LOGINHelward berkata, “Dua hari lalu, aku lewat Jembara University. Aku lihat kedai makanan di seberang universitas yang sering kita kunjungi dulu sudah tidak ada, sudah diganti menjadi kedai teh, tapi aku masih sangat merindukannya! Aku sudah memesan meja di sana. Aku akan tunggu kamu sampai kamu menampakkan diri!”Julia tidak memberinya jawaban pasti.Selesai sarapan, Julia mempertimbangkannya sebentar, pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi menemui Helward.Waktu itu, Helward pergi dengan buru-buru, hubungan mereka pun berakhir begitu saja. Jadi setelah 20 tahun kemudian, Julia ingin pergi untuk memberi tanda titik pada masa lalu itu.Saat Julia keluar rumah, Vans menyusul dari belakang, membawa sebuah payung di tangannya. Terpancar kelembutan dari bola mata cokelatnya. “Aku dengar dari Paman Aska, semut-semut di halaman sedang pindah sarang. Mungkin akan hujan hari ini, jadi dibawa payungnya.”Julia tidak bisa menahan tawa. “Ayahku itu lagi menghibur Jejel. Sekarang juga bisa langsung
Theresia merasa sedikit canggung. Dia tahu masalah ini tidak bisa dirahasiakan dari Julia. Dia pun tersenyum ringan. “Cuma salah paham saja!”…Theresia dan Julia mengobrol hingga sangat larut. Setelah itu, Theresia kembali ke kamarnya untuk mandi dan mengeringkan rambutnya. Saat dia berbaring di atas ranjang, dia malah tidak merasa mengantuk sama sekali.Theresia mengambil buku untuk membaca, tetapi dia tidak tertarik. Dia melempar bukunya di samping, lalu membalikkan tubuhnya untuk bersandar di atas ranjang.Saat menjelang dini hari, ponsel Theresia bergetar. Theresia segera membuka ponselnya. Dia melihat ada orang yang membagikan musik kepadanya, matanya seketika memerah. Theresia mengambil headset dan mulai mendengarkan lagu. Alunan musik yang ringan dan pelan terdengar. Hatinya seketika bergejolak, tidak tenang sama sekali.Setelah satu lagi selesai diputar, Theresia baru mengambil ponselnya untuk mengirim pesan. [ Apa kamu masih marah? ]Pria itu segera membalas. [ Bukan ini yang
Setelah kembali ke vila sendiri, ruang tamu yang begitu besar kelihatan gelap dan kosong, hanya ada cahaya dari luar yang memancar ke dalam jendela besar, memantulkan bayangan gelap di dalam kamar.Morgan menyalakan lampu. Dia membuka kancing kemejanya, lalu mengambil rokok berjalan ke sisi balkon. Morgan duduk di atas bangku rotan di balkon dengan menyilangkan kedua kakinya dan tangannya disandarkan di atas pegangan. Dia sedang memandang langit malam di luar sana.Ujung rokoknya tidak berhenti berkilauan. Pria itu dikelilingi oleh cahaya gelap. Aura dinginnya juga terasa semakin dingin lagi.Beberapa saat kemudian, masuk sebuah notifikasi di ponselnya. Dia membuka laptop untuk memulai rapat.Sirla melaporkan kondisi Hondura kepada Morgan. Raut wajah pria itu kelihatan datar, dia pun hanya mengiakan saja.Alhasil, Sirla yang berada di ujung telepon merasa bingung. Dia berhasil menangkap bawahan Darvin yang tidak berhenti membuat keonaran, lalu menghancurkan markas bawah tanah mereka. T
Marcus langsung duduk di samping Theresia. Matanya kelihatan polos dan energik. “Apa Kakak sudah tamat kuliah?”Theresia tersenyum tipis. “Apa aku kelihatannya seperti anak sekolah?”Marcus tersenyum lebar. “Aku tidak tahu, hanya saja kelihatannya sangat istimewa!”Mata gadis itu sangat indah, keindahannya begitu memikat hati, dalam dan luas seperti langit berbintang, seakan menyimpan kejernihan setelah mengalami begitu banyak hal. Namun, fitur wajahnya justru memancarkan aura yang murni dan lembut. Di antara kepolosan dan daya pikat, tanpa sadar membuat orang tertarik padanya.Theresia berkata dengan tersenyum, “Aku nggak kuliah. Aku langsung bekerja.”Marcus merasa sedikit kaget dan merasa sedikit disayangkan. “Sayang sekali.” Marcus mengira sebelum Theresia kembali ke Keluarga Angsara, kondisi ekonominya tidak begitu bagus, makanya dia tidak bisa bersekolah. Dia pun segera berkata, “Sekarang kamu sudah pulang, kamu boleh melanjutkan studimu.”Theresia mulai tertarik. “Aku memang pun
