登入Suasana ruang koleksi khusus di lantai dua perpustakaan pusat kampus terasa teramat hening.Bau khas kertas-kertas tua dan pendingin udara yang berembus pelan beradu dengan bau kayu mahoni dari jajaran rak-rak buku raksasa.Tempat ini jarang dikunjungi mahasiswa karena hanya berisi literatur tua dan ensiklopedia tebal. Di sudut paling belakang, tersembunyi di balik dua sekat rak tinggi, Nathan Utama duduk tenang menyandarkan punggungnya di kursi kayu berukir.Di atas meja kayu panjang di depannya, sebuah laptop perak menyala menampilkan draf skripsi yang sedang disusunnya.Namun, fokus pikiran Nathan sama sekali tidak berada pada barisan kalimat metodologi penelitian di layar monitor.Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit. Mata bariton Nathan yang tajam sesekali melirik ke arah lorong sempit di antara rak buku.Derap langkah kaki yang amat pelan dan ragu-ragu terdengar mendekat. Sosok Alya muncul dari balik bayangan rak tebal, membawa sebuah cangkir k
Langkah kaki Nathan Utama mantap dan terukur saat menyusuri lorong berlantai marmer di gedung Fakultas Ekonomi.Jas almamater yang tersampir santai di sebelah bahunya serta kemeja putih yang tergulung hingga pertengahan lengan mempertegas postur tubuhnya yang tinggi tegap.Di sekelilingnya, tiga orang rekan pengurus himpunan mahasiswa sibuk berkutat dengan berkas-berkas program kerja, bersahut-sahutan membahas anggaran dan izin kegiatan yang harus diselesaikan sore itu.Namun, perhatian Nathan sama sekali tidak tertuju pada lembaran kertas di tangan rekannya.Melalui pantulan kaca jendela lorong dan sudut mata baritonnya yang tajam, Nathan mengawasi satu sosok mungil yang mengekor perlahan sekitar lima langkah di belakang rombongannya. Alya.Gadis itu mengenakan kardigan rajut berwarna krem longgar yang dipadukan dengan rok lipit sebatas lutut. Rambut panjangnya dibiarkan terurai tipis, membiaskan kesan polos yang amat kontras dengan jejak-jejak kepasrahan liar yang diukir Nathan pada
Deru napas tersengal-sengal masih berembus kencang di dalam ruang VIP-01 yang terisolasi rapat.Suasana redup berbalut pendar warm amber membingkai tubuh tegap Nathan yang bertelanjang dada, duduk bersandar di sofa kulit hitam.Keringat tipis melapisi dada bidang dan perut berototnya yang naik-turun teratur, sementara di pangkuannya, tubuh mungil Alya terbaring lemas bagai tanpa tulang.Alya menyandarkan pipinya yang hangat pada dada bidang Nathan, mendengarkan detak jantung pria itu yang berpacu kuat namun stabil.Tubuh gadis itu masih beberapa kali menyentak halus, sisa-sisa gelombang pelepasan luar biasa dari penyatuan gila yang baru saja mereka selesaikan.Gaun marun tipisnya sudah berantakan tak beraturan, mencetak jejak-jejak kemerahan di leher dan bahunya akibat kepemilikan liar sang pewaris Utama.Jemari tebal Nathan yang hangat merayap perlahan menelusuri garis punggung mulus Alya, membelai helai demi helai rambutnya yang sedikit basah oleh keringat."Masih bernapas, Al?" gum
Alya masih terkulai lemas di antara kedua kaki Nathan, dadanya yang kencang bersandar pasrah pada paha tegap sang pewaris Utama.Napasnya memburu parau, menyisakan jejak kejang gairah yang baru saja mereda di seluruh jaringan sarafnya.Pendar temaram warm amber di dalam ruang VIP-01 membiaskan bulir-bulir keringat halus yang membasahi leher mulus dan tulang selangka gadis itu.Nathan menyandarkan punggungnya santai pada sandaran sofa kulit, menikmati pemandangan Alya yang tak berdaya di bawah kendali mutlaknya.Jemari tangan kanannya yang tebal dan berurat menyusup ke dalam helai rambut Alya, menariknya pelan ke belakang agar wajah gadis itu mendongak menatapnya."Lo pikir lo udah boleh istirahat, Al?" gumam Nathan dengan suara bariton yang teramat dalam dan serak, memancarkan aura brengsek yang tanpa cela.Alya menatap manik mata pekat Nathan dengan binar sayu yang berembun. "Nathan... aku lemas banget..."Nathan menyunggingkan senyum dominan dari sudut bibirnya. Ia memajukan pinggul
Pria itu menyandarkan punggung tegapnya santai di tengah sofa kulit hitam yang luas, merenggangkan kedua kakinya yang panjang dengan gestur kekuasaan mutlak seorang pemangsa di wilayah kekuasaannya sendiri."Nathan..." panggil Alya lirih. Gadis itu masih berdiri di depan stasiun bar kristal, memegang botol whiskey premium yang baru disiapkan oleh pihak klub.Matanya yang jernih dan sedikit sayu akibat efek alkohol menatap Nathan dengan campuran rasa gugup dan antusiasme liar yang tak bisa disembunyikan.Nathan memiringkan kepalanya sedikit, menatap Alya dari atas sampai bawah. Pandangannya terkunci pada paha mulus dan gaun merah marun Alya yang makin terangkat saat gadis itu bergerak."Lo berdiri di sana mau jadi pajangan atau mau ngelayanin gue, Al?" sahut Nathan dengan suara bariton yang dalam dan serak.Lalu mengibaskan jemari tangannya pelan. "Sini. Tuang minumannya buat gue."Alya meneguk ludahnya yang terasa panas.Dengan jemari gemetar namun mantap, ia menuangkan cairan keemasa
Dentuman bass berfrekuensi rendah menggetarkan permukaan marmer dan kaca di main hall klub malam eksklusif Nocturne.Cahaya laser temaram berwarna violet dan biru tua membelah kegelapan ruangan, membiaskan pendar redup pada jejeran botol minuman keras kelas atas dan kerumunan orang-orang dari kalangan atas.Aroma alkohol mahal, asap shisha, dan parfum mewah menyatu kental di udara.Nathan melangkah santai melintasi lorong sofa VIP area main hall, sebelah tangannya menyusup santai di saku celana bahan mewahnya, sementara lengan yang lain melingkar ketat di pinggang mungil Alya.Dekapan Nathan begitu posesif, menarik tubuh Alya rapat-rapat hingga paha mulus gadis itu yang berbalut gaun tipis merah marun terus bergesekan dengan kakinya di setiap langkah."Wah, bro! Akhirnya dateng juga lo!" seru Dion, salah satu rekan bisnis sekaligus sahabat Nathan, setengah berteriak menembus dentuman musik yang membisingkan.Dion yang sedang berdiri di dekat meja sofa lingkar langsung menyambut kedata
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun







