Partager

Bab 5

Auteur: ararasa
last update Date de publication: 2026-07-30 09:56:50

Akhirnya Agnes tahu yang menjadi alasan kenapa Daniel menemui tiga orang dokter andrologi dan sekarang datang menemuinya, seorang psikolog khusus terapi seksual.

‘Jadi ini keluhannya. Daniel, seorang pria tampan dengan imej pria idaman semua wanita, tidak memiliki respon seksual pada alat vitalnya?’

Mata Agnes terpaku pada bibir Daniel yang tepat ada di hadapannya. Ia bisa dengan jelas melihat rahang Daniel yang tegas. Semua itu, membuatnya ingin mengarahkan tangannya yang sekarang berada di atas celana Daniel untuk jauh lebih ke bawah lagi, tapi ia sadar ada cctv di ruang kerjanya. Dan hubungannya dengan Daniel adalah hubungan profesional yaitu, pasien dan terapis.

“Mas Daniel adalah pasien saya dan saya adalah seorang psikolog profesional,” ucap Agnes yang harus sedikit menengadah untuk bisa menatap mata Daniel yang tajam. “Ada kamera di ruangan ini. Kalau mas Daniel tidak berhenti melakukan ini, saya bisa melaporkannya. Dan reputasi mas Daniel bisa….”

Dalam sekali gerak, Daniel melepaskan tangan Agnes dan membuka kunci pintu ruang kerja.

Agnes langsung mundur dua langkah sambil mengusap pergelangan tangan kanannya yang tadi digenggam Daniel.

Daniel yang masih menghadap ke pintu dan membelakangi Agnes, menghela napas berat. “Maaf.” Tangan kanannya mengusap jidatnya, sedangkan tangan kirinya berada di pinggangnya. “Mungkin kamu benar, aku sedang stress.”

“Duduk lah,” Agnes melangkah mengambil gelas kertas dan mengisinya dengan air di dispenser. “Memang menyiapkan pernikahan bukan hal yang mudah.”

Daniel berpaling, lalu duduk kembali di kursi.

Agnes menyimpan dua gelas berisi air putih di atas meja. “Aku pernah punya pasien yang konsultasi depresi karena akan menikah.”

Daniel terdiam, berusaha tetap terlihat superior.

Agnes yang sudah duduk di kursinya, memegang segelas air putih. “Silakan minum dulu.”

Daniel mengambil gelas yang ada di atas meja.

Agnes minum perlahan. Air yang masuk ke tenggorokannya membuatnya perlahan kembali tenang. Ia menyimpan gelas di atas meja, lalu mengambil buku catatan dan pulpennya, sambil memperhatikan Daniel minum sekali tenggak.

Daniel menyimpan gelas kosong di atas meja, lalu mengusap bibirnya yang basah dengan punggung telapak tangannya.

Mata Agnes terkunci pada apa yang baru saja Daniel lakukan. Jantungnya berhenti berdetak sedetik. Air yang menenangkan dirinya barusan menguap begitu saja, seperti tidak ada artinya. Ia kembali tersadarkan, apa yang baru saja terjadi.

‘Seorang Daniel Mathew, aktor tampan keturunan Jerman, ada satu ruangan bersamaku, menarik tanganku, dan menuntunnya menyusuri badannya?’

Kalau bukan di klinik, kalau tidak ada kamera, mungkin ia sudah menyerahkan dirinya.

Tiba-tiba terdengar dering telepon di ponselnya Agnes.

Agnes bergegas mengambil ponselnya. Nama adiknya, Felix ada di layar ponselnya. Perasaan kesal langsung muncul di dadanya, karena teringat soal judol yang sering dilakukan Felix.

Agnesl mematikan nada dering di ponselnya, “Maaf, aku lupa mematikan nada dering.”

“Kenapa tidak diangkat?” tanya Daniel heran.

“Bukan hal yang penting,” jawab Agnes sambil menyimpan ponselnya di atas meja dengan posisi terbalik. Ia tidak ingin melihat pesan ibu dan adiknya yang dari tadi masuk membanjiri ponselnya.