Setelah kedua pasang mata saling bertatapan, Theresia mengalihkan tatapannya, lalu berkata dengan tersenyum, “Mengenai masalah marga, nggak perlu diganti dengan buru-buru. Bagaimanapun hal itu bersangkutan dengan banyak hal, seperti kartu identitas, dokumen-dokumen penanggung jawab perusahaanku, stempel, dan yang lain. Terlalu merepotkan.”Aska berkata, “Cepat atau lambat juga mesti diganti. Kamu tidak usah urus. Kakek akan suruh orang untuk membantumu mengurus semuanya.”Jemmy berkata dengan tersenyum, “Morgan, bagaimana menurutmu?”Morgan masih saja menunjukkan ekspresi dingin dan datarnya seperti biasa. “Ini masalah Theresia sendiri. Pemikiranku tidaklah penting.”Bulu mata Theresia sedikit gemetar. Dia memalingkan kepalanya melihat bunga di dalam halaman. Cahaya senja yang mulai gelap, bunga magnolia yang siang tadi begitu mekar indah kini tampak sedikit sendu.Julia melirik keduanya, lalu tersenyum. “Kalau tidak ganti marga, kita tetap bisa memindahkan data kependudukannya ke sini
“Kakek sih gembira, tapi Kakek takut kamu tidak gembira!” Nada bicara Aska terdengar lembut. “Kegembiraanmu lebih penting daripada apa pun!”Tiba-tiba hati Theresia mulai terasa pilu. Dia merasa ada sesuatu yang tersendat di tenggorokannya, membuat suaranya terdengar sedikit serak. “Terima kasih, Kakek.”“Kalau begitu, jangan berpikir terlalu banyak. Kamu baru saja pulang, kita sekeluarga bisa berkumpul dengan gembira. Sisanya pelan-pelan saja. Kalau Morgan berani menindasmu, Kakek pasti akan tegakkan keadilan buat kamu. Kakek memang sudah tua, tapi Kakek juga akan melindungimu!” Aska kelihatan tegas. “Kalau ada yang berani menindas cucu perempuanku, aku akan mencarinya sampai ke rumah.”Tiba-tiba Theresia teringat dengan gambaran Morgan dipukul Jemmy dengan kemoceng saat Hari Raya waktu itu, lalu membayangkan kakeknya sendiri mengajaknya mendatangi Keluarga Bina, Theresia pun tidak bisa menahan tawanya. Dia tersenyum cerah hingga matanya berbinar.Julia berjalan mendekat di atas jalan
Tatapan Morgan kelihatan dingin. Nada bicaranya juga sedikit datar. “Bukannya kamu sudah memilih? Kenapa masih bimbang?”Usai berbicara, Morgan menyeka tangannya, lalu membalikkan tubuhnya untuk berjalan keluar.Theresia menurunkan kelopak matanya untuk mencuci piring dengan serius. Dia menelan air
Tiba-tiba ponsel yang diletakkan di atas nakas menyala. Theresia mengambilnya, ternyata ada pesan masuk dari Roger.Nama yang tertera di atas layar ponsel bagai seember air dingin yang disiramkan dari atas kepalanya. Pikirannya seketika menjadi sadar. Dia mulai membuka ponselnya.[ Roger: Apa harimu
Ashley melihat Tony di dalam foto itu sedang memeluk seorang wanita berambut panjang dengan dandanan tebal ke dalam hotel. Dia merasa bagai ditampar oleh seseorang saja. Tamparan itu bahkan terasa lebih sakit daripada tamparan Tony semalam.Pantas saja Tony selalu kekurangan uang, bahkan melakukan p
Pada keesokan sorenya, Theresia baru siuman. Dia melihat ada Roger yang sedang menjaganya di samping ranjang. Roger tidak tidur sejak semalam. Kantong matanya kelihatan gelap. Selain itu, terlihat tatapan penuh kasih sayang di dalam matanya. “Apa kamu masih merasa sakit?”“Sedikit, aku sudah mendin







