INICIAR SESIÓNSuasana di dalam ruang VIP Dekanat Fakultas Ekonomi terasa dingin dan sarat akan ketegangan yang tertahan.Suara pendingin udara yang berembun pelan menjadi satu-satunya latar belakang ketika Nathan Utama memimpin rapat koordinasi akhir Seminar Nasional.Di ujung meja lonjong berlapir kayu jati itu, duduk Adrian.Alumni berprestasi yang kini menjadi eksekutif muda tersebut hadir bukan sekadar sebagai tamu undangan, melainkan sebagai pembicara utama sekaligus sponsor tunggal yang mendanai hampir seluruh anggaran kegiatan tahun ini.Nathan merapikan tumpukan berkas proker di hadapannya. Ekspresi wajahnya datar, tidak memperlihatkan sedikit pun emosi meski hatinya bergejolak sejak Adrian melangkah masuk ke ruangan tersebut."Semua divisi sudah melaporkan kesiapan masing-masing," kata Nathan membuka pembicaraan dengan suara tegas dan lugas."Progres lapangan sudah mencapai delapan puluh persen. Kita hanya perlu mengunci divisi pendampingan untuk para tamu VIP dan pembicara eksternal."Adr
Langkah kaki Alya menyusuri trotoar sepi di luar area kampus terasa sangat berat. Bayangan wajah Nathan yang dingin dan bentakannya yang keras di dalam mobil tadi masih terngiang jelas di kepalanya.Setiap kata kasar yang diucapkan Nathan seolah terus memukul harga dirinya. Rasa sakit hati, kekecewaan, dan amarah bercampur menjadi satu, membuat dadanya terasa sesak.Tanpa tujuan yang pasti, Alya menyusuri jalanan malam hingga ia melihat papan nama sebuah kafe privat di pinggir jalan utama. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah masuk untuk menenangkan diri.Suasana kafe itu cukup tenang dan remang. Alya memilih duduk di sebuah meja pojok yang agak tersembunyi dari pandangan pengunjung lain.Baru saja pesanan kopi panasnya diantarkan ke meja, suara langkah kaki seseorang yang mendekat membuat Alya mendongak."Alya? Kamu sendirian di sini?"Di hadapannya berdiri Adrian, alumni fakultas yang kini sukses menjadi eksekutif muda di perusahaan konsultan terkemuka sekaligus donatur aktif kegiat
Nathan menepi di bahu jalan sepi yang dinaungi pepohonan rindang, jauh dari jangkauan area kampus maupun lalu lintas utama.Ia mematikan mesin mobil. Seketika, keheningan tebal mengisi seluruh kabin sedan mewah itu, hanya diselingi suara pendingin udara yang berdesis pelan.Nathan melepas sabuk pengamannya, menyandarkan punggungnya ke jok kulit, lalu menoleh lurus ke arah Alya.Gadis itu masih duduk kaku di sampingnya, tertunduk seraya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan."Buka mata lo dan tatap gue, Alya," perintah Nathan dengan suara bass rendah yang dingin dan tidak menerima bantahan.Alya menarik napas panjang yang terdengar bergetar, lalu perlahan menoleh.Matanya masih memerah, menyimpan sisa amarah, rasa malu, dan kejengkelan yang belum tuntas dari insiden di parkiran tadi."Kenapa? Kamu mau ngomelin aku lagi?" cetus Alya dengan nada menantang, walau suaranya sedikit parau. "Kamu senang kan bikin aku kelihatan kayak cewek hysteria di depan Dosen Clarissa?"Nathan tidak l
Nathan berjalan melintasi area parkir privat gedung dekanat yang mulai sepi. Alya berjalan cepat di sampingnya dengan napas masih tersengal, menahan amarah yang kembali memuncak.Sebelum Nathan sempat membuka pintu sedan mewahnya, langkah mereka terhenti saat Clarissa muncul dari balik barisan mobil dinas fakultas.Clarissa berjalan mendekat dengan wajah mengeras.Rasa dipermalukan saat melihat keintiman Nathan dan Alya di selasar auditorium tadi mendorong dosen muda itu membuang seluruh wibawa akademisnya demi menuntut kepastian."Nathan, saya butuh kejelasan sekarang," tekan Clarissa langsung tanpa basa-basi. Matanya menatap Nathan tajam sebelum melirik Alya dengan tatapan penuh penghinaan."Kenapa kamu terus membiarkan mahasiswi ini mengganggu agenda akademik kita? Saya sudah menawarkan posisi asisten riset dan Beasiswa Utama untuk kamu, tapi kamu malah membuang waktu sama cewek yang cuma memanfaatkan kamu buat pansos!"Alya tersentak mendengar tuduhan itu. Merasa harga dirinya dii
Nathan menatap Alya dari ketinggian posisinya tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin. "Bicara yang jelas, Alya. Gue nggak punya waktu buat ngelayanin drama lo.""Gak usah pura-pura gak tahu!" tuduh Alya dengan nada suara bergetar."Kamu sengaja biarin Dosen Clarissa nempel-nempel sama kamu. Kamu biarin dia pamer soal beasiswa, soal makan malam, bahkan kamu ikutan melayani permainan dia di depan aku! Kamu sengaja kan mau nunjukin kalau aku ini gak ada artinya dibanding dia?"Nathan tidak membalas amarah Alya dengan nada tinggi. Pria itu justru maju satu langkah, memotong jarak di antara mereka.Alya terpaksa mundur hingga punggungnya terbentur dinding marmer dingin auditorium.Nathan menumpukan sebelah tangan tebalnya di dinding tepat di samping kepala Alya, mengurung ruang gerak gadis itu sepenuhnya."Lo pikir lo siapa, Al?" bisik Nathan dengan suara bass rendah yang penuh tekanan intimidasi."Sejak kapan lo punya hak buat ngatur dengan siapa gue bicara atau gimana cara gue bers
Nathan sedang duduk di meja sudut cafeteria privat fakultas, berhadapan langsung dengan Dosen Clarissa.Di atas meja, dua cangkir kopi hitam tanpa gula sudah tersaji, pesanan yang sengaja dibelikan Clarissa tanpa bertanya lebih dulu, menegaskan betapa hafalnya sang dosen muda pada kebiasaan kopi Nathan."Kopi favorit kamu, Nathan. Tanpa gula, persis seperti biasa," ujar Clarissa dengan senyum percaya diri seraya mendorong cangkir tersebut mendekat ke arah Nathan.Dari meja seberang yang berjarak hanya beberapa meter, Alya menyaksikan interaksi itu.Matanya menatap tajam ke arah Clarissa, sementara kedua tangannya mengepal erat di atas pangkuan.Rasa kesal yang membakar sejak kejadian di ruang bimbingan tadi makin menjadi-jadi saat melihat Clarissa berbuat seolah-olah paling mengenal Nathan.Clarissa, yang sadar betul bahwa Alya sedang memperhatikan mereka, sengaja meninggikan volume suaranya."Saya sudah bicara dengan Dekan soal rekomendasi Beasiswa Riset Utama," lanjut Clarissa denga
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya







