MasukIa tidak menoleh. Enggan melihat Randu. Air sudah menggenang di matanya.
Randu punya tunangan, tapi dia tidak pernah bilang. Sampai di meja kerjanya, Alexa langsung duduk diam. Laptop terbuka di depannya, tapi gadis itu tidak melihat apa-apa. Hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya. "Aku Wina, tunangan Randu." "Kau baik-baik saja?" Alexandria menoleh. Farel berdiri di sampingnya dengan ekspresi khawatir. "Kau pucat," lanjut Farel. "Apa kau sakit?" "Aku baik-baik saja." Suara Alexa datar. "Cuma sedikit pusing." "Mau aku ambilkan air minum?" "Nggak usah." "Siapa cewek tadi?" Alexa membeku. "Cewek yang mana?" "Di kafe. Wanita berbaju merah." Farel menarik kursi di samping Alexa, lalu duduk dengan nyaman. "Aku lihat dari kejauhan. Dia kayak kenal dekat sama Pak Randu." "Ya." Alexa menelan ludah karena tidak menduga Farel melihat adegan di kafe. "Dia tunangannya." "Tunangan?" Farel terkejut. "Tunggu. Pak Randu tunangan? Aku nggak pernah dengar!" Alexa menatapnya. "Kamu nggak tahu?" "Nggak! Aku di sini dua tahun, nggak pernah ada yang bilang dia punya tunangan. Pak Randu mana pernah bawa cewek ke acara kantor? Foto pun nihil. Wartawan bahkan nggak ada yang dapat bocoran gosip." Alexa bingung. Kenapa Wina bilang tunangan, tapi semua orang di kantor tidak tahu? "Jangan-jangan ...." Farel berpikir keras. "Itu cewek yang dulu pernah datang setahun lalu, katanya saudara dari mitra bisnis. Ngga pernah ada pengumuman resmi, sih. Aneh." Alexa tidak menanggapi. Pikirannya kacau. Randu merahasiakan tunangannya? Kenapa? "Farel, aku mau ke toilet sebentar," ujarnya pelan. Gadis itu berdiri dan berjalan ke ujung ruangan, tapi bukan toilet tujuannya. Ia berbelok ke tangga darurat, lalu duduk di ujung paling atas. Membiarkan air mata jatuh. Randu berbohong. Ia bilang ingin mulai dari nol, tapi justru menyembunyikan tunangannya. Mungkin Randi tidak menganggapku penting, pikir Alexa. Bisa jadi dia hanya main-main. Semua kata-katanya tadi malam pasti hanya karena merasa bersalah. Pintu tangga darurat tiba-tiba terbuka. Alexa terkejut, menyeka air matanya cepat-cepat. Namun, ia tidak perlu berpura-pura. Karena yang datang adalah Randu. "Aku tahu kamu di sini," katanya pelan. "Aku selalu tahu ke mana kau pergi, Al." Alexa tidak menatapnya. "Pergilah." "Tidak." "Aku bilang pergi, Randu!" Lekaki itu justru berjalan mendekat. Dia duduk di samping Alexa. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. "Wina bukan tunanganku," katanya tegas. "Aku nggak pernah setuju. Papa yang mengatur. Aku membencinya." Alexa menatapnya. "Bukannya dia bilang ...." "Dia bohong." Randu menggenggam tangan Alexa. "Aku nggak pernah mencintai siapa pun setelah ...." Randu berhenti sejenak. Ia meraih tangan Alexa. "Setelah kamu." "Lalu, kenapa nggak bilang? Tadi malam ...." "Aku takut," jawab Randu jujur. "Kalau bilang, kamu pasti yang akan pergi. Karena seorang Alexa selalu menghindari masalah." Alexa terdiam. "Aku nggak akan pergi," ucap gadis itu akhirnya. "Aku cuma butuh kejujuran." Randu menatapnya. "Baik. Aku akan jujur, tapi kamu juga Pertama, kamu masih menyukaiku?" Alexa membeku. "Itu ...." "Jawab." Gadis itu menahan napas. Lalu mengangguk. "Ya. Aku masih menyukaimu." Randu tersenyum. Senyuman yang tulus. "Itu cukup," katanya. "Kita akan selesaikan sisanya bersama." Lelaki itu melepaskan tangannya dan berdiri. "Sekarang kembali kerja. Bosmu menunggu." Alexandria tertawa kecil. "Bosku menyebalkan." "Aku tahu." Randu tersenyum. "Walau begitu, bosmu juga sangat mencintaimu. Kali ini, dia nggak akan membiarkanmu pergi." Randu membuka pintu tangga darurat dan melangkah keluar. Alexa menatapnya. Di dada gadis itu, ada rasa hangat yang sudah lama hilang. Mungkin kali ini berbeda, dan mereka benar-benar bisa bersama. *** Tujuh tahun lalu, di SMA. "Alexa, lihat! Aku bawain bakso kesukaanmu!" Randu muncul di hadapannya dengan dua mangkuk bakso. Keringat membasahi keningnya. Ia baru saja berlari dari kantin ke kelas Alexa. Karena bel istirahat baru berbunyi, dan lelaki itu tidak mau gadis yang dicintainya makan sendirian. Alexa menghela napas. "Randu, aku bisa beli sendiri." "Aku mau traktir." Randu duduk di hadapannya. "Aku suka lihat kamu