Compartir

BAB 254

Autor: Nona Mentari
last update Fecha de publicación: 2026-08-12 13:05:12

Pagi hari di Pengadilan Negeri tampak jauh lebih sibuk dan menegangkan dari biasanya.

Udara dingin dari pendingin ruangan menyapu koridor berlantai marmer yang dipenuhi oleh petugas keamanan, pengacara, serta puluhan wartawan yang berlalu-lalang.

Dari ujung koridor, Heri melangkah dengan postur tegap, berwibawa, dan memancarkan aura dingin yang sangat dominan.

Luka tembak di perutnya telah membaik total, memungkinkannya berjalan lurus tanpa rasa canggung sedikit pun.

Pria itu tampil sangat memu
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 254

    Pagi hari di Pengadilan Negeri tampak jauh lebih sibuk dan menegangkan dari biasanya.Udara dingin dari pendingin ruangan menyapu koridor berlantai marmer yang dipenuhi oleh petugas keamanan, pengacara, serta puluhan wartawan yang berlalu-lalang.Dari ujung koridor, Heri melangkah dengan postur tegap, berwibawa, dan memancarkan aura dingin yang sangat dominan.Luka tembak di perutnya telah membaik total, memungkinkannya berjalan lurus tanpa rasa canggung sedikit pun.Pria itu tampil sangat memukau dalam balutan kemeja putih formal pas badan yang menonjolkan bentuk dadanya yang bidang dan keras, dipadu dengan celana bahan hitam berpotongan rapi.Di samping kirinya, Maman berjalan sigap bak seorang pengawal pribadi kelas atas.Mantan prajurit itu mengenakan setelan jas hitam ketat yang mencetak otot-otot lengannya yang tebal dan berurat.Sementara di sisi kanan Heri, Sintya melangkah anggun mempesona dalam balutan blazer krem yang membungkus sempurna lekuk tubuhnya yang sintal dan padat

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 253

    Malam makin melarut. Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat.Suasana di dalam kamar tidur Nathan sudah hening total, menandakan remaja itu telah tertidur lelap setelah menyelesaikan seluruh tugas sekolahnya.Suasana apartemen mewah itu berubah menjadi sangat tenang, privat, dan sunyi. Heri melangkah perlahan menuju pintu kaca besar di sudut ruangan yang menghubungkan ruang tengah dengan balkon luar.Pria itu membuka pintu geser, dan membiarkan hembusan angin malam yang sejuk menyapu wajah dan tubuh tegapnya.Heri berdiri menyandarkan kedua lengan kekarnya di atas pagar pembatas balkon. Pandangan mata elangnya menatap lurus ke luar, menikmati pendaran gemerlap lampu kota Jakarta yang terbentang luas di bawah sana.Klek.Suara gesekan kain terdengar pelan dari arah belakang. Sintya menyusul langkah Heri ke luar balkon.Wanita cantik itu telah melapiskan sebuah outer berbahan kain rajut tipis di atas bahunya untuk menghalau dinginnya angin malam."Belum t

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 252

    Waktu menunjukkan pukul empat sore. Suasana sepi di dalam apartemen mewah Heri seketika pecah saat suara pintu depan terdorong terbuka."Pagi sampai sore cuma telentang di sofa, lama-lama badanku kaku semua," gumam Heri pelan sembari membetulkan posisi duduknya.Pria itu kini hanya mengenakan kaus oblong santai yang membungkus dada bidangnya, menyandarkan punggungnya di sofa empuk ruang tengah.Nathan melangkah masuk membawa tas ransel sekolah yang lumayan berat di bahunya.Wajah remaja 12 tahun itu tampak agak lelah setelah seharian mengikuti kegiatan belajar, tetapi binar matanya terlihat sangat hidup dan bersemangat."Ayah! Nathan pulang!" seru Nathan sembari melepas sepatu ketsnya di rak depan.Heri menyunggingkan senyum tipisnya yang hangat. "Gimana sekolahnya hari ini, Nak? Capek?""Capek banget, Yah. Mana tadi ada ulangan harian matematika mendadak lagi," sahut Nathan sembari berjalan mendekat dan menyalami tangan tegap ayah kandungnya tersebut. "Tapi Nathan bisa kok ngerjainny

