Home / Rumah Tangga / Janji Suci Yang Retak / Bertemu Calon Suami

Share

Bertemu Calon Suami

Author: ukhty ijah
last update Last Updated: 2025-12-08 11:13:39

Seminggu setelah Bapak Amanda memberi kabar baik kepada Pak Hendra, keluarga itu kembali datang ke rumah untuk melamar. Orang tua Amanda bahkan mengundang keluarga besar untuk menyambut kedatangan mereka dengan hangat.

Amanda berada di dalam kamarnya bersama Ayu dan sepupunya, Mba Dian. Hari itu Mba Dian yang merias dirinya—wajahnya dipoles lembut, rambutnya disanggul rapi, dan ia mengenakan gamis berwarna pink berhias brokat. Kebetulan Mba Dian memang seorang perias pengantin. Ia memberikan jasa rias gratis untuk lamaran dan juga pernikahan Amanda, sebagai hadiah khusus darinya. Amanda sangat bersyukur mendapat perlakuan sebaik itu.

Dari balik pintu, Amanda mendengar suara gelak tawa para tamu. Sebuah tawa terdengar sangat asing namun menonjol—mungkinkah itu suara Arman? Selama ini ia hanya melihat foto lelaki itu. Hari ini seharusnya mereka bisa bertemu untuk pertama kalinya.

Pintu kamar terbuka. Ibu masuk dan mengajaknya keluar untuk menemui tamu-tamu yang sudah menunggu. Ruangan yang telah ditata rapi untuk acara lamaran tampak penuh oleh keluarga yang berkumpul. Amanda menundukkan kepala, malu melihat puluhan pasang mata memandangnya bersamaan. Ia tidak pernah menyukai menjadi pusat perhatian; rasanya hanya membuat tubuhnya menegang.

Ia duduk di antara Bapak dan Ibu. Bapak mengenakan batik yang warnanya senada dengan gamis Ibu, membuat keduanya tampak sangat serasi.

Bapak memperkenalkan satu per satu anggota keluarga Pak Hendra. Amanda sudah mengenal Ibu Rosa, Daniel, dan Tamara sebelumnya. Namun hari itu ia baru bertemu langsung dengan Pak Hendra dan istrinya. Pak Hendra terlihat ramah dan murah senyum. Sedangkan istrinya… entahlah, mungkin hanya perasaannya saja, tetapi ada sesuatu yang terasa dingin dari cara wanita itu memandangnya.

Pandangan Amanda mencari sosok Arman. Ia tidak melihat lelaki itu di antara para tamu.

“Nda, Nak Arman tidak bisa datang,” ujar Bapak pelan, seolah membaca pikiran putrinya.

“Arman tidak bisa hadir. Dia masih karyawan baru, jadi belum bisa ambil cuti. Kami mewakilinya dalam acara lamaran ini,” jelas Pak Hendra kemudian.

Karyawan baru? Amanda bingung. Bukankah Pak Hendra memiliki perusahaan sendiri? Jika begitu, bukankah seharusnya memberi cuti bukan masalah? Atau mungkin Arman tidak bekerja di perusahaan ayahnya?

Acara lamaran pun berlangsung tanpa kehadiran Arman. Ada rasa kecewa yang tidak bisa disembunyikan Amanda. Ia berharap bisa bertemu calon suaminya, tapi harapan itu harus ditunda. Mungkin mereka akan baru bertemu saat hari pernikahan tiba. Semoga saja…

---

Minggu demi minggu berlalu, dan tanpa terasa, pernikahan Amanda digelar keesokan harinya. Suasana rumah begitu ramai. Para pekerja dekorasi pernikahan sibuk menghias ruang demi ruang. Untuk urusan katering, para tetangga dan anggota keluarga bergotong-royong membantu. Di halaman belakang, Bapak telah menyiapkan area dapur umum. Sementara itu, kamar Amanda kini dipenuhi dekorasi bernuansa pink. Ruangan itu berubah menjadi kamar putri—dan esok hari, ia benar-benar menjadi “Putri Sehari”.

