Share

BAB 9

Author: Nona Mentari
last update publish date: 2026-05-21 16:56:58

Tanpa membuang waktu lagi, Heri menyambar pinggiran tank top putih yang dikenakan Sintya. Dengan satu sentakan kuat yang penuh dominasi, ia menarik pakaian tipis itu melewati kepala sang majikan dan melemparkannya asal ke atas meja makan.

Sintya kini setengah polos, menyisakan pemandangan dada yang membusung indah di depan mata Heri.

Heri tidak menunggu aba-aba. Ia langsung menunduk dan melahap gundukan kenyal itu dengan rakus.

“Aaakh! Heri!” Sintya menjerit kencang, tubuhnya melengkung saat li
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Setiawan Syaifullah
nahlo ko berhenti
goodnovel comment avatar
Engkel Ladju
ceritanya menarik tapi sayang bab berikutnya tidak bisa buka kunci trus
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 173

    Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam menembus bukit, sorot lampu mobil akhirnya menyoroti bangunan hotel berbintang yang berdiri megah di kawasan destinasi wisata desa.Heri mematikan mesin, memutari mobil dengan langkah taktisnya yang mantap, lalu membukakan pintu untuk Sintya.Lengan kekarnya langsung merangkul pinggang ramping wanitanya, mengikat Sintya rapat di sisinya seolah memproklamirkan dominasi penuh sebelum mereka melangkah melewati pintu kaca otomatis area lobby.Atmosfer lobby yang dingin dan tenang mendadak berubah mencekam saat Heri menghentikan langkah tepat di depan meja receptionist.Seorang wanita ber-seragam penginapan dengan riasan tipis mendongak.Namun, begitu pandangan wanita itu bertubuh dengan sosok Heri, raut wajahnya seketika berubah keruh. Tatapan matanya tajam, memancarkan sengatan kebencian dan keangkuhan yang sangat pekat.Heri mematung. Otot-otot di sepanjang rahang tegapnya mengetat drastis.Sepasang mata elangnya membeku, membalas tatapan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 172

    "Selamat malam, Pak Adit," sapa Sintya langsung pada intinya begitu panggilan diangkat."Saya mau minta tolong diuruskan pendaftaran sekolah SMP paling bagus dan paling elite di daerah Jakarta Selatan, yang posisinya paling dekat sama apartemen saya."Dari seberang telepon, suara Pak Adit terdengar siap sigap. "Baik, Ibu Sintya. Untuk data calon siswanya bagaimana?""Atas nama Nathan Hermawan," sahut Sintya sembari mengulas senyum tipis, membayangkan wajah ceria anak tunggal Heri."Semua berkas kelulusan SD-nya bakal saya kirimkan lewat dokumen digital setelah ini. Saya dan Heri masih di kampung halaman Heri, kira-kira satu minggu lagi kami baru pulang ke Jakarta.""Siap, Ibu Sintya. Dengan senang hati saya akan bantu urus pendaftaran Dek Nathan ke sekolah terbaik di sana. Besok pagi, setelah semua formulir dan koordinasi dengan pihak yayasan selesai, saya bakal segera mengabari Ibu kembali," janji Pak Adit penuh profesionalitas."Terima kasih banyak, Pak Adit." Sintya mengangguk pela

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 171

    Aroma gurih ikan bakar dan sambal terasi buatan Ibu Dewi memenuhi ruang makan sederhana malam itu. Cahaya lampu gantung bermangkut kuning memantul di atas meja kayu tebal, menciptakan suasana hangat keluarga yang sudah sangat lama tidak dirasakan oleh Heri.Di ujung meja, Pak Arya—ayah kandung Heri yang baru saja pulang memburuh dari pabrik pengolahan kayu, sedang duduk sembari mengusap peluh di lehernya.Otot-otot lengannya yang legam membuktikan betapa kerasnya kehidupan yang ia tempuh selama ini.Heri meletakkan sendoknya perlahan di atas piring.Pria bertubuh tegap itu membetulkan posisi duduknya, lalu menatap lurus ke arah kedua orang tuanya dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat serius dan taktis."Ibu, Bapak," panggil Heri, suaranya bariton rendah, menghentikan denting sendok di atas meja."Seperti yang sudah Heri bilang di telepon kemarin, kedatangan Heri kali ini mau bawa Nathan ikut ke kota. Nathan sudah lulus SD, dan Heri mau dia lanjut sekolah di Jakarta."Pak Arya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 170