“Dari siapa?” Daniel tahu tidak pantas untuk bertanya soal pribadi, tapi ia benar-benar ingin tahu siapa yang menelepon Agnes di jam 10 malam seperti ini. Entah kenapa, ia ingin tahu apakah yang menelepon Agnes barusan adalah pacarnya?

“Ehm,” Agnes mengabaikan pertanyaan Daniel. “Sepertinya kita harus melakukan Sensate Focus Therapy untuk menguji respons saraf luar.”

“Terapi seperti apa itu?

Agnes menggeser kursi terapis agar bisa lebih dekat dengan sofa pasien. “Bisa tolong ulurkan tangannya?”

Daniel mengulurkan tangan kanannya.

“Jika kondisinya memang psikosomatis, maka tubuh mas Daniel tidak akan bereaksi secara fisik. Misalkan dengan cara disentuh,” Agnes menggulung perlahan sweatshirt putih yang dipakai Daniel.

Mata Daniel terpaku pada wajah Agnes. Ia yakin tidak akan ada yang terjadi. Tubuhnya tidak akan merespon, seperti yang dialaminya selama ini.

Agnes memperhatikan inchi demi inchi dari kulit putih tangan Daniel yang terkuak, punggung telapak tangan yang lebar, pergelangan tangan yang kokoh dan lengan yang besar dihiasi bulu tangan yang tipis, sampai ke sikut.

“Aku akan mulai menyentuh tangan mas Daniel,” kata Agnes memberikan peringatan, sambil menatap mata Daniel.

“Silakan,” Daniel tidak peduli, karena apa pun yang dilakukan semua orang padanya, perempuan tanpa busana sekali pun tidak pernah membuat tubuhnya bereaksi sama sekali.

Dengan telunjuk tangan kanannya, Agnes menyentuh telapak tangan kanan Daniel, terus bergerak perlahan menelusuri lengan bawah. Tiba-tiba ia bisa merasakan otot tangan Daniel menegang. Matanya melotot menatap Daniel yang juga tampak terkejut.

Tangan kiri Agnes yang memegang pergelangan tangan Daniel, bisa merasakan denyut nadi yang berdenyut kencang. Ia juga melihat urat nadi di punggung telapak tangan Daniel terlihat mengencang.

‘Bukan kah harusnya dia tidak bisa merespon apapun secara fisik?’

Agnes terpaku, bingung.

Begitu juga Daniel. Ia tidak menyangka, tubuhnya tiba-tiba menegang. Begitu juga apa yang ada di balik celananya. Ia menatap ke area selangkangannya, diikuti oleh Agnes menatap hal yang sama.

Keduanya sadar, ada yang bergerak di bawah sana, menyembul semakin jelas dari balik kain celana.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 150

    Agnes terbangun dalam dekapan hangat yang melingkar posesif dari belakang tubuhnya. Udara pagi terasa begitu hening dan menenangkan, membawa kehangatan yang selama berbulan-bulan lalu seperti kemewahan yang tak tergapai. Ia membiarkan matanya terpejam sejenak, meresapi ritme napas teratur Daniel yang berhembus pelan di ceruk lehernya. Rasanya mustahil menyadari bagaimana jutaan beban, teror media, sangkaan hukum, dan trauma yang meremukkan jiwanya selama beberapa bulan terakhir ini mendadak hilang tanpa bekas—seolah terbawa angin laut yang berhembus melewatinya.Lirik matanya jatuh pada lengan Daniel yang kokoh, merengkuh pinggangnya erat seakan takut ia menguap bersama fajar.Memori lama mendadak berputar lambat di benaknya. Sepertinya baru kemarin, ia berdiri kaku menatap seorang pria tampan namun hancur yang melangkah masuk ke lobi kliniknya dengan pandangan mata mati. Sepertinya baru kemarin, jemarinya yang gemetar me

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 149

    Bab 149Halaman belakang sebuah restoran kecil di pinggiran Jakarta sore itu tersulap menjadi oase kedamaian yang magis. Jauh dari kebisingan jurnalis dan kilatan lampu flash yang membakar, udara terbuka berembus lembut di antara rimbunnya pepohonan dan untaian lampu fairy light yang hangat. Sebuah altar kayu sederhana berdiri anggun di atas hamparan rumput hijau, dihiasi sulur-sulur bunga melati dan mawar putih yang memancarkan aroma harum menenangkan.Pernikahan itu sengaja dirancang begitu intim—sebuah suaka murni yang hanya dihadiri oleh kerabat terdekat Agnes serta sahabat-sahabat inti Dan

