Share

Bab 5: Dia...

last update publish date: 2026-08-06 13:17:16

Taksi online berhenti tepat di halaman rumah Bu Amel. Dari dalam rumah, wanita paruh baya itu sontak menghentikan aktivitasnya, mengerjap tak percaya melihat Rana turun seorang diri sambil menyeret koper kain ukuran besar, ditemani Arka yang berdiri kebingungan di sampingnya.

Biasanya, jika Rana berkunjung, ia selalu datang bersama Bayu menggunakan truk tua lelaki itu, dan tak pernah lebih dari satu jam. Tapi hari ini? Rana datang sendiri membawa seluruh dunianya dalam sebuah koper usang.

"I-Ibu... minta tolong bayarin taksolnya dulu, Bu," suara Rana bergetar hebat, napasnya masih memburu sisa kepanikan di jalan.

Bu Amel yang sempat buffering seketika merogoh dompetnya tanpa banyak tanya, menyerahkan selembar uang kepada sang sopir. Begitu taksi berlalu, Rana membawa kopernya masuk ke ruang tamu, langsung memeluk Arka erat-erat untuk meredam isak tangis yang mendesak di dadanya.

Tidak lama berselang, pintu samping terbuka. Bu Rita—adik kandung Bu Amel—yang sedang berjemur bersama cucunya melangkah masuk. Melihat mata sembab Rana dan koper besar di dekat pintu, wanita paruh baya itu langsung mengerti. Tanpa banyak bicara, Bu Rita mendekat, merangkul bahu Arka dengan lembut.

"Arka, temenin Eyang Rita yuk, bagi-bagi makanan buat burung di belakang rumah," ajak Bu Rita ramah, memberi ruang privasi yang sangat dibutuhkan Rana dan ibunya.

Begitu pintu ruang tamu tertutup rapat dan derap langkah Arka memelan di halaman luar, pertahanan terakhir Rana runtuh total. Ia jatuhkan lututnya ke lantai, membenamkan wajah di pangkuan sang ibu seraya mencengkeram erat ujung daster Bu Amel.

Rana pecah tangisnya di depan Bu Amel, menceritakan perselingkuhan Bayu, kehamilan perempuan lain, hingga keputusan bulatnya untuk minta cerai dan kabur.

Tidak ada lagi kalimat yang mampu ia rangkai setelah berhasil menceritakan alasan kedatangannya

Mendengar ratapan itu, Bu Amel tak kuasa menahan isak. Jemari keriputnya mengusap rambut Rana berulang kali, seolah ingin mengambil sedikit saja rasa sakit yang ditanggung putrinya.

Tiga hari kemudian.

Rana tengah fokus di depan laptop baru yang dibelikan Bu Amel. Gerakannya sempat kaku dan canggung, tapi setelah tiga hari berkutat dengan benda kotak itu, ia mulai terbiasa. Maklum, sepuluh tahun lalu semasa kuliah dan magang, komputer adalah makanan sehari-harinya; ia hanya butuh sedikit penyesuaian dengan sistem yang jauh berubah.

Hari itu, ia telah mengirim banyak lamaran ke berbagai perusahaan, dari skala kecil hingga besar—termasuk ke salah satu anak perusahaan Senjaya Group di bidang medikal tempatnya magang dulu semasa semester akhir kuliah.

Tiba-tiba, layar ponselnya menyala. Sebuah pesan W******p dari nomor asing masuk. Bayu, yang nomor lamanya sudah ia blokir tiga hari lalu, kini meneror lewat nomor baru. Isinya tak jauh dari makian kasar dan ancaman agar Rana segera pulang atau benar-benar diceraikan. Rana sekadar membaca, menghela napas lelah, lalu langsung memblokir nomor itu.

Siang ini, ia bertekad mengganti kartu perdana supaya tidak diganggu oleh Bayu lagi.

Dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk mengurus perceraian sudah ia siapkan. Tinggal menunggu Bayu bergerak supaya pernikahannya bisa benar-benar hancur dan ia bisa memulai hidup baru dengan tenang.

Belum sempat sisa-sisa rasa kesalnya menguap, sebuah notifikasi e-mail berdering. Senjaya Medika mengirim panggilan interview!

Rana terkesiap, lalu berteriak senang. Ia berlari keluar kamar dan menghambur memeluk Bu Amel yang tengah membaca koran di ruang tengah.

"Buu, aku besok interview di Senjaya Medika!" seru Rana berbinar.

Bu Amel tersenyum hangat, menatap putrinya dengan mata berbinar bangga. "Itu anak perusahaan Senjaya Group tempat kamu magang dulu, kan?"

Rana mengangguk cepat, senyum lebarnya akhirnya merekah setelah sekian lama tertutup mendung.

"Jodoh emang nggak ke mana," ujar Bu Amel lembut, menepuk kepala putrinya penuh sayang.

