Share

Bab 5

Author: NH. Soetardjo
last update publish date: 2026-07-23 06:56:40

Ia berhenti. Menelan ludah.

"Aku juga masih menyukaimu, dan itu menyebalkan, Alexandria."

Alexa selalu ingat, Randu akan menyebut namanya dengan utuh saat marah. Bukan Al atau Alexa.

Lelaki itu melepaskan tangannya. Berdiri. Kemudian keluar dan berjalan kembali ke kursi depan.

"Besok kau tetap harus bekerja," katanya tanpa menoleh. "Aku juga akan tetap menjadi bos yang menyebalkan. Setidaknya sekarang ...."

Randu menoleh sekilas. Matanya sayu.

"Aku nggak perlu berpura-pura belum pernah kenal sebelumnya."

Alexa menatap lelaki itu. Hatinya berdesir. Untuk pertama kalinya hari ini, senyum kecil muncul di bibir gadis itu.

"Oke."

"Sekarang masuklah. Aku akan tunggu sampai lampu kamarmu menyala."

Alexa turun dari mobil. Ia melangkah ke kosnya. Begitu sampai di kamar, gadis itu menyalakan lampu.

Mobil Randu masih di bawah. Sampai sepuluh menit berikutnya sebelum melaju perlahan.

Alexa menatap kepergiannya. Di dada gadis itu, ada sesuatu yang lama terkubur dan mulai bangkit kembali.

Perasaan itu. Rasa yang dulu dia takut akui.

Bagaimana sekarang?

Alexa memegang dadanya. Detak jantung gadis itu terasa lebih kencang.

Mungkin ia benar-benar bodoh dulu, tapipi kali ini, Alexa tidak mau kehilangan Randu lagi.

Setelah masuk ke jalan yang lebih besar, Randu menepikan mobilnya. Ia menarik tuas rem tangan ke atas, lalu memejamkan mata. Tangan kanan lelaki itu menggenggam kemudi erat, sementara yang kanan menekan dada.

Kenapa kau melakukan ini padaku, Alexa? Mengapa harus muncul lagi ketika aku sudah hampir move on?

Kamu bahkan berhasil membuatku terguncang hanya dengan satu tatapan.

Randu membuka matanya. Di dashboard, ada foto kecil. Potret usang yang ia simpan sejak SMA. Gambar Alexa yang tersenyum di kantin. Rambutnya diikat ekor kuda. Pipinya seperti squishy.

Randu mengusap foto itu.

"Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku, Alexa," bisiknya. "Bedanya kali ini, kamu yang akan mengejarku."

Randu tertawa kecil. Pahit.

"Ah, mungkin aku yang sudah jatuh cinta lagi dari hari pertama," gumamnya.

Randu menurunkan tuas rem tangan, dan kembali melaju menembus malam Jakarta. Tanpa tahu, bahwa di dalam hatinya, perang antara cinta dan dendam baru saja dimulai.

***

Alexa nyaris tidak tidur semalaman. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Randu muncul. Tatapannya yang sayu di dalam mobil. Genggaman tangannya yang hangat. Juga kata-katanya yang jujur.

"Aku juga masih menyukaimu, dan itu menyebalkan."

Jam dua pagi, gadis itu masih berguling-guling di kasur tipis dalam kamar kosnya. Akhirnya ia menyerah dan duduk di tepi tempat tidur, kemudian membuka ponsel. Tanpa sadar, jarinya mengetik nama Randu di kolom pencarian I*******m.

Akunnya privat. Foto profilnya hanya siluet pria di bawah lampu jalan. Namun, bio-nya membuat jantung Alexa nyaris berhenti.

"Masih menunggu jawaban sejak 2019."

Itu tahun terakhir mereka bertemu. Saat Alexa mengatakan mereka tidak punya status, kemudian Randu menghilang.

Alexa meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menungguku? Selama ini?

Alexa mengingat kata-kata Randu di mobil.

"Aku tidak bisa melupakanmu."

Namun, di sisi lain lelaki itu juga bilang kalau dirinya masih marah dan akan membuat Alexa merasakan bagaimana sakitnya diabaikan.

Alexa menghela napas. Ini rumit.

Gadis itu akhirnya baru bisa tertidur menjelang subuh. Ketika alarm berbunyi pukul setengah enam, ia merasa baru tidur lima menit.

***

"Kamu kelihatan seperti zombie."

Alexa menoleh. Farel berdiri di samping mejanya sambil memegang segelas kopi.

Hari sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan gadis itu baru saja tiba di kantor setelah perjalanan macet yang melelahkan.

"Makasih," jawabnya sarkastik. "Itu komentar yang sangat membangun."

