakan sesuatu yang sangat rahasia. “Kamu nggak merasa kalau sekarang Kakakmu itu makin ganteng, ya?” Thea menoleh. Hampir saja ia tersedak oleh ludahnya sendiri mendengar pertanyaan ibunya. “Kakak siapa?” “Kavian.” “Bu.” Laras tertawa kecil, seolah kalimatnya itu hal yang terlalu biasa diucapkan. “Memang makin ganteng, kan?” Thea memutar bola mata, lalu berdiri. Ganteng saja percuma kalau mulutnya masih setajam itu. Dulu, ia mungkin akan rela menoleransi apa pun hanya demi mendapat perhatian pria tersebut. Sekarang, rasanya ia bahkan tidak mengerti bagaimana dirinya dulu bisa begitu tergila-gila pada orang sepertinya. “Sayangnya masih sendiri sampai sekarang,” ujar Laras santai. “Seperti kamu.” Thea berhenti melangkah. Kenapa juga dirinya yang tiba-tiba ikut diseret hanya karena seseorang belum berpasangan? “Kalau belum ada yang cocok, masa mau dipaksakan, Bu?” komentarnya tak mau ambil pusing. Ia bahkan masih sempat tersenyum kecil. Laras menggeleng-gelengkan kepala. “Ya sudah. Terserah kamu.” Thea yang tidak ingin pembicaraan itu berkembang semakin jauh pun pamit guna mengalihkan pembicaraan. “Aku mau siap-siap dulu, Bu.” “Loh, mau ke mana? Baru kemarin pulang, hari ini sudah mau pergi lagi.” “Aku kan mau mengembangkan usaha di sini. Jadi, aku harus cari tempat untuk kantor, Bu.” “Oh.” Laras mengangguk paham. “Ya sudah. Hati-hati.” Thea mengangguk sebelum berlalu masuk ke kamar. *** Beberapa saat kemudian, Thea keluar lagi setelah selesai bersiap. Rambut bergelombangnya dibiarkan jatuh melewati bahu. Ia mengenakan blus sederhana dengan celana panjang yang membuat penampilannya terlihat rapi tanpa kehilangan kesan santai. Tas kerjanya sudah tersampir di bahunya, sementara kunci mobil berada di genggaman. Ia memang tidak kembali ke kota ini untuk menghabiskan waktu di rumah saja. Ada banyak hal yang harus ia mulai. Termasuk mencari tempat yang tepat untuk kantor agency-nya. Thea berjalan santai menuju garasi. Baru saja tangannya hendak membuka pintu mobil, suara seseorang memanggil dari arah pagar rumah sebelah. “Thea.” Gerakannya terhenti, sebelum ia menoleh. Vania berdiri di sana dengan senyum hangat yang tak pernah berubah sejak pertama kali Thea kenal. “Iya, Tante?” “Mau ke mana, Sayang?” “Ke Bandung, Tante.” “Oh, kebetulan sekali.” Vania melirik ke belakang. Saat itulah Thea juga menyadari Kavian juga sudah berdiri tidak jauh dari wanita itu. Pria itu sudah berganti pakaian. Kemeja berwarna gelap membalut tubuh tegapnya, sementara kedua tangannya tenggelam di saku celananya. Thea langsung terdiam, entah kenapa perasaannya malah jadi tak enak begini. Apalagi ketika Vania kembali menatapnya. “Kavian juga mau ke Bandung. Kalian bareng saja. Daripada kamu capek-capek nyetir sendiri.” Thea menatap Kavian. Kavian pun menatapnya. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan apa-apa. Tadi pagi saja Thea sudah berharap tidak perlu bertemu pria itu lagi hari ini. Sekarang, mereka justru diminta pergi bersama. Thea menarik napas pelan. Duh, Kavian lagi?Dalam beberapa detik, Thea hanya diam. Giginya bahkan sampai bergemeletuk menahan geram. Ia masih tidak habis pikir kalau mulut Kavian ternyata tetap setajam dulu.Delapan tahun berlalu tanpa pertemuan. Thea sempat berpikir waktu akan mengubah banyak hal dalam diri pria itu. Mungkin membuatnya lebih dewasa, lebih lembut. Setidaknya sedikit lebih mudah diajak bicara.Ternyata, ia terlalu banyak berharap.“Kak Kav, kamu ini memang nggak bisa, ya, bicara yang baik sedikit?” balas Thea. Nadanya terdengar lebih ketus dari yang ia inginkan. “Kalau nggak bisa, sebaiknya diam saja.”Tatapan mereka bertemu.Rahang Kavian tampak mengeras. Entah karena tersinggung atau sekadar tidak suka dibantah, namun Thea sama sekali tidak peduli. Kali ini ia tidak akan mundur hanya karena pria itu menatapnya seperti itu.Suasana di ruang tamu itu mendadak terasa sempit. Untungnya, ketegangan di antara mereka belum sempat berkembang ketika terdengar langkah kaki dari arah dapur.“Lho, kenapa pada berdiri di s
Ketika kesadarannya perlahan kembali, hal pertama yang dirasakan Thea adalah sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, entah apa. Sensasi itu hanya terasa sesaat sebelum dadanya kembali ditekan beberapa kali. Tubuhnya tersentak. Air yang memenuhi tenggorokannya pun terdorong keluar, membuat Thea terbatuk keras. “Uhuk! Uhuk!” Napasnya terasa sesak. Tenggorokannya perih. Thea membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih berkunang-kunang, tetapi perlahan ia bisa melihat sosok yang berada di dekatnya. Kavian, pria itu sedang menopang kepalanya. Bajunya basah kuyup, begitu pula rambutnya yang masih meneteskan air ke wajah. “Thea!” Suara ibunya terdengar panik. Laras yang berjongkok di sisi lain segera mengusap wajah putrinya yang basah. “Kamu sudah sadar, Nak?” “Aduh, Thea Sayang. Kamu nggak apa-apa?” Vania ikut bertanya cemas. Thea masih berusaha mengatur napas. Tangannya menekan dada yang naik turun dengan cepat. Beberapa detik berikutnya ia baru menyadari bahwa sudah bany