Rana melangkah memasuki lobi gedung pencakar langit yang menjulang megah, membalut tubuhnya dengan setelan baju formal pinjaman milik Bu Amel yang sedikit kebesaran namun tampak rapi.

Dengan langkah pasti meski jantungnya bergemuruh, ia naik ke lantai atas untuk menghadap ke bagian penempatan tugas. Tak lama kemudian, ia diarahkan ke dalam ruang interview berukuran sedang yang beraroma khas kertas baru dan pendingin ruangan.  

Di balik meja kerja minimalis, seorang staf HRD wanita menyambutnya dengan senyum profesional, mempersikannya duduk.

Suasana awalnya terasa biasa—pertanyaan seputar pengalaman kerja sepuluh tahun lalu, celah waktu dalam riwayat hidupnya, hingga kesiapannya beradaptasi kembali dengan ritme korporasi modern. Rana berusaha menjawab setiap pertanyaan dengan tenang, meski telapak tangannya basah oleh keringat dingin.

Namun, di tengah-tengah sesi saat ia tengah menjelaskan kualifikasinya, tiba-tiba gagang pintu bergerak turun. Suara ketukan pelan bahkan tidak sempat terdengar sebelum daun pintu terbuka lebar.

Staf HRD yang sedang mewawancarainya kontan menghentikan kalimat, lalu bangkit berdiri dengan gestur tubuh yang menegang kaku, menunjukkan rasa hormat pada sosok yang baru saja melangkah masuk.

Pria berbalut jas tailored abu-abu arang dengan postur tinggi tegap itu berdiri di ambang pintu. Garis wajahnya tajam, memancarkan aura dominasi mutlak yang langsung mendominasi seisi ruangan.

Rian Seno Aji—pria yang sepuluh tahun lalu hanya seorang remaja belasan tahun yang kerap merajuk malas di kantor ayahnya, kini telah menjelma menjadi sosok CEO muda yang disegani.

Kirana Dwita Madika mengenali sosok itu seketika, meski fitur wajah lelaki tersebut telah jauh berbeda dibanding sebelas tahun lalu.

Tanpa membuang waktu, Seno melangkah mendekat. Tatapannya tidak lepas sedetik pun dari wajah Rana.

"Biar saya yang ambil alih," ucap Seno dengan suara bariton yang rendah namun tegas, memerintahkan staf HRD tersebut.

Staf wanita itu langsung mengangguk patuh, membereskan berkas seadanya, lalu mundur teratur keluar ruangan, meninggalkan pintu yang kembali tertutup rapat. Menciptakan keheningan mutlak yang menyesakkan antara mereka berdua.

Rana membeku di kursinya. Napasnya tercekat di tenggorokan. Jarak di antara mereka terlalu dekat untuk ukuran ruang wawancara biasa. Dengan gerakan perlahan, Seno menarik kursi utama tepat di seberang Rana, lalu duduk. Siku tangannya bertumpu di atas meja, sementara jemarinya saling bertaut di depan dagu, menatap wanita di depannya dengan binar mata yang menyimpan rindu kelam dan obsesi tertahan selama sebelas tahun lamanya.

Rana mendongak, netra mereka akhirnya terkunci dalam satu garis pandang yang penuh ketegangan. Belum sempat Rana menemukan suaranya yang hilang, bibir Seno terangkat membentuk senyum miring yang berbahaya.

"Kak Rana... I found you."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 5: Dia...

    Taksi online berhenti tepat di halaman rumah Bu Amel. Dari dalam rumah, wanita paruh baya itu sontak menghentikan aktivitasnya, mengerjap tak percaya melihat Rana turun seorang diri sambil menyeret koper kain ukuran besar, ditemani Arka yang berdiri kebingungan di sampingnya.Biasanya, jika Rana berkunjung, ia selalu datang bersama Bayu menggunakan truk tua lelaki itu, dan tak pernah lebih dari satu jam. Tapi hari ini? Rana datang sendiri membawa seluruh dunianya dalam sebuah koper usang."I-Ibu... minta tolong bayarin taksolnya dulu, Bu," suara Rana bergetar hebat, napasnya masih memburu sisa kepanikan di jalan.Bu Amel yang sempat buffering seketika merogoh dompetnya tanpa banyak tanya, menyerahkan selembar uang kepada sang sopir. Begitu taksi berlalu, Rana membawa kopernya masuk ke ruang tamu, langsung memeluk Arka erat-erat untuk meredam isak tangis yang mendesak di dadanya.Tidak lama berselang, pintu samping terbuka. Bu Rita—adik kandung Bu Amel—yang sedang berjemur bersama cucu

