เข้าสู่ระบบDada Juned tidak berdesir sedikit pun. Detak jantungnya tetap tenang, stabil, dan berada di bawah kendali mutlak, meski pesan mengenaskan dari kampung halaman itu terpampang jelas di layar ponselnya. Di sebelahnya, Ratna menghentikan gerakannya, mengerutkan dahi seraya menatap layar yang masih menyala terang. "Ned... itu pesan dari siapa?" tanya Ratna dengan nada suara yang mulai dibalut rasa curiga, matanya memicing menatap baris kalimat yang menyebut nama 'Mas Juned' dan 'kampung'. Di belakang mereka, Nayla yang mendengar pertanyaan Ratna seketika menahan napas. Wajah adik iparnya itu mendadak pucat pasih, jemarinya meremas tepi tas sandangnya erat-erat saat membayangkan kehancuran skenario terlarang mereka jika rahasia besar Juned terbongkar siang ini. Namun, Juned adalah seorang master manipulator. Sebelum mata Ratna sempat membaca detail kalimat 'Mba di kampung pingsan dan pendarahan', ibu jari Juned sudah mengusap layar dengan gerakan kilat yang terkesan sangat santai, me
Waktu seolah berhenti bergerak.Layar ponsel di genggaman Juned terus berkedip terang, memajang foto profil serta nama istri sahnya di kampung halaman dengan panggilan video yang masih mengudara.Ratna melangkah kian dekat, matanya mulai terarah pada pendar cahaya di tangan Juned."Siapa yang telepon jam segini, Ned?" tanya Ratna santai, menyodorkan cangkir teh panas ke hadapan pria itu.Dengan refleks yang luar biasa tenang dan gerakan tubuh yang sangat presisi, Juned memutar pergelangan tangannya, menutupi layar ponsel ke dada kemejanya seraya menekan tombol pemutus panggilan tanpa menunduk sedikit pun."Biasa, Ra... Klien lama dari daerah, suka gak tahu waktu kalau telepon," jawab Juned dengan nada suara berat yang teratur, menyunggingkan senyum hangat yang seketika menghapus rasa ingin tahu Ratna.Ratna mengangguk percaya, menyerahkan cangkir teh itu lalu mengusap bahu Juned sebelum berbalik kembali ke ruang tamu.Di sudut koridor, Nayla yang menyaksikan detik-detik menegangkan it
Juned melangkah masuk ke dalam kamar utama, mematikan lampu gantung dan menyisakan pendar remang dari lampu tidur di samping ranjang.Ratna sudah terlelap miring, napasnya teratur menyapu bantal.Juned merebahkan tubuhnya di sisi ranjang, menarik selimut tipis, lalu memejamkan mata dengan benak yang tetap bekerja ekstra jernih.Fajar menyingsing cepat, membilas kegelapan malam dengan sinar matahari pagi yang menembus celah gorden.Juned sudah bangun sejak pukul enam, menyelesaikan sesi olahraga ringannya di halaman belakang sebelum bersiap-siap untuk agenda penting hari ini.Meski akhir pekan, fokus utamanya pagi ini adalah mengeksekusi penandatanganan kontrak final bersama Fitri pukul sembilan tepat.Ia mengenakan kemeja formal berwarna biru gelap, merapikan kerahnya di depan cermin besar, dan memastikan penampilannya memancarkan wibawa tingkat tinggi.Di ruang makan, Ratna sedang menyiapkan sarapan simpel berupa roti bakar dan telur setengah matang."Pagi, Ned. Kamu rapi banget jam
Keheningan melingkupi ruang kerja Juned saat ia membolak-balik lembaran dokumen proyek pengembangan area komersial yang berada di atas mejanya.Layar monitor menampilkan grafik progres dan tenggat waktu yang kian mendekat, menuntut fokus penuh tanpa gangguan.Ketukan pintu yang teratur terdengar dari luar."Masuk," ujar Juned tegas, pandangannya tetap tertuju pada berkas di tangan.Caca melangkah masuk dengan membawakan map tebal berisi laporan analisis pasar.Pakaian kerjanya rapi, dan raut wajahnya sepenuhnya profesional tanpa menyisakan riak emosi pribadi."Ini laporan analisis kompetitor untuk proyek minggu depan, Pak Juned," ujar Caca formal, meletakkan map tersebut di sisi meja kerja dengan jarak yang terukur.Juned mendongak, menatap asistennya dengan binar mata yang tajam dan dingin."Terima kasih, Caca. Pastikan kaji ulang angka estimasi biaya di bab tiga. Saya minta draf revisinya sebelum jam tiga sore," perintah Juned lugas, tanpa nada godaan sedikit pun."Baik, Pak. Segera
Setiba di rumah usai makan malam, suasana berangsur hening.Ratna menguap pelan, merapatkan mantelnya saat melangkah masuk ke dalam kamar utama."Duh, Ned... capek banget hari ini. Aku langsung mandi terus tidur ya," pamit Ratna seraya mengusap pipi Juned dengan penuh rasa sayang."Iya, Ra... Istirahat ya, biar besok fit lagi," balas Juned lembut, memberikan kecupan hangat di dahi istrinya.Begitu pintu kamar utama tertutup rapat, Juned melangkah pelan menuju ruang tengah yang temaram.Nayla sedang berdiri di dekat dispenser, menuangkan air hangat ke dalam gelas dengan jemari yang sedikit bergetar.Juned berjalan tanpa suara, mendekati gadis itu dari belakang hingga jarak di antara mereka terkikis habis."Mas..." desah Nayla tertahan saat lengan kokoh Juned melingkari pinggangnya secara mendadak.Nayla memiringkan kepalanya, membiarkan bibir Juned menyapu ceruk lehernya yang mulus dengan lumat yang intens."Eungghh... Mas Juned... nanti Mbak Ratna keluar..." bisik Nayla terbata-bata d
Ratna menyambut berkas itu dengan binar mata lega, mengibaskan rambutnya yang terurai seraya meletakkannya di atas meja kerja. "Makasih ya, Ned... Kamu emang gak pernah ngecewain," ucap Ratna tulus, berjalan mendekati Juned lalu mengusap lembut dadanya. Juned merengkuh pinggang Ratna, menarik tubuh istrinya rapat lalu mendaratkan kecupan hangat di dahinya. "Kan udah kewajiban aku buat bantu kamu, Ra," balas Juned lembut, menyunggingkan senyum hangat yang begitu meyakinkan. "Mhh-hmm... Nanti malam kita makan di luar yuk, Ned? Sekalian ajak Nayla," bisik Ratna manja seraya melingkarkan lengan di leher Juned. Juned mengusap punggung Ratna dengan irama konstan, matanya menatap tenang ke arah jendela kaca besar di belakang meja kerja. "Boleh banget, Ra. Nanti aku yang pilih tempatnya," sahut Juned santai, memberikan kenyamanan mutlak bagi istrinya. Di saat yang sama, ponsel di dalam saku celana Juned bergetar halus secara berkala. Ia tahu betul itu adalah notifikasi dari Ca







