Share

Bab 4

Penulis: NH. Soetardjo
last update Tanggal publikasi: 2026-07-23 05:54:40

"A-aku baru mau pulang," jawab Alexa cepat, menutup map biru itu, dan memasukkannya ke dalam tas.

"Ini sudah malam."

"Masih jam tujuh."

Randu melangkah mendekat. "Kau naik apa?"

"Bus."

"Bus terakhir jam delapan." Randu berhenti di depan mejanya. "Kau tahu itu?"

Alexa mengangkat dagu. "Aku tahu."

"Bagaimana kalau kau ketinggalan bus?"

"Ada ojek online."

Randu mendengkus. "Malam-malam naik ojek? Kau tidak takut?"

Kenapa ia harus peduli? Alexa menahan diri untuk tidak berteriak. Bukannya tadi Randu bilang ingin mengabaikanku?

"Aku sudah dewasa, Ran." Suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan. "Bisa menjaga diri sendiri."

Rahang Randu seketika kaku.

"Kamu nggak berubah sama sekali, ya. Tetap keras kepala."

"Kamu sendiri sama aja. Tetap suka mengatur orang lain."

Mereka saling tatap. Udara di antara keduanya terasa panas. Alexa bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Juga napas Randu yang sedikit memburu.

Kemudian lelaki itu tertawa. Pelan dan pahit.

"Benar," katanya. "Aku memang suka mengatur. Karena dulu, kau membiarkanku melakukan semuanya. Menjagamu. Mengantar pulang. Membayari makan. Menunggu di depan kelas. Kenapa sekarang baru protes?"

Alexa membisu. Ia tidak punya jawaban.

Randu menatapnya lama, lalu menghela napas.

"Aku antar kau pulang."

"Nggak usah."

"Bukan karena peduli." Randu memotongnya dengan dingin. "Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa di jalan, dan besok kantor kehilangan karyawan baru. Repot."

Ia berbohong. Alexa bisa melihatnya. Namun, gadis itu terlalu lelah untuk berdebat.

"Baiklah," jawabnya akhirnya. "Biarkan aku naik di belakang."

Randu mengangkat bahu.

"Terserah."

Mereka berjalan ke parkiran bawah tanah. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Hanya suara langkah kaki di lantai beton yang terdengar.

Mobilnya hitam, sporty, dan sangat mahal. Randu membuka pintu penumpang. Alexa menggeleng dan membuka pintu belakang sendiri.

Lelaki itu mendengkus pelan, tapi tidak berkata apa-apa, bahkan hingga mereka melaju keluar dari parkiran.

Jakarta malam tampak gemerlap di balik kaca mobil. Macet di mana-mana. Alexa menatap ke luar jendela, berusaha mengabaikan kehadiran Randu di kursi depan.

Namun, itu sulit. Aroma parfumnya, sesuatu yang maskulin dan sedikit manis, terus memenuhi mobil. Mengingatkannya pada dulu. Saat Randu selalu duduk di sampingnya dalam bus, dan Alexa bisa mencium aroma sabun mandi lelaki itu setiap hari.

"Kamu masih tinggal di rumah lama?" Randu bertanya tiba-tiba. Suaranya datar.

Alexa terkejut. "Bagaimana kau tahu alamat lamaku?"

"Karena dulu aku sering mengantarmu, ingat?"

"Nggak," jawabnya pelan. "Aku udah pindah. Sekarang di kos-kosan dekat kampus dulu."

Randu tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk kecil. Namun, Alexa bisa melihat dari spion tengah, lelaki itu menatapnya. Sebentar. Lalu kembali ke jalan.

Mereka tiba di depan kos-kosan Alexandria dalam 30 menit. Rumah petak berwarna krem di jalanan sempit. Jauh dari kata mewah.

"Di sini," kata Alexa cepat. "Makasih sudah antar ...."

"Al ...."

Panggilan itu lagi. Alexa membeku. Tangannya sudah di gagang pintu, tapi ia tidak bisa membukanya.

"Maaf soal tadi," kata Randu tanpa menoleh. "Aku terlalu kasar."

Alexa membisu.

"Aku nggak benci kamu." Suara Randu pelan, nyaris berbisik. "Marah, tapi bukan benci."

"Hari ini kau mengatakan banyak hal yang menyakitkan, Ran."

"Aku tahu." Randu menoleh. Mata keduanya bertemu. "Kamu juga menyakitiku. Tujuh tahun lalu, dan tidak pernah meminta maaf sampai sekarang."

Alexa menunduk. "Aku minta maaf di kantor tadi ...."

"Itu hanya karena aku memojokkanmu. Kamu nggak sungguh-sungguh."

Randu benar. Alexa tidak bisa memungkiri. Maafnya tadi adalah bentuk defensif, bukan permintaan yang tulus.