Malam sebelum pernikahan, Amanda sulit tidur. Pikiran tentang esok hari terus mengisi kepalanya. Ia berdoa agar semuanya berjalan lancar.

Keinginan agar pernikahan tidak ditunda datang dari Ibu Rosa. Saat lamaran, beliau meminta agar pernikahan dilangsungkan satu bulan kemudian. Meskipun terasa cepat bagi Amanda, Bapak menyetujuinya.

Sejak lamaran itu, Amanda belum sekalipun bertemu Arman. Bahkan hanya sekadar telepon atau mengirim pesan pun tidak pernah. Padahal Tamara sudah memberikan nomor Arman kepadanya, dan juga sebaliknya. Tidak ada satu pun pesan datang darinya. Amanda pun bertanya-tanya—tidakkah pria itu penasaran dengan calon istrinya? Ataukah ia harus memulai lebih dulu?

Ia membuka galeri ponselnya. Menatap foto Arman yang tersimpan di sana. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa pria setampan itu akan menjadi suaminya. Tidak pernah ia berani bermimpi sejauh itu. Namun kehidupan kadang memberi kejutan. Ia hanya berharap rumah tangga mereka kelak dipenuhi kebaikan, dan ia bisa menjadi istri yang baik untuk Arman.

---

“Dia datang!” seru Ayu tiba-tiba ketika masuk ke kamar.

Amanda, Mba Dian, dan asistennya langsung menoleh bersamaan.

“Siapa?” tanya Amanda.

“Armaaan,” jawab Ayu dengan nada penuh semangat.

Amanda terperanjat. Tanpa sadar ia bangkit dari kursi dan hampir berlari keluar kamar.

“Ndaa, mau ke mana? Riasanmu belum selesai!” tegur Mba Dian, separuh gemas.

Amanda tersipu malu, lalu kembali duduk. Ayu hanya terkekeh melihatnya. Mendengar Arman datang membuat Amanda tidak sabar ingin bertemu, meski ia tahu dirinya belum siap sepenuhnya.

Riasan pengantinnya akhirnya selesai juga. Ternyata prosesnya panjang dan melelahkan. Hanya duduk saja, tetapi membuat tubuh Amanda terasa lelah. Ia mengenakan kebaya pengantin putih, rambutnya disanggul dengan rangkaian melati yang wangi. Tema riasannya adalah pengantin Jawa yang anggun.

Amanda menatap pantulan dirinya di cermin. Ia tampak cantik—bahkan nyaris tidak percaya itu dirinya sendiri. Mungkin nanti ia perlu belajar merias dari Mba Dian.

---

Acara ijab kabul akan dimulai. Ibu dan Bibinya mengantarnya menuju tempat akad. Dari kejauhan Amanda melihat punggung Arman, mengenakan setelan jas putih, duduk berhadapan dengan Bapak dan penghulu. Daniel dan Paman Manda duduk di sisi kanan dan kiri sebagai saksi.

Amanda kemudian duduk di samping Arman. Akhirnya ia bisa melihat pria itu secara langsung. Ia mencuri pandang—Arman lebih tampan daripada foto-fotonya. Namun lelaki itu tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. Mungkin ia pemalu?

“Bisa kita mulai acaranya?” tanya penghulu sopan.

Bapak mengangguk, dan ijab kabul pun dimulai. Jantung Amanda berdegup kencang ketika mendengar suara Arman untuk pertama kalinya. Ketika doa diaminkan bersama, air mata menetes di pipinya—air mata lega dan bahagia.

Setelah itu, Amanda dan Arman duduk bersanding di pelaminan. Tamu-tamu datang silih berganti memberi selamat dan doa. Namun sepanjang duduk di sampingnya, Arman tidak pernah menoleh, tidak berbicara, bahkan tidak menanyakan keadaan Amanda. Mereka benar-benar terasa seperti orang asing.

