LOGINSaat mendengar ucapan Ingga, Arvan kepikiran kondisi semalam dan dia juga merasa sangat khawatir. Setelah memutuskan panggilan, dia segera menghubungi Theresia.Setelah Theresia mengirim pesan kepada Ingga, dia kembali tidur. Suara dering ponsel mengacaukan pemikirannya. Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya, lalu mengangkatnya. “Tuan Arvan?”Arvan tertegun sejenak. Dia merasa sedikit canggung. “Maaf, sudah mengganggumu di pagi hari!”Theresia merasa mengantuk. Dia membalas dengan mata disipitkan. “Nggak apa-apa. Ada urusan apa?”Arvan bertanya dengan nada mengetes, “Nona Theresia, apa kamu baik-baik saja?”Theresia mengerti maksud Arvan. Nada bicaranya terdengar datar. “Nggak kenapa-napa. Kamu nggak usah khawatir!”“Baguslah kalau begitu!” Arvan merasa agak lega. “Kalau begitu, aku akhiri panggilan dulu.”“Sampai jumpa.”Theresia meletakkan ponselnya. Lengan yang merangkul pinggang Theresia semakin erat lagi. Dia memasukkan Theresia ke dalam pelukannya, lalu menempel era
Theresia terbengong. Dalam seketika, dia pun merespons, lalu berkata dengan nada datar, “Aku beri tahu Ibu, aku akan pulang malam ini.”Morgan mengeluarkan ponselnya. “Aku telepon Bibi Julia.”Mata indah Theresia sedikit terbuka. Dia segera berkata, “Sebenarnya saat meninggalkan Nine Street Mansion, aku sudah kirim pesan kepada Ibu. Sekarang sudah terlalu malam, aku tinggal satu malam di Apartemen Tribeca.”Morgan melirik Theresia sekilas. Setelah itu, dia memalingkan kepalanya memandang malam di luar mobil. Jelas sekali terlihat rasa menyindir di dalam tatapannya.Daun telinga Theresia seketika memerah. Dia diam-diam merasa kesal. Jika ingin membahas soal keteguhan hati, Theresia kalah telak daripada seseorang!Pintu vila dilengkapi teknologi pemindaian inframerah. Begitu mobil Morgan mendekat, pintu itu otomatis terbuka. Mobil Maybach hitam masuk ke halaman vila. Lampu-lampu taman pun menyala dalam seketika, seperti cahaya bulan yang hangat, tersembunyi samar di antara bayangan pepoh
Sopir hotel mengendarai mobil mereka ke depan. Arvan menyapa Theresia, “Nona Theresia, kamu naik mobilku saja. Aku bawa kamu pulang dulu.”Morgan bersuara dengan datar, “Tidak usah. Kami searah. Biar aku saja yang mengantarnya!”Arvan malah merasa agak khawatir. Dia menghalangi Theresia di belakang tubuhnya, bersikap seperti sedang melindungi Theresia. “Mana mungkin aku merepotkan Tuan Morgan untuk mengantarnya. Aku yang membawa Nona Theresia kemari. Biarkan aku saja yang mengantarnya pulang!”Baru saja kenal, malah ingin mengantarnya pulang. Meskipun Theresia bersedia, Arvan merasa dirinya juga bertanggung jawab untuk melindungi Theresia.Sementara itu, Theresia malah berjalan keluar dari belakang. Sepertinya dia tidak sedikit pun ragu untuk berjalan ke sisi Morgan. Dia memalingkan kepalanya untuk berkata pada Arvan, “Aku nggak minum. Aku bisa nyetir untuk antar Tuan Morgan pulang. Semuanya harap tenang!”Arvan tidak berhenti memberi isyarat mata kepada Theresia. Hanya saja, dia melih
Morgan melirik sekilas, lalu membalas dengan nada datar, “Tuan Kelvin tidak usah sungkan. Lebih baik kamu simpan sendiri saja!”“Barang sebagus ini barulah bernilai kalau diberikan kepada orang yang paham seperti kakekmu. Aku juga tulus untuk memberikannya kepadamu.” Ekspresi Kelvin kelihatan tulus.Morgan tersenyum tipis. “Justru karena barang bagus, lebih baik Kelvin menyimpannya saja. Kalau bejana perunggu ini sampai ke tangan kakekku, dia hanya akan menjadikannya sebagai wadah untuk menaruh pakan ikan atau wadah untuk memelihara bunga teratai saja.”Kelvin terdiam. Sepertinya dia masih kurang memahami Keluarga Bina.Setelah Charlie melihat situasi ini, dia segera berkata dengan tersenyum, “Lebih baik Tuan Kelvin menyimpannya saja. Waktu kita masih panjang. Kamu masih ada waktu untuk mencari barang kesukaan Tuan Jemmy.”“Iya!” Kelvin tersenyum. Dia menyerahkan bejana perunggu kepada asistennya, lalu membawanya pergi.Arvan sedang menyaksikan lelucon dari sebelah. Dia pun berkata pad
