MasukSaat pulang, waktu sudah larut malam. Ketika melihat lampu di dalam ruang tamu masih menyala, Theresia merasa seperti tertangkap melakukan kesalahan saja. Dia pun menoleh untuk bertanya pada Morgan, “Kalau Kakek tanya kenapa kita pulang semalam ini, gimana jelasinnya?”Apalagi mereka pulang bersama!Morgan menggandeng tangan Theresia. Tatapannya kelihatan gelap di bawah cahaya malam. “Apa masih perlu dijelaskan lagi?”Ujung bibir Theresia melengkung ke atas. Namun, saat memasuki rumah, dia meronta untuk melepaskan tangan Morgan. Aska dan Jemmy yang berada di dalam ruang tamu masih belum tidur. Mereka sedang menunggu kepulangan cucu mereka dengan bermain catur.Begitu Aska mendengar ucapan pelayan, dia pun berdiri dan berjalan kemari. Tatapannya penuh dengan rasa perhatian. “Jeje, apa kamu lembur lagi?”Theresia menyapa Jemmy, lalu mengangguk dengan tersenyum. “Iya, Kakek nggak usah tunggu aku.”“Aku tidak bisa tidur, makanya main catur sama Jemmy!” kata Aska dengan terkekeh, “Apa kamu
Theresia dan Morgan kembali ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin mobil untuk meninggalkan tempat.Di bawah pencahayaan gelap, dagu pria itu kelihatan jelas. “Sepertinya Hallie sudah melakukan banyak hal di belakang!”Theresia menunjukkan ekspresi merenung. “Dia ingin mengandalkan kekuatan Keluarga Manthana.”Pada hari pernikahan Sonia waktu itu, Theresia menyadari bahwa anggota Keluarga Manthana sedang menjilat Hallie. Kebetulan Keluarga Manthana juga memiliki dendam terhadap Theresia, mereka pun bisa dimanfaatkan oleh Hallie. Tentu saja, masalah memanfaatkan ini terkadang juga dua arah.Morgan berkata, “Setelah pulang nanti, aku akan ngomong sama Kakek Aska untuk segera mempublikasi identitasmu, lalu mengusir Hallie.”Theresia memutar bola matanya, lalu menggeleng dengan tersenyum. “Jangan, jangan beri tahu Kakek.”“Emm?” Morgan merasa tidak puas.Sudut mata Theresia sedikit terangkat. Tatapannya yang berkilauan itu bagai sedang menyembunyikan ide buruk saja. “Keluarga Manthana ing
Theresia melihat wajah samping tegas Morgan dengan mengangkat sedikit ujung matanya. Dia pun ikut menuruni mobil.Mereka berdua sama-sama naik ke lantai atas. Setibanya di luar ruang VIP yang dipesan asisten Roger, Theresia pun mengetuk pintu, membukanya, lalu memasuki ruangan.Pencahayaan di dalam ruangan terlihat gelap. Terdapat 5-6 orang sedang duduk di dalam sana. Dalam sekilas, Theresia bisa melihat Agnes yang duduk di paling dalam.Agnes datang bersama asistennya Roger, ada juga “Tuan Ethan" dan “Tuan Brevi" yang menghina Ingga tadi siang. Selain itu, ada juga tiga orang pria lainnya. Mereka semua sedang duduk di sofa, menatap dua orang yang berjalan memasuki ruangan dengan penuh waspada.Ketika melihat Theresia datang dengan membawa seorang pria, Agnes juga tidak merasa takut. Dia memberi isyarat mata kepada orang di sampingnya. Orang itu segera berdiri dan menjaga di depan pintu. Mereka kelihatan arogan, seolah-olah akan membuat Theresia tidak bisa pulang lagi!Agnes berkata de
Pelayan bertanya, “Apa perlu bantu kamu untuk menyimpan bunganya dulu?”Theresia menggeleng. “Nggak usah. Terima kasih.”Pelayan berjalan pergi, lalu segera kembali dengan mengambil sepotong selimut tipis. “AC restoran kami agak dingin. Kekasihmu suruh aku bawa selimut buat kamu.”Theresia mengangkat kepalanya melihat orang yang sedang menelepon. Kelembutan terlintas di dalam tatapannya. Dia mengambil selimut untuk ditutup di atas kakinya, lalu berterima kasih dengan suara lembut, “Terima kasih.”“Kekasihmu baik sekali!” puji pelayan dengan tersenyum, lalu menuangkan segelas air lemon untuk Theresia. “Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa panggil aku setiap saat.”“Oke!” Theresia sedang menunggu kepulangan Morgan. Dia mengambil gelas air, lalu menoleh untuk melihat ke luar jendela. Saat ini, matahari telah terbenam. Lampu jalan telah dinyalakan. Pejalan kaki berjalan hilir mudik di jalan. Angin di awal musim panas ini mulai berembus membuat orang merasa segar.Cahaya lampu memancar ke a
Tiba-tiba Theresia tersenyum dengan begitu ceria dan menggoda. “Tuan Morgan memang enak diajak kompromi!”Morgan tidak mengindahkan sindiran Theresia. Dia berkata dengan tersenyum, “Aku sudah hampir sampai perusahaanmu. Aku tunggu kamu di lantai bawah.”Theresia merasa sedikit kaget, tetapi dia segera mengangguk. “Segera.”Setelah memutuskan panggilan, Theresia membereskan barangnya, lalu bersiap-siap untuk pulang kerja.Saat Ingga memasuki ruangannya, dia pun merasa kaget ketika melihat Theresia sedang membereskan barangnya. Ingga berkata, “Bos, hari ini kamu pulangnya cepat sekali?”Suasana hati Theresia sedang sangat bagus. “Iya, bukannya sudah hampir jam pulang kerja?”Ingga menyipitkan matanya dan berkata dengan tersenyum, “Normal bagi orang lain untuk pulang kerja tepat waktu, tapi terlalu aneh bagi Bos karena nggak lembur hari ini. Seperti ada keajaiban saja, jangan-jangan kamu lagi pacaran!”Theresia menunduk untuk membereskan dokumennya. Dia bertanya dengan acuh tak acuh, “Gim
Agnes sungguh merasa emosi. Dia menghubungi Jovita, tetapi panggilan tidak kunjung diangkat.…Saat Ingga kembali ke perusahaan, kebetulan klien yang mencari Theresia sudah pergi. Ingga memasuki ruang kerja, lalu menceritakan semua yang terjadi di perusahaan Keluarga Manthana dan isi percakapannya dengan Roger kepada Theresia.Sepertinya Theresia bisa menebak siapa yang ingin melawannya. Dia pun bertanya, “Nggak turun tangan, ‘kan?”“Nggak. Mereka memang ingin pukul aku, tapi aku bilang aku bakal lapor polisi. Mereka pun ketakutan hingga pulang!” kata Ingga dengan bangga.“Bagus sekali. Keselamatan itu paling penting selama berada di luar, apalagi kamu itu perempuan. Jangan bersikap keras terhadap lawan,” kata Theresia.“Sayang sekali, mereka malah berhasil melarikan diri!” kata Ingga dengan emosi.“Memangnya kenapa kalau kamu bisa menangkap mereka? Kalau mereka bilang mereka salah kenal orang, kamu juga kehabisan akal,” kata Theresia dengan tersenyum, “Oke, jangan marah lagi. Hari ini
Hari ini Darren sangatlah santai. Dia melihat akun Instagram-nya, lalu menyadari Thalia mengunggah postingan pada jam 12 malam dengan akun rahasianya. Thalia mengunggah foto dirinya menghadiri suatu acara pesta.Latar di belakang foto selfie-nya adalah aula dari sebuah hotel mewah. Kemudian, tampak s
Reza menatap mobil Sonia semakin menjauh, lalu membalikkan kepalanya menatap Thalia. “Ayo, pergi!”Kedua mata Thalia berkilauan. Dia lekas mengikuti langkah si lelaki.…Keesokan harinya, saat Sonia pergi bekerja, Gina masuk ke ruangannya. Dia memegang segelas kopi sembari bersandar di dekat jendela. “
Sonia berdiri, lalu berjalan ke sisi Thalia.Thalia mengedip-ngedipkan matanya, lalu menatap Sonia dengan lemah lembut. “Sonia.”“Plak!”Tamparan yang dilayangkan Sonia sangatlah kuat hingga Thalia langsung terjatuh. Tampak bekas darah di ujung bibir Thalia. Kepalanya kliyengan dan dia pun terbengong.S
Sonia menjawab, “Dalam dua hari ini!”Air mata membuat pandangan Ranty menjadi kabur. “Apa Yandi tahu?”“Nggak tahu. Aku juga nggak berencana buat beri tahu dia!”Ranty semakin panik. “Kenapa? Kalau dia tahu, dia pasti akan pergi bersamamu. Masalah ini adalah masalah kalian berdua!”“Masalah ini masalah