makan. Pipimu chubby." "Chubby?" Alexa memukul lengannya. "Kau bilang aku gendut?" "Imut," Randu mengoreksi cepat. "Pipi imut. Kayak tupai." "Kamu ...." "Aku suka tupai. Mereka lucu." Alexa menggeleng, tapi tangannya sudah mengambil sendok dan mulai makan. Randu tersenyum puas. Mereka makan dalam diam. Namun, tidak ada yang canggung. Hanya kehangatan yang aneh. Alexa tidak mengerti kenapa ia selalu membiarkan Randu melakukan banyak hal. Membayar makanannya, menemani, dan mengawal pulang. Ia tidak bisa menghentikannya. Lebih tepatnya mungkin tidak ingin. "Alexa," panggil Randu tiba-tiba. Suaranya serius. "Hm?" "Jadi pacarku, ya?" Alexa berhenti mengunyah. "Kita sudah bahas itu." "Aku tahu, dan akan tanya setiap hari sampai kamu bilang iya." "Kenapa keras kepala, sih?" "Karena aku cinta sama kamu." Kata-kata itu, jujur dan sederhana. Tanpa ragu. Alexa menatap Randu. Matanya tidak berbohong. Hati gadis itu seketika berdesir. "Kita masih SMA," ucapnya kemudian. "Aku nggak mau pacaran." "Kenapa?" Alexa tidak pernah menjawab. "Aku tidak akan memaksa dan tetap menunggu. Sampai kamu siap." Kini, di ruang tangga darurat, Alexa masih menatap pintu tempat Randu menghilang. Kenangan itu terasa nyata. Alexa masih bisa merasakan hangatnya tangan Randu di atas meja kantin SMA. Air mata menetes lagi. Alexa menyeka dengan dua tangan. Sudah cukup, Lex. Kau sudah menangis terlalu banyak hari ini, batinnya. Alexa berdiri dan berjalan ke pintu. Saat membukanya, ia melihat Farel berdiri di lorong dengan ekspresi khawatir. "Alex! Dari mana aja? Aku cari kamu ke mana-mana." "Aku di toilet," jawab Alexa cepat. "Toilet kan, ada di ujung sana." Farel menunjuk ke arah berlawanan. "Ini tangga darurat." Alexa menggigit bibir. "Aku butuh udara segar." Farel mengangkat alis, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut. "Oke, tapi Pak Randu minta kamu ke ruangannya. Sekarang." Randu? Lagi? Alexa mengangguk. "Aku ke sana sekarang." Ia berjalan melewati Farel menuju ruangan Randu. Begitu pintu tertutup, Alexa melihat lelaki itu berdiri di dekat jendela. Menatap pemandangan Jakarta di bawah. "Masih nangis?" tanya lelaki itu tanpa menoleh. "Nggak." Randu berbalik dan berjalan mendekat. Ia mengangkat tangan, menyentuh pipi Alexa dengan lembut. "Aku ingin memulai lagi, tapi kali ini nggak mau nunggu. Apakah kamu mau?" "Mau apa?" "Maukah menjadi milikku? Seperti dulu, tapi kali ini sungguhan."Awan putih membentang luas di balik jendela pesawat Boeing 777 yang membelah langit utara. Di ketinggian puluhan ribu kaki, Alexandria Nirmala menatap hamparan samudera biru yang perlahan berganti menjadi daratan semenanjung Korea.Pengalaman pertama terbang ke luar negeri sejujurnya menghadirkan sensasi takjub yang sulit dilukiskan. Selama ini, keindahan musim gugur, jalanan bersih Seoul, dan budaya Negeri Ginseng, hanya bisa ia nikmati dari balik layar ponsel sewaktu mengalihkan sengatan stres usai bekerja. Kini, takdir melemparkannya langsung ke negeri yang sangat terkenal itu.Namun, di balik decak kagumnya, ada rasa hampa yang menghimpit dada."Permisi, mau saya bantu naikkan tasnya ke bagasi atas?"Suara ramah berbahasa Indonesia dari arah samping membuyarkan lamunan wanita itu. Pria muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, dengan kacamata berbingkai hitam dan senyum yang hangat, berdiri di samping deretan kursinya. Lelaki itu baru saja kembali dari toilet dan melihat Alexa
Pukul tujuh malam, rapat penting Randu dengan para investor dari Singapura baru saja selesai di ruang konferensi lantai lima. Lelaki itu menjabat tangan para mitra bisnisnya dengan ramah, sebelum mereka meninggalkan ruangan. Sambil melangkah kembali menuju ruang kerjanya untuk mengambil jas dan kunci mobil, Randu merogoh ponsel dari saku celana. Ia ingin mengecek keadaan Alexa di apartemen. Randu membuka aplikasi pemantau smart home dan CCTV apartemennya. Namun, layar ponselnya hanya menampilkan simbol pemuatan data yang berputar tanpa henti, diikuti oleh pemberitahuan merah. Connection Offline - No Signal. Alis Randu menyipit kencang. Jaringan internet di apartemennya sangat jarang mengalami gangguan karena menggunakan jalur serat optik ganda. Perasaan tidak enak seketika merayap di dadanya. Sebuah firasat dingin yang sangat mirip dengan kejadian beberapa hari lalu. Randu buru-buru memutar nomor telepon Pak Danu. "Halo, Pak Randu?" "Pak Danu! Tadi jam berapa mengantar Alexa ke
