ログインAkhirnya Agnes tahu yang menjadi alasan kenapa Daniel menemui tiga orang dokter andrologi dan sekarang datang menemuinya, seorang psikolog khusus terapi seksual.
‘Jadi ini keluhannya. Daniel, seorang pria tampan dengan imej pria idaman semua wanita, tidak memiliki respon seksual pada alat vitalnya?’
Mata Agnes terpaku pada bibir Daniel yang tepat ada di hadapannya. Ia bisa dengan jelas melihat rahang Daniel yang tegas. Semua itu, membuatnya ingin mengarahkan tangannya yang sekarang berada di atas celana Daniel untuk jauh lebih ke bawah lagi, tapi ia sadar ada cctv di ruang kerjanya. Dan hubungannya dengan Daniel adalah hubungan profesional yaitu, pasien dan terapis.
“Mas Daniel adalah pasien saya dan saya adalah seorang psikolog profesional,” ucap Agnes yang harus sedikit menengadah untuk bisa menatap mata Daniel yang tajam. “Ada kamera di ruangan ini. Kalau mas Daniel tidak berhenti melakukan ini, saya bisa melaporkannya. Dan reputasi mas Daniel bisa….”
Dalam sekali gerak, Daniel melepaskan tangan Agnes dan membuka kunci pintu ruang kerja.
Agnes langsung mundur dua langkah sambil mengusap pergelangan tangan kanannya yang tadi digenggam Daniel.
Daniel yang masih menghadap ke pintu dan membelakangi Agnes, menghela napas berat. “Maaf.” Tangan kanannya mengusap jidatnya, sedangkan tangan kirinya berada di pinggangnya. “Mungkin kamu benar, aku sedang stress.”
“Duduk lah,” Agnes melangkah mengambil gelas kertas dan mengisinya dengan air di dispenser. “Memang menyiapkan pernikahan bukan hal yang mudah.”
Daniel berpaling, lalu duduk kembali di kursi.
Agnes menyimpan dua gelas berisi air putih di atas meja. “Aku pernah punya pasien yang konsultasi depresi karena akan menikah.”
Daniel terdiam, berusaha tetap terlihat superior.
Agnes yang sudah duduk di kursinya, memegang segelas air putih. “Silakan minum dulu.”
Daniel mengambil gelas yang ada di atas meja.
Agnes minum perlahan. Air yang masuk ke tenggorokannya membuatnya perlahan kembali tenang. Ia menyimpan gelas di atas meja, lalu mengambil buku catatan dan pulpennya, sambil memperhatikan Daniel minum sekali tenggak.
Daniel menyimpan gelas kosong di atas meja, lalu mengusap bibirnya yang basah dengan punggung telapak tangannya.
Mata Agnes terkunci pada apa yang baru saja Daniel lakukan. Jantungnya berhenti berdetak sedetik. Air yang menenangkan dirinya barusan menguap begitu saja, seperti tidak ada artinya. Ia kembali tersadarkan, apa yang baru saja terjadi.
‘Seorang Daniel Mathew, aktor tampan keturunan Jerman, ada satu ruangan bersamaku, menarik tanganku, dan menuntunnya menyusuri badannya?’
Kalau bukan di klinik, kalau tidak ada kamera, mungkin ia sudah menyerahkan dirinya.
Tiba-tiba terdengar dering telepon di ponselnya Agnes.
Agnes bergegas mengambil ponselnya. Nama adiknya, Felix ada di layar ponselnya. Perasaan kesal langsung muncul di dadanya, karena teringat soal judol yang sering dilakukan Felix.
Agnesl mematikan nada dering di ponselnya, “Maaf, aku lupa mematikan nada dering.”
“Kenapa tidak diangkat?” tanya Daniel heran.
“Bukan hal yang penting,” jawab Agnes sambil menyimpan ponselnya di atas meja dengan posisi terbalik. Ia tidak ingin melihat pesan ibu dan adiknya yang dari tadi masuk membanjiri ponselnya.
“Dari siapa?” Daniel tahu tidak pantas untuk bertanya soal pribadi, tapi ia benar-benar ingin tahu siapa yang menelepon Agnes di jam 10 malam seperti ini. Entah kenapa, ia ingin tahu apakah yang menelepon Agnes barusan adalah pacarnya?
“Ehm,” Agnes mengabaikan pertanyaan Daniel. “Sepertinya kita harus melakukan Sensate Focus Therapy untuk menguji respons saraf luar.”
“Terapi seperti apa itu?
Agnes menggeser kursi terapis agar bisa lebih dekat dengan sofa pasien. “Bisa tolong ulurkan tangannya?”
Daniel mengulurkan tangan kanannya.
