로그인Keesokan harinya, Jason membantu memilihkan hadiah untuk Nick. Setelah itu, mereka berdua membawa Yana untuk pergi ke panti jompo.Siang harinya, mereka bertiga menemani Iwan untuk makan siang bersama. Raut wajah Iwan kelihatan sangat bersemangat, terutama ketika melihat Yana. Dia merasa gembira hingga matanya menyipit.Selesai makan, mereka pun mengobrol. Iwan bertanya pada Kelly, “Apa kakak iparmu akan segera melahirkan?”Kelly mengangguk. “Sepertinya iya.”Kelly sudah lama tidak peduli dengan urusan Keluarga Samosir. Setelah meninggalkan panti jompo pada sore hari, Jason membawa Yana pergi bermain, membiarkan Kelly bekerja dengan tenang.…Keesokan harinya adalah hari Senin. Kelly pergi bekerja. Sepanjang perjalanan ke dalam ruangan, rekan kerja yang bertemu dengannya akan menyapanya dengan ramah.“Kelly, selamat pagi!”“Kelly, baru dua hari nggak ketemu, kamu semakin cantik saja!”“Kelly, aku traktiran siang hari nanti. Kamu mesti datang, ya!”…Kelly tersenyum manis, lalu membala
Jason merasa kehabisan kata-kata. “Aku tidak ingin kamu terlalu sengsara!”Kelly mengangkat wajah Jason, lalu menjinjit ujung kaki untuk mencium ujung bibirnya. “Aku tahu. Aku akan selesaikan dalam waktu satu jam. Kamu tidur dulu sana.”Jason menggenggam tangan Kelly. “Bukannya kamu ingin buka studio? Apa kamu sudah selesai berpikir?”Kelly merenung sejenak, lalu membalas, “Aku takut pengalamanku masih belum cukup, kesempatan juga masih belum ada. Lagi pula, sekarang aku lagi bekerja bareng Pak Guru. Aku juga merasa sangat gembira dan puas setiap harinya.”Nick telah menjadi guru Kelly. Awalnya semua ini hanyalah sebuah candaan belaka. Berhubung Nick telah memberi banyak arahan dalam pekerjaan dan desain kepada Kelly, Kelly mengatakan bahwa dirinya hendak mentraktir Nick sebagai tanda terima kasih. Namun, Nick malah berkata dengan nada bercanda, “Tidak usah berterima kasih. Kelak kamu panggil aku ‘Pak Guru’ saja. Dengan begitu, kelak aku pun bisa sering membantumu.”Kelly pun mengiaka
Frida sedang mengandung. Alhasil, dia menjadi kesayangan semua orang. Justru karena kabar gembira ini, suasana di dalam ruangan menjadi semakin meriah.Setelah Frida, Sonia, Kelly, dan yang lain sedang berbicara, Johan pun kemari untuk mengobrol dengan Jason.Jason bertanya, “Apa kalian berdua masih tinggal di luar? Apa ada yang menjaga Frida?”Johan berkata, “Ibuku tahu Frida lagi hamil, jadi ingin kami kembali tinggal di rumah. Tapi, Frida masih ada kompetisi pada akhir bulan ini. Kami baru akan pulang setelah Frida selesai kompetisi. Selama beberapa saat ini, aku akan menjaganya.”Jason mengerutkan keningnya. “Kenapa masih ikut kompetisi?”“Aku memang berharap dia tidak ikut tanding, tapi aku juga tidak berani bikin dia merasa tidak senang.” Johan melihat ke sisi Frida yang sedang mengobrol di area istirahat dengan sakit hati. Dia pun berkata dengan suara berat, “Jangan lihat dia baik-baik saja sekarang, tapi ketika melihat dia muntah setiap pagi, hatiku benar-benar terasa penat. Bi
“Tidak usah!” tolak Yandi dengan segera, “Aku tidak suka kucing!”Hidup matinya seekor kucing juga tidak ada hubungannya dengan dia!Rasa antusias Tasya seketika dipadamkan oleh Yandi, sementara itu dia berkata dengan yakin, “Kamu pasti akan menyukainya!”“Aku tidak akan suka!”“Pasti akan suka!”Yandi tidak berdebat hal tidak penting dengan Tasya. Dia pun langsung bungkam dan tidak berbicara lagi.Tasya malah merasa dirinya telah menang. Dia langsung tersenyum dengan gembira.Setibanya di Kasen, mereka berdua masuk ke dalam. Semua orang sedang bersorak ingin Morgan dan Theresia saling bersulang dengan menyilangkan tangan. Mereka berdua juga tidak bertele-tele, langsung meneguknya. Johan mengambil sebuah ceri, ingin mereka berdua menggigit secara bersamaan. Suasana terasa sangat ricuh.Yandi berjalan ke dalam. Johan segera menjerit, “Bos Yandi, kamu datang ambil benang!”Mereka berdua memang pernah bertengkar sebelumnya. Namun setelah itu, hubungan mereka malah lebih akrab daripada sia
