LOGIN...Bab 113 KeevaHujan memang tidak terlalu deras begitu Keeva dan Aldrich sampai di resor, tetapi cukup membuat mereka berdua basah kuyup karena Keeva memaksa untuk menyelinap lewat pintu samping, yang lebih jauh menjangkau kamarnya.Usai berganti dengan pakaian yang kering, Keeva segera duduk di atas ranjang membuka laptopnya. Beberapa camilan sudah terkumpul di sekitarnya siap untuk Keeva absen satu per satu. Kecuali susu dinginnya. Aldrich menggantinya dengan susu hangat yang ia pesan di resto lantai bawah.Aldrich paham sekali istrinya tidak bisa jauh-jauh dari laptop dan segala yang menyangkut Iris Drive. Ia pun segera beranjak menyusul ke atas ranjang untuk menemaninya.“Eh, kenapa? Kamu udah mau tidur, yaa? Aku pindah sofa aja,” ujar Keeva buru-buru menyingkirkan jajannya.“Nggak. Sini aja, aku temenin. Kita bisa sambil diskusi jadinya.”Keeva memperhatikan lama wajah suaminya. Satu tangannya menopang dagu, tertahan di atas paha. “Nggap apa-apa emang? Kamu nggak capek?”“Ng
...Bab 112Hampir satu jam konser seheila on 7 berlangsung, belum ada tanda-tanda Keeva minta pulang. Perempuan itu masih asyik menggoyang-goyangkan badannya mengikuti irama lagu sementara Aldrich posisinya tepat di belakang Keeva. Mata elangnya tidak bisa lengah memperhatikan sekitar.Meski sangat jarang penonton Sheila on 7 rusuh, tetap saja Aldrich merasa menonton konser di tengah lautan manusia akan sangat tidak aman untuk keselamatan istrinya dari tangan-tangan jahil penonton lain, terutama pria hidung belang yang mengambil kesempatan.“Keeva, ini udah satu album. Kamu bilang satu lagu doang, loh!” seru Aldrich tepat di samping telinga Keeva.Istrinya nyengir kuda. “Bentar lagi, yaa?”“Hujan, Keeva!” desis Aldrich. Mulai geram.Bukan sekedar marah karena Keeva tidak mau pulang, masalahnya sekarang hujan turun lagi. Dan baju mereka sudah basah oleh keringat yang bercampur gerimis.Aldrich menggunakan telapak tangannya untuk menutupi kepala Keeva.“Nggak usah, Al. Kita hujan-hu
...Bab 111Aldrich terkekeh keras. Mendapati wajah terpukul istrinya, ada rasa tidak tega sekaligus lucu.“Hei, di sebelah itu kamar Sania. Aku nggak tahu siapa laki-laki yang ada di dalam. Kamu juga denger, kan? Apa jangan-jangan…”Buru-buru Keeva berjinjit menutup mulut Aldrich, menghalangi hal memalukan yang akan keluar dari mulutnya. Keeva malu sekali, ya ampun! Hampir saja dia mau menceburkan diri ke laut demi meredam kesedihannya yang merasa dikhianati.“Jadi bener? Kamu ngira aku yang ada di kamar sebelah?” ulang Aldrich, menahan tawanya.Keeva spontan mencubit pinggang suaminya. “Y-ya lagian kamu. Ngilang dari siang, dan terakhir aku liat kamu sama Sania. Peluk-pelukan gitu. Jadi, nggak salah dong! Kalau aku nebak itu kamu?” seru Keeva menggebu-gebu. Lalu, mengerucutkan bibirnya.Melihat Keeva cemberut begitu, Aldrich tertawa kecil. “Oke, sorry. Aku emang anterin Sania tadi siang. Tapi cuma sampai ke petugas medis doang abis itu aku pergi. Nggak sengaja ketemu partner bisn
...Bab 110Keeva tersenyum kecut, berusaha meredam debaran jantungnya yang hampir berhenti berdetak. Tidak ingin melihat adegan menyakitkan itu lebih jauh, Keeva menyeret langkahnya menuju kamar.Pintu tertutup dengan suara bantingan kasar, lalu Keeva menguncinya. Sania memang adiknya, Keeva tahu itu. Namun, tetap saja mereka tidak lahir dari rahim yang sama dan dari penglihatan Keeva bisa tahu wanita itu punya rasa yang lebih pada suaminya.Hingga malam hari Keeva masih mengunci diri di kamarnya. Ia tak berminat sama sekali untuk berkumpul bersama yang lainnya untuk makan malam di tepi pantai. Bahkan mood belanja dan mengekplore Jogja hari itu lenyap sudah.Semua gara-gara jalang Sania!Bastian membawakan makan ke kamar, lalu camilan, Keeva menolaknya. Tak ada makanan atau minuman apa pun yang masuk dalam perut Keeva sejak siang. Isi kepalanya penuh oleh berbagai asumsi liar tentang Aldrich dan Sania yang sampai saat ini belum juga kembali.“Bisa gila aku lama-lama di sini,” gumam
