LOGINAli terdiam.
Rahangnya mengeras, sementara pikirannya berputar kacau mencari jawaban yang terdengar masuk akal tentang alasan dirinya menginap di warung Lastri. Namun semakin ia mencoba menyusun kebohongan, semakin dadanya terasa sesak. Ali akhirnya sadar bahwa semua itu akan percuma. Subrata bukan sekadar ayahnya. Lelaki itu adalah orang paling berkuasa di desa, seseorang yang memiliki banyak kaki tangan dan mata-mata di hampir setiap sudut Kalipura. Kalau ayahnya sudah bertanya sejauh ini, berarti kemungkinan besar lelaki itu memang sudah mengetahui sesuatu. Bahkan mungkin bukan hanya melihat dirinya keluar dari warung Lastri saat Subuh tadi. Melainkan juga mengetahui apa yang terjadi di dalamnya. Ali mengangkat wajahnya perlahan, berusaha mengumpulkan keberanian yang sejak tadi terasa menciut di dalam dada. “Iya,” jawabnya akhirnya. Suaranya terdengar lebih mantap dari yang ia kira. “Aku menginap di warung Lastri.” Untuk pertama kalinya, Ali berani menatap langsung ke mata Subrata tanpa menunduk. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia lakukan. Tatapan ayah dan anak itu saling bertemu dengan hawa panas yang memenuhi ruang tamu. Subrata menyipitkan mata. “Kamu menidurinya, hah?” tanyanya tajam. Ali mengepalkan rahang. Ali mengangkat wajahnya perlahan. Mengumpulkan keberanian yang sejak tadi menciut. Tangan pemuda itu mengepal. Ada rasa malu, gugup, sekaligus amarah yang bercampur jadi satu di dadanya. Namun bayangan tentang Lastri bersama ayahnya malam tadi justru membuat bara dalam dirinya semakin sulit dipadamkan. “Memangnya kenapa?” balas Ali akhirnya. Subrata tampak terkejut sesaat mendengar nada suara putranya yang mulai meninggi. Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Ali, hingga sudut bibirnya berdarah. Ruangan mendadak sunyi. Napas Ali memburu. Pipi kirinya terasa panas menyengat dan bibirnya terasa perih, tetapi kali ini rasa sakit itu justru membuat bara dalam dadanya semakin membesar. “Janda desa itu…” suara Subrata bergetar menahan murka. “Membuatmu berani melawan bapakmu sendiri?!” Ali mengusap darah di sudut bibirnya pelan. Namun bukannya mundur atau takut seperti biasanya, ia justru melangkah maju mendekati Subrata. Tatapannya kini penuh kemarahan dan luka hati yang selama ini ia pendam sendirian. “Bukankah Bapak juga melakukan hal yang sama?” balasnya tajam. “Meniduri janda itu?” Deg! Kalimat itu seperti menyiram bensin ke bara api. Wajah Subrata langsung memerah. Rahangnya mengeras hingga urat di lehernya menonjol jelas. “Kurang ajar!” bentaknya keras. Brak! Tangannya menghantam meja ruang tamu hingga asbak kaca jatuh dan pecah berserakan di lantai. “Kamu pikir kamu siapa berani bicara seperti itu pada Bapak?!” suara Subrata menggema memenuhi rumah. “Lastri itu perempuan yang Bapak lindungi! Perempuan itu hidup karena bantuan Bapak!” Lindungi?” Ali tertawa miris. “Atau Bapak cuma memanfaatkan dia karena tahu Lastri nggak punya pilihan?” Subrata langsung mencengkeram kerah baju Ali kasar hingga tubuh putranya terdorong ke belakang. “Jaga mulutmu!” desisnya penuh ancaman. “Bapak membesarkan dan menguliahkanmu sampai lulus supaya jadi orang sukses… bukan jadi pembangkang cuma demi janda kampung seperti Lastri!” Napas Ali memburu. Rahanya mengeras menahan emosi saat mendengar nama Lastri direndahkan begitu saja. “Lastri bukan perempuan murahan,” balas Ali lirih namun tegas. “Dia cuma perempuan yang lagi berusaha bertahan hidup.” “Diam!” bentak Subrata keras. Brak! Tubuh Ali didorong hingga membentur lemari kayu jati di ruang tamu. Bingkai foto keluarga di atasnya sampai bergetar. Subrata berjalan mondar-mandir dengan napas berat. Wajahnya merah padam menahan amarah dan harga diri yang terasa diinjak-injak oleh putranya sendiri. Seumur hidup, belum pernah Ali berani melawan seperti ini. Dan semua itu… hanya karena seorang janda desa. Akhirnya Subrata berhenti dan menatap Ali dengan sorot dingin yang mengintimidasi. “Mulai hari ini, kamu ikut semua