LOGINSuasana kamar tidur utama di apartemen mewah Heri sudah dipenuhi keheningan malam. Lampu kamar dinyalakan temaram, memberikan pendaran cahaya keemasan yang hangat dan privat.Sintya duduk bersandar di kepala tempat tidur empuk. Wanita jelita itu mengenakan piyama sutra tipis berwarna merah marun yang membungkus ketat lekuk tubuhnya yang padat dan sintal.Di pangkuannya, berserakan beberapa katalog tebal dan brosur dekorasi pesta pernikahan mewah di gedung-gedung megah serta hotel bintang lima."Her, coba kamu lihat brosur yang ini deh," panggil Sintya dengan suara lembutnya sembari membolak-balik lembaran kertas glossy."Gedung di pusat kota ini ballroom-nya luas banget. Dekorasi bunganya juga kelihatan megah, cocok banget kalau buat nampung ratusan tamu."Heri yang baru selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil hanya mengenakan celana tidur panjang kasual, membiarkan dada bidangnya yang tegap dan berotot terbuka bebas.Pria itu kemudian melangkah mendekati tempat tidur denga
Sore hari yang hangat menyelimuti balkon apartemen saat suasana rumah sedang sangat tenang. Angin senja bertiup lembut, membawa hawa sejuk yang menyapu area luar ruangan tersebut.Sintya sedang beristirahat di dalam kamar utama setelah seharian merapikan berkas-berkas, memberikan ruang dan waktu yang sangat pas bagi Heri untuk menghabiskan momen berkualitas bersama putra tunggalnya.Heri memanfaatkan momen tenang tersebut untuk mengajak Nathan, yang baru saja selesai mandi usai pulang sekolah, duduk mengobrol empat mata di balkon.Pria itu melangkah tegap, menyandarkan siku kekarnya di pagar pembatas balkon, sembari menatap langit senja yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan."Nathan, sini sebentar, Nak. Ayah mau ngobrol," panggil Heri dengan suara bariton rendahnya yang amat hangat.Nathan yang sedang membawa segelas air putih hangat langsung melangkah mendekat.Remaja berusia 12 tahun itu berdiri di samping tubuh bidang ayahnya, menyandarkan punggungnya di pagar balkon."N
Pagi hari di ruang kerja rumah Heri terasa sangat padat. Tumpukan berkas penting, map-map berkas kependudukan, lembaran formulir dari kelurahan, hingga dokumen legalitas pernikahan berserakan di atas meja kayu yang besar.Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat jendela, menyinari Heri dan Sintya yang duduk berhadapan mengurutkan lembar demi lembar berkas.Heri tampil santai namun tetap memancarkan wibawa tegapnya dalam balutan kaus polos abu-abu yang mencetak dada bidangnya.Di sampingnya, Sintya terlihat teramat anggun dengan atasan tanpa lengan warna krem yang memperlihatkan bahu mulus serta lekuk tubuhnya yang sintal.Maman yang dipanggil untuk membantu memverifikasi kelengkapan data diri dan surat keterangan saksi tampak berdiri kaku di tepi meja.Pria itu kini sedang memegang satu bundel formulir dengan raut wajah yang makin berkerut parah. Tangannya yang biasa memegang senjata atau mengunci leher lawan kini terlihat canggung memegang pulpen."Astaga, Her... ini surat izin RT/R
Jam dinding di sudut ruang utama restoran sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. Jam operasional telah resmi ditutup.Seluruh staf, pelayan, dan koki sudah pamit pulang satu per satu, meninggalkan bangunan dua lantai itu dalam keheningan yang mencekam.Suasana lantai dasar kini redup, hanya diterangi oleh lampu interior gantung di bagian tengah ruangan.Di area pantry dapur yang remang-remang, Karin masih berdiri mengeringkan cangkir kopi terakhir dengan kain lap.Wanita itu sudah melepas dua kancing atas kemejanya, membiarkan leher mulusnya terpapar udara dingin pendingin ruangan.Sementara itu, Maman melangkah menyusuri lorong dapur stainless steel yang luas. Langkah kakinya yang berat terdengar bergema di atas lantai keramik.Pria itu memeriksa setiap sudut: memutar kenop panggangan gas, memastikan stopkontak aman, lalu mengunci selot pintu belakang dengan kunci besi yang berat.Begitu Maman berbalik arah mendekati meja racik bahan makanan berbahan stainless steel, Karin memu
Jam menunjukkan pukul empat sore.Kesibukan jam makan siang di restoran milik Heri telah mereda total. Suasana lantai dua, khususnya area ruang administrasi, terasa sangat tenang dan lengang. Hanya terdengar dentingan ketukan jemari pada papan ketik laptop.Karin duduk bersandar di balik meja kerja kayu. Wajah cantiknya tampak agak lelah, mengamati deretan angka laporan kasur harian di layar laptop.Karena pendingin udara ruangan terasa kurang dingin, Karin mengulurkan tangannya, melonggarkan dua kancing atas kemeja putihnya.Tindakan itu secara tak sengaja memperlihatkan keindahan leher mulus serta belahan dadanya yang mengintip tipis di balik kemeja.Klek.Pintu ruang administrasi terdorong terbuka. Maman melangkah masuk sembari menggenggam satu cangkir kopi hitam panas di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang tumpukan nota pembelian bahan baku dari pasar pagi tadi.Pria bertubuh tinggi besar itu melangkah kokoh dengan kaus hitam ketat yang masih melekat ketat membungku
Matahari pagi menyinari bagian depan restoran dua lantai milik Heri dengan hangat. Aroma bumbu rempah dan aroma tumisan khas dapur sudah tercium samar-samar saat pintu kaca utama dibuka dari dalam.Heri melangkah masuk menyusuri area lantai utama dengan langkah tegap, berwibawa, dan mantap.Pria bertubuh tinggi besar itu tampil gagah dalam balutan kemeja kasual berlengan pendek warna abu-abu gelap yang membungkus ketat dada bidangnya yang keras, dipadu dengan celana jins hitam.Aura kepemimpinan alami seorang pemilik utama yang telah pulih total terpancar amat kuat dari penampilannya."Selamat pagi, Pak Heri!" sapa Chef Aris, koki kepala restoran, dengan raut wajah amat lega.Jajaran staf pelayan dan koki yang sedang menyapu lantai serta merapikan meja makan seketika menghentikan kegiatan mereka.Mereka membungkuk hormat, menyambut kepulangan sang nahkoda bisnis dengan binar mata penuh antusiasme."Selamat pagi semuanya," balas Heri dengan suara bariton rendahnya yang dalam dan ramah.
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu







