Share

BAB 232

Author: Nona Mentari
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-08 10:28:07

Tim kepolisian bertindak cepat, melumpuhkan dan meringkus Reno secara paksa di lantai.

Dua petugas menindih punggungnya yang bersimbah darah, memiting tangannya ke belakang hingga bunyi gemeretak borgol besi mengunci rapat pergelangan tangannya.

Reno merintih-rintih kesakitan, erangannya teredam kasar oleh permukaan marmer yang dingin.

Namun, perhatian tidak lagi tertuju pada buronan itu. Sintya, Maman, dan Karin berlari histeris menghampiri Heri yang tergeletak lemas di dekat kaki sofa.

Sintya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 250

    Suasana di dalam kamar VIP mendadak berubah menjadi sangat privat dan intens setelah pintu kayu kembali tertutup rapat. Keheningan pagi yang hangat menyelimuti ruangan ber-AC tersebut.Sintya berdiri tepat di samping ranjang tempat Heri berbaring. Wanita jelita itu menyunggingkan senyum tipisnya yang amat memikat.Tangannya yang lentik bergerak pelan meraih ujung cardigan berbahan rajut lembut yang menutupi bagian atas tubuhnya, lalu perlahan-lahan meloloskannya melewati lengan mulusnya.Heri yang tadinya hendak membetulkan letak bantal seketika terdiam kaku. Pria bertubuh tinggi besar itu terpana, matanya membola lebar hingga refleks menahan napasnya.Di balik cardigan yang kini tergeletak di atas kursi, Sintya rupanya mengenakan mini dress ketat tanpa tali (strapless) berwarna krem.Gaun itu memamerkan dengan jelas keindahan bahu mulusnya yang putih bersih serta belahan dadanya yang amat padat dan menantang. Siluet tubuhnya yang sintal dan berisikan terpampang nyata tepat di depan m

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 249

    Pagi harinya di kamar VIP rumah sakit, sinar matahari menyusup hangat lewat selah gorden.Heri sedang duduk bersandar di atas ranjangnya. Luka tembak di perutnya terasa jauh lebih mendingan, membuat napasnya kini jauh lebih teratur dan plong.Klek.Pintu kamar mendadak terdorong pelan. Suster muda genit yang kemarin sempat diceramahi Maman melangkah masuk kembali.Pagi ini, riasan wajah suster itu terlihat jauh lebih tebal dengan polesan lipstik merah menyala. Seragam perawatnya sengaja ditarik agak ketat, menonjolkan lekuk dadanya saat ia mendorong baki peralatan medis."Selamat pagi, Pak Heri..." sapa suster itu dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat manja dan mendayu-dayu.Heri tidak menjawab. Pria bertubuh tinggi besar itu hanya melirik dingin dari sudut mata elangnya, lalu kembali memalingkan wajah menatap layar televisi yang menyala tanpa suara.Suster muda itu mendekat ke sisi kasur Heri.Dengan gerakan yang lambat dan sengaja memancing, ia mengulurkan tangannya untuk memer

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 248

    Malam makin melarut. Jam dinding di lantai dasar restoran telah menunjukkan pukul sebelas malam.Seluruh karyawan dapur dan pelayan telah pamit pulang, menyisakan lampu-lampu utama yang dipadamkan satu per satu hingga hanya tersisa pendaran hangat lampu interior di lorong-lorong utama. Suasana lantai satu sudah benar-benar sunyi dan sepi.Di lantai dua, pintu kayu tebal ruang kerja pribadi Heri tertutup rapat. Cahaya dari lampu meja menyala redup, membiaskan sinar keemasan yang hangat di dalam ruangan yang beraroma kayu jati dan aroma parfum maskulin yang khas.Maman melangkah tegap menyusuri koridor lantai dua, langkah kakinya yang berat dan berwibawa memecah keheningan malam.Pria itu kemudian membetulkan posisi kerah kaus polos hitamnya yang melekat erat pada dada bidang dan otot lengannya yang berurat.Maman memegang selembar map kosong di tangan kirinya, sebuah alibi modus sederhana yang sengaja disiapkannya.Klek.Maman mendorong pintu kayu ruang kerja Heri, melangkah masuk ke d

