Share

BAB 197

Penulis: Nona Mentari
last update Tanggal publikasi: 2026-08-01 04:12:18

Langkah tegap Heri membimbing Sintya berjalan menyusuri koridor area parkir khusus orang tua murid.

Tangan berurat Heri masih melingkar protektif di pinggang ramping Sintya, menyalurkan kehangatan dan rasa memiliki yang begitu dominan.

Namun, ketenangan yang baru saja mereka rasakan seusai mengantar Nathan seketika buyar saat sebuah suara wanita bernada miring menyapa dari arah samping.

"Lho? Heri? Ngapain kamu ada di sini?"

Heri menghentikan langkahnya.

Sepasang mata elangnya bergulir dingin,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 198

    “Sialan! Kenapa orang-orang gampang banget meremehkan orang lain?”Umpatan kasar itu membakar dada Heri begitu ia menutup rapat pintu ruang kerja pribadinya di restoran.Pria bertubuh tegap itu melempar kunci mobilnya ke atas meja kayu mahoni dengan dentuman keras.Ia kemudian menghempaskan tubuh kekarnya ke kursi kulit ber-sandaran tinggi, lalu menghela napas kasar yang terasa panas di tenggorokan.Otot-otot di rahang tegas Heri mengetat kaku. Lalu mengepalkan kedua tangan besarnya di atas armrest kursi hingga buku-buku jarinya memutih."Mereka itu terlalu gampang meremehkan orang lain cuma karena tahu dulu aku miskin dan nggak punya apa-apa," geram Heri pada dirinya sendiri, penuh dengan nada kejengkelan yang begitu kentara."Masa lalu yang kelam itu terus-terusan dijadikan tameng buat menghina!"Tak lama kemudian, pintu ruang kerja berbunyi pelan lalu terbuka. Maman, yang kini ikut mengelola restoran, melangkah masuk membawa map laporan harian.Maman seketika menghentikan langkahny

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 197

    Langkah tegap Heri membimbing Sintya berjalan menyusuri koridor area parkir khusus orang tua murid.Tangan berurat Heri masih melingkar protektif di pinggang ramping Sintya, menyalurkan kehangatan dan rasa memiliki yang begitu dominan.Namun, ketenangan yang baru saja mereka rasakan seusai mengantar Nathan seketika buyar saat sebuah suara wanita bernada miring menyapa dari arah samping."Lho? Heri? Ngapain kamu ada di sini?"Heri menghentikan langkahnya.Sepasang mata elangnya bergulir dingin, menatap sesosok wanita berpenampilan serba mencolok dengan riasan tebal dan pakaian bermerek yang berdiri di dekat sebuah mobil sedan putih.Wanita itu adalah Mayang—rekan satu sekolahnya semasa SMA dulu.Mayang melangkah mendekat sembari mengamati penampilan Heri dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang tidak ditutup-tutupi. Sudut bibirnya terkerek membentuk senyuman sinis."Oh... iya, aku baru ingat. Kamu kan punya anak ya?" celetuk Mayang dengan nada meremehkan yang amat kental, dise

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 196

    Pelukan erat di atas tempat tidur malam itu akhirnya bermuara pada komitmen penuh yang mengikat.Pagi harinya, suasana apartemen megah terasa berbeda, penuh dinamika dan semangat baru. Hari ini adalah hari pertama Nathan melangkah ke sekolah barunya di ibu kota.Sejak subuh, Sintya sudah sibuk berkutat di dapur bersih.Wanita itu mengenakan pakaian santai namun tetap terlihat elegan, secara telaten menyiapkan menu sarapan bergizi sekaligus mengemas bekal makan siang untuk Nathan ke dalam tempat makan berwarna cerah.Heri berdiri bersandar pada bingkai pintu dapur, memperhatikan pergerakan jemari halus Sintya dari belakang.Otot-otot dada bidang Heri yang terbungkus kemeja polo gelap mengetat halus.Ada rasa hangat yang membakar dadanya melihat bagaimana wanita yang kini resmi bertunangan dengannya itu begitu tulus mengurus putra kandungnya, persis seperti seorang ibu kandung yang penuh kasih.Satu jam kemudian, SUV hitam milik Heri membelah jalanan kota, membelok masuk menelusuri area