Farel tertawa. "Serius, kamu kurang tidur atau kenapa?"

"Aku nggak bisa tidur," ungkap Alexa dengan jujur. "Hari pertama terlalu melelahkan."

Farel mengangguk paham. "Wajar. Apalagi bos kita tuh ...." Ia menunjuk ke arah ruangan Randu dengan ibu jarinya. "Dia bukan tipe yang ramah di hari pertama."

Alexa tersenyum tipis. "Kamu sangat mengenal dia?"

"Ya, sudah dua tahun di sini. Dia awalnya dingin, tapi setelah kenal, sebenarnya ...."

"Farel." Suara dingin memotong dari belakang.

Alexa dan Farel serentak menoleh. Randu berdiri di belakang mereka sambil menggenggam secangkir kopi hitam. Wajahnya tanpa ekspresi.

Jasnya hari ini berwarna abu-abu, dasi biru tua, dan rambutnya disisir rapi sempurna. Ia terlihat seperti bos yang semestinya.

"Ada pekerjaan yang harus diselesaikan," kata Randu dingin. "Bukan bergosip di meja orang."

Farel langsung berdiri tegak. "Maaf, Pak. Saya cuma ...."

"Alexa." Randu mengalihkan tatapan pada gadis itu dengan tajam. "Ikut saya."

Alexa bangkit dengan jantung berdebar. Ia mengikuti Randu ke ruangannya, meninggalkan Farel yang melongo kebingungan.

Begitu pintu tertutup, Randu berbalik. Ekspresinya berubah. Tidak lagi dingin, tapi lelah. Sepertinya lelaki itu juga tidak tidur semalaman.

"Kau tidak menjawab pesanku," katanya pelan.

Alexa bingung. "Pesan? Kamu kirim chat?"

Randu mengeluarkan ponselnya. "Aku mengirim pesan tadi malam. Setelah sampai rumah."

Alexa membuka ponselnya. Benar. Ada satu pesan dari nomor tak dikenal. Ia terlalu lelah tadi malam untuk memeriksa handphone.

Gadis itu membaca perlahan.

"Besok kita bicara. Datang ke kafe di seberang kantor, jam 12."

"Ma-maaf, aku nggak lihat."

Randu menghela napas. "Duduk."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 28

    Awan putih membentang luas di balik jendela pesawat Boeing 777 yang membelah langit utara. Di ketinggian puluhan ribu kaki, Alexandria Nirmala menatap hamparan samudera biru yang perlahan berganti menjadi daratan semenanjung Korea.Pengalaman pertama terbang ke luar negeri sejujurnya menghadirkan sensasi takjub yang sulit dilukiskan. Selama ini, keindahan musim gugur, jalanan bersih Seoul, dan budaya Negeri Ginseng, hanya bisa ia nikmati dari balik layar ponsel sewaktu mengalihkan sengatan stres usai bekerja. Kini, takdir melemparkannya langsung ke negeri yang sangat terkenal itu.Namun, di balik decak kagumnya, ada rasa hampa yang menghimpit dada."Permisi, mau saya bantu naikkan tasnya ke bagasi atas?"Suara ramah berbahasa Indonesia dari arah samping membuyarkan lamunan wanita itu. Pria muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, dengan kacamata berbingkai hitam dan senyum yang hangat, berdiri di samping deretan kursinya. Lelaki itu baru saja kembali dari toilet dan melihat Alexa

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 27

    Pukul tujuh malam, rapat penting Randu dengan para investor dari Singapura baru saja selesai di ruang konferensi lantai lima. Lelaki itu menjabat tangan para mitra bisnisnya dengan ramah, sebelum mereka meninggalkan ruangan. Sambil melangkah kembali menuju ruang kerjanya untuk mengambil jas dan kunci mobil, Randu merogoh ponsel dari saku celana. Ia ingin mengecek keadaan Alexa di apartemen. Randu membuka aplikasi pemantau smart home dan CCTV apartemennya. Namun, layar ponselnya hanya menampilkan simbol pemuatan data yang berputar tanpa henti, diikuti oleh pemberitahuan merah. Connection Offline - No Signal. Alis Randu menyipit kencang. Jaringan internet di apartemennya sangat jarang mengalami gangguan karena menggunakan jalur serat optik ganda. Perasaan tidak enak seketika merayap di dadanya. Sebuah firasat dingin yang sangat mirip dengan kejadian beberapa hari lalu. Randu buru-buru memutar nomor telepon Pak Danu. "Halo, Pak Randu?" "Pak Danu! Tadi jam berapa mengantar Alexa ke