kemauan Bapak,” ucapnya tegas. “Bulan depan ada tes kedinasan di pemerintah pusat. Besok kamu berangkat ke Jakarta. Berkasmu sudah Bapak urus.” Ali langsung mengangkat kepala. “Aku nggak mau jadi pegawai cuma karena dipaksa.” Ia tahu, ini hanya akal-akalan ayahnya untuk menjauhkan dirinya dari Lastri. “Kamu nggak punya pilihan!” bentak Subrata. “Kalau kamu jadi ASN, masa depanmu jelas! Orang hormat sama kamu! Bukan malah keluyuran ngejar janda!” Ali mengepal tangan. “Aku punya pilihan dan jalan hidupku sendiri, Pak.” "Pilihan apa? mau jadi pengangguran gak jelas selamanya, hah?!" Napas Subrata masih memburu karena amarah dan matanya merah. “Selama kamu masih tinggal di rumah ini dan dibiayai Bapakmu, hidupmu tetap urusan Bapak!” Subrata menuding wajah Ali penuh tekanan. “Dan mulai sekarang, kamu dilarang ketemu ataupun berhubungan dengan Lastri!” Suasana mendadak sunyi. Tatapan Ali berubah keras. “Kalau aku tetap mau ketemu dia?” Subrata tersenyum miring. Senyum dingin yang justru terasa lebih menakutkan daripada bentakan. “Kalau kamu masih keras kepala…” suaranya pelan namun penuh ancaman, “…Bapak pastikan warung Lastri benar-benar digusur. Biar dia tahu akibatnya merebut anak laki-laki dari bapaknya sendiri.” Deg. Jantung Ali seperti diremas. Ia tahu, ayahnya tak pernah main-main dengan ancamannya. Ali mengepalkan tangan kuat-kuat, berusaha menahan emosi yang berdesakan di dadanya. Namun sebelum ia sempat membuka mulut, matanya tiba-tiba menangkap sosok di sudut ruang tamu. Deg! Tubuh Ali langsung menegang. Di balik pintu dapur yang sedikit terbuka, Ratih berdiri dengan wajah pucat pasi. Matanya berkaca-kaca, sementara jemarinya gemetar mencengkeram ujung baju. Sejak tadi, ibunya mendengar semuanya. Tentang Lastri, tentang perselingkuhan ayahnya, dan dirinya yang ternyata mencintai perempuan yang sama dengan ayahnya. Napas Ali tercekat. "Ibu..." suara Ali melemah, penuh rasa bersalah.Mau tak mau, Ali akhirnya menuruti permintaan ibunya. Bukan karena ia takut pada Subrata. Tetapi karena ia terlalu menyayangi Ratih hingga tak sanggup lagi melihat perempuan itu menangis karenanya.Setelah percakapan itu selesai, Ali masuk ke kamarnya dengan langkah berat. Ruangan yang biasanya terasa nyaman mendadak terasa sempit dan menyesakkan. Ia membuka lemari lalu mulai memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas ransel hitam miliknya. Di atas meja belajar, map berisi berkas-berkas pendaftaran tes kedinasan sudah tersusun rapi.Semua sudah dipersiapkan oleh Subrata. Tempat pelatihan, penginapan di Jakarta, hingga koneksi orang-orang yang akan membantu Ali selama proses tes. Ali hanya tinggal menjalani semuanya, seperti jalan hidup yang sejak awal sudah ditentukan untuknya.Rencananya, Ali akan satu bulan di Jakarta, namun jika ia lolos tes maka dia akan bekerja di sana. Artinya, ia akan jauh dari desa dan jauh dari Lastri. Pikiran itu membuat tangan Ali terhenti sesaat saat melipat
"Ibu..." suara Ali melemah, penuh rasa bersalah.Ali berjalan mendekati Ratih, namun Ratih hanya mundur satu langkah. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipi yang mulai dipenuhi garis-garis usia. Tatapan perempuan itu berpindah perlahan dari Ali… lalu kepada Subrata yang masih berdiri dengan wajah keras penuh amarah.Ali memberanikan diri melangkah mendekati ibunya.“Ibu, dengar dulu”Namun Ratih justru membalikkan badan.Perempuan paruh baya itu berjalan cepat menuju kamar tanpa mengatakan apa pun. Bahunya bergetar pelan menahan tangis yang sejak tadi ia tahan di depan suami dan anaknya.“Ibu, tunggu!” Ali segera mengejar dari belakang. “Maafin Ali, Bu…”Tetapi Ratih seolah tak mendengar. Ia masuk ke kamar dengan langkah tergesa, lalu menutup pintu kamar cukup keras.Brak!Ali berhenti di depan pintu dengan napas memburu. Dadanya terasa sesak melihat keadaan ibunya. Seumur hidup, Ratih memang sudah terlalu sering disakiti oleh Subrata. Jabatan, uang, dan kuasa membuat lelaki it