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 148

    Suara gemerinting sendok yang mengaduk cangkir kopi berpadu dengan derit kertas papan konsep yang terus dibalik di atas meja kayu panjang. Di dalam sebuah ruangan privat yang disewa khusus, atmosfer rapat persiapan pernikahan itu terasa begitu hidup. Arya duduk dengan dua laptop menyala di hadapannya, mencatat detail logistik dengan presisi tinggi. Celsi sibuk memeriksa daftar tamu dan rilis media yang sudah disaring ketat, sementara Vivi dengan antusiasme yang meletup-letup memamerkan lusinan papan sampel kain dan sketsa dekorasi di hadapan Daniel dan Agnes."Konsepnya simpel tapi elegan," ujar Celsi seraya membetulkan kacamata bacanya. "Lokasinya tertutup untuk publik, hanya keluarga dekat, sahabat, dan tim inti. Media hanya akan dapat dokumentasi resmi setelah acara selesai.""Aku setuju," sahut Daniel pelan, tangannya yang berada di bawah meja tak pernah melepaskan genggaman jemari Agnes. "Kita sudah cukup memberi makan konsumsi publik selama berbulan-bulan. Hari i

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 147

    Ketukan palu majelis hakim sebanyak tiga kali bergema garang di seluruh penjuru ruang sidang, memecah ketegangan ekstrem yang telah membekukan udara selama berjam-jam. Amar putusan dibacakan dengan lantang dan tanpa keraguan: anak pejabat tinggi kepolisian serta saudara tiri Daniel—putra kandung Rudi Baskara—terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak kejahatan kekerasan seksual serta konspirasi kriminal terhadap Sabina. Putusan hukuman penjara bertahun-tahun resmi dijatuhkan kepada kedua pelaku.Ruang sidang seketika pecah dalam keharuan. Di barisan kursi pengunjung, Agnes menghembuskan napas panjang yang sarat akan kelegaan absolut. Di sampingnya, Daniel menggenggam erat jemari Agn

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 146

    Dua bulan berlalu bagaikan siksaan panjang yang mengikis stamina jiwa. Setiap detik yang terbuang tanpa kepastian adalah siksaan tak kasat mata bagi Agnes. Hari ini, di bawah naungan langit siang yang terik, Agnes berdiri berdampingan bersama Monik dan Celsi di halaman luar Lembaga Pemasyarakatan sementara. Udara di sekitarnya terasa penuh oleh ketegangan, bercampur dengan riuh rendah gelombang wartawan yang sudah bersiap menanti momen sejarah kebebasan sang aktor.Pintu besi berderit terbuka. Sosok tinggi tegap yang sangat dirindukannya akhirnya melangkah keluar dari dalam lapas. Daniel berjalan menyongsong kebebasan dengan seulas senyum tipis yang merekah di wajah tampannya—senyum nyata pertama yang memancarkan pendar kehidupan setelah sekian lama padam. Matanya yang tajam langsung mengunci keberadaan Agnes, menatap wanita itu tanpa berkedip sedikit pun, seolah dunia di sekeliling mereka seketika menguap tak berbekas.D

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 145

    Atmosfer di dalam ruang sidang utama hari itu terasa begitu berat, pengap, dan sarat akan ketegangan yang menekan dada. Agnes duduk kaku di barisan depan tepat di belakang Monik yang bergeming di kursi pengacara. Di belakang mereka, barisan bangku pengunjung dipadati oleh puluhan awak media dan wartawan yang saling berdesakan. Kilatan lampu kilat kamera dan dengung bisik-bisik spekulatif berkali-kali memecah keheningan, menciptakan riak kegelisahan yang tajam di udara.Dua orang petugas kepolisian memimpin jalan ketika pintu samping ruang sidang mendadak terbuka. Daniel melangkah masuk dengan tangan terikat, mengenakan kemeja putih polos yang sedikit kusut, lalu digiring untuk duduk di kursi tersangka y

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status