Amanda mencoba meyakinkan diri. Mungkin Arman hanya gugup atau lelah. Tapi raut wajahnya yang datar dan dingin membuat hatinya bertanya-tanya—apakah pria itu benar-benar menyetujui pernikahan ini?

Semoga saja semua itu hanya perasaannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janji Suci Yang Retak   Rumah Kakak Ipar

    “Wah, anak itu kebangetan!” Daniel mendengus kesal. “Arman sama sekali nggak pernah menghubungi Manda?”Tamara mengangguk pelan sambil memanyunkan bibirnya. Raut wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran yang sejak tadi ia pendam.Malam sudah larut. Lampu kamar mereka menyala temaram. Daniel dan Tamara duduk bersandar di kepala ranjang, mengenakan piyama, berbincang di ruang paling privat mereka, tempat segala keluh kesah akhirnya terucap tanpa ditahan.“Biar aku telepon dia sekarang,” ujar Daniel tegas sambil meraih ponselnya.“Eh, jangan, Sayang.” Tamara buru-buru menahan tangannya. “Kasihan Manda. Kalau kamu marahi Arman, nanti Manda malah dituduh tukang ngadu. Dia bisa makin disudutkan.”Daniel terdiam sejenak. Rahangnya mengeras.“Tapi ini juga nggak bisa dibiarkan,” ujarnya kemudian, suaranya lebih rendah tapi sarat emosi. “Kasihan Manda kalau terus dicuekin seperti itu. Dia istrinya, bukan orang asing.”Tamara menghela napas, mengusap pelan lengan suaminya. “Iya… aku juga kepikir

  • Janji Suci Yang Retak   Kebenaran Di Balik Pernikahan

    Adelia pulang dari sekolah sore itu dengan tawa yang riuh. Ia menaiki anak tangga bersama beberapa teman perempuannya. Seragam internasional mereka tampak rapi dan modis. Langkah mereka ringan, penuh semangat remaja yang percaya diri.Di saat yang sama, Amanda sedang melintas di bawah tangga, hendak menuju ruang tengah.“Hei, kamu,” panggil Adelia dari atas anak tangga, nadanya tinggi dan sombong.Amanda berhenti melangkah, lalu mendongak. Tatapannya polos, nyaris tanpa perlawanan.“Bawakan minuman dan cemilan ke kamarku,” perintah Adelia singkat, seolah itu hal yang wajar.“Iya,” jawab Amanda lembut. Tak ada protes, tak ada ekspresi tersinggung. Hanya kepatuhan yang lahir dari kebiasaan menahan diri.Adelia kembali melangkah. Salah satu temannya mendekat, berbisik pelan namun cukup terdengar.“Siapa dia?”“Asisten baru,” jawab Adelia sambil tersenyum miring, senyum yang sengaja diperlihatkan.Kata itu sampai ke telinga Amanda. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia memilih diam. Ia me

  • Janji Suci Yang Retak   Masa Lalu

    Malam itu, New York diselimuti cahaya lampu kota yang berkilau. Di sebuah ballroom hotel bintang lima di Manhattan, pesta pernikahan berlangsung megah dan elegan. Langit-langit tinggi dihiasi kristal chandelier yang memantulkan cahaya keemasan. Meja-meja bundar tertata rapi dengan taplak putih gading, rangkaian bunga segar, serta lilin-lilin kecil yang menyala lembut. Alunan musik jazz mengalir pelan, bercampur dengan tawa para tamu undangan yang berdansa dan berbincang penuh sukacita.Pengantin baru baru saja menyelesaikan dansa pertama mereka. Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan, disusul iringan musik yang kembali mengalun ceria.Di salah satu meja bundar, Arman duduk bersama teman-teman kuliahnya. Cyntia seorang wanita berkulit putih dengan rambut pirang tergerai rapi, Donny seorang pria berkulit putih dengan senyum usil khasnya, dan Chris seorang pria Afrika-Amerika bertubuh tinggi dengan tawa lepas yang selalu menular. Malam itu menjadi semacam reuni kecil di tengah kesibukan