    Aroma kayu tua dan bau khas rempah masakan desa menyambut begitu Heri mengangkut tas-tas besar milik Sintya melewati ambang pintu.Pria bertubuh tegap itu memosisikan barang-barang di sudut ruang tengah, namun matanya sama sekali tidak terlepas dari pergerakan Sintya.Ada kewaspadaan taktis yang bercampur dengan riak bangga di dalam dadanya saat menyaksikan wanita kota sesempurna Sintya melangkah masuk ke dalam rumah masa kecilnya yang teramat sederhana.Sintya tidak membuang waktu untuk sekadar berdiam diri. Wanita anggun itu langsung melepas blazer mewahnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan mengekor di belakang Ibu Dewi menuju dapur."Mbak Sintya, aduh... nggak usah ikut-ikutan di dapur. Duduk saja di depan sama Heri, perjalanan jauh pasti capek," cegah Ibu Dewi sembari mencoba merebut piring-piring bersih dari tangan Sintya."Nggak apa-apa, Ibu. Aku mau bantu beres-beres," sahut Sintya lembut, tersenyum tulus tanpa ada raut keandalan sosialita yang biasa ia perlihatkan di Jakar

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 169

    Lambaian pepohonan hijau nan rimbun membingkai kaca mobil suv yang dikendarai Heri dengan kecepatan sedang.Satu minggu telah berlalu sejak kesepakatan transaksi gedung restoran itu rampung, dan kini, roda kendaraan mereka akhirnya menepi di sebuah jalanan setapak yang membelah pedesaan asri di daerah pedalaman.Heri mematikan mesin mobil, meluruskan dadanya yang tegap sembari mengembuskan napas lega.Sorot mata elangnya yang biasa dipenuhi kewaspadaan taktis kini melunak, menyerap panorama tanah kelahirannya yang sudah sangat lama tidak ia pijak.Di sampingnya, Sintya menghela napas panjang yang terdengar teramat lelah. Muka cantiknya bertekuk lesu, namun ada binar kelegaan yang memancar saat ia menyandarkan tubuhnya di jok kulit."Akhirnya... sampai juga di kampung kamu, Heri," menggerutu Sintya sembari memijat pelipis kepalanya.Ia melempar pandangan ke luar jendela, menatap hamparan bukit dan petakan sawah yang membentang tanpa batas."Perjalanannya benar-benar panjang banget! Mau

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 168

    Sintya menerima buket mawar putih itu dengan binar mata yang seketika berubah cerah.Senyum manis mekar di bibir merahnya, meruntuhkan seluruh raut kekesalan yang sejak tadi menghiasi wajah cantiknya.Tanpa membuang kesempatan, Sintya sengaja melingkarkan lengannya di pinggang tegap Heri, menyandarkan kepalanya bermanja ria di bahu kokoh pria itu tepat di hadapan Citra.Heri membiarkan tubuhnya menjadi tumpuan Sintya. Dari sudut pandangnya, Heri bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana raut wajah Citra seketika mengeras.Senyuman menggoda yang sebelumnya terukir di bibir pemilik gedung itu meluruh tanpa sisa, berganti dengan kilat kekecewaan dan rasa malu yang berusaha ditutupi.Di sudut lain ruangan, Maman berdiri dengan mulut menganga lebar. Pria gempal itu menatap Heri seolah sedang melihat keajaiban dunia.Dalam hatinya, Maman terus membatin tidak percaya.Pria sekaku, sedatar, dan sekeras batu seperti Heri, yang selama ini hanya tahu cara memiting lawan dan menjaga keamanan, bi

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 69

    Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 66

    Heri menekan Baskoro dengan suara baritonnya yang mengintimidasi, mengunci pandangan pria paruh baya itu agar tidak bisa mengelak lagi.Sembari menumpu kedua tangan kekarnya di atas meja marmer, Heri menyorongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak psikologis hingga Baskoro terpaksa bersand

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 50

    Sintya sekuat tenaga menggigit bibir bawahnya hingga memutih, menahan hantaman nikmat yang mendadak menyerang pusat sarafnya. Kedua tangan wanita itu meremas sprei hotel dengan kuku-kukunya yang terawat hingga kain katun premium itu berkerut parah.Di bawah selimut tebal, Heri tidak member

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 44

    Heri tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ia terus melangkah mendekat hingga posisinya kini berdiri tepat di samping sofa, menatap lurus ke bawah ke arah tubuh Sintya.Pada detik itulah, kedua mata Heri langsung menggelap sempurna. Seluruh fokus di isi kepalanya mendadak buyar, digantikan o

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status