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 195

    Ruangan yang hening itu seketika dipenuhi oleh desiran haru yang memuncak.Di atas tempat tidur, Sintya terdiam mematung sejenak, menatap kotak bludru hitam di tangan Heri dan wajah maskulin pria itu yang menatapnya penuh kepastian.Kelopak mata cantik Sintya berkaca-kaca, memperlihatkan binar kebahagiaan murni yang tak lagi sanggup ia bendung.Tanpa ragu sedikit pun, Sintya menganggukkan kepalanya kuat-kuat. "Iya, Heri... Aku mau! Tentu saja aku mau!" seru Sintya dengan suara parau yang bergetar hebat oleh rasa bahagia.Mendengar jawaban spontan nan tegas dari bibir wanitanya, seolah ada beban raksasa yang terangkat dari atas dada bidang Heri.Pasokan udara yang sempat tertahan di paru-parunya meluncur keluar dalam satu embusan napas lega.Otot-otot wajah tegas Heri yang biasa kaku seketika meleleh, menyunggingkan senyuman lega nan tulus, sebuah senyuman langka yang hanya ia persembahkan khusus untuk wanita di hadapannya.Heri memajukan posisinya, berlutut makin rapat di tepi tempat

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 194

    Tubuh Sintya bergetar hebat di atas sofa di bawah siksaan lidah dan tusukan dua jari Heri yang menghantam liang intimnya tanpa ampun.Jeritan Sintya yang melengking kian memenuhi ruang kamar saat gelombang orgasme pertamanya meremukkan seluruh pertahanannya.Merasakan jepitan kencang dari dinding intim Sintya yang meremas jarinya secara brutal, Heri mencabut jarinya yang basah.Pria itu berdiri penuh, hingga hingga urat-urat di leher dan lengannya menonjol tebal diliputi gairah yang sudah berada di titik didih.Kejantanan tegapnya yang berukuran raksasa, keras membatu, dan memancarkan suhu membakar sudah berdiri gagah, siap menghancurkan sisa-sisa kewarasan wanitanya.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Heri mencengkeram kedua panggul Sintya dari belakang.Dengan posisi Sintya yang masih menungging pasrah di atas sofa, Heri mengarahkan ujung kejantanannya tepat di pintu masuk liang intim Sintya yang membengkak panas dan basah kuyup.Heri memajukan panggulnya, menghantamkan seluruh pu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 193

    Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Langkah kaki Sintya terdengar halus mengetuk marmer dingin saat ia melangkah keluar.Heri, yang sedang duduk bersandar di sofa kulit hitam kamar utama, langsung menegakkan punggung tegapnya.Matanya membola lebar. Pasokan udara di tenggorokannya seketika tersumbat.Sintya mengenakan setelan lingerie paling ekstrem yang pernah Heri lihat.Pakaian itu berupa rok mini jaring-jaring transparan yang teramat ketat dan pendek, sama sekali tidak mampu menutupi belahan bokong kencangnya.Dari balik bahan tipis itu, terlihat jelas Sintya sama sekali tidak mengenakan celana dalam lagi.Bagian atasnya hanya ditutupi bra mini yang ukurannya terlampau irit, hanya cukup menutupi area putingnya, sementara gundukan dadanya yang padat dan ranum menyembul bebas di bagian bawah dan samping.GUK.Heri menelan ludahnya kasar.Tenggorokannya mendadak terasa kering dan panas. Urat-urat di leher tegapnya mengetat kaku, sementara dadanya yang telanjang naik-turun memburu.Si

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 69

    Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 66

    Heri menekan Baskoro dengan suara baritonnya yang mengintimidasi, mengunci pandangan pria paruh baya itu agar tidak bisa mengelak lagi.Sembari menumpu kedua tangan kekarnya di atas meja marmer, Heri menyorongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak psikologis hingga Baskoro terpaksa bersand

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 50

    Sintya sekuat tenaga menggigit bibir bawahnya hingga memutih, menahan hantaman nikmat yang mendadak menyerang pusat sarafnya. Kedua tangan wanita itu meremas sprei hotel dengan kuku-kukunya yang terawat hingga kain katun premium itu berkerut parah.Di bawah selimut tebal, Heri tidak member

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status