Share

Bab 2

Author: NH. Soetardjo
last update publish date: 2026-07-23 05:42:16

"Kamu yakin nggak kenal Pak Randu?" Sari berbisik. "Dia aneh banget tadi. Biasanya kalau terima karyawan baru selalu ramah."

Alexandria menggeleng. "Mung-mungkin dia sedang sibuk."

Padahal di dalam hatinya, Alexa tahu itu bukan alasan.

Dulu, di SMA.

"Hei! Alexa! Tunggu!"

Alexa baru saja turun dari bus ketika suara itu memanggilnya. Ia menoleh. Seorang siswa baru dengan rambut acak-acakan berlari ke arahnya. Ransel birunya terayun-ayun di punggung. Matanya bersinar seperti menemukan harta karun.

"Kamu siapa?" tanya Alexa bingung.

Cowok itu berhenti tepat di depannya, dengan napas tersengal. Ia lebih tinggi dari kebanyakan murid laki-laki. Dengan kulit cerah dan senyum yang harus Alexa akui, sangat indah.

"Aku Randu. Murid baru, pindahan dari Singapura." Ia mengulurkan tangan. "Aku suka sama kamu sejak pertama kali lihat di halte tadi. Mau jadi pacarku?"

Alexa tercengang. "What?"

"Aku serius." Randu menatapnya dengan mata jujur. "Aku belum kenal siapa pun di sini, tapi udah yakin kalau suka sama kamu."

Alexa mendengkus. "Lo gila, ya?"

Gadis itu berbalik dan berjalan cepat ke arah kelas. Namun, Randu mengikutinya. Sepanjang jalan ia terus bicara tentang dirinya. Orang tua yang baru bercerai, juga betapa bosannya berada di Singapura.

"Kamu diam terus, tapi nggak apa-apa. I don't care," kata Randu sambil tersenyum. "Yang penting, aku nggak dilarang deket sama kamu."

"Kamu aneh," gumam Alexa, tapi bibirnya tidak bisa menahan senyum.

Sejak hari itu, Randu menjadi bayangannya.

Alexandria memejamkan mata di meja barunya. Kenangan itu terasa begitu dekat. Padahal sudah tujuh tahun berlalu.

Ia membuka laptop yang sudah disediakan. Layar menyala. Ada 20 chat dalam grup tim yang terlihat di depannya. Namun, satu pesan pribadi menarik perhatian gadis itu.

Dari Randu Daneswara.

"Proposal desain bukan buat klien biasa. Itu untukku. Buktikan kalau kamu bisa bertahan di sini."

Alexa menatap layar dengan hati berdebar. Kenapa ia melakukan ini? Kenapa Randu bersikap seolah aku musuhnya?

Alexa ingat hari terakhir mereka bertemu. Tepat sehari sebelum UN. Ruang kelas kosong. Hanya ada gadis itu dan Randu di kursi pojok kanan belakang.

"Ran, aku harus bilang sesuatu." Alexa menunduk. "Kita selama ini nggak punya status apa pun, kan?"

Randu membeku. "Apa maksudmu?"

"A-aku ...." Alexa menarik napas. "Aku ingin fokus ujian, dan nggak mau kamu terus menempel kayak gini. Aku pikir ki-kita nggak bisa terus begini."

"Jadi maksudmu ...." Suara Randu serak. "Kita berhenti? Padahal nggak pernah mulai?"

Alexa tidak bisa menatap matanya. "Maaf. Nanti kalau jodoh, kita juga pasti bakal ketemu lagi."

Randu diam. Sangat lama. Lalu ia berkata, "Oke."

Suaranya datar. Dingin. Sama seperti hari ini. Sejak saat itu, ia menghilang.

Alexa menggigit jarinya.

"Dia belum memaafkanku. Tentu saja. Bagaimana bisa? Aku menyakiti, bahkan mengusirnya," gumam Alexa.

"Bukannya dia juga pergi tanpa pamit dan nggak datang ke perpisahan?Aku bahkan cari ke mana-mana ...."

Air mata mengancam, tapi Alexa menahannya. Ini kantor dan ia profesional. Tidak boleh menangis.

Alexa membuka program desain dan mulai bekerja. Jari-jarinya bergerak cepat di atas tablet grafis. Membuat sketsa kasar, tapi pikirannya melayang.

Mengapa Randu bisa ada di sini? Kenapa harus lelaki itu yang jadi anak pemilik perusahaan? Yang lebih penting, bisa nggak jantungku jangan berdegup seperti dulu?

"Alexa?"

Alexa terkejut. Ia menoleh. Itu Farel, rekan satu tim yang belum lama berkenalan dengannya. Lelaki bermata bulat itu tersenyum, dan berdiri di samping mejanya.