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 26

    Siang itu, matahari merayap di atas langit Jakarta. Udara terang benderang menyinari sebuah restoran mewah bergaya privat di kawasan Senopati. Alexa duduk berhadapan dengan Randu. Di atas meja tertata potongan daging wagyu yang dipanggang sempurna, salad segar, dan dua gelas jus buah. Alexa mengenakan gaun bahan katun berwarna krem lembut. Pakaian yang dibelikan Randu di mal malam itu. Wajahnya dipoles riasan tipis, memancarkan kecantikan yang amat alami. Ada binar hangat di matanya yang tak pernah dilihat Randu sebelumnya. "Kenapa mendadak mengajak makan di sini, Al?" tanya Randu sambil memotong daging di piringnya, senyum tipis terukir di bibir lelaki itu. "Biasanya kamu paling protes kalau diajak ke restoran sekelas ini." Alexa tertawa pelan. Suara tawanya terdengar amat renyah dan indah. "Sekali-kali, Ran. Lagipula, hari ini aku yang akan bayar." Randu menghentikan gerakan sumpitnya, mengangkat alis. "Kamu?" "Iya." Alexa membusungkan dada dengan jenaka. "Aku kan, sudah

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 25

    Seretan sepatu laras polisi di atas lantai semen ruko kawasan industri Jakarta Barat itu, memecah kebisingan mesin server yang meraung. Bau tembakau murah, mi instan basi, dan hawa pengap seketika terdesak keluar saat pintu besi didobrak paksa.Deden tidak sempat melarikan diri. Pria itu masih duduk di depan tiga layar komputer yang berkedip-kedip menayangkan baris kode peretas, dengan cangkir kopi hitam di genggamannya."Jangan bergerak! Angkat tangan!"Dua anggota polisi berpakaian preman langsung memiting kedua tangan Deden ke belakang, menghantamkan dadanya ke atas meja hingga deretan cangkir plastik terguling. Dua peretas bayaran yang duduk di sampingnya hanya bisa mengangkat tangan kaku. Wajah mereka memucat pasi sewaktu personel kepolisian mengamankan barang bukti perangkat keras dan penyimpanan data.Deden menggeram, mencoba meronta saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangannya dengan bunyi klik yang dingin. "Apa-apaan ini? Saya tidak salah apa-apa!"Bima melangkah m

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 24

    Randu seketika menegakkan tubuhnya, raut santainya menghilang dalam sekejap. "Ada apa, Rio?" "Platform novel aplikasi penerbitan terbesar kita diserang hacker sejak sepuluh menit yang lalu!" Alexa ikut berdiri. Jantungnya berdegup kencang melihat kepanikan di wajah orang kepercayaan Randu itu. "Apa maksudmu diserang?" cecar Randu sambil melangkah cepat menuju ruang kerjanya diikuti oleh Alexa dan Rio. "Tampilan utama aplikasi dan website teracak total, Pak! Seluruh banner cerita populer berubah menjadi tautan situs judi online dan konten pornografi!" terang Rio sambil mengoperasikan tablet di tangannya dengan jemari gemetaran. "Sistem pembayaran koin kita diblokir, dan puluhan ribu data pengguna mengalami kerusakan instruksi!" Ruang kerja Randu seketika riuh. Di layar monitor besar milik lelaki itu, tampilan aplikasi yang biasanya menampilkan karya-karya cerita terbaik, kini bertransformasi menjadi kekacauan visual yang mengerikan. Pemberitahuan di media sosial meledak.

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 23

    "Ini uang untuk membayar minum dan ongkos pulangmu hari ini," ucap Randu dengan suara bariton yang begitu dingin dan mematikan. "Dengarkan aku baik-baik, Nyonya Ratih." Irin tertegun menatap Randu. "Mulai detik ini, jika kamu berani menampakkan wajah lagi di depan Alexa, atau mencoba memerasnya dengan alasan hubungan darah," Randu memajukan tubuhnya, menatap Irin dengan iris mata kelam yang penuh intimidasi, "aku memastikan pengacara terbaik akan menyeretmu ke jalur hukum, atas tuduhan penelantaran anak di bawah umur, dan pencemaran nama baik. Percayalah, aku punya uang dan kekuasaan yang cukup untuk membuat sisa hidupmu makin menderita di dalam penjara." Wajah Irin seketika memucat pasi. Ancaman pangeran kaya di depannya bukan gertakan sambal semata. Udara di sekeliling Randu terasa begitu menekan, hingga ibu kandung Alexa itu bahkan tidak sanggup membantah sepatah kata pun. Randu berdiri, lalu menarik tangan Alexa lembut untuk ikut pergi bersamanya. "Ayo pergi, Al," bisik R

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status