Thea masih menatap Kavian di hadapannya.Entah kenapa, jantungnya justru berdetak lebih cepat hanya karena menunggu jawaban pria itu. Padahal, ia sendiri tidak tahu mengapa harus peduli dengan tanggapan Kavian tentang dirinya.Mungkin karena sejak kembali ke kampung halaman ini, terlalu banyak hal dari masa lalu yang kembali muncul tanpa diminta.Atau mungkin karena, jauh di dalam hatinya, masih ada bagian kecil yang ingin tahu apakah Kavian juga melihat perubahan dalam dirinya.Kavian terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih dari Rivan kepada Thea. Kemudian, dengan wajah datarnya, pria itu menjawab tenang.“Biasa saja. Dia masih sama seperti dulu.”Thea terdiam. Rivan bahkan sampai mengerutkan kening, seolah tak percaya dengan respons kakaknya. “Hah?”“Nggak banyak yang berubah.”Thea menahan napas sejenak.Ucapan Kavian yang sebetulnya sederhana itu terasa lebih menusuk daripada yang seharusnya.Ia sempat menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang mulai mengepal. Kuku-kukunya
Begitu sampai rumah, Thea langsung membuka pintu agak keras. Sisa kekesalannya dari rumah sebelah masih belum juga reda.Kejadian saat Kavian memberinya uang tadi terus berputar di kepalanya.Dadanya sesak setiap kali mengingatnya. Bukan karena jumlah uang yang diberikan pria itu, melainkan karena apa yang tersirat di baliknya. Seolah setelah bertahun-tahun berusaha berubah, di mata Kavian ia tetaplah Thea yang sama.Gadis kecil yang dulu selalu menuntut perhatian pria itu.“Thea, sudah pulang, Nak?” Suara ibunya membuat Thea menoleh sejenak. Ia mengangguk sambil melepaskan sandal. “Iya, Bu.”Laras yang sedang duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian segera menghentikan pekerjaannya. Tatapannya mengamati Thea beberapa saat, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putrinya.“Kamu ketemu kakak di sebelah?” tanyanya dengan alis sedikit terangkat.Thea terdiam sesaat. Lalu ia mengalihkan pandangan dan berjalan menuju dapur.“Aku sempat ketemu Kak Kavian.”Mendengar jawaban itu
Setelah pintu kamar tertutup, Kavian langsung melepaskan Thea, begitu pula Thea yang sontak menjauh dari pria itu. “Kak Kavian, apa yang kamu lakukan?” tanya Thea masih setengah panik. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tetap berusaha mengontrol keterkejutannya atas apa yang baru saja terjadi. “Jangan teriak sembarangan. Orang bisa salah paham,” balas Kavian sedikit ketus. Thea hendak menjawab, tetapi pandangannya kembali tertuju pada pria di hadapannya. Seketika itu ia kembali sadar bahwa Kavian masih berdiri di sana hanya dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya. Wajah Thea mendadak panas, sebelum buru-buru memalingkan wajah, berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Sementara itu, Kavian tetap terlihat santai, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan penampilannya. “Tante Vania minta tolong aku membersihkan kamarmu,” kata Thea akhirnya. Bibirnya sedikit maju karena merasa dongkol. “Aku kira nggak ada orang di sini.” Kavian tak menjawab. Ia kini sudah berjalan
Tubuh Thea sempat mematung di tempatnya. Mendengar suara itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Begitu akhirnya menoleh, Thea langsung mendapati Kavian berdiri tidak jauh darinya. Suara itu benar-benar milik Kavian. Pria yang selama bertahun-tahun berusaha ia hindari. Thea menelan ludah. Setelah sekian lama menghindarinya, kenapa saat kembali justru harus bertemu dengannya lagi? “Ka—” Ucapannya terhenti, karena Thea buru-buru memalingkan wajah. “Permisi.” Tanpa basa-basi, ia segera berlalu masuk ke rumah, meninggalkan Kavian yang masih berdiri di halaman. Begitu pintu tertutup, Thea mengembuskan napas panjang. Malu, ia sebenarnya tidak ingin bertemu lagi dengan Kavian. Terlebih setelah bertahun-tahun berusaha mengubur kenangan malam itu. Dulu, ia memang terlalu tidak tahu diri. Berkali-kali ditolak, tetapi tetap saja mengejar pria itu ke mana-mana. Ia selalu menganggap perasaannya sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk terus







