تسجيل الدخولJuned sedikit tertawa mendengar pertanyaan beruntun dari teman lamanya itu, ia mempercepat langkah kakinya sedikit agar mereka bisa segera sampai ke tujuan.
"Nanti sambil ngopi aku cerita semuanya yaa, Sin... gak enak kalau kita cerita panjang lebar sambil jalan di pinggir jalan raya begini," ucap Juned santai. "Ahh, oke dehh... awas ya kalau bohong, aku benar-benar penasaran banget," ucap Sinta sambil mencubit pelan bahu kanan Juned. Tak lama kKeheningan malam kian melarut menyelimuti seluruh sudut rumah.Suara deru pendingin ruangan di kamar utama berbunyi teratur, mengiringi napas halus Ratna yang sudah tertidur lelap di sebelah Juned.Juned bergeming selama beberapa menit, memastikan sang istri benar-benar tenggelam dalam mimpi dalamnya.Setelah merasa aman, pria itu perlahan menyibak selimut, menurunkan kakinya dari ranjang tanpa menimbulkan decit sedikit pun.Ia melangkah keluar dari kamar utama dengan gerakan amat senyap, membiarkan pintu terpaut sedikit tanpa terkunci.Koridor rumah yang temaram mengarahkannya lurus menuju pintu kamar Nayla di ujung lorong.Juned memutar gagang pintu pelan, mendorongnya terbuka lalu menyelinap masuk sebelum menutupnya kembali hingga terdengar bunyi klik halus.Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang, Nayla duduk menanti di tepi ranjang.Gadis itu mengenakan piyama tipis, menatap kedatangan Juned dengan binar mata yang campur aduk antara cemas dan hasrat yang ter
Ratna melangkah masuk ke area meja makan dengan pakaian santai, mengikat rambutnya ke belakang tanpa rasa curiga sedikit pun. "Duduk, Ned. Kita makan bertiga," ajak Ratna seraya menarik kursi kayu di sebelah Juned. Juned mendaratkan tubuhnya di kursi, sementara Nayla sibuk menyendokkan nasi hangat ke piring sang kakak dan piring Juned. Saat meletakkan piring di hadapan Juned, jemari Nayla sengaja menyenggol pelan punggung tangan pria itu, meninggalkan sentuhan singkat yang membakar. Juned menyunggingkan senyum tipis, menyambut sendok yang disodorkan Nayla dengan tatapan mata yang dalam. "Terima kasih ya, Nay," ucap Juned tenang, suaranya terdengar biasa bagi Ratna namun sarat akan kehangatan rahasia untuk Nayla. "Sama-sama, Mas..." bisik Nayla pelan, langsung berbalik menuju kompor demi menyembunyikan senyum yang tak sanggup ia tahan. Suasana makan malam berlangsung hangat, diiringi obrolan ringan Ratna mengenai rencana akhir pekan mereka. Juned mendengarkan seraya menikmati s
Ratna tersenyum hangat, mengelus punggung tangan Juned sebentar sebelum kembali merapikan lembaran kertas di mejanya."Kamu emang selalu bisa diandalkan, Ned. Nanti sore kita pulang bareng ya, Nayla tadi udah kirim pesan nanyain kita mau makan malam apa," ucap Ratna lembut.Juned mengangguk tenang, membalas usapan jemari Ratna dengan genggaman singkat yang hangat."Siap, Ra. Pekerjaan aku tinggal sedikit lagi di ruangan, nanti kalau udah siap aku samperin kamu," balas Juned seraya beranjak dari kursi.Ia melangkah keluar dari ruangan Ratna, menutup pintu dengan pelan tanpa menimbulkan suara bising sedikit pun.Saat melintasi lorong menuju ruang kerjanya, langkah Juned mendadak tertahan oleh sosok Caca yang sudah berdiri menunggu di balik sudut pilar.Wanita itu menarik lengan baju Juned pelan, membawanya sedikit bergeser ke area tangga darurat yang sepi."Masih lama ya? Katanya cuma sebentar sama Fitri..." bisik Caca manja, merapatkan tubuhnya seraya menatap wajah Juned penuh kerindua
Dinding kamar yang temaram menyambut kehadiran mereka, diiringi harum lembut aroma vanilla yang menenangkan.Juned meletakkan tubuh Fitri secara perlahan di atas ranjang empuk berbalut sprei sutra tebal.Fitri langsung menarik tengkuk Juned, enggan memberi jarak sedikit pun di antara mereka.Ciuman lembut yang semula tenang berproses cepat menjadi lebih intens, menyatukan napas mereka yang makin memburu.Jemari Juned bergerak cekatan melepaskan kancing kemejanya sendiri, lalu membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai.Fitri mendesah halus saat tangan hangat Juned merayap menyusuri pinggangnya, meloloskan gaun ketat yang dikenakannya hingga terlepas sempurna."Kamu selalu tahu cara bikin aku lupa sama semua masalah kantor, Jun..." bisik Fitri terbata-bata di celah bibir pria itu.Juned tidak membalas dengan kata-kata, ia menatap dalam mata Fitri sebelum kembali melumat bibir manis wanita di bawahnya.Sentuhan demi sentuhan terjalin hangat di tengah kesunyian kamar, membangun irama gairah
Sedan hitam itu melaju memotong jalur cepat, menderu halus membelah arus lalu lintas kota yang mulai padat. Di dalam kabin yang sejuk dan temaram, suasana terasa kian memanas oleh gestur berani Fitri. Jemari lentik wanita itu makin lancang merayap, mengusap perlahan pangkal paha Juned dari balik celana kainnya. "Aku udah nggak sabar, Jun?" bisik Fitri dengan napas yang mulai tak teratur, menatap samping wajah Juned dari balik bulu matanya. Juned menyunggingkan senyum miring, membiarkan jemari Fitri menjelajah tanpa niat sedikit pun untuk menghentikannya. Tangan kirinya yang bebas sengaja diturunkan dari kemudi, mendarat tepat di atas paha mulus Fitri yang terekspos akibat gaun ketatnya yang makin tersingkap. Ia meremas lembut daging empuk itu dengan cengkeraman penuh dominasi, membuat Fitri terperanjat kecil lalu mendesah halus. "Sebentar lagi sampai," sahut Juned santai, nada suaranya berat dan tenang tanpa ada riak kegugupan sama sekali. Mobil berbelok mulus memasuki area ba
Caca berusaha mendorong dada Juned, namun tenaganya seolah menguap saat bibir pria itu mulai melumat ceruk lehernya dengan panas."Jangan... di sini, Pak," bisik Caca terbata-bata, desahan halus lolos dari tenggorokannya saat jemari Juned makin berani merayap masuk ke balik kemejanya."Kenapa? Bukannya kemarin kamu ngambek mau minta imbalan?" goda Juned rendah.Suara beratnya berbisik tepat di depan bibir Caca, membuat wanita itu makin tak berdaya.Napas Caca kian memburu, matanya meredup diliputi gairah. Tangannya yang semula menolak kini justru meremas balik bahu kekar Juned, melilitkan leher pria itu dengan erat."Mas Juned parah banget sih..." keluh Caca pasrah, membiarkan tubuhnya diangkat dan didudukkan di atas meja kerja yang berantakan oleh tumpukan berkas.Tanpa membuang waktu, Juned membungkam bibir Caca dengan ciuman liar yang mengunci seluruh penolakan.Suara decakan halus dan deru napas bersahutan memenuhui ruangan kedap suara itu.Sentuhan Juned yang tegas dan dominan de