"A-aku menyesal," kata gadis itu akhirnya. Suaranya bergetar. "Bukan cuma karena hari ini, tapi dulu juga. Karena aku mengusirmu dan bilang kita tidak punya status. Aku ...."

"Kenapa kau melakukan itu?" Randu memotong. Matanya tajam. "Aku nggak pernah mengerti, Al. Aku selalu di sampingmu dan melakukan segalanya, tapi kamu bilang kita bahkan nggak punya status. Apa maksudnya?"

Alexa menggigit bibir. Bagaimana menjelaskan kalau ia sendiri tidak mengerti perasaannya saat itu?

"Aku takut kalau mengakui perasaan, semuanya akan berubah. Aku takut kehilangan, jadi berpikir lebih baik menjauh."

Randu terdiam sejenak, lalu dia tertawa. Bukan yang terdengar bahagia, tapi getir. Penuh luka.

"Kau takut kehilangan, tapi memilih kehilangan itu sendiri?" Randu menggeleng. "Itu tidak masuk akal, Al."

"Aku tahu. Memang bodoh."

"Kamu selalu bodoh kalau soal perasaan."

Alexa tidak bisa menahan tangisnya. Air mata gadis itu jatuh. Ia segera menunduk. Malu.

Randu menghela napas panjang, lalu turun dari mobil. Ia membuka pintu belakang, dan duduk di samping Alexa.

"Jangan nangis," katanya pelan. "Aku bukan anak SMA yang mudah terharu melihat cewek cengeng."

"Kamu dulu selalu panik kalau aku nangis." Alexa mendengkus di antara isakan.

"Itu dulu. Sekarang aku lebih kuat."

Namun, tangan Randu mengusap air mata di pipi. Ia tidak sekuat yang diucapkan. Tangannya gemetar.

Alexa merasakan sentuhan hangat di bahunya kini. Tubuh gadis itu bergetar.

"Ran ...."

"Aku masih marah, tapi lelah, Al."

Ia menatap Alexa. Tatapan masih sama seperti dulu. Penuh. Dalam. Juga menyeluruh.

"Aku tidak bisa melupakanmu," bisik Randu. "Percaya atau nggak, selama tujuh tahun aku udah coba pacaran sama orang lain? Nggak bisa, Al. Aku bahkan nggak pernah mau. Karena setiap kali lihat cewek lain, yang terbayang adalah wajahmu."

Alexa terisak. "Ran ...."

"Diam. Aku belum selesai." Randu menggenggam tangannya. "Aku membencimu karena memilih pergi, tapi juga ...."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 28

    Awan putih membentang luas di balik jendela pesawat Boeing 777 yang membelah langit utara. Di ketinggian puluhan ribu kaki, Alexandria Nirmala menatap hamparan samudera biru yang perlahan berganti menjadi daratan semenanjung Korea.Pengalaman pertama terbang ke luar negeri sejujurnya menghadirkan sensasi takjub yang sulit dilukiskan. Selama ini, keindahan musim gugur, jalanan bersih Seoul, dan budaya Negeri Ginseng, hanya bisa ia nikmati dari balik layar ponsel sewaktu mengalihkan sengatan stres usai bekerja. Kini, takdir melemparkannya langsung ke negeri yang sangat terkenal itu.Namun, di balik decak kagumnya, ada rasa hampa yang menghimpit dada."Permisi, mau saya bantu naikkan tasnya ke bagasi atas?"Suara ramah berbahasa Indonesia dari arah samping membuyarkan lamunan wanita itu. Pria muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, dengan kacamata berbingkai hitam dan senyum yang hangat, berdiri di samping deretan kursinya. Lelaki itu baru saja kembali dari toilet dan melihat Alexa

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 27

    Pukul tujuh malam, rapat penting Randu dengan para investor dari Singapura baru saja selesai di ruang konferensi lantai lima. Lelaki itu menjabat tangan para mitra bisnisnya dengan ramah, sebelum mereka meninggalkan ruangan. Sambil melangkah kembali menuju ruang kerjanya untuk mengambil jas dan kunci mobil, Randu merogoh ponsel dari saku celana. Ia ingin mengecek keadaan Alexa di apartemen. Randu membuka aplikasi pemantau smart home dan CCTV apartemennya. Namun, layar ponselnya hanya menampilkan simbol pemuatan data yang berputar tanpa henti, diikuti oleh pemberitahuan merah. Connection Offline - No Signal. Alis Randu menyipit kencang. Jaringan internet di apartemennya sangat jarang mengalami gangguan karena menggunakan jalur serat optik ganda. Perasaan tidak enak seketika merayap di dadanya. Sebuah firasat dingin yang sangat