Share

Bab 3 Merasa mual

Author: Jackie Boyz
last update publish date: 2026-07-23 12:32:47

Rima keluar dari dalam kamar dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil air. Dadanya terasa sesak karena menahan kemarahan.

Bi Inah sedang membereskan piring merasa kasihan melihat Rima. Sudah lama sejak dulu dia tahu Sopia tidak pernah menganggap Rima sebagai menantu.

“Mbak Rima yang sabar, ya? Bu Sopia memang begitu dari dulu.”

Rima hanya mengukir senyum tipis.

***

Arman masih berada di dalam kamar, dia menarik dasinya dengan gusar.

“Pisah alam katanya? Hah?! Wanita macam apa kamu itu Rim. Diajak cerai nggak mau selalu saja punya alasan.”

Arman pergi ke kamar mandi.

Setelah membersihkan tubuhnya dia keluar dari dalam kamar untuk menikmati makan malam bersama.

Dilihatnya Rima sudah duduk di kursi ruang makan.

Arman menarik kursi duduk di sampingnya.

“Kamu tadi pergi ke mana? Aku belum selesai ngomong tapi kamu malah kabur.”

Rima mengambil nasi untuk Arman beserta lauknya. Arman tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya.

“Jawab aku.”

Rima melirik ke arah Sopia dan Bidin. Dia merasa malu diperlakukan demikian di depan mertuanya. Rima langsung menarik tangannya dari genggaman Arman lalu berdiri dari kursinya.

“Aku ke dapur dulu, mau ngambil air.”

Arman menatap meja makan, air minum sudah ada di meja.

“Di sini juga ada air.”

“Air anget!” teriaknya dari dapur.

Rima melipat kedua tangannya sambil bersandar di depan pintu kulkas. Cukup lama dia berdiri di sana.

Bi Inah menatapnya sekilas.

“Mbak Rima mau makan di sini? Masih ada lauk di dapur.” Tawarnya seraya membuka pintu lemari kecil di samping.

“Nanti saja, Bi,” jawabnya.

Di ruang makan.

Sopia cemberut melihat perilaku Rima barusan.

“Kenapa sih kalian tidak cerai saja? Lebih baik kamu bawa Helen pulang ke rumah ini. Aku yakin setelah kamu resmi menikahi Helen, Rima juga nggak bakalan betah terus tinggal di sini,” saran Sopia pada Arman.

Bidin mendengar usul tersebut dan langsung meletakkan sendoknya.

“Ibu ini bagaimana sih? Sudah jelas-jelas putra kita yang salah, bukan Rima. Ibu itu kalau ngomong yang benar biar Arman nggak salah jalan. Lagi pula mereka juga baru menikah lima tahun, masih dalam masa-masa penyesuaian diri. Jangan terburu-buru nyuruh mereka pisah kalau belum punya anak.”

“Pak, aku itu sudah tua! Sudah pengen nimang cucu. Kalau Arman tidak punya keturunan apa nggak repot?!”

“Ya minta saja Arman ngebut, biar cepat punya anak! Bukan malah mendorong untuk bercerai! Bagaimana bisa punya cucu kalau mereka bercerai?!” teriak Bidin karena tersulut api amarah lantaran Sopia terus membahas tentang perceraian Arman dan Rima.

Arman mengerutkan keningnya.

“Pak, Bu, sudah, jangan teriak-teriak. Malu didengar tetangga.”

“Rumah mereka jauh, rumah kita besar dan banyak lahan kosong di sekitar. Nggak bakalan ada yang dengar,” timpal Sopia.

Arman tidak bisa menelan makanannya lagi, dia segera berdiri lalu pergi ke dapur.

Dilihatnya Rima duduk sendirian di kursi. Arman berjalan mendekatinya lalu memeluk bahunya dari belakang.

Rima kaget dan langsung berdiri dari kursinya.

Arman tertawa dengan perasaan kecewa.

“Kamu terus menjauh dariku, Ibu terus nuntut pengen punya cucu, bagaimana menurutmu?”

