MasukHari demi hari. Minggu demi minggu.Waktu seolah tengah berpacu entah dengan apa. Setiap detik yang berlalu seakan mendesak Theodore Blake untuk menyerah. Wanita yang terbaring di atas ranjang dengan alat bantu medis di sekitarnya itu masih tak memberikan tanda apa pun. Kedua matanya masih terpejam. Bibirnya masih tertutup rapat.Dokter yang menangani sudah angkat tangan. Ia tak bisa memberikan kepastian bahwa Elise Bowman akan kembali sadar.Cukup lama Theo menatap wanita yang dicintainya itu. Dalam setiap hembusan nafasnya, ia selalu berharap jika Elise akan kembali sadar. Kehilangan calon buah hati mereka membuatnya terluka. Namun jika harus kehilangan orang yang dicintainya juga...Tidak. Theo tak pernah ingin memikirkan hal itu. Ia yakin, Elise Bowman akan kembali sadar."Elise, kau bisa dengar aku?" bisik Theo yang duduk di tepi ranjang. Tangannya menggenggam tangan Elise yang sama sekali tak memberi respon. "Aku akan selalu berada di sini untukmu. Kumohon, sadarlah. Aku menungg
Nathan berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang operasi dan Clara mengikutinya dari belakang. Karena terburu-buru beberapa kali ia hampir menabrak pengunjung lain. Tapi ia tak peduli. Ia hanya meminta maaf sekilas, lalu kembali berlari. Ia ingin bertemu Elise, hanya itu yang ingin dilakukannya saat ini.Langkah kaki Nathan terhenti saat melihat sosok Theodore Blake yang duduk di bangku tunggu. Pria itu tertunduk memegangi kepalanya yang ditopang dengan tangan yang terpangku di atas kedua kakinya. Terlihat banyak bercak darah di kemeja putih yang dikenakannya.Theodore Blake mengangkat wajah. Sorot matanya langsung berubah saat melihat sosok Nathan di sana. Penuh amarah dan kebencian. Tiba-tiba Theo berdiri dan langsung berjalan ke arah Nathan dengan langkah lebar. Tanpa aba-aba ia langsung menarik kerah baju Nathan dan melayangkan sekali pukulan tepat di wajahnya. Darah segar langsung mengalir di sudut bibir Nathan. Namun ia tak melawan sama sekali."Hentikan!"Clara yang mel
Acara reuni yang dihadiri Nathan malam itu cukup menyenangkan. Setelah sekian lama tak berjumpa dengan kawan lamanya, kini akhirnya mereka punya kesempatan untuk kembali berkumpul. Meskipun tak semua dari mereka yang dapat hadir, salah satunya Elise.Nathan mengirimkan beberapa buah foto yang diambilnya bersama teman yang cukup akrab dengan mereka dulu. Tapi tak ada jawaban dari Elise. Bahkan pesannya pun belum dibaca. Ia juga sempat mencoba untuk menelepon. Dan ternyata ponsel Elise tidak aktif hingga sekarang. Nathan merasa aneh. Tapi ia berusaha untuk tidak memikirkannya. Mungkin saja dia sedang keluar dengan suaminya dan ponselnya kehabisan baterai di tengah jalan, begitu pikir Nathan berusaha untuk tetap optimis.Nathan berjalan menuju area parkir. Ia memarkirkan mobilnya di luar gedung tadi. Baru saja ia akan berbelok ke arah mobilnya, ia berpapasan dengan seorang wanita yang tampak tak asing. Clara Wilmer."Hei," sapa Nathan mendekatinya.Clara menoleh dan tampak kaget saat mel
"Ini tidak mungkin!"Dalton berseru histeris di ruang keluarga setelah mendengar ucapan Mia. Tubuhnya langsung lemas. Ia jatuh terduduk di atas sofa dan menangis tersedu-sedu. Mia yang terlihat sedih pun duduk di sampingnya, berusaha menghiburnya.Di sisi lain, Jessica berdiri mematung dengan wajah pucat. Jantung berdetak cepat karena ketakutan. Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung berjalan cepat meninggalkan ruang keluarga dan pergi ke ruang kerjanya. Pintunya dikunci rapat dan ia segera mengeluarkan ponsel. Jemari dengan kuku panjang yang dicat merah menyala itu bergerak cepat di atas layar. Lalu ia menempelkan benda itu di telinga."Ck!" Ia berdecak tak sabar saat harus menunggu teleponnya dijawab oleh Kelly. "Ke mana dia?!" gerutunya kesal.Panggilan pertama tak dijawab. Ia kembali menghubunginya. Dan setelah mendengar suara jeda beberapa kali, akhirnya panggilannya dijawab."Kelly," sergahnya. "Apa itu semua ulahmu?""Oh, Tante." sapa Kelly ringan di ujung sana."Jawab aku, Kell
Langit di luar tampak mendung. Elise baru saja terjaga dari tidurnya saat melihat Theo tengah bersiap-siap. Penampilannya, dengan sebuah kemeja putih lengan panjang, sudah rapi pagi itu. Entah ke mana pria itu akan pergi. Theo jarang sekali ke rumah sakit di hari Minggu.Theo menoleh saat mendengar suara dari kasur. "Selamat pagi," sapanya hangat. "Apa aku sudah membagunkanmu?"Elise tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepala. Ia ingin bertanya, tapi mengurungkan niat. Rasanya saat ini ia tak pantas untuk bertanya apa-apa pada pria yang masih menjadi suaminya itu.Seolah tahu isi pikiran Elise, Theo langsung memberi penjelasan. "Aku baru saja menerima telepon dari rumah sakit. Ada salah satu pasienku yang mendadak butuh tindakan.""Oh," gumam Elise pelan.Hujan turun tepat ketika Elise baru saja menyibakkan selimut dan menurunkan kaki dari atas kasur. Kedua kakinya baru mendarat ke atas lantai ketika Theo menghampirinya. Pria itu kemudian berlutut di hadapannya, membuat Elise bingung.
Suasana di ruang makan begitu dingin dan sunyi. Hanya terdengar suara alat makan yang saling beradu. Elise tak mengira kalau Theo akan pulang lebih awal malam ini. Dan sekarang, mereka harus duduk bersama menghadapi satu sama lain di ruang makan.Kemudian terdengar suara Theo yang seketika memecah keheningan. "Omong-omong, kau tak memberitahuku di rumah sakit mana kau biasanya mengecek kandungan." kata Theo sambil memasukkan makan malamnya ke mulut. Matanya tertuju ke atas piringnya.Elise menoleh sekilas, lalu kembali menunduk. "Bukan hal yang penting." sahutnya pelan, namun dingin.Theo tak menggubris ucapannya barusan. Ia lalu bertanya lagi, "Kapan jadwal kontrol kandunganmu yang berikutnya?"Kali ini Elise memilih untuk tidak menjawab. Ia tahu apa yang ingin dilakukan Theo. Tapi ia rasa memang ada baiknya Theo tidak perlu tahu apa pun tentang kehamilannya. Bukankah pada akhirnya mereka juga akan bercerai? Elise merasa miris."Dengar, Elise," Theo kembali membuka suara setelah heni