...Bab 109Aldrich memasukkan sesuap nasi bercampur kuah gudeg yang kental ke dalam mulutnya. Mengunyahnya pelan. Ia meremas telapak tangan Keeva yang berada di atas meja.“Jangan memandang rendah dirimu, Keeva. Kamu bahkan jauh lebih bersinar dari yang kamu pikirkan.”Sudut bibir Aldrich membentuk senyuman menenangkan. Seperti biasa, Keeva mudah sekali tunduk pada senyum itu. Ia membalas tatapan Aldrich.“Asal kamu tau, sedari awal memang pernikahan kita di atas sebuah perjanjian, tetapi aku tidak pernah meminta menyembunyikan hubungan kita, Keeva. ”“Nggak sehebat itu, Al. Masih banyak wanita yang lebih pantas menyandang status istri kamu daripada aku.”Aldrich membiarkan tatapan mereka saling beradu, ia hanya ingin meyakinkan betapa Keeva cukup pantas bahkan lebih. “Keeva, semua orang punya kelebihan masing-masing. Begitu juga dengan kekurangannya. Aku nggak tahu definisi pantas menurut kamu itu apa. Tapi, merendahkan diri itu sama aja kamu nggak sayang pada dirimu sendiri.”Kee
...Bab 108Setelah mulai menguasai dirinya, Aldrich memutar tubuh Keeva menghadap penuh padanya dan membelakangi seorang wanita yang baru saja memanggil tadi. Keeva hanya bisa mengepalkan tangannya begitu merasakan lengan Aldrich melingkari pinggangnya dari belakang.“Ada apa?” tanya Aldrich, dingin. Menatap lurus pada sosok Sania yang sudah merusak momen ciuman mereka.Sania mengatupkan bibirnya rapat-rapat. “S-sorry, aku nggak tahu kamu sama …”“Iya, aku ajak istri aku.” Aldrich menarik pelan tubuh Keeva hingga tubuh mereka makin merapat. Keeva melotot. Namun, hanya bisa menurut saja saat Aldrich membenamkan wajahnya pada dada bidangnya.“Itu, aku cuma mau panggil kamu buat ikut bakar ikan di taman samping,” kata Sania, canggung. Pandangannya tak lepas dari sosok perempuan yang ada dalam pelukan Aldrich.“Kalau tidak ada hal penting, kamu bisa pergi.”Sania tak bergeming di tempatnya berdiri, memiringkan sedikit badannya mencoba mengintip siapa wanita yang Aldrich bilang istri it
“Mau apa kamu kesini?” tukas Bu Nadia. Suara ketus itu menyambar bahkan sebelum pintu terbuka sepenuhnya.Keeva membuka mulut, tapi belum sempat bersuara ibunya lebih dulu membuang muka. Tangannya tetap menahan gagang pintu. Tidak memberi akses Keeva untuk masuk.“Dasar nggak tahu terima kasih! Su
Selagi Aditya belum masuk kamar, Keeva buru-buru membuka amplop berisi laporan hasil lab.Ia menarik napas panjang sebelum benar-benar membuka lipatan kertas di tangannya. Detik berikutnya, mata Keeva memanas saat huruf demi huruf yang ia baca membeberkan fakta kalau obat yang ia konsumsi selama i
***“Sayang…”Suara derap langkah terburu-buru mengalihkan atensi Keeva, bibirnya menyunggingkan senyum miring. Aditya berlarian kecil memasuki kamar.“Aku telpon dari semalam kenapa nggak diangkat? Aku cariin kamu ke beberapa rumah sakit, loh!” ujar Aditya lagi dengan wajah tampak cemas.Suara itu
Bab 1 Perayaan dan Kehilangan“Bu Keeva, Anda sudah sadar?” tegur salah seorang perawat wanita dengan tatapan iba. Kali ini sudah keempat kalinya dia yang kebetulan merawat Keeva untuk alasan tragis yang sama, yaitu keguguran.Keeva terbangun dengan napas memburu hebat. Beberapa detik terdiam, Kee