"Are you oke? Tadi aku lihat saat keluar dari ruangan Pak Randu, wajahmu pucat banget." Farel mencondongkan badan. "Jangan-jangan dia marahin kamu, ya?"

Alexandria tertawa pahit. "Enggak. Aku cuma kaget."

"Kaget kenapa? Emangnya, kamu udah pernah kenal dia sebelumnya?"

Pertanyaan itu seperti silet. Alexa menatap Farel. Lelaki itu ramah. Wajahnya bersahabat, dan tidak ada maksud jahat dalam sorot matanya.

"Nggak," jawab gadis itu akhirnya. "Aku baru kenal dia."

Farel mengangkat bahu. "Ya, udah. Oh, jangan lupa hati-hati sama dia, ya. Kata orang, Pak Randu tuh dingin banget sama karyawan baru yang nggak disuka. Mungkin karena kabarnya dulu waktu SMA, dia pernah dekat sama cewek, terus diputusin. Jadi, sekarang ...."

"Farel," potong Alexa cepat. "Aku harus selesaikan proposal ini."

Lelaki itu tersenyum. "Oke. Nanti kalau kamu butuh bantuan, aku di meja 12."

Farel pergi. Alexa menatap layar laptopnya. Di sudut kanan atas, ada foto kecil semua karyawan dengan Randu yang berdiri di tengah. Ekspresinya paling serius.

Kenapa kamu bersikap seperti orang asing, Randu?

Kenapa membuatku merasa seperti orang yang bersalah?

Yang lebih menyakitkan, mengapa setelah semua ini, aku masih merindukan senyummu?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 7

    Ia tidak menoleh. Enggan melihat Randu. Air sudah menggenang di matanya.Randu punya tunangan, tapi dia tidak pernah bilang.Sampai di meja kerjanya, Alexa langsung duduk diam. Laptop terbuka di depannya, tapi gadis itu tidak melihat apa-apa. Hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya."Aku Wina, tunangan Randu.""Kau baik-baik saja?"Alexandria menoleh. Farel berdiri di sampingnya dengan ekspresi khawatir."Kau pucat," lanjut Farel. "Apa kau sakit?""Aku baik-baik saja." Suara Alexa datar. "Cuma sedikit pusing.""Mau aku ambilkan air minum?""Nggak usah.""Siapa cewek tadi?"Alexa membeku. "Cewek yang mana?""Di kafe. Wanita berbaju merah." Farel menarik kursi di samping Alexa, lalu duduk dengan nyaman. "Aku lihat dari kejauhan. Dia kayak kenal dekat sama Pak Randu.""Ya." Alexa menelan ludah karena tidak menduga Farel melihat adegan di kafe. "Dia tunangannya.""Tunangan?" Farel terkejut. "Tunggu. Pak Randu tunangan? Aku nggak pernah dengar!"Alexa menatapnya. "Kamu nggak tahu?""

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 6

    Alexa menarik kursi di depannya. Randu berjalan ke balik meja, tapi tidak duduk. Dia bersandar pada dinding di belakangnya."Aku sudah pikirkan semuanya semalaman," kata Randu. "Tentang kita."Kita. Kata itu terasa berat dan ringan sekaligus."Lalu?""Nggak tahu harus berbuat apa." Randu mengusap wajahnya lelah. "Aku masih marah, tapi mana bisa bisa juga berpura-pura nggak peduli."Alexandria menunduk. "Aku juga.""Kau juga apa?""Aku juga nggak bisa berpura-pura." Ia mengangkat kepala. "Aku menyesali semuanya, Randu. Setiap hari. Aku mencari tahu kabarmu ke teman-teman, tapi nggak ada yang tahu ke mana kamu pergi.""Karena aku pergi ke luar," jawab Randu datar. "Papa mengirimku ke Harvard. Katanya aku perlu menjauh dari gangguan. Kau tahu siapa yang dimaksud?"Alexa menelan ludah. "Aku."Randu tertawa pahit. "Papa melihat aku hancur setelah hari itu. Dia bilang kamu nggak layak untukku karena selama ini hanya main-main. Sampai sekarang aku nggak percaya.""Aku nggak main-main, Randu.