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 4: Meninggalkan Nestapa

    "Astaga... ada apa ini, Nak?" suara Ibu Sri langsung dibayangi kepanikan. Matanya bergantian menatap Rana yang bermata sembab dan Bayu yang membuang muka—meski jemari lelaki itu tampak gemetar hebat saat memegang ponsel Rana yang baru saja dilempar.Rana tidak menjawab. Napasnya masih memburu naik-turun. Tatapannya yang setajam silet beralih dari punggung suaminya yang kaku, lalu jatuh menatap wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri."Bu," suara Rana terdengar parau namun sarat ketegasan mutlak. "Aku mau cerai sama Bayu."Ibu Sri terperanjat. Ia buru-buru melangkah mendekat dengan hati-hati, merentangkan tangan seolah ingin meredam ledakan. "Ada apa, Nak? Jangan ngomong sembarangan. Bisa dibicarakan baik-baik, ya? Jangan terbawa emosi."Wanita itu lantas beralih menatap anaknya, meminta pembelaan sekaligus mencoba menengahi. "Sabar, Nak. Disabarin aja demi anak kalian, demi Arka. Sayang kalau cerai, nanti Arka gimana masa depannya? Nanti juga Bayu berubah

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 3: Topeng yang Retak

    Ponsel di tangan Rana bergetar sekali lagi. Pesan susulan masuk tanpa jeda, seolah sengaja menghujam ulu hatinya sampai berkeping-keping.Sebuah foto testpack dengan garis merah ganda yang menyala terang. Disusul dokumen USG kabur dengan keterangan usia kandungan yang membuat mata Rana membelalak lebar.Delapan minggu.Dunia di sekeliling Rana seakan runtuh seketika. Selama ini ia menutup mata, mengabaikan bau parfum asing di jaket suaminya, dan bertahan dalam siksaan mental demi Arka. Tapi mendapati suaminya menghamili perempuan lain di luar sana? Tidak. Batas sabar itu bukan lagi robek, melainkan hancur lebur tak bersisa.Isak tangis yang sejak tadi tertahan di tenggorokan akhirnya jebol juga. Rana jatuh berlutut di depan lemari pakaian kayu yang sudah melengkung di bagian tengahnya. Air matanya tumpah deras, membasahi pipinya yang pucat, tapi tangannya sama sekali tidak berhenti bergerak.Dengan napas memburu dan dada yang naik-turun menahan sesak, ia menarik keluar sebuah koper ka

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 2: Bau Parfum Asing

    Suara mesin diesel tua itu menderu di halaman depan, merobek keheningan malam yang sudah merayap pukul dua pagi. Rana yang duduk di tepi ranjang—belum tidur, sengaja menunggu—menarik napas pelan. Matanya menatap lurus ke arah pintu kamar yang mulai berderit terbuka.Bayu melangkah masuk. Membawa serta hawa malam, debu jalanan, dan aroma rokok kretek yang melekat di jaket kulit kumalnya. Pria itu melempar kunci truk begitu saja ke atas meja rias, lalu menghempaskan tubuhnya ke tepi tempat tidur dengan kasar."Lampu masih nyala. Kamu belum tidur?" suara Bayu terdengar serak, sarat kelelahan yang dibuat-buat agar Rana lekas melayaninya tanpa banyak tanya.Rana tidak langsung menjawab. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan mendekati suaminya dengan gerakan tenang. Namun, saat ia membungkuk sedikit untuk melucuti sepatu boots Bayu yang penuh lumpur kering, indra penciumannya menangkap sesuatu yang membuat gerakannya terhenti sepersekian detik.Bau itu.Bukan sekadar bau jalanan atau keri

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 1: Sangkar Emas yang Membusuk

    Keranjang plastik di tangan kanan Rana terasa semakin berat, bukan karena muatan cabai dan bawang merahnya, melainkan karena kalimat-kalimat berbisik yang baru saja ia dengar dari lapak sebelah."Kemarin sore anakku lihat sendiri, Mbak Rana. Si Bayu nongkrong di warung kopi daerah Cikokol, bareng cewek rambutnya dicat pirang. Diboncengin naik motor matic."Ibu Nur, tetangga sebelah kontrakan, menatap Rana dengan mata menyipit penuh iba—jenis tatapan yang paling dibenci Rana di dunia ini. Kasihan yang dibungkus rasa penasaran.Rana menarik sudut bibirnya, memaksa otot wajahnya yang kaku untuk membentuk sebuah senyum tipis. Ia bahkan tertawa kecil, ringan dan tanpa beban, seolah berita perselingkuhan suami sendiri adalah lelucon receh di pagi hari."Ah, Ibu bisa aja. Salah lihat kali. Mas Bayu kan sopir truk, jalurnya sering pindah-pindah, mana sempat nongkrong-nongkrong gitu," balas Rana, suaranya terdengar tenang, bahkan di telinganya sendiri."Duh, beneran lho, Mbak! Laki-laki modela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status