分享

BAB 177

作者: Nona Mentari
last update publish date: 2026-07-26 00:58:58

Sore harinya, lembayung senja mulai menyepuh perbukitan desa dengan pendar keemasan yang tenang

Di sepanjang jalanan setapak yang sedikit menanjak di dekat pekarangan rumah Ibu Dewi, Nathan tampak asyik mengayuh sepeda merah kesayangannya.

Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu tertawa riang setiap kali rodamunya melintasi genangan air kecil, menikmati sisa-sisa kebebasan masa kecilnya di kampung sebelum diboyong ke ibu kota.

Namun, keceriaan Nathan mendadak terhenti ketika sebuah bayangan
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 179

    Matahari pagi menyiram pekarangan rumah kayu sederhana itu dengan pendar hangat yang lembut. Suasana haru membungkus persiapan kepulangan mereka ke kota.Di samping SUV hitam yang terparkir anggun, Nathan tampak bergerak sangat lincah.Wajah polos anak laki-laki itu berbinar riang; tangannya bolak-balik memasukkan tas ransel dan perbekalan desa ke dalam bagasi mobil.Binar di matanya adalah binar kebahagiaan murni seorang anak yang akhirnya bisa menyatu kembali di sisinya sang ayah.Heri memungkas ikatan tali di bagasi, lalu berbalik melangkah menghampiri Pak Arya dan Ibu Dewi yang berdiri mematung di teras.Pria bertubuh tegap itu membetulkan posisi jaket kulitnya, melangkah penuh wibawa namun menyimpan kelembutan luar biasa di dasar matanya.Heri berlutut, meraih jemari renta kedua orang tuanya secara bergantian, lalu mencium punggung tangan mereka dengan ketulusan yang teramat pekat."Pak, Bu, Heri pamit mau bawa Nathan ke kota," tutur Heri, suaranya bariton rendah, bergetar menaha

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 178

    Pagi hari di kawasan perkemahan dan taman perbukitan dekat hotel terasa sangat sejuk. Udara dingin pegunungan perlahan terhalau oleh pendar hangat mentari pagi yang menerobos celah-celah pepohonan pinus.Heri melangkah perlahan mengelilingi area taman dengan satu tangan merengkuh pinggang Sintya secara protektif, menikmati keheningan pagi sebelum mereka dijadwalkan kembali ke Jakarta keesokan harinya.Namun, ketenangan itu mendadak menguap saat derap langkah kaki berhak rendah terdengar tergesa-gesa mendekati mereka dari arah lorong taman.Heri memutar tubuhnya perlahan, memosisikan dirinya di depan Sintya secara insting.Sepasang mata elangnya mendapati Rani berdiri di hadapan mereka dengan napas memburu dan raut wajah kaku yang menahan amarah meluap-luap."Heri!" panggil Rani dengan suara melengking tajam, menunjuk langsung ke arah Heri. "Aku nggak setuju kalau kamu bawa Nathan pergi ke kota!"Mendengar seruan menuntut itu, Heri tidak langsung tersulut emosi.Pria bertubuh tegap itu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 177

    Sore harinya, lembayung senja mulai menyepuh perbukitan desa dengan pendar keemasan yang tenangDi sepanjang jalanan setapak yang sedikit menanjak di dekat pekarangan rumah Ibu Dewi, Nathan tampak asyik mengayuh sepeda merah kesayangannya.Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu tertawa riang setiap kali rodamunya melintasi genangan air kecil, menikmati sisa-sisa kebebasan masa kecilnya di kampung sebelum diboyong ke ibu kota.Namun, keceriaan Nathan mendadak terhenti ketika sebuah bayangan berdiri tepat di tengah jalan kecil tersebut, menghalangi laju sepedanya.Nathan menarik rem sepedanya perlahan. Sosok wanita ber-seragam kerja hotel yang rapi, Rani berdiri dengan melipat kedua tangan di dada.Wajahnya yang terpoles riasan tipis tampak kaku, menyimpan kecemasan dan dengki yang bergejolak sejak kejadian di restoran pagi tadi."Nathan, berhenti sebentar," panggil Rani, suaranya terdengar datar namun menuntut. "Ibu mau bicara sama kamu."Nathan menahan posisi sepedanya dengan kedu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 176