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 251

    Dua hari berlalu di kamar VIP rumah sakit hingga pagi itu kesibukan kecil menyelimuti ruangan. Dokter dan tim medis akhirnya resmi menandatangani dokumen kepulangan Heri.Heri sudah berganti pakaian. Pria itu mengenakan kaus polos hitam pas badan yang membungkus sempurna dada bidang serta otot tangannya yang kekar, dipadu celana kargo berwarna abu-abu gelap.Luka jahitan di perutnya sudah mengering dan jauh lebih membaik.Sintya melangkah masuk mendekatinya dengan penampilan anggun mengenakan setelan blazer elegan yang memancarkan wibawa tegas seorang wanita berkelas."Sudah siap, Her?" tanya Sintya lembut sembari merapikan kerah kaus Heri.Heri mengembuskan napas lega. "Sudah dari kemarin aku siap, Sayang. Rumah sakit ini bikin badanku makin kaku."Sintya tersenyum tipis, lalu berbalik menyapa Maman yang sudah siap memegang kunci mobil dan membawakan tas pakaian Heri."Man, mobil sudah siap di basement?" tanya Sintya."Siap, Mbak Sintya. Semua sudah aman," jawab Maman singkat dan teg

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 250

    Suasana di dalam kamar VIP mendadak berubah menjadi sangat privat dan intens setelah pintu kayu kembali tertutup rapat. Keheningan pagi yang hangat menyelimuti ruangan ber-AC tersebut.Sintya berdiri tepat di samping ranjang tempat Heri berbaring. Wanita jelita itu menyunggingkan senyum tipisnya yang amat memikat.Tangannya yang lentik bergerak pelan meraih ujung cardigan berbahan rajut lembut yang menutupi bagian atas tubuhnya, lalu perlahan-lahan meloloskannya melewati lengan mulusnya.Heri yang tadinya hendak membetulkan letak bantal seketika terdiam kaku. Pria bertubuh tinggi besar itu terpana, matanya membola lebar hingga refleks menahan napasnya.Di balik cardigan yang kini tergeletak di atas kursi, Sintya rupanya mengenakan mini dress ketat tanpa tali (strapless) berwarna krem.Gaun itu memamerkan dengan jelas keindahan bahu mulusnya yang putih bersih serta belahan dadanya yang amat padat dan menantang. Siluet tubuhnya yang sintal dan berisikan terpampang nyata tepat di depan m

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 249

    Pagi harinya di kamar VIP rumah sakit, sinar matahari menyusup hangat lewat selah gorden.Heri sedang duduk bersandar di atas ranjangnya. Luka tembak di perutnya terasa jauh lebih mendingan, membuat napasnya kini jauh lebih teratur dan plong.Klek.Pintu kamar mendadak terdorong pelan. Suster muda genit yang kemarin sempat diceramahi Maman melangkah masuk kembali.Pagi ini, riasan wajah suster itu terlihat jauh lebih tebal dengan polesan lipstik merah menyala. Seragam perawatnya sengaja ditarik agak ketat, menonjolkan lekuk dadanya saat ia mendorong baki peralatan medis."Selamat pagi, Pak Heri..." sapa suster itu dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat manja dan mendayu-dayu.Heri tidak menjawab. Pria bertubuh tinggi besar itu hanya melirik dingin dari sudut mata elangnya, lalu kembali memalingkan wajah menatap layar televisi yang menyala tanpa suara.Suster muda itu mendekat ke sisi kasur Heri.Dengan gerakan yang lambat dan sengaja memancing, ia mengulurkan tangannya untuk memer

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 3

    Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 2

    Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status