Share

Bab 4 - Her

Author: Author Lee
last update Last Updated: 2024-06-22 13:11:08

"Jadi, kau belum memutuskan untuk menetap di sini?" tanya Elise pada Nathan yang saat itu duduk berhadapan dengannya.

Jonathan Nilsson mengangguk sambil membenarkan posisi kacamatanya. "Aku masih memikirkannya."

Elise mengangguk pelan sambil menyesap kopinya.

Pria yang kerap disapanya Nathan itu bersedia untuk langsung bekerja. Nathan yang juga merupakan seorang dokter hewan sangat terampil dan ahli dalam menangani pasien yang datang hari itu. Kalau diingat-ingat kembali saat mereka masih kuliah, Nathan memang jauh lebih pandai daripada Elise. Tapi saat ini, pria itu justru tidak keberatan untuk menjadi asistennya.

"Jadi..." Nathan memecah keheningan. "Kau sudah menikah?" tanyanya sambil melirik cincin di jari manis Elise.

Tanpa sadar Elise mengikuti arah pandangan Nathan, ke arah cincin berlian yang tersemat di jarinya. Bagi Elise, cincin pernikahannya adalah benda paling indah yang pernah diberikan Theo untuknya. Berliannya tampak bersinar gemerlapan saat terpantul cahaya lampu ruangan, sungguh mencuri perhatian.

Elise mengangguk sambil tersenyum. "Ya, tiga tahun lalu."

"Oh," gumam Nathan dengan seulas senyum kecil. "Selamat atas pernikahanmu."

"Terima kasih." sahut Elise lembut.

Suasana berubah hening selama beberapa saat. Sejak tadi Elise belum sempat menanyakan apa pun tentang keberadaan Nathan selama ini. Jika dihitung kembali, waktu sudah berlalu tujuh tahun sejak terakhir kali mereka bertemu.

Nathan dan Elise sudah berteman sejak kecil. Rumah keluarga mereka berdekatan, hanya terpisah oleh beberapa blok rumah. Mereka juga bersekolah dan kuliah di tempat yang sama. Nathan yang terkenal sangat pintar menjadi tempat bagi Elise untuk belajar. Elise punya prestasi yang baik dulu. Namun prestasi Nathan ada di atasnya lagi.

Sayangnya setelah mereka lulus kuliah, pria itu menghilang begitu saja seperti ditelan bumi. Tidak ada yang bisa menghubunginya, termasuk teman-teman mereka yang lain.

Entah apa yang telah terjadi padanya selama ini. Elise tentu sangat penasaran. Tapi sebaiknya ia mencari waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu pada Nathan.

"Lalu di mana suamimu sekarang?" Tiba-tiba suara Nathan menembus masuk dan membuyarkan pikirannya.

"Di rumah sakit. Dia juga seorang dokter." sahut Elise. "Dokter jantung."

"Wah," Alis Nathan terangkat. "Pasangan dokter." tambahnya sambil tergelak ringan.

Elise tersenyum. Sebelum Elise sempat menanyakan tentang kehidupan pria itu, tiba-tiba matanya terhenti pada layar CCTV yang mengarah ke pekarangan. Theo sudah pulang.

"Oh, itu dia." ujar Elise.

Nathan menoleh ke arah yang sama dengan Elise. "Suamimu?"

Elise mengangguk. "Aku akan memperkenalkan..." Ucapan Elise langsung terhenti saat melihat seorang wanita turun dari mobil Theo. Ia berhenti bernafas selama beberapa detik.

"Dan wanita itu?" tanya Nathan polos.

Elise tidak menjawab. Ia memperhatikan kedua sosok itu berjalan masuk ke dalam rumah dengan nafas sesak. Siapa wanita itu?

Tak lama kemudian, pintu ruangan Elise terbuka dan sosok Theo muncul di ambang pintu. Elise dan Nathan berdiri bersamaan. Tatapan mata Theo yang tajam langsung tertuju ke arah Nathan.

"Siapa dia?" tanya Theo blak-blakan dengan suara beratnya.

Sebelum Elise menjawab, Nathan sudah lebih dulu mengulurkan tangannya ke arah Theo. "Perkenalkan, aku Jonathan Nilsson."

"Asisten baruku di klinik." tambah Elise buru-buru. Ia tidak memperjelas bahwa Nathan adalah temannya. Lebih tepatnya, teman masa kecilnya.

Theo menatap Nathan sejenak dengan tatapan menyelidik, sebelum akhirnya ia mengulurkan tangannya. "Theodore Blake." gumamnya.

Elise baru saja akan bertanya tentang wanita yang dilihatnya bersama Theo ketika suara seorang wanita yang terdengar sayup-sayup menyela di antara mereka.