Theresia merasa agak terharu. “Terima kasih atas perhatian Tuan Arvan, tapi masalah nggak seserius yang kamu pikirkan. Aku tahu batasan.”Kening Arvan berkerut. “Tadi saat melihat Tuan Morgan, aku merasa dia seperti terlahir dari keluarga militer saja. Wibawanya sangat elegan. Aku kira dia itu pengecualian. Aku tidak menyangka dia akan begitu cepat turun tangan sama kamu.”Theresia ingin tertawa, tetapi dia tidak berani. Dia melirik pria yang sedang duduk di sofa dengan rasa bersalah, lalu menjelaskan dengan tersenyum, “Semua itu atas kemauanku sendiri. Aku sendiri yang mengagumi Tuan Morgan.”Arvan menatap Theresia dengan kaget.Theresia mengangguk. “Aku benar-benar merasa Tuan Morgan cukup oke. Aku ingin mencoba untuk mengejarnya, siapa tahu dia bisa jadi kekasihku? Makanya, Tuan Arvan nggak perlu merasa bersalah. Aku masih harus berterima kasih kepada Tuan Arvan karena sudah memberiku kesempatan ini!”Arvan pun dikagetkan dengan ucapan Theresia. Dia berkata dengan nada rendah, “Nona
Pria itu memegang erat gelas teh di tangannya. Alhasil, teh di dalam gelas sedikit bergerak. Dia meletakkan gelas, lalu memalingkan kepalanya. Sepasang tatapan mendalam melihat ke sisi wanita di dalam pelukan Morgan.Satu tangan Theresia menahan pundak Morgan, lalu saling bertatapan dengannya. “Tuan Morgan yang bijaksana jangan sampai masuk ke dalam jebakan provokasi orang lain, ya.”Tatapan Morgan semakin tajam. “Aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat.”“Apa yang kamu lihat?” Theresia memiringkan kepalanya bersandar di atas pundak Morgan sembari berbicara. Napasnya diembuskan ke atas dagu Morgan. Mata indahnya kelihatan sedikit berkilauan. “Lebih penting yang kamu lihat atau yang kamu rasakan?”Morgan tidak berbicara.Theresia mendengus dingin. Terdengar sedikit rasa tidak berdaya dan kesal di dalam nada bicaranya. “Kalau nggak, aku akan korek hatiku untuk diperlihatkan kepadamu. Biar kamu lihat ada orang lain atau nggak?”Morgan memiringkan sedikit tubuhnya, menindih Theresia di
Rose tidur sejenak di lantai atas. Saat kedengaran suara ketuk pintu, dia pun langsung duduk bersandar di atas ranjang. “Masuk!”Hallie membuka pintu berjalan ke dalam, lalu berkata dengan tersenyum, “Kak Rose, apa kamu sudah baikan?”Rose mengangguk. “Aku sudah membaik setelah tiduran sebentar!”Ha
Theresia mengambil ponsel dan mengangkatnya. Suaranya tawanya terdengar agak asing. “Tuan Mateo!”Suara Mateo terdengar antusias. “Nona Theresia, mengenai kerja sama yang aku katakan semalam, pihakku lumayan buru-buru. Gimana kalau kita bahas masalah itu malam ini?”Tidak ada perubahan dalam nada bi
“Yang ini?” Morgan memiliki tinggi badan 185 sentimeter. Dia bisa membuka rak dengan gampangnya. Dia pun mengeluarkan bubuk merica yang dikatakan Theresia dan menyerahkannya kepada si wanita.“Terima kasih!” Theresia tersenyum. “Bantu aku ambilkan sendok yang berlubang.”Sendok berlubang?Morgan mel
Setelah Aska melihat kepergian mereka, dia duduk di posisi Sonia tadi, lalu berkata dengan tersenyum, “Lebih baik kamu saja yang menemaniku. Anak muda tidak punya kesabaran. Jadi, kamu mesti melihat dengan jelas, kelak aku bisa menemanimu lebih lama. Kamu mesti segera menyadari hal ini, jangan serin