Ali terdiam. Rahangnya mengeras, sementara pikirannya berputar kacau mencari jawaban yang terdengar masuk akal tentang alasan dirinya menginap di warung Lastri. Namun semakin ia mencoba menyusun kebohongan, semakin dadanya terasa sesak. Ali akhirnya sadar bahwa semua itu akan percuma. Subrata bukan sekadar ayahnya. Lelaki itu adalah orang paling berkuasa di desa, seseorang yang memiliki banyak kaki tangan dan mata-mata di hampir setiap sudut Kalipura. Kalau ayahnya sudah bertanya sejauh ini, berarti kemungkinan besar lelaki itu memang sudah mengetahui sesuatu. Bahkan mungkin bukan hanya melihat dirinya keluar dari warung Lastri saat Subuh tadi. Melainkan juga mengetahui apa yang terjadi di dalamnya. Ali mengangkat wajahnya perlahan, berusaha mengumpulkan keberanian yang sejak tadi terasa menciut di dalam dada. “Iya,” jawabnya akhirnya. Suaranya terdengar lebih mantap dari yang ia kira. “Aku menginap di warung Lastri.” Untuk pertama kalinya, Ali berani menatap langsung ke
Ali mendekat perlahan, memberi waktu bagi Lastri untuk menikmati setiap sentuhan dan debar yang memenuhi tubuhnya. Jemari lelaki itu menggenggam tangan Lastri erat, seolah menenangkan kegugupan yang sama-sama mereka rasakan. “Kamu siap…?” bisik Ali dengan suara serak yang lembut. Lastri membuka mata dan mendapati tatapan lelaki itu begitu penuh perasaan hingga membuat hatinya sesak sendiri. Lastri akhirnya mengangguk. "Iya... Mas Ali..." Ali perlahan memasukan miliknya ke dalam inti tubuh Lastri. Memberikan sensasi rasa nikmat tiada tara bagi keduanya. Pinggul Lastri bergerak, bergoyang seirama dengan Ali. menciptakan bunyi derit ranjang bambu yang menjadi saksi malam panas mereka berdua. Saat keduanya akhirnya larut dalam kedekatan yang tak lagi mampu dibendung, Lastri spontan memejamkan mata sambil menahan napas. Ada getaran hangat yang perlahan menjalari tubuhnya, membuat jemarinya tanpa sadar mencengkeram bahu Ali. “Ah… Mas Ali… Ahh... aku mencintaimu..." Desahan i
Ali mengangkat dagu Lastri perlahan. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat hingga napas keduanya saling bersentuhan. Tanpa banyak kata, Ali mengecup bibir Lastri pelan, seolah masih memberi kesempatan bagi perempuan itu untuk menolaknya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Lastri meraih tengkuk Ali dan menariknya lebih dekat. Bibir mereka kembali bertemu, kali ini lebih dalam dan penuh luapan emosi yang sejak tadi tertahan. Ada kecewa. Ada penyesalan. Ada kesepian yang terlalu lama dipendam. Tapi di balik semua itu, ada perasaan yang selama ini tak pernah benar-benar hilang dari hati Lastri terhadap lelaki muda di hadapannya. Pak Lurah mungkin memiliki kuasa untuk melindungi hidupnya. Tetapi Ali… memiliki sesuatu yang jauh lebih berbahaya—cara membuat jantung Lastri berdebar hanya dengan sentuhan sederhana. Melihat Lastri tak lagi menolak, Ali seakan kehilangan kendali. Ia memperdalam ciumannya, meluapkan cemburu dan hasrat yang sejak tadi ia pendam diam-dia
"Aah… pelan, Pak Lurah…” desah Lastri lirih, matanya terpejam, jemarinya mencengkeram ranjang bambu yang berderit pelan di bawah tubuh mereka.Napas perempuan itu memburu. Tubuhnya yang sudah lama kesepian akhirnya kembali merasakan sentuhan lelaki. Meski tak ada cinta di hatinya untuk Pak Lurah, kehangatan dan keberanian lelaki paruh baya itu mampu membangkitkan gairah yang selama dua tahun ia pendam sendirian sebagai janda.Pak Lurah bergerak tergesa namun rakus. Tangannya menjelajahi lekuk tubuh Lastri seolah perempuan itu adalah hidangan yang sudah lama ia inginkan. Sementara Lastri memejamkan mata, bibirnya sesekali mengeluarkan desahan tertahan yang membuat suasana warung bambu itu semakin panas.Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama.Baru beberapa saat menikmati tubuh Lastri, napas Pak Lurah mendadak memburu. Gerakannya melemah, lalu berhenti bersama erangan puas yang keluar dari bibirnya.“Ah… Lastri… kamu memang nikmat... bikin laki-laki lupa diri…” gumamnya serak.Lastri