    Aroma kopi hitam hangat dan roti panggang mentega menyambut kehadiran Heri dan Sintya saat mereka memasuki area restoran utama hotel berbintang tersebut.Suasana pagi itu masih terbilang lengang, hanya dipenuhi beberapa tamu yang menikmati pemandangan perbukitan hijau dari balik jendela kaca.Heri menuntun Sintya dengan genggaman tangan yang erat dan protektif, merangkul pinggang ramping wanitanya sembari mencari meja terbaik di sudut ruangan yang menghadap langsung ke panorama alam.Namun, langkah taktis Heri sempat tertahan sesaat ketika pandangan mata elangnya menangkap sosok yang teramat familier di dekat meja bufet sarapan.Rani.Mantan istrinya itu sedang berdiri di sana dengan seragam kerja yang sama, sedang merapikan beberapa piring bufet.Tatapan Rani seketika tertambat pada Heri dan Sintya. Kilatan dengki, gengsi, dan kejengkelan terpancar jelas dari mata wanita itu saat menyaksikan betapa serasi dan mewahnya pasangan di hadapannya.Melihat kehadiran Rani yang kembali mengus

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 175

    Pagi hari telah tiba.Sintya menjadi orang pertama yang terbangun. Wanita itu tersenyum tipis menatap wajah maskulin kekasihnya yang tampak begitu tenang tanpa beban.Perlahan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Sintya turun dari ranjang, membungkus tubuh mulusnya dengan jubah mandi putih, lalu melangkah menuju kamar mandi utama yang bernuansa marmer mewah.Di dalam kamar mandi yang luas itu, Sintya mulai memutar keran, membiarkan air hangat mengalir deras mengisi bathtub porselen berukuran besar.Ia merogoh botol sabun aromaterapi, menuangnya hingga busa-busa putih yang harum melimpah memenuhi permukaan air.Sintya lalu melangkah ke depan cermin besar, menyikat gigi dan membasuh wajah cantiknya dengan lembut.Namun, indra kewaspadaan Heri yang terlatih tidak pernah benar-benar mati, bahkan dalam tidurnya yang lelap.Begitu menyadari kehangatan tubuh Sintya menghilang dari sisinya, mata elang Heri perlahan terbuka. Pria bertubuh tegap itu memutar tubuhnya, mendapati sisa tempat tidu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 174

    Setibanya di kamar, tanpa menunggu waktu, Heri langsung merenggut kaos oblong hitam yang melekat di tubuhnya, melemparkannya secara sembarangan ke atas lantai karpet tebal.Otot-otot dada bidang dan perut six-pack-nya yang mengeras kaku bertelanjang di bawah temaram pendar lampu kamar.Dada Heri naik-turun drastis. Rahang tegasnya mengetat keras, menahan gelombang kekesalan yang masih bergemuruh di ulu hatinya.Pertemuan tak terduga dengan Rani di meja resepsionis tadi benar-benar membakar egonya.Mantan istrinya itu sama sekali belum berubah; masih dangkal, penuh prasangka, dan bermulut tajam seperti saat meninggalkan dirinya dan Nathan dulu.Sintya melangkah mendekat dari arah belakang, meletakkan tas mewahnya di meja rias tanpa mengalihkan pandangan dari punggung lebar Heri yang penuh urat tegang."Pantas saja kamu dulu memilih menceraikan wanita itu," sahut Sintya dengan tenang namun sarat akan nada cemooh untuk Rani."Ternyata mulutnya pedas dan menjijikkan banget kayak gitu."He

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 3

    Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 2

    Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status