Tasya berkata, “Seberang perusahaan kami ada sebuah klinik hewan. Nanti kamu bawa kucing kecil ini untuk berobat. Aku ke atas untuk cari data. Setelah aku menemukannya, aku baru akan pergi mencarimu!”Yandi melirik sekilas kardus di dalam pelukan Tasya, lalu berkata dengan nada berat, “Apa kamu mau memelihara kucing ini?”Tasya mengangguk. “Nggak mungkin aku buang juga!”Yandi tidak berbicara lagi. “Oke!”Ketika melihat Yandi menyetujuinya secara langsung, Tasya baru benar-benar merasa gembira.Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan gedung perusahaan tempat Tasya bekerja. Dia menyerahkan kotak kardus kepada Yandi, lalu menunjuk klinik hewan di seberang. “Apa kamu sudah lihat? Di sana. Biasanya tempat itu juga jadi tempat penitipan hewan ketika pemiliknya lagi bekerja. Kamu pergi dulu, aku akan cari kamu setelah mengirim data.”Yandi bertanya, “Hari ini akhir pekan. Apa ada orang di perusahaan?”Tasya tertegun sejenak. Reaksinya sangatlah cepat. Matanya tampak berkilauan. “Kenap
Perempuan yang mengenakan terusan biru kelihatan sangat muda. Dia menoleh dan menjelaskan, “Aku juga ditipu sama orang lain. Tadinya aku menghabiskan banyak uang untuk membelinya. Alhasil, mereka malah jual kucing sakit-sakitan kepadaku!”Tasya berkata dengan kesal, “Jadi, kamu mau buang kucing itu begitu saja?”Perempuan dengan terusan biru kelihatan bersalah. Dia yang malu itu langsung menjadi gusar. “Terserah aku. Itu kan hewan peliharaan yang aku beli. Kalau aku nggak mau, ya nggak mau. Apa hubungannya sama kamu? Kalau kamu berbaik hati, kamu bawa dia pulang untuk dipelihara saja. Kalau nggak mau pelihara, kamu juga nggak usah ikut campur!”Selesai berbicara, perempuan itu langsung berlari pergi.Tasya merasa kesal ingin mengejar ke sana. Dia pun ditangkap oleh Yandi. “Ada apa?” Tasya menunjuk ke sisi kotak kardus. “Dia nggak mau rawat lagi, kemudian dibuang begitu saja. Gimanapun kucing juga punya nyawa. Orang yang sok punya kasih sayang itu memang munafik!”Yandi melihat ke sisi
Terlintas rasa muram di dalam tatapan Melvin. Dia terus menatap Sonia tanpa berbicara sama sekali.Anggota Keluarga Dikara yang duduk di ujung ruangan juga sedang menatap Sonia. Sutini masih merasa marah lantaran Sonia tidak menyapanya tadi. Aminah berkata dengan tersenyum, “Ternyata Sonia jadi pen
“Bagaimana dengan urusanmu di sana?”Reza mengangguk. “Sudah hampir selesai. Aku langsung kemari setelah turun dari pesawat. Untung saja keburu.”“Reza ….” Sonia membenamkan kepala ke dalam pelukan Reza, lalu berkata, “Aku merindukanmu!”Napas Reza terasa berat. Ketika mendengar Sonia merindukannya,
Reza berdiri di kegelapan untuk sejenak. Kemudian, dia baru membalikkan tubuhnya berjalan menuruni tangga.Saat ini, Sonia dan Yandi masih duduk di anak tangga sembari mengobrol sesuatu. Saat mendengar ada suara langkah kaki dari atas, Sonia mengangkat kepalanya melihat ke arah datangnya suara. Terl
Tommy juga berkata, “Sepertinya terlalu lama?”Reza berkata dengan tersenyum datar, “Tidak lama. Hanya diundur beberapa bulan saja.”Lysa merasa gelisah. “Berarti masih harus menunggu beberapa bulan lagi. Pemandangan musim dingin di Kota Jembara juga sangat cantik, kok!”Lysa masih ingin mengadakan