  • Janji Suci Yang Retak   Pelukan Nenek Rosa

    Mobil berhenti di halaman rumah Hadiwijaya menjelang sore. Amanda turun paling akhir, langkahnya tertahan sejenak sebelum menapaki lantai marmer teras depan. Andien dan Adelia sudah lebih dulu turun, wajah mereka tampak puas setelah seharian berbelanja.Sebelum melangkah masuk ke dalam rumah, Andien tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Amanda, sorot matanya tajam dan dingin.“Kamu dengarkan baik-baik,” ucapnya lirih namun penuh tekanan. “Kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini dengan tenang, jangan pernah mengadu pada Ibu tentang acara perkenalan yang batal.”Amanda menunduk dan mengangguk pelan. “I-iya, Ma.”Tidak ada bantahan. Tidak ada pertanyaan. Ia tidak ingin memperkeruh keadaan, tidak sekarang, tidak di rumah yang bahkan belum benar-benar terasa seperti miliknya.Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan menyusul dari belakang, membawa tas-tas belanjaan milik Andien dan Adelia. Suara langkah mereka bergema pelan di lantai yang mengilap.Bibi

  • Janji Suci Yang Retak   Menantu Rasa Asisten

    Dua hari telah berlalu sejak kepergian Arman. Rumah Hadiwijaya kembali terasa tenang, terlalu tenang bagi Amanda. Pagi itu, mereka berkumpul di ruang keluarga. Nenek Rosa duduk di sofa utama, ditemani Amanda. Sementara Andien dan Adelia duduk di sisi lainnya.Setelah beberapa saat berbincang ringan, Nenek Rosa menoleh ke arah Andien.“Andien,” ujarnya, “kapan kita akan mengadakan pesta perkenalan untuk Amanda?”Andien tersenyum sopan, senyum yang terlatih dan tenang. “Menurutku… tidak perlu mengadakan pesta, Bu,” jawabnya hati-hati. Di dalam hatinya ia sama sekali tidak ingin memperkenalkan Amanda sebagai menantu keluarga Hadiwijaya.“Tidak perlu?” Nenek Rosa mengernyit. “Kenapa tidak? Kerabat dan teman-teman kita harus mengenal Amanda sebagai istri Arman.”Andien tampak berpikir, mencari alasan lain yang terdengar masuk akal. Namun sebelum ia sempat bicara, Adelia mendahului.“Nenek,” katanya dengan nada manis, “Nenek kan akhir-akhir ini kurang enak badan. Kalau mengadakan pesta di

  • Janji Suci Yang Retak   Kenyataan Pahit

    Amanda membuka pintu kamar perlahan. Pandangannya menyapu ruangan, namun kamar itu kosong. Tidak ada Arman. Ia melangkah masuk beberapa langkah, lalu berhenti ketika telinganya menangkap suara air yang mengalir dari arah kamar mandi.Arman sedang mandi.Amanda menghela napas kecil, antara lega dan gugup. Ia menutup pintu kamar, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di atas paha, jemarinya saling bertaut tanpa sadar. Ia menatap lantai sesaat, lalu ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat."Apa yang harus kukatakan nanti?Haruskah aku bertanya? Atau diam saja seperti biasa?" batinnya.Suara air itu terus mengalir, seolah memberi Amanda waktu untuk menata pikirannya. Waktu yang justru membuat dadanya semakin sesak.Tiba-tiba, ponselnya bergetar.Amanda terkejut kecil. Ia segera meraih ponsel di atas nakas. Nama Ibu tertera di layar. Dadanya menghangat seketika.“Ibu…” gumamnya lirih sebelum mengangkat panggilan.“Assalamu’alaikum, Nak,” suara ibunya terdengar dari seberang,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status