MasukTasya tidak bertanya apa-apa. Dia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya. Tasya datang tanpa membawa apa-apa, hanya ponsel saja.Mereka berdua turun ke lantai bawah. Area tangga sangatlah gelap. Tasya spontan menggenggam tangan Yandi. Kali ini, Yandi tidak mendorongnya.Nyali Tasya pun semakin besar. Dia menggenggam erat jari-jari Yandi, lalu perlahan menggenggam seluruh telapak tangannya.Tangan Yandi lebar dengan ruas-ruas jari yang tegas. Telapak tangannya dipenuhi kapalan tipis. Namun bagi Tasya, tangan itu tidak terasa kasar sama sekali. Sebaliknya, dia justru menggenggamnya semakin erat.Di lorong yang gelap dan sunyi, Tasya seolah-olah bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. “Deg! Deg!” Dia merasa sedikit gugup, canggung, dan juga gembira.Setelah meninggalkan penginapan, Yandi mengendarai mobil membawa Tasya ke kota bawah pegunungan.Yandi melempar jaketnya ke tubuh Tasya. Di dalam kegelapan, lekuk wajah pria itu kelihatan semakin dingin dan arogan saja. “Kamu tid
“Tasya!” Suara Yandi terdengar serak karena panik. Dia pun mengetuk pintu kamar sebelah.Pintu telah dibuka. Tasya langsung berlari ke dalam pelukan Yandi.Yandi melihat ke dalam kamar. Dia tidak menyadari ada yang aneh. Akhirnya dia pun merasa lega. Pada saat ini, Yandi bertanya, “Apa yang terjadi?”Suara Tasya terdengar gemetar. “Ada … ada tikus!”Yandi menghela napas panjang. Dia menjelaskan dengan nada menghibur, “Wajar sekali kalau ada tikus di tempat seperti ini. Tikus itu cuma numpang lewat kamarmu saja. Kamu tidak akan digigit. Malahan tikus takut sekali sama kamu!”Tasya menggeleng di dalam pelukan Yandi.Yandi menunduk. Dia menyadari Tasya hanya mengenakan kaus tanpa celana. Kedua paha putih dan kurus itu terpampang sangat jelas. Di bawah pencahayaan remang, warna putih itu kelihatan sangat mencolok.Di sisi lain, Yandi baru saja selesai mandi dan bersandar di atas ranjang. Dia mengenakan celana tanpa mengenakan pakaian.Tenggorokan Yandi terasa kering. Dia tanpa sadar melaku
Tora memperlihatkan luka di tubuhnya kepada Yandi, lalu berkata dengan gusar, “Semua prosedur untuk membuka penginapan milik orang tuaku di sini lengkap. Tempat ini juga tidak termasuk ke dalam area proyek hotel. Mereka malah seenaknya menyuruh kami membongkarnya, atas dasar apa?”“Uang kompensasi yang mereka berikan juga sangat sedikit. Jadi, bagaimana orang tuaku bisa menjalani sisa hidup mereka? Tapi orang-orang di balik hotel itu punya kekuasaan dan pengaruh besar. Sama sekali tidak ada yang mau membela atau menegakkan keadilan untuk kami.”Tasya juga ikut merasa gusar. “Mereka ini sama saja dengan merampas. Kita bisa menggugatnya!”Tora tersenyum getir. “Tidak ada gunanya.”Lecy yang berada di samping berkata dengan suara kecil, “Sebenarnya, seandainya uang kompensasi yang mereka berikan cukup banyak, sebenarnya bukannya nggak boleh ….”Tora segera memotong omongan Lecy, “Tidak peduli berapa pun yang mereka berikan, penginapan ini tidak boleh dibongkar. Rumah di kampung halaman ka
Tasya teringat sesuatu. Dia pun mengangguk tanda setuju. “Setelah dengar ucapanmu, memang nggak mahal, sih!”Bisa memeluk seseorang, harga dua juta juga tidak mahal!Sebenarnya Yandi ingin menghibur Tasya, tetapi ketika melihat ekspresi Tasya, sepertinya dia sudah berpikir kebanyakan. Raut wajahnya pun seketika berubah murung.Suasana hati Tasya menjadi membaik. Dia berkata dengan tersenyum, “Apel juga sudah dibeli, jadi dimakan saja, jangan disia-siakan!”Tasya mengambil tisu untuk membersihkan apel, kemudian memberikan satu buah apel kepada Yandi.Yandi menolak untuk makan.“Kalau begitu, aku makan sendiri saja!” Tasya langsung menggigit buah apel. Suara renyah buah apel yang meledak mengeluarkan sari buah di dalam mulut memenuhi seluruh ruangan mobil.Jakun Yandi tanpa sadar ikut bergerak naik turun.Dalam waktu singkat, Tasya sudah mengunyah setengah buah apel. Dia memalingkan kepalanya dan berkata, “Apa benar kamu nggak mau makan? Rasanya manis sekali!”Apel ini memang pantas diha
Sesekali ada mobil wisatawan yang melintas di jalan pegunungan. Di kejauhan, tampak beberapa lampu penginapan menyala. Meskipun berada di tengah kegelapan malam, pemandangan itu justru menghadirkan rasa hangat dan tenang di hati.“Aroma apa ini? Kayaknya bau apel!” Tasya melangkah beberapa langkah ke depan, lalu menoleh dengan gembira. “Di sana ada pohon apel!”Yandi mengernyitkan dahi. “Jangan ke sana. Kita harus jalan lagi.”“Aku cuma petik satu saja!” jawab Tasya sambil berlari menuju pohon apel.Ini pertama kalinya Tasya melihat pohon apel. Dia memanfaatkan bantuan cahaya rembulan untuk memetik buah apel terbesar. Saat ini, dia kepikiran untuk memetik satu buah apel lagi untuk Yandi.Baru saja tangan Tasya menyentuh apel, dia pun terdengar suara jeritan. “Siapa yang mencuri buah apelku! Berhenti, jangan bergerak!”Cahaya senter terlihat di dalam kegelapan. Suara jeritan juga terdengar semakin mendekat. Ada yang berlari dari kejauhan. Tasya pun tertegun. Dia mengira pohon apel ini a
“Kota Owara.”Kota Owara adalah kota yang bersebelahan dengan Kota Jembara, juga dikenal sebagai kota wisata.Tasya berpikir sejenak, lalu membuat keputusan. “Aku pergi bersamamu!”Yandi mendengus dingin. “Apa kamu tahu apa yang mau aku lakukan di sana? Malah mau pergi bersamaku?”Tasya membalas dengan tersenyum, “Aku nggak peduli kamu mau ngapain. Intinya, aku mau pergi bersamamu!”Yandi langsung menolak, “Tidak boleh!”“Kenapa nggak boleh?”“Aku tidak bisa pulang hari ini. Aku akan tinggal dua hari di sana. Tidak praktis kalau kamu ikut ke sana.”“Anggap saja aku pergi untuk liburan!”Yandi tidak berbicara, tetapi dia tetap mengendarai mobil menuju Kediaman Keluarga Herdian.Tasya juga tidak panik. “Kamu antar aku pulang saja, biar aku kemas barang-barangku. Nanti aku akan bawa mobil sendiri ke Kota Owara. Bisa jadi kita bisa ketemuan di sana.”“Tasya!” Raut wajah Yandi berubah muram.Tasya menggigit bibirnya untuk melihat Yandi. “Rekan kerjaku pada pergi jalan-jalan. Aku bisa tetap
Sekarang sudah jam sebelas malam. Leon menaiki taksi menuju ke alamat hotel yang dicantumkan di dalam pesan. Setibanya di hotel, Leon langsung mencari nomor kamar tersebut. Saat mendengar suara dari dalam kamar, raut wajah Leon langsung memucat. Sekujur tubuhnya juga tampak gemetar.Tiba-tiba Leon ke
Panggilan terhubung. Sesuai dengan dugaan Hendri, nada bicara Sonia terdengar dingin. Dia mengatakan dirinya tidak memiliki waktu malam ini.Hendri berusaha untuk membujuknya lagi. Ketika menyadari sikap tegas Sonia, pada akhirnya Hendri terpaksa mengakhiri panggilan, lalu memberi tahu masalah ini ke
Reza menopang kepalanya dengan tangan, lalu menyipitkan matanya. “Kalau bukan ingin memprovokasi hubungan Yandi dengan Leon, itu berarti dia lagi beri isyarat kepada Yandi.”“Sepertinya kemungkinan yang kedua!” Tatapan Sonia tampak dingin. “Orang yang diincarnya itu adalah Yandi.”Reza berkata dengan
[ Desain Stella jauh sebelum desain GK. Bagaimana maksudnya? ][ Demi bertahan hidup dan menstabilkan kariernya, dia malah menjiplak hasil karya orang lain. Dasar nggak tahu malu! ][ Seorang senior malah bersikap seperti ini. Memalukan sekali! Masalah ini mesti diselidiki sampai tuntas. Coba selidiki







