LOGIN"Kamu jangan aneh-aneh lho, Ca... bisa bahaya kalo saya nanggepinnya serius," ucap Juned pelan.
Dengan gerakan perlahan ia memajukan posisinya mendekatkan wajahnya ke arah Juned, Dan dengan gerakan pelan tapi pasti, Caca mendaratkan kedua belah bibir tipisnya tepat di atas bibir Juned, mengunci sisa kalimat yang hendak keluar dari pria itu. Sebuah ciuman yang pelan dan lembut menyapa bibir Juned, Perlahan-lahan, tangan Juned mulai bergerak naikJuned hanya tersenyum lebar menatap penampilan berani gadis di depannya, ia menutup pintu kamar rapat-rapat lalu menguncinya dari dalam dengan sekali putaran slot besi. Pria itu melangkah masuk mendekati area ranjang dengan santai, meletakkan tas kerjanya begitu saja di atas kursi kayu dekat meja rias yang terletak di sudut ruangan. Ia melepaskan jam tangan peraknya, lalu menaruhnya di atas meja nakas tepat di samping lampu tidur yang memancarkan cahaya kekuningan yang tampak sangat temaram. "Lama banget sih kemana aja Mas jam segini baru pulang, aku sampai lumayan bosan nunggunya di sini," ucap Maudy merajuk sembari memajukan bibir bawahnya yang tipis. Juned tidak menjawab dengan kata-kata, ia berpikir kalo malam ini ronde berikutnya akan dimulai bersama gadis muda yang sudah tidak sabar menunggunya sejak sore tadi. Maudy menarik pelan lengan Juned agar pria itu berdiri lebih dekat di hadapannya, lalu d
"Mas!! Di mana?? Kok belom pulang sih jam segini?!" ucap Maudy dengan nada suara yang melengking tinggi dari seberang telepon, langsung menusuk lubang telinga Juned. Juned menjauhkan sedikit layar ponselnya dari telinga, ia mengusap wajahnya yang masih terasa hangat akibat sisa pergulatan panas di dalam kamar Caca tadi. "Aduh, ini anak suaranya gak bisa dipelanin apa ya, bikin kaget saja malam-malam begini," gumam batin Juned sembari melirik ke arah pintu kamar Caca yang tertutup. Pria itu berdeham pelan untuk menormalkan kembali pita suaranya yang sempat serak, "Ini bentar lagi jalan pulang kok, Dy... jalanan di depan kompleks tadi macet total." "Buruan, Mas! Ihh lama banget yaa... sate belian Mama ini udah mulai dingin tahu di atas meja makan!" ucap Maudy dengan nada merajuk yang terdengar sangat manja. Juned melangkah mendekati meja tamu untuk mengambil kunci mobil milik Ratna yang tergeletak di sampi
"Kamu jangan aneh-aneh lho, Ca... bisa bahaya kalo saya nanggepinnya serius," ucap Juned pelan. Dengan gerakan perlahan ia memajukan posisinya mendekatkan wajahnya ke arah Juned, Dan dengan gerakan pelan tapi pasti, Caca mendaratkan kedua belah bibir tipisnya tepat di atas bibir Juned, mengunci sisa kalimat yang hendak keluar dari pria itu. Sebuah ciuman yang pelan dan lembut menyapa bibir Juned, Perlahan-lahan, tangan Juned mulai bergerak naik dari sandaran sofa dan menyentuh permukaan paha mulus Caca yang hanya terbalut celana kolor pendek sepaha. Di saat itu juga Caca mulai memainkan lidahnya dalam ciuman itu, memperdalam pagutan bibir mereka dengan ritme yang semakin panas dan menuntut di atas sofa. Sentuhan lidah gadis itu terasa sangat lihai, terus menarik dan membuat Juned seakan tak ingin lepas sedikit pun dari ciumannya yang terasa begitu manis dan memabukkan. Tak berapa lama, c
"Aduh, maaf ya, Pak... Bapak kurang nyaman ya melihat saya berpakaian seperti ini? Biar saya ganti baju yang lebih tertutup sekarang," ucap Caca. "Gak apa-apa, Ca... Senyamannya kamu aja kalau di dalam rumah sendiri," ucap Juned santai. Caca mengembuskan napas lega yang cukup panjang, pundaknya yang tadinya tegang kini kembali melandai di bawah siraman lampu ruang tamu yang temaram. "Makasih banyak ya, Pak... Saya benar-benar minta maaf kalau tidak sopan," ucap Caca sembari membetulkan posisi duduknya agar terasa lebih rileks. Juned hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia meraih cangkir kopi hitamnya kembali lalu meminum isinya sedikit demi sedikit untuk membasahi tenggorokan. Ia mengalihkan pandangan matanya ke arah deretan foto kecil yang terpajang di dinding ruang tamu, mencoba mengusir pikiran-pikiran lain yang mulai melintas. Caca memajukan posisi duduknya sedikit ke ujung sofa, mata
"Mari Masuk Pak," ucap Caca yg sudah membuka pintu rumahnya lebar-lebar sembari melemparkan senyuman manisnya ke arah Juned. Juned menoleh sebentar dari layar ponselnya ke arah gadis itu, "Oh iyaa, sebentar yaa... saya ada telepon penting masuk ini dari orang rumah." Pria itu melangkah mundur dua langkah ke dekat pilar teras, jemarinya dengan cepat menekan tombol panggil untuk langsung menelpon Ratna guna memberikan kabar. "Halo, Na..." ucap Juned membuka suara dengan sangat sopan begitu panggilan teleponnya tersambung dan terdengar suara desah napas Ratna di seberang sana. "Kamu dimana, Ned?" tanya Ratna dari balik speaker ponsel dengan nada penuh menyelidik. Juned melirik ke arah pintu rumah Caca yang sedikit terbuka, "Aku lagi ketemu temen sebentar nih di ajak ngopi, gpp kan kalau aku pulangnya agak telat malam ini?" "Ohh... iya gpp Ned, gak apa-apa kok kalau mau main dulu... aku kira
Juned menolehkan kepalanya dengan cepat karena merasa terkejut dengan sapaan mendadak di tempat sepi itu, "Iya, selamat sore... Ada yang bisa saya bantu?" Wanita itu melangkah mendekat dua langkah, lalu ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Juned dengan gerakan yang tampak sedikit kaku dan canggung di bawah lampu. "Perkenalkan, nama saya Caca... Saya salah satu karyawan Bapak di divisi keuangan lantai dua tadi," ucap Caca dengan senyuman manis yang menghiasi wajah mudanya. Juned menyambut uluran tangan hangat tersebut, menjabatnya sebentar sebelum akhirnya melepaskannya kembali dengan sikap yang sangat sopan, "Oh, iya... Saya Juned." Pria itu melirik jam tangannya yang sudah hampir menunjukkan pukul enam sore, lalu menatap ke arah luar gerbang basement yang mulai diguyur warna langit jingga. "Kenapa belom pulang, Dek Caca? Ini kan jam kerja kantor udah selesai dari tadi, lagian udah mau magrib juga ini