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 5

    Ia berhenti. Menelan ludah. "Aku juga masih menyukaimu, dan itu menyebalkan, Alexandria."Alexa selalu ingat, Randu akan menyebut namanya dengan utuh saat marah. Bukan Al atau Alexa. Lelaki itu melepaskan tangannya. Berdiri. Kemudian keluar dan berjalan kembali ke kursi depan."Besok kau tetap harus bekerja," katanya tanpa menoleh. "Aku juga akan tetap menjadi bos yang menyebalkan. Setidaknya sekarang ...." Randu menoleh sekilas. Matanya sayu. "Aku nggak perlu berpura-pura belum pernah kenal sebelumnya."Alexa menatap lelaki itu. Hatinya berdesir. Untuk pertama kalinya hari ini, senyum kecil muncul di bibir gadis itu."Oke.""Sekarang masuklah. Aku akan tunggu sampai lampu kamarmu menyala."Alexa turun dari mobil. Ia melangkah ke kosnya. Begitu sampai di kamar, gadis itu menyalakan lampu.Mobil Randu masih di bawah. Sampai sepuluh menit berikutnya sebelum melaju perlahan.Alexa menatap kepergiannya. Di dada gadis itu, ada sesuatu yang lama terkubur dan mulai bangkit kembali.Peras

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 4

    "A-aku baru mau pulang," jawab Alexa cepat, menutup map biru itu, dan memasukkannya ke dalam tas."Ini sudah malam.""Masih jam tujuh."Randu melangkah mendekat. "Kau naik apa?""Bus.""Bus terakhir jam delapan." Randu berhenti di depan mejanya. "Kau tahu itu?"Alexa mengangkat dagu. "Aku tahu.""Bagaimana kalau kau ketinggalan bus?""Ada ojek online."Randu mendengkus. "Malam-malam naik ojek? Kau tidak takut?"Kenapa ia harus peduli? Alexa menahan diri untuk tidak berteriak. Bukannya tadi Randu bilang ingin mengabaikanku?"Aku sudah dewasa, Ran." Suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan. "Bisa menjaga diri sendiri."Rahang Randu seketika kaku. "Kamu nggak berubah sama sekali, ya. Tetap keras kepala.""Kamu sendiri sama aja. Tetap suka mengatur orang lain."Mereka saling tatap. Udara di antara keduanya terasa panas. Alexa bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Juga napas Randu yang sedikit memburu.Kemudian lelaki itu tertawa. Pelan dan pahit."Benar," katanya. "Aku memang

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 3

    Alexa mengusap matanya dengan punggung tangan. Lalu kembali menatap layar.Hari pertama kerja. Bosnya adalah mantan ....Ah, bukan! Mantan apa memangnya? Ia dan Randu tidak pernah pacaran. Namun, perasaan itu, yang tidak pernah ia akui selama SMA, ternyata masih ada. Bahwa Randu adalah orang yang membuatnya merasa aman, diperhatikan, dan dicintai.Alexa baru menyadarinya sekarang. Saat Randu menatapnya dengan dingin.***Jam menunjukkan pukul 15.45. Alexa menyelesaikan proposal tepat waktu. Ia menyimpan file, menekan tombol kirim, dan menunggu.Lima menit kemudian, pintu ruangan Randu terbuka."Alexandria! Masuk!"Suara itu lagi. Dingin dan memerintah.Alexa bangkit. Dengan hati berdebar ia melangkah ke ruangan itu. Begitu pintu tertutup, Randu menatapnya dari balik meja."Proposalmu bagus," katanya. "Aku tidak menyangka."Alexa membeku. "Apa maksudnya?""Aku pikir kamu akan menyerah, tapi ternyata tidak." Randu berdiri.Lelaki itu berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Tentu saja senga

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 2

    "Kamu yakin nggak kenal Pak Randu?" Sari berbisik. "Dia aneh banget tadi. Biasanya kalau terima karyawan baru selalu ramah."Alexandria menggeleng. "Mung-mungkin dia sedang sibuk."Padahal di dalam hatinya, Alexa tahu itu bukan alasan. Dulu, di SMA. "Hei! Alexa! Tunggu!"Alexa baru saja turun dari bus ketika suara itu memanggilnya. Ia menoleh. Seorang siswa baru dengan rambut acak-acakan berlari ke arahnya. Ransel birunya terayun-ayun di punggung. Matanya bersinar seperti menemukan harta karun."Kamu siapa?" tanya Alexa bingung.Cowok itu berhenti tepat di depannya, dengan napas tersengal. Ia lebih tinggi dari kebanyakan murid laki-laki. Dengan kulit cerah dan senyum yang harus Alexa akui, sangat indah."Aku Randu. Murid baru, pindahan dari Singapura." Ia mengulurkan tangan. "Aku suka sama kamu sejak pertama kali lihat di halte tadi. Mau jadi pacarku?"Alexa tercengang. "What?""Aku serius." Randu menatapnya dengan mata jujur. "Aku belum kenal siapa pun di sini, tapi udah yakin kala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status