"Wah, kliniknya sangat bagus! Seharusnya aku membawa kucingku kemari." Suara ceria wanita itu mengisi sepanjang lorong klinik. Ketukan sepatunya terdengar semakin jelas. "Dia pasti akan..."

Jantungnya berdegup keras. Tenggorokannya sakit, seolah ada sesuatu yang mencekatnya. Sosok wanita yang berdiri di belakang Theo nyaris membuat tubuhnya bergetar. Elise berusaha menahan diri. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya berubah tak enak.

Theo memiringkan badan dan membiarkan wanita di belakangnya itu untuk masuk. Sekarang, Elise bisa melihat dengan jelas sosok yang dilihatnya turun dari mobil suaminya dari layar CCTV tadi.

Wanita itu berparas cantik. Rambut pirang panjang bergelombang yang dimilikinya membuatnya terlihat memukau. Ditambah dengan tubuhnya yang ramping dan penampilan modisnya yang membuatnya terlihat bak seorang model. Wanita itu begitu berbeda dengan Elise yang tubuhnya sedikit lebih pendek dan lebih senang berpenampilan kasual dengan riasan tipis.

Elise beralih menatap Theo. "W-wanita ini..." gumam Elise dengan suara pelan dan bergetar.

Sebelum Theo sempat menjawab, wanita itu sudah lebih dulu menyela. Ia mengulurkan tangannya ke arah Elise dengan seulas senyum lebar. "Hai, perkenalkan. Aku Cellina Rose."

Elise tak langsung menyambut uluran tangan wanita itu. Ia menatap wanita itu sejenak, lalu kembali menatap Theo. "Siapa wanita ini?" ulang Elise dengan suara yang lebih jelas.

Dan lagi-lagi wanita itu menggantikan Theo untuk menjawab pertanyaan Elise. Ia tidak terlihat terganggu dengan tatapan Elise yang mulai risih.

"Aku cinta pertamanya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 40

    "Jadi, wanita tadi bukan kekasihmu?" tanya wanita berambut gelap sebahu itu sebelum meneguk minumannya.Nathan menggelengkap kepala. "Tentu saja bukan. Dia hanya seorang teman." sahutnya. Tapi tidak menjelaskan secara mendetail. Ia tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya pada wanita itu, bahwa Kelly Dempsey adalah teman seperjuangannya untuk memisahkan sepasang suami istri, juga bahwa Kelly Dempsey adalah teman tidurnya.Wanita itu tergelak ringan. "Dari caramu berbicara, kau sepertinya sangat yakin bahwa hubungan kalian tidak akan lebih dari sebatas teman." ujarnya sambil melemparkan tatapan curiga ke arah Nathan."Ya," Nathan mengedikkan bahu. "Karena itu memang tidak akan mungkin terjadi."Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan, kali ini menatap Nathan penasaran. "Kenapa? Bukankah dia sangat cantik dan menggoda?"Kali ini giliran Nathan-lah yang tergelak. "Dia bukan tipeku." jawabnya singkat dan jelas.Sekali lagi wanita itu menatap Nathan dalam-dalam, seolah mencari celah d

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 39

    Elise terduduk di tepi ranjang kamar tamu. Setelah perdebatannya dengan Theo tadi di ruang tamu, ia memutuskan untuk kembali tidur di sana. Sementara Theo, ia langsung meninggalkan rumah tanpa sepatah kata pun.Jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam. Hingga saat ini ia tak melihat tanda-tanda bahwa Theo pulang ke rumah. Ke mana dia? Apa dia baik-baik saja? Elise merasa khawatir dalam hati. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang disimpannya di dalam laci nakas saat masih tidur di sana. Ia beringsut mendekat ke arah laci, lalu membukanya.Sebuah amplop coklat berisikan lembaran foto Theo bersama seorang wanita. Tak hanya di e-mail, ia juga mendapatkan foto cetak yang dikirim ke klinik. Entah siapa yang mengiriminya. Saat menanyakannya pada Amy, gadis itu juga kebingungan. Amy sudah bertanya kepada si kurir, tapi hasilnya nihil. Si kurir hanya diminta untuk mengantarkan amplop itu ke klinik.Elise menahan nafas melihat setiap lembaran foto itu. Tak satu pun dari foto-foto terseb