Siang itu, matahari merayap di atas langit Jakarta. Udara terang benderang menyinari sebuah restoran mewah bergaya privat di kawasan Senopati. Alexa duduk berhadapan dengan Randu. Di atas meja tertata potongan daging wagyu yang dipanggang sempurna, salad segar, dan dua gelas jus buah. Alexa mengenakan gaun bahan katun berwarna krem lembut. Pakaian yang dibelikan Randu di mal malam itu. Wajahnya dipoles riasan tipis, memancarkan kecantikan yang amat alami. Ada binar hangat di matanya yang tak pernah dilihat Randu sebelumnya. "Kenapa mendadak mengajak makan di sini, Al?" tanya Randu sambil memotong daging di piringnya, senyum tipis terukir di bibir lelaki itu. "Biasanya kamu paling protes kalau diajak ke restoran sekelas ini." Alexa tertawa pelan. Suara tawanya terdengar amat renyah dan indah. "Sekali-kali, Ran. Lagipula, hari ini aku yang akan bayar." Randu menghentikan gerakan sumpitnya, mengangkat alis. "Kamu?" "Iya." Alexa membusungkan dada dengan jenaka. "Aku kan, sudah
Seretan sepatu laras polisi di atas lantai semen ruko kawasan industri Jakarta Barat itu, memecah kebisingan mesin server yang meraung. Bau tembakau murah, mi instan basi, dan hawa pengap seketika terdesak keluar saat pintu besi didobrak paksa.Deden tidak sempat melarikan diri. Pria itu masih duduk di depan tiga layar komputer yang berkedip-kedip menayangkan baris kode peretas, dengan cangkir kopi hitam di genggamannya."Jangan bergerak! Angkat tangan!"Dua anggota polisi berpakaian preman langsung memiting kedua tangan Deden ke belakang, menghantamkan dadanya ke atas meja hingga deretan cangkir plastik terguling. Dua peretas bayaran yang duduk di sampingnya hanya bisa mengangkat tangan kaku. Wajah mereka memucat pasi sewaktu personel kepolisian mengamankan barang bukti perangkat keras dan penyimpanan data.Deden menggeram, mencoba meronta saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangannya dengan bunyi klik yang dingin. "Apa-apaan ini? Saya tidak salah apa-apa!"Bima melangkah m
Randu seketika menegakkan tubuhnya, raut santainya menghilang dalam sekejap. "Ada apa, Rio?" "Platform novel aplikasi penerbitan terbesar kita diserang hacker sejak sepuluh menit yang lalu!" Alexa ikut berdiri. Jantungnya berdegup kencang melihat kepanikan di wajah orang kepercayaan Randu itu. "Apa maksudmu diserang?" cecar Randu sambil melangkah cepat menuju ruang kerjanya diikuti oleh Alexa dan Rio. "Tampilan utama aplikasi dan website teracak total, Pak! Seluruh banner cerita populer berubah menjadi tautan situs judi online dan konten pornografi!" terang Rio sambil mengoperasikan tablet di tangannya dengan jemari gemetaran. "Sistem pembayaran koin kita diblokir, dan puluhan ribu data pengguna mengalami kerusakan instruksi!" Ruang kerja Randu seketika riuh. Di layar monitor besar milik lelaki itu, tampilan aplikasi yang biasanya menampilkan karya-karya cerita terbaik, kini bertransformasi menjadi kekacauan visual yang mengerikan. Pemberitahuan di media sosial meledak.
"Ini uang untuk membayar minum dan ongkos pulangmu hari ini," ucap Randu dengan suara bariton yang begitu dingin dan mematikan. "Dengarkan aku baik-baik, Nyonya Ratih." Irin tertegun menatap Randu. "Mulai detik ini, jika kamu berani menampakkan wajah lagi di depan Alexa, atau mencoba memerasnya dengan alasan hubungan darah," Randu memajukan tubuhnya, menatap Irin dengan iris mata kelam yang penuh intimidasi, "aku memastikan pengacara terbaik akan menyeretmu ke jalur hukum, atas tuduhan penelantaran anak di bawah umur, dan pencemaran nama baik. Percayalah, aku punya uang dan kekuasaan yang cukup untuk membuat sisa hidupmu makin menderita di dalam penjara." Wajah Irin seketika memucat pasi. Ancaman pangeran kaya di depannya bukan gertakan sambal semata. Udara di sekeliling Randu terasa begitu menekan, hingga ibu kandung Alexa itu bahkan tidak sanggup membantah sepatah kata pun. Randu berdiri, lalu menarik tangan Alexa lembut untuk ikut pergi bersamanya. "Ayo pergi, Al," bisik R