Rima membeku, semenjak mengetahui Arman berselingkuh Rima memang tidak pernah melakukan hubungan intim lagi dengan Arman. Dalam hatinya dia merasa jijik dan ingin muntah setiap teringat Arman meniduri wanita lain.

“Rim, aku sudah kasih kesempatan buat kamu. Dan aku nurut pas kamu nolak cerai. Sudah berapa tahun kita tidak benar-benar menjadi suami-istri?”

Rima melipat kedua tangannya.

Bahkan sampai detik ini kamu masih berhubungan dengan Helen bagaimana aku bisa melakukannya sama kamu kalau setiap di dekat kamu perutku terasa mual mau muntah?

Arman berjalan mendekat lalu menyentuh bahunya.

“Rima? Malam ini kamu harus bersedia melayaniku. Aku tunggu kamu di kamar,”

Bibir Rima bergetar, dia ingin mengatakan sesuatu tapi kata-kata itu selalu gagal dia katakan. Rima sengaja datang ke kamar di atas jam dua belas malam.

Ketika masuk ke dalam kamar dia menatap tempat tidurnya kosong. Dia merasa lega karena pikirnya Arman sibuk mengurus pekerjaan di dalam ruangan kerjanya.

Rima masuk ke dalam kamar mandi sebentar. Saat Rima kembali dari dalam kamar mandi dia melihat Arman sudah rebah di atas ranjang.

Ragu-ragu Rima naik ke atas tempat tidur.

Arman sepertinya tidak ingin menunda lagi, dia menarik tangan Rima dengan kasar lalu menindihnya.

“Mas, tunggu,” tahan Rima seraya menggenggam pergelangan tangan Arman.

“Apa lagi?”

“Aku... haid.”

Arman berhenti lalu pindah ke samping dan langsung tidur memunggunginya.

“Alasan saja.”

Rima menoleh sambil meremas selimut.

“Aku serius.”

“Rima, aku bukan pria bodoh. Mana ada wanita haid sebulan dua kali? Sampai tiga kali?”

“Ada, Mas, coba saja tanya dokter kandungan.”

“Kamu sejak dua tahun lalu selalu pakai alasan yang sama. Kalau nggak haid bilangnya lagi capek. Diajak pisah baik-baik nggak mau. Terus mau kamu apa? Aku lelah begini terus! Punya istri tapi kayak nggak punya istri!”

Rima menarik napas panjang, dia tidak menjawab.

***

Keesokan paginya.

Sekitar pukul tujuh pagi Rima mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal. Dengan malas dia membuka selimut untuk mengintip layar ponselnya.

“Siapa ini? Bukannya jadwalku libur hari ini,” gumam Rima.

Rima hanya menatapnya dan enggan menjawab.

Arman sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.

“Kenapa nggak diangkat? Takut ketahuan karena aku di sini?”

Rima tidak menghiraukan pertanyaan Arman.

“Nggak kenal sama nomornya,” gumam Rima.

Berikutnya, Rima menerima pesan.

Rima membuka kotak pesan dan melihat foto-foto mesra Helen dengan Arman ketika sedang bersama di sebuah vila pribadi. Rima ingat vila itu yang dulu pernah dia tempati dengan Arman pada saat berbulan madu.

Anehnya ketika melihat foto suaminya, Rima tidak merasa cemburu atau sakit hati.

Dalam hatiku saat ini rupanya sudah tidak ada Arman lagi.

“Siapa?” tanya Arman.

Rima langsung menutup ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas kemudian bersiap-siap.

Arman menyipitkan matanya, dia diam-diam mengambil ponsel Rima lalu melihat kotak pesan dan nomor yang menelepon Rima barusan. Arman tahu nomor tersebut adalah nomor Helen.

Ekspresi Arman terlihat bingung.

“Rima melihat ini tapi nggak marah sama aku? Dia juga nggak bahas masalah cerai, sebenarnya apa yang dipikirkan Rima?”

Setelah membersihkan tubuhnya Rima mendapati ponselnya di meja rias. Dia tidak heran, dia tahu Arman baru saja memeriksanya. Mungkin, dia ingin mencari alasan untuk bercerai dari Rima.

***

Tiga minggu kemudian ...

