Masuk"Kamu yakin nggak kenal Pak Randu?" Sari berbisik. "Dia aneh banget tadi. Biasanya kalau terima karyawan baru selalu ramah."
Alexandria menggeleng. "Mung-mungkin dia sedang sibuk." Padahal di dalam hatinya, Alexa tahu itu bukan alasan. Dulu, di SMA. "Hei! Alexa! Tunggu!" Alexa baru saja turun dari bus ketika suara itu memanggilnya. Ia menoleh. Seorang siswa baru dengan rambut acak-acakan berlari ke arahnya. Ransel birunya terayun-ayun di punggung. Matanya bersinar seperti menemukan harta karun. "Kamu siapa?" tanya Alexa bingung. Cowok itu berhenti tepat di depannya, dengan napas tersengal. Ia lebih tinggi dari kebanyakan murid laki-laki. Dengan kulit cerah dan senyum yang harus Alexa akui, sangat indah. "Aku Randu. Murid baru, pindahan dari Singapura." Ia mengulurkan tangan. "Aku suka sama kamu sejak pertama kali lihat di halte tadi. Mau jadi pacarku?" Alexa tercengang. "What?" "Aku serius." Randu menatapnya dengan mata jujur. "Aku belum kenal siapa pun di sini, tapi udah yakin kalau suka sama kamu." Alexa mendengkus. "Lo gila, ya?" Gadis itu berbalik dan berjalan cepat ke arah kelas. Namun, Randu mengikutinya. Sepanjang jalan ia terus bicara tentang dirinya. Orang tua yang baru bercerai, juga betapa bosannya berada di Singapura. "Kamu diam terus, tapi nggak apa-apa. I don't care," kata Randu sambil tersenyum. "Yang penting, aku nggak dilarang deket sama kamu." "Kamu aneh," gumam Alexa, tapi bibirnya tidak bisa menahan senyum. Sejak hari itu, Randu menjadi bayangannya. Alexandria memejamkan mata di meja barunya. Kenangan itu terasa begitu dekat. Padahal sudah tujuh tahun berlalu. Ia membuka laptop yang sudah disediakan. Layar menyala. Ada 20 chat dalam grup tim yang terlihat di depannya. Namun, satu pesan pribadi menarik perhatian gadis itu. Dari Randu Daneswara. "Proposal desain bukan buat klien biasa. Itu untukku. Buktikan kalau kamu bisa bertahan di sini." Alexa menatap layar dengan hati berdebar. Kenapa ia melakukan ini? Kenapa Randu bersikap seolah aku musuhnya? Alexa ingat hari terakhir mereka bertemu. Tepat sehari sebelum UN. Ruang kelas kosong. Hanya ada gadis itu dan Randu di kursi pojok kanan belakang. "Ran, aku harus bilang sesuatu." Alexa menunduk. "Kita selama ini nggak punya status apa pun, kan?" Randu membeku. "Apa maksudmu?" "A-aku ...." Alexa menarik napas. "Aku ingin fokus ujian, dan nggak mau kamu terus menempel kayak gini. Aku pikir ki-kita nggak bisa terus begini." "Jadi maksudmu ...." Suara Randu serak. "Kita berhenti? Padahal nggak pernah mulai?" Alexa tidak bisa menatap matanya. "Maaf. Nanti kalau jodoh, kita juga pasti bakal ketemu lagi." Randu diam. Sangat lama. Lalu ia berkata, "Oke." Suaranya datar. Dingin. Sama seperti hari ini. Sejak saat itu, ia menghilang. Alexa menggigit jarinya. "Dia belum memaafkanku. Tentu saja. Bagaimana bisa? Aku menyakiti, bahkan mengusirnya," gumam Alexa. "Bukannya dia juga pergi tanpa pamit dan nggak datang ke perpisahan?Aku bahkan cari ke mana-mana ...." Air mata mengancam, tapi Alexa menahannya. Ini kantor dan ia profesional. Tidak boleh menangis. Alexa membuka program desain dan mulai bekerja. Jari-jarinya bergerak cepat di atas tablet grafis. Membuat sketsa kasar, tapi pikirannya melayang. Mengapa Randu bisa ada di sini? Kenapa harus lelaki itu yang jadi anak pemilik perusahaan? Yang lebih penting, bisa nggak jantungku jangan berdegup seperti dulu? "Alexa?" Alexa terkejut. Ia menoleh. Itu Farel, rekan satu tim yang belum lama berkenalan dengannya. Lelaki bermata bulat itu tersenyum, dan berdiri di samping mejanya. "Are you oke? Tadi aku lihat