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 38

    Rahangnya mengeras saat membaca kalimat teratas yang tertera di kertas itu. Surat perceraian. Ditambah lagi ucapan Elise di waktu bersamaan, membuat Theo nyaris kehilangan kendali atas dirinya. Nafasnya menderu cepat. Ia tak menyangka jika hal semacam ini yang akan menyambutnya saat pulang."Aku ingin bercerai darimu." ujar Elise datar. Tatapannya kosong.Theo setengah mendengus setengah tergelak. "Apa katamu? Bercerai?"Elise menganggukkan kepalanya pelan, tanpa sedikit pun membalas tatapan Theo.Detik itu juga, tanpa pikir panjang, Theo langsung merobek kertas tersebut. Elise yang melihat hal itu langsung tersentak dan menatapnya tak percaya."Tidak ada kata perceraian di antara kita." gumam Theo dengan nada rendah, namun penuh penekanan."Apa yang kau lakukan? Kenapa kau merobeknya?""Apa ucapanku barusan tak cukup jelas?" Theo melangkah mendekati istrinya yang tampak ketakutan, seperti melihat monster yang hendak menerkamnya.Elise spontan melangkah mundur. Langkah demi langkah, a

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 37

    "Sebaiknya dia dipisahkan dulu dari saudaranya yang lain, supaya proses penyembuhan lukanya lebih maksimal." kata Elise pada wanita si pemilik kucing Persia yang sejak tadi tampak cemas melihat kondisi salah satu kucing kesayangannya yang sempat terluka, namun tidak parah.Wanita itu mengangguk paham. "Baik, dok. Terima kasih banyak."Elise tersenyum sekaligus melambaikan tangan ke arah si kucing yang sejak tadi menatapnya dengan tenang. Setelah mereka meninggalkan ruangan, Elise akhirnya bisa duduk kembali di bangkunya. Ia meneguk segelas air di atas meja sebelum menyandarkan tubuh di sandaran kursi.Sejak hamil, ia merasa jadi lebih mudah lelah. Tapi untung saja sejauh ini ia belum pernah merasa mual saat sedang menangani pasien. Jika sampai itu terjadi, kehamilannya pasti akan diketahui oleh Nathan dan Amy. Hingga saat ini, Elise masih memilih untuk merahasiakannya dari mereka. Tidak ada yang tahu soal kehamilannya, selain dirinya dan dokter Moris.Suara ketukan pintu membuyarkan l

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 36

    "Sudah dua minggu ini Theo tidak menjawab teleponku."Kelly Dempsey berpura-pura menunjukkan raut prihatin saat mendengar keluhan Jessica Blake. "Dia pasti sangat marah karena Anda bersikap kasar pada Elise."Jessica menyeruput teh hangatnya dengan sebal. "Aku ibunya. Seharusnya dia lebih menuruti perkataan ibunya, bukannya wanita itu!" gerutunya.Suasana kafe pagi itu belum terlalu ramai. Ruangan luas bernuansa klasik itu sering menjadi tempat pertemuan para konglomerat kota. Entah itu untuk membicarakan bisnis atau sekadar duduk-duduk menikmati pagi yang cerah. Aroma kopi yang semerbak membuat tempat itu terasa nyaman. Awalnya Kelly berniat mengajak Jessica untuk bertemu demi menarik perhatian dan mendapatkan hatinya. Tapi siapa sangka ternyata pagi itu ia justru mendapat telepon dari Jessica yang mengajaknya untuk bertemu di sana."Aku tidak yakin jika Theo akan datang kemari." ujar Jessica lagi sambil menyesap tehnya."Dia pasti datang. Percayalah padaku." sahut Kelly menenangkan

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 35

    "... Nyonya,"Suara Bibi Bernadeth yang semula terdengar sayup, kini terdengar jelas di telinga Elise. Wanita itu membuka mata dan mendapati Bibi Bernadeth sedang berdiri di hadapannya, menatapnya cemas.Elise lekas menegakkan badan dan seketika ia teringat bahwa saat itu ia berada di ruang tengah, terbaring di atas sofa yang cukup empuk dengan balutan selimut.Tunggu. Selimut?Elise menatap benda itu sejenak dengan heran. Rasanya ia tidak membawa keluar selimut saat terakhir kali meninggalkan kamar. Siapa yang menutupi tubuhnya dengan selimut?Pikirannya buyar ketika mendengar suara Bibi Bernadeth yang berbicara padanya. "Nyonya, apa Anda baik-baik saja? Kenapa Anda tidur di sini?""O-oh, ini..." Elise mendadak gagap. Tapi ia segera menemukan jawaban yang masuk akal, setidaknya untuk Bibi Bernadeth. "Kemarin malam aku terbangun dan sulit tidur kembali. Jadi aku keluar kamar untuk duduk sebentar. Tapi ternyata aku ketiduran." sahutnya dengan seulas senyum kecil.Bibi Bernadeth mengang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status