Ketika turun dari pesawat Rima merasa perutnya mual. Pikirnya mungkin dia sedang masuk angin dan akan membaik setelah minum obat.

Rima pulang ke rumah dalam kondisi pucat. Dia juga kehilangan nafsu makan.

“Apa yang terjadi hari ini? Aku tidak pernah merasa begini,”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatuh Ke Pelukan Orang Lain   Bab 17 Masih tidak percaya

    Niko terdiam, dia tidak mampu menjawab. Sisi kanan tubuhnya bersandar di dinding. Jawaban Rima barusan membuatnya merasa sedih. Dia tidak menyangka akan dipermainkan seperti ini setelah semua yang dia lakukan dengan penuh ketulusan. Dalam hatinya, dia tidak menginginkan apa pun dari Rima, dia hanya ingin bisa tinggal di sisi Rima. Ingin Rima bisa menerima hatinya. Tapi sebanyak apa pun dia menunjukkan perasaannya, tanggapan Rima selalu sama. Rima tidak pernah bersedia membuka hati untuknya.Apakah aku benar-benar tidak punya harapan lagi? Rima, sebenarnya pria seperti apa yang kamu inginkan? Apakah aku sama sekali tidak pantas? Rima sudah keluar dari dalam kediaman. Dia melihat Niko malah masih mematung di ambang pintu. “Saat kamu pergi, taruh kuncinya di bawah vas,” pesan Rima sebelum masuk ke dalam mobil.Mendengar teriakan Rima, Niko langsung terbangun dari lamunannya, dia segera keluar lalu mengunci pintu. Di tengah rasa kalut dan gelisah yang menyiksa pikirannya, Niko menatap

  • Jatuh Ke Pelukan Orang Lain   Bab 16 Tidak yakin

    Niko terengah, bibir tipisnya menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Dia mencium bibir Rima dan melumatnya. Niko melepaskan ciumannya sebentar lalu berbisik di telinga Rima seolah dia tahu apa yang ingin Rima dengar. “Aku tidak pernah kembali berpacaran dengan Siska.” Mereka tidur bersama malam itu. Entah sejak kapan dia mulai menyukai aroma parfum di tubuh Niko. Terkadang dia selalu merasa ada yang tertinggal di ranjangnya, di mana tempat Niko pernah berbaring kemarin malam. Pada keesokan paginya. Rima terbangun, seolah otaknya kembali dalam keadaan waras. Dia melihat Niko masih tidur memeluknya dengan kedua lengannya. Ponsel Niko di meja samping ranjang berdering. Rima tidak tahu siapa yang menelepon. Dia segera membangunkan Niko. “Niko, bangunlah, ada telepon,” Rima menyentuh bahunya. Niko mengerjap, dia melihat Rima tinggal dalam pelukannya dalam selimut. Dia baru ingat semalam mereka bercinta beberapa kali lalu tertidur karena kelelahan. Rima bangun perlahan, Niko

  • Jatuh Ke Pelukan Orang Lain   Bab 15 Apa kamu cemburu?

    Alan kebetulan ada di kantor. Dia melihat semua orang sedang membahas Niko. Tapi Rima malah menjauh dan tidak peduli. Di kantor juga tidak ada satu pun dari mereka yang berpikir bahwa Niko adalah sepupu Rima. Alan bukan tidak tahu sama sekali siapa Niko. Semua orang juga tahu Niko, hanya saja dia masih tidak yakin dengan apa yang dia ketahui. Tidak mungkin Rima memiliki sepupu artis tanpa ada satu orang pun yang tahu. Diam-diam Alan bertanya pada Nita. “Kamu sepertinya cukup perhatian dengan berita selebriti? Siapa artis itu? Kamu mengenalnya?”“Tentu saja! Ini Niko, artis yang lagi naik daun! Masa kamu nggak tahu? Dia kan sering berlangganan naik pesawat kita juga.”Alan melihat Rima masuk ke dalam kantor di mana dia sedang mengobrol dengan Nita. Alan buru-buru pergi keluar untuk menghindari Rima.“Ah, iya, benar! Aku pernah bertemu dengannya saat bertugas.” “Tuh kan, benar kataku!”Rima menatap mereka berdua, tapi Alan sudah pergi keluar dari dalam ruangan dengan terburu-buru.