saat keluar dari ruangan Pak Randu, wajahmu pucat banget." Farel mencondongkan badan. "Jangan-jangan dia marahin kamu, ya?" Alexandria tertawa pahit. "Enggak. Aku cuma kaget." "Kaget kenapa? Emangnya, kamu udah pernah kenal dia sebelumnya?" Pertanyaan itu seperti silet. Alexa menatap Farel. Lelaki itu ramah. Wajahnya bersahabat, dan tidak ada maksud jahat dalam sorot matanya. "Nggak," jawab gadis itu akhirnya. "Aku baru kenal dia." Farel mengangkat bahu. "Ya, udah. Oh, jangan lupa hati-hati sama dia, ya. Kata orang, Pak Randu tuh dingin banget sama karyawan baru yang nggak disuka. Mungkin karena kabarnya dulu waktu SMA, dia pernah dekat sama cewek, terus diputusin. Jadi, sekarang ...." "Farel," potong Alexa cepat. "Aku harus selesaikan proposal ini." Lelaki itu tersenyum. "Oke. Nanti kalau kamu butuh bantuan, aku di meja 12." Farel pergi. Alexa menatap layar laptopnya. Di sudut kanan atas, ada foto kecil semua karyawan dengan Randu yang berdiri di tengah. Ekspresinya paling serius. Kenapa kamu bersikap seperti orang asing, Randu? Kenapa membuatku merasa seperti orang yang bersalah? Yang lebih menyakitkan, mengapa setelah semua ini, aku masih merindukan senyummu?Awan putih membentang luas di balik jendela pesawat Boeing 777 yang membelah langit utara. Di ketinggian puluhan ribu kaki, Alexandria Nirmala menatap hamparan samudera biru yang perlahan berganti menjadi daratan semenanjung Korea.Pengalaman pertama terbang ke luar negeri sejujurnya menghadirkan sensasi takjub yang sulit dilukiskan. Selama ini, keindahan musim gugur, jalanan bersih Seoul, dan budaya Negeri Ginseng, hanya bisa ia nikmati dari balik layar ponsel sewaktu mengalihkan sengatan stres usai bekerja. Kini, takdir melemparkannya langsung ke negeri yang sangat terkenal itu.Namun, di balik decak kagumnya, ada rasa hampa yang menghimpit dada."Permisi, mau saya bantu naikkan tasnya ke bagasi atas?"Suara ramah berbahasa Indonesia dari arah samping membuyarkan lamunan wanita itu. Pria muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, dengan kacamata berbingkai hitam dan senyum yang hangat, berdiri di samping deretan kursinya. Lelaki itu baru saja kembali dari toilet dan melihat Alexa
Pukul tujuh malam, rapat penting Randu dengan para investor dari Singapura baru saja selesai di ruang konferensi lantai lima. Lelaki itu menjabat tangan para mitra bisnisnya dengan ramah, sebelum mereka meninggalkan ruangan. Sambil melangkah kembali menuju ruang kerjanya untuk mengambil jas dan kunci mobil, Randu merogoh ponsel dari saku celana. Ia ingin mengecek keadaan Alexa di apartemen. Randu membuka aplikasi pemantau smart home dan CCTV apartemennya. Namun, layar ponselnya hanya menampilkan simbol pemuatan data yang berputar tanpa henti, diikuti oleh pemberitahuan merah. Connection Offline - No Signal. Alis Randu menyipit kencang. Jaringan internet di apartemennya sangat jarang mengalami gangguan karena menggunakan jalur serat optik ganda. Perasaan tidak enak seketika merayap di dadanya. Sebuah firasat dingin yang sangat mirip dengan kejadian beberapa hari lalu. Randu buru-buru memutar nomor telepon Pak Danu. "Halo, Pak Randu?" "Pak Danu! Tadi jam berapa mengantar Alexa ke