“Jika kondisinya memang psikosomatis, maka tubuh mas Daniel tidak akan bereaksi secara fisik. Misalkan dengan cara disentuh,” Agnes menggulung perlahan sweatshirt putih yang dipakai Daniel.
Mata Daniel terpaku pada wajah Agnes. Ia yakin tidak akan ada yang terjadi. Tubuhnya tidak akan merespon, seperti yang dialaminya selama ini.
Agnes memperhatikan inchi demi inchi dari kulit putih tangan Daniel yang terkuak, punggung telapak tangan yang lebar, pergelangan tangan yang kokoh dan lengan yang besar dihiasi bulu tangan yang tipis, sampai ke sikut.
“Aku akan mulai menyentuh tangan mas Daniel,” kata Agnes memberikan peringatan, sambil menatap mata Daniel.
“Silakan,” Daniel tidak peduli, karena apa pun yang dilakukan semua orang padanya, perempuan tanpa busana sekali pun tidak pernah membuat tubuhnya bereaksi sama sekali.
Dengan telunjuk tangan kanannya, Agnes menyentuh telapak tangan kanan Daniel, terus bergerak perlahan menelusuri lengan bawah. Tiba-tiba ia bisa merasakan otot tangan Daniel menegang. Matanya melotot menatap Daniel yang juga tampak terkejut.
Tangan kiri Agnes yang memegang pergelangan tangan Daniel, bisa merasakan denyut nadi yang berdenyut kencang. Ia juga melihat urat nadi di punggung telapak tangan Daniel terlihat mengencang.
‘Bukan kah harusnya dia tidak bisa merespon apapun secara fisik?’
Agnes terpaku, bingung.
Begitu juga Daniel. Ia tidak menyangka, tubuhnya tiba-tiba menegang. Begitu juga apa yang ada di balik celananya. Ia menatap ke area selangkangannya, diikuti oleh Agnes menatap hal yang sama.
Keduanya sadar, ada yang bergerak di bawah sana, menyembul semakin jelas dari balik kain celana.
Daniel langsung kembali ke unitnya dan mengambil ponselnya. Sambil mengacak-acak rambutnya, ia menelepon Agnes. Ia tahu telah salah langkah. Selama ini, semua perempuan yang mendekatinya tidak ada yang seperti Agnes. Mereka semua lah yang justru menggodainya. Seandainya ia tidak memiliki kelainan seksual, seandainya tubuhnya seperti pria pada umumnya, mungkin ia sekarang sudah seperti ayahnya yang punya banyak simpanan.“Angkat! Angkat!” kata Daniel dengan nada khawatir. Ia melangkah ke balkon, berdiri melihat ke bawah. Tapi ia tidak melihat Agnes ada di mana pun.Sambungan teleponnya terputus.Tidak putus asa. Ia langsung menekan tombol telepon hijau lagi.“Please, Agnes. Angkat!”**Agnes berdiri di depan lobi apartemen, menunggu taksi datang menjemputnya sambil melihat ponselnya. Ia ragu mau menjawab telepon dari Daniel atau tidak. Ingatannya kembali ke masa lalu. Waktu itu pacar pertamanya ketika SMA, memaksanya untuk melayani napsunya – hampir sama dengan apa yang Daniel lakukan
Agnes masih terpaku menatap bibir Daniel yang tebal. Ia lalu membuka mulutnya sendiri. Daniel mengira itu adalah undangan untuknya bergerak mendekat, tapi lalu Agnes berkata, “Aku adalah psikolog dan kamu adalah pasien.”Daniel langsung tersadarkan. Ia mundur satu langkah, lalu berpaling dan jalan ke ruang tengah, “Silakan masuk.”Agnes mengikuti Daniel ke ruang tengah yang menyatu dengan ruang makan dan dapur bersih yang mewah. Seumur hidupnya baru kali ini melihat isi penthouse mewah. Ia melewati ruang tamu yang bersebelahan dengan kamar mandi tamu dengan lampu gantung yang mewah. Di ruang tengah, ia bisa melihat langsung ke balkon yang luas. Dari balkon terlihat cahaya kota gemerlap. Dekat pintu keluar balkon, ada tangga menuju lantai dua.“Silakan duduk,” Daniel duduk di sofa panjang.Agnes memilih duduk di sofa kecil di samping sofa panjang.Daniel menatap Agnes yang masih memperhatikan ruangan. Begitu mata Agnes menatapnya, Daniel menaikkan salah satu alisnya sambil memiringkan
“Pulang, mbak?” sapa Lina yang sedang merapikan isi tasnya di meja resepsionis.“Iya,” jawab Agnes tersenyum sambil melangkah keluar dari klinik sambil berdoa data Daniel Mathew yang dimasukkannya ke dalam daftar pasien khusus tidak terbaca oleh Lina.Mobil mewah milik asistennya Daniel, sudah berhenti di depan pintu klinik. Pintu penumpang tengahnya, terbuka. Agnes melongo ke dalam mobil.Asisten Daniel, Deri yang sedang menyetir, menoleh ke belakang dan tersenyum, “Masuk, mbak.”“Iya.” Agnes masuk ke kursi penumpang tengah. Pintu mobil otomatis tertutup perlahan.Tak lama kemudian mobil berjalan.Agnes membuka ponselnya, memeriksa apakah ada gosip terbaru mengenai Daniel di media sosial. Beberapa akun gosip mengunggah berita tentang film terbarunya Daniel. Pemeran utama perempuannya adalah, Renata, aktris cantik yang juga lulusan Harvard. Ia lalu membuka kolom komentar. Ada beberapa komentar yang menarik perhatiannya.@Acilovjimin : Daniel cocokan sama Renata ketimbang sama Sabina.
“Halo?” Agnes masuk ke kamar kosnya sambil melemparkan tas ke lantai.“Halo,” terdengar suara Vivi, teman baiknya, yang menjawab dengan nada seperti baru bangun tidur.“Udah tidur?”“Kalau aku udah tidur, nggak bakalan jawab telepon kamu. Ada apa?”“Aku tadi ada pasien,” jawab Agnes sambil membuka blazer kerjanya.“Bagus lah, makin banyak dong tabungannya?”“Masalahnya bukan itu.”“Apa? Pasiennya susah?”“Nggak.”Agnes terdiam. ‘Dia malah super duper baik, ganteng, kaya….’“Nes?”“Kayaknya aku jatuh cinta sama dia.”“Wuih! Ini baru cerita,” Vivi terdengar bersemangat. “Siapa dia? Orang mana? Ganteng? Kaya? Aku kenal?”Agnes menggelengkan kepala, “Nggak. Nggak jadi deh.”“Astaga! Kebiasan ya, nelepon, mau curhat, terus nggak jadi!”“Sori. Ya udah, tidur lagi sana. Daaah!”“AG…!”Agnes mematikan sambungan telepon lalu merebahkan diri ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya terlipat di dadanya, tangan kirinya terlentang di kasur.‘Apa yang baru saja terjadi? Pas
Agnes masih memegang tangan kanan Daniel. Jari telunjuk tangan kanannya masih menyentuh lengan bawah tangan kiri Daniel.Daniel masih tidak percaya akan reaksi badannya sendiri. Jantungnya berdebar seolah ingin melompat keluar dari dalam dadanya. Begitu juga dengan alat vitalnya yang mendadak membengkak. Dengan tangan kirinya, ia menarik pergelangan tangan Agnes yang masih menyentuh lengan kanannya dan mendekatkan wajahnya pada Agnes.“Selama bertahun-tahun,” Daniel berbisik sambil menatap lekat mata Agnes yang juga terkejut. “Aku sudah bertemu banyak perempuan cantik. Mereka bahkan ada yang sampai menari di pangkuanku. Tidak ada yang bisa membuatku bereaksi seperti ini. Tapi kamu….”Daniel bisa melihat gerakan naik turun di tenggorokan Agnes.Agnes menarik tangannya dan membuang pandangannya dari wajah Daniel.‘Aku hanya menyentuhnya. Kenapa ini bisa terjadi?’“Aku hanya seorang psikolog. Dan kamu adalah pasienku.” Agnes mengambil buku dan pulpennya lalu menulis sesuatu dengan cepat.
Akhirnya Agnes tahu yang menjadi alasan kenapa Daniel menemui tiga orang dokter andrologi dan sekarang datang menemuinya, seorang psikolog khusus terapi seksual.‘Jadi ini keluhannya. Daniel, seorang pria tampan dengan imej pria idaman semua wanita, tidak memiliki respon seksual pada alat vitalnya?’Mata Agnes terpaku pada bibir Daniel yang tepat ada di hadapannya. Ia bisa dengan jelas melihat rahang Daniel yang tegas. Semua itu, membuatnya ingin mengarahkan tangannya yang sekarang berada di atas celana Daniel untuk jauh lebih ke bawah lagi, tapi ia sadar ada cctv di ruang kerjanya. Dan hubungannya dengan Daniel adalah hubungan profesional yaitu, pasien dan terapis.“Mas Daniel adalah pasien saya dan saya adalah seorang psikolog profesional,” ucap Agnes yang harus sedikit menengadah untuk bisa menatap mata Daniel yang tajam. “Ada kamera di ruangan ini. Kalau mas Daniel tidak berhenti melakukan ini, saya bisa melaporkannya. Dan reputasi mas Daniel bisa….”Dalam sekali gerak, Daniel mel