  • Jatuh Ke Pelukan Orang Lain   Bab 14 Gosip asmara

    ***Setelah pesta usai.Niko dalam kondisi mabuk berat. Seorang rekan kerjanya membantunya menuju ke mobil. Ketika ditanya di mana dia tinggal dia malah menunjukkan alamat rumah Rima bukan apartemennya.“Antarkan saja ke alamat ini.”Mobil tersebut menuju ke rumah Rima dan berhenti di depan halaman rumahnya.“Mas Niko yakin tinggal di sini?”“Ya, aku tinggal di sini.”“Bukannya Mas Niko tinggal di apartemen?” tanyanya sambil menyerahkan kunci mobil milik Niko.“Aku? Di apartemen? Aku sudah pindah. Sudah, kamu pergi saja!” ujarnya sambil berjalan sempoyongan menuju ke rumah.“Kalau begitu aku pergi dulu, Mas!” pamitnya.Niko mengetuk pintu sambil menempelkan keningnya di daun pintu.Di dalam rumah, dari dalam kamar Rima mendengar suara ketukan dari luar rumah.“Siapa yang datang malam-malam begini?”Rima turun dari tempat tidur lalu pergi ke ruangan utama dan melihat siapa yang datang. Saat membukakan pintu dia mendapati Niko berdiri dengan terhuyung-huyung lalu jatuh memeluk Rima.“Ni

  • Jatuh Ke Pelukan Orang Lain   Bab 13 Pesta perayaan

    Rima menoleh ke arah makanan instan di meja. Dia berjalan ke sana lalu duduk dan menikmatinya. “Seharusnya aku menawarinya makan, dia pasti sudah lama menunggu di depan kantor sampai mengikutiku pulang ke sini.”***Pada keesokan paginya, Rima sudah bersiap berangkat ke kantor.Dia melihat beberapa bungkus makanan di dalam kantong plastik di atas meja beranda depan. Di luar kantong ditulis. ‘Simpan di dalam kulkas. Jika ingin makan tinggal dipanaskan sebentar.’ Tidak ada nama orang yang mengirimkan makanan itu, tapi dari tulisannya dia tahu Niko yang mengirimkannya. Rima mengambilnya dari meja dan saat membungkuk dia mencium aroma yang tertinggal di beranda depan rumahnya. Dia masih di sini?Rima menatap ke sekeliling, tidak ada siapa pun di sana. Kemudian Rima masuk ke dalam rumah dan menyimpannya di dalam kulkas. Dia berdiri sebentar di sana, memikirkannya. Setelah sekian lama, dia masih saja merasa asing, canggung.***Pada malam hari, setelah acara syuting selesai. Semua orang

  • Jatuh Ke Pelukan Orang Lain   Bab 12 Bagaimana jika hanya berteman?

    Niko ingin membiarkan masalah itu berlalu begitu saja. Namun, semakin keras dia berusaha untuk melupakannya pikirannya semakin kalut. Hatinya terasa semakin sakit. Dia tidak pernah bisa melupakannya sedikit pun. Kenangan yang terjalin terasa membekas seolah-olah telah merobek isi dalam kepalanya, membuat ruang sendiri. Mengabadikan kenangan antara dirinya dengan Rima. Perasaannya terlanjur terlalu dalam. Semakin berusaha rasanya semakin gila. Waktu terus berjalan, sejak pertemuannya di depan kafe waktu ini sampai sekarang sudah berlalu satu bulan lamanya. Ketika memiliki sedikit waktu, Niko selalu melarikan mobilnya ke tempat itu. Hanya duduk diam di dalam mobilnya. Dia ingin menunggunya, dia ingin melihatnya. Walau hanya sekilas, walau hanya beberapa detik saja. Mungkin dengan begini dia bisa meredakan rasa rindunya pada Rima.Pada sore hari ketika break syuting, Niko sengaja memesan beberapa camilan dan dia kirimkan ke kantor Rima. Niko juga mengirimkan satu buket bunga melalui s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status