Siang itu, matahari merayap di atas langit Jakarta. Udara terang benderang menyinari sebuah restoran mewah bergaya privat di kawasan Senopati. Alexa duduk berhadapan dengan Randu. Di atas meja tertata potongan daging wagyu yang dipanggang sempurna, salad segar, dan dua gelas jus buah. Alexa mengenakan gaun bahan katun berwarna krem lembut. Pakaian yang dibelikan Randu di mal malam itu. Wajahnya dipoles riasan tipis, memancarkan kecantikan yang amat alami. Ada binar hangat di matanya yang tak pernah dilihat Randu sebelumnya. "Kenapa mendadak mengajak makan di sini, Al?" tanya Randu sambil memotong daging di piringnya, senyum tipis terukir di bibir lelaki itu. "Biasanya kamu paling protes kalau diajak ke restoran sekelas ini." Alexa tertawa pelan. Suara tawanya terdengar amat renyah dan indah. "Sekali-kali, Ran. Lagipula, hari ini aku yang akan bayar." Randu menghentikan gerakan sumpitnya, mengangkat alis. "Kamu?" "Iya." Alexa membusungkan dada dengan jenaka. "Aku kan, sudah
Seretan sepatu laras polisi di atas lantai semen ruko kawasan industri Jakarta Barat itu, memecah kebisingan mesin server yang meraung. Bau tembakau murah, mi instan basi, dan hawa pengap seketika terdesak keluar saat pintu besi didobrak paksa.Deden tidak sempat melarikan diri. Pria itu masih duduk di depan tiga layar komputer yang berkedip-kedip menayangkan baris kode peretas, dengan cangkir kopi hitam di genggamannya."Jangan bergerak! Angkat tangan!"Dua anggota polisi berpakaian preman langsung memiting kedua tangan Deden ke belakang, menghantamkan dadanya ke atas meja hingga deretan cangkir plastik terguling. Dua peretas bayaran yang duduk di sampingnya hanya bisa mengangkat tangan kaku. Wajah mereka memucat pasi sewaktu personel kepolisian mengamankan barang bukti perangkat keras dan penyimpanan data.Deden menggeram, mencoba meronta saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangannya dengan bunyi klik yang dingin. "Apa-apaan ini? Saya tidak salah apa-apa!"Bima melangkah m
Randu seketika menegakkan tubuhnya, raut santainya menghilang dalam sekejap. "Ada apa, Rio?" "Platform novel aplikasi penerbitan terbesar kita diserang hacker sejak sepuluh menit yang lalu!" Alexa ikut berdiri. Jantungnya berdegup kencang melihat kepanikan di wajah orang kepercayaan Randu itu. "Apa maksudmu diserang?" cecar Randu sambil melangkah cepat menuju ruang kerjanya diikuti oleh Alexa dan Rio. "Tampilan utama aplikasi dan website teracak total, Pak! Seluruh banner cerita populer berubah menjadi tautan situs judi online dan konten pornografi!" terang Rio sambil mengoperasikan tablet di tangannya dengan jemari gemetaran. "Sistem pembayaran koin kita diblokir, dan puluhan ribu data pengguna mengalami kerusakan instruksi!" Ruang kerja Randu seketika riuh. Di layar monitor besar milik lelaki itu, tampilan aplikasi yang biasanya menampilkan karya-karya cerita terbaik, kini bertransformasi menjadi kekacauan visual yang mengerikan. Pemberitahuan di media sosial meledak.
"Ini uang untuk membayar minum dan ongkos pulangmu hari ini," ucap Randu dengan suara bariton yang begitu dingin dan mematikan. "Dengarkan aku baik-baik, Nyonya Ratih." Irin tertegun menatap Randu. "Mulai detik ini, jika kamu berani menampakkan wajah lagi di depan Alexa, atau mencoba memerasnya dengan alasan hubungan darah," Randu memajukan tubuhnya, menatap Irin dengan iris mata kelam yang penuh intimidasi, "aku memastikan pengacara terbaik akan menyeretmu ke jalur hukum, atas tuduhan penelantaran anak di bawah umur, dan pencemaran nama baik. Percayalah, aku punya uang dan kekuasaan yang cukup untuk membuat sisa hidupmu makin menderita di dalam penjara." Wajah Irin seketika memucat pasi. Ancaman pangeran kaya di depannya bukan gertakan sambal semata. Udara di sekeliling Randu terasa begitu menekan, hingga ibu kandung Alexa itu bahkan tidak sanggup membantah sepatah kata pun. Randu berdiri, lalu menarik tangan Alexa lembut untuk ikut pergi bersamanya. "Ayo pergi, Al," bisik R







