LOGINJuned menyunggingkan senyum tenang tanpa ada keraguan sedikit pun di raut wajahnya."Paling cuma nanyain jadwal meeting buat hari Senin nanti, Ra," sahut Juned santai seraya meraih ponselnya dan mengantonginya."Oalah... kirain ada masalah pekerjaan yang darurat di kantor," balas Ratna mengangguk-angguk percaya tanpa rasa curiga.Juned memutar kunci kontak, menyalakan mesin mobil yang langsung berderum halus di area parkiran."Enggak kok, aman. Yaudah, kita langsung pulang yuk sebelum makin macet," ujar Juned lembut pada kakak iparnya itu.Mobil hitam itu perlahan bergerak memotong arus lalu lintas, meninggalkan halaman toko kue menuju rumah.Di sepanjang perjalanan, Ratna bersandar nyaman di kursinya seraya mengobrol ringan tentang acara arisannya tadi.Juned merespons setiap cerita Ratna dengan senyuman dan anggukan santai, tetap memegang kendali penuh atas suasana.Dalam benaknya, Juned menyeringai tipis merencanakan langkah berikutnya saat sampai di rumah nanti.Mobil hitam Juned
Saat mobil Juned baru saja belok menuju kawasan perumahan tempat tinggal Caca, ponselnya di *dashboard* mendadak berdering nyaring.Nama Ratna terpampang di layar, membuat Juned terpaksa menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan.Juned menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Ra?""Juned, kamu udah sampai mana?" tanya Ratna langsung dari seberang telepon."Ini baru banget masuk kota, Ra. Kenapa?" sahut Juned tenang."Aduh, pas banget! Tolong jemput aku dong di tempat arisan, mobil yang biasa aku tumpangi mendadak mogok nih," pinta Ratna penuh harap.Juned mendadak terdiam sejenak, mengusap tengkuknya seraya memikirkan caca yang sudah menunggunya di rumah.Namun, menolak permintaan Ratna secara mendadak tentu bisa memicu kecurigaan yang tidak perlu."Oh... gitu. Yaudah, kirim lokasinya aja, nanti aku langsung meluncur ke sana," jawab Juned akhirnya tanpa bisa menolak."Makasih ya, Juned! Aku tunggu," balas Ratna lega sebelum memutuskan sambungan.Juned menghel
Juned hanya tersenyum santai meraba lehernya, tidak ada sedikit pun rasa canggung atau risih di wajahnya."Biasa, Bu. Namanya juga udah lama gak ketemu," sahut Juned terkekeh tipis, menerima rantang makanan tersebut dengan rileks.Tetangga itu tertawa mengangguk-angguk paham, lalu berpamitan melangkah pergi meninggalkan halaman rumah.Juned memutar badan melangkah kembali ke dalam rumah, membawa rantang kue itu langsung menuju ke area dapur.Di dapur, Desi sedang sibuk memotong bumbu di atas meja dengan daster lamanya yang agak melonggar di bagian dada."Siapa yang datang di depan tadi, Mas?" tanya Desi tanpa menoleh, fokusnya masih tertuju pada irisan bawang."Bu RT antar rantang kue pesan kamu tuh," jawab Juned santai, menaruh rantang di atas meja persis di sebelah Desi.Desi menoleh, matanya langsung tertuju pada bekas memar merah di leher Juned yang dipamerkan terang-terangan.Wajah Desi mendadak merona merah, teringat betapa liarnya ia menggigit leher suaminya saat di kamar tadi
Juned menyunggingkan senyum miring, melempar tas pakaiannya ke sembarang tempat lalu melangkah santai mendekati sofa."Baru nyampe rumah langsung disuguhi pemandangan begini," goda Juned sambil menatap intens lekuk tubuh Desi dari atas ke bawah.Desi menepuk tempat kosong di sampingnya, melempar tatapan manja yang siap menerkam sang suami kapan saja."Kan aku udah bilang, Mas, aku kangen banget sama kamu," bisik Desi saat Juned akhirnya mendaratkan tubuh di sisinya.Tanpa basa-basi, Desi langsung naik ke atas pangkuan Juned, melilitkan kedua lengannya di leher pria itu dengan sangat ketat.Aroma parfum manis yang merebak dari tubuh Desi seketika menyapu indra penciuman Juned, membakar gairahnya yang sempat reda."Kangennya beneran atau cuma mau minta jatah nih?" bisik Juned terkekeh pelan seraya meremas pinggul lunak Desi dari balik daster satinnya.Desi mendesah halus, menyandarkan dahi mereka hingga napas hangatnya yang terengah-engah menerpa bibir Juned."Dua-duanya, Mas... Kamu la
Nayla terdiam sejenak, meremas kunci motor di genggamannya dengan jemari yang mendadak dingin.Gadis itu berusaha keras menutupi raut kecewanya di depan Ratna yang sedang duduk santai di samping Juned."Kok mendadak banget sih, Mas? Berapa hari emangnya di desa?" tanya Nayla pelan, menatap Juned dengan pandangan menuntut yang terselubung.Juned menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menjawab pertanyaan itu dengan sangat rileks."Paling cuma dua atau tiga hari, Nay. Cuma nengok Desi sebentar, sekalian ada urusan rumah yang mau dibereskan," sahut Juned santai.Ratna menoleh ke arah Juned, meraih cangkir tehnya di atas meja lalu meminumnya perlahan."Yaudah kalau gitu, besok berangkat pagi aja biar gak kena macet di jalan," ulas Ratna tanpa rasa curiga sedikit pun.Nayla mengangguk pelan, berusaha menyunggingkan senyum manis meski pikirannya sudah dipenuhi rasa tidak rela membiarkan Juned pergi."Yaudah deh... Nay ke kamar dulu ya, mau ganti baju," pamit Nayla seraya bangkit berdiri da
Juned menyunggingkan senyum miring, santai saja menyandarkan bahunya pada bodi motor baru milik Nayla."Kenapa, Ca? Kamu cemburu nih ceritanya?" goda Juned sambil menatap Caca dari ujung kaki sampai kepala.Caca melangkah semakin dekat hingga aroma parfum mewahnya menusuk hidung Juned, mengikis habis jarak di antara mereka.Jari-jari lentur Caca yang berkutek merah menyala merayap naik, merapikan kerah kemeja Juned dengan gerakan amat pelan."Siapa yang cemburu?" bisik Caca mendongak, menatap mata Juned dengan pandangan menantang yang begitu berani. "Aku cuma mau nagih janji... Hadiah motor ini kan udah aku bereskan sesuai permintaan Kamu, Pak."Juned terkekeh pelan, meraih pergelangan tangan Caca lalu menggenggamnya erat. "Terus? Kamu mau imbalan apa dari aku?"Caca mendekatkan bibirnya ke telinga Juned, membisikkan sesuatu dengan deru napas yang terasa begitu hangat."Siang ini... sebelum Kamu pulang ke desa besok, Kamu harus luapin waktu penuh cuma buat aku di apartemen," tuntut Ca