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 247

    Jam di dinding ruang administrasi restoran menunjukkan pukul empat sore.Suasana restoran sedang lengang di jeda antara jam makan siang dan makan malam.Maman berdiri tegap di dekat lemari arsip, mencoba fokus memeriksa lembaran kuitansi stok bahan dapur.Pria itu kini sedang berusaha mempertahankan wibawa dinginnya seperti biasa, lengkap dengan raut wajah datar dan rahang tegas yang mengetat kaku.Namun, pertahanan mental sang mantan prajurit keamanan itu mendadak diuji saat suara pintu kaca kamar dibuka dari luar.Klek.Karin melangkah masuk membawa dua cangkir teh manis hangat yang berasap tipis.Wanita berparas jelita itu mengenakan kemeja fitted berwarna merah muda yang membentuk lekuk dada dan pinggang mulusnya dengan sangat pas. Ujung kuncir rambutnya bergoyang pelan seiring langkah kakinya yang anggun."Mas Maman..." panggil Karin dengan suara merdu dan agak mendayu dari arah belakang.Maman yang sedang serius memegang tumpukan map tebal seketika tersentak kaget. Pria tegap be

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 246

    Suasana di dalam area dapur dan ruang administrasi restoran milik Heri pagi itu tampak sibuk. Bau harum tumisan bumbu serta aroma kental kopi yang baru diseduh memenuhi udara.Di saat Heri masih harus menjalani pemulihan intensif di rumah sakit akibat luka tembaknya, dan Sintya disibukkan oleh jadwal ketat bolak-balik antara mengurus butiknya serta mendampingi sang calon suami, roda bisnis restoran tidak boleh terhenti.Maman secara penuh mengambil alih kepemimpinan operasional restoran untuk menggantikan posisi Heri.Pria itu berdiri tegap di tengah area meja bar, mengenakan kaus polos hitam yang membalut ketat otot dada dan lengannya yang berurat, dipadukan dengan celana kain kargo andalannya."Stok daging sapi sama sayuran buat makan siang sudah masuk semua?" tanya Maman dengan suara bariton rendahnya yang tegas pada kepala koki."Sudah lengkap, Mas Maman," jawab sang koki sigap. "Semua bahan segar sudah ditata di ruang penyimpanan dingin.""Bagus. Ingat, jaga kualitas rasa dan keb

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 245

    Maman mendengarkan setiap patah kata cerita Heri dengan senyum miring yang penuh keakraban. Pria itu lantas mengusap rahang tegasnya yang ditumbuhi brewok tipis, menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak menyangka jalan hidup sahabatnya bisa berjalan se-ekstrem dan serumit itu."Gila kamu, Her," ujar Maman dengan tawa terkekeh rendah yang bergema pelan di dalam kamar VIP. "Garis takdir manusia itu benar-benar nggak ada yang tahu ya."Heri menyunggingkan senyum tipisnya, menaikkan sebelah alisnya. "Nggak tahu gimana maksudmu, Man?"Maman memajukan sedikit tubuh besarnya, menyandarkan kedua tangannya di paha kargonya yang kokoh."Ya kamu pikir saja sendiri. Dulu kamu cuma satpam biasa yang berdiri kaku menjaga gerbang rumah mewahnya, cuma dijadikan tempat pelampiasan rasa sepi dan pemuas hasrat di belakang si Reno.""Terus?" tanya Heri pendek."Terus lihat kamu sekarang!" Maman menunjuk dada bidang Heri dengan telunjuknya."Sekarang kamu malah bertransformasi penuh jadi pahlawan nasiona

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 3

    Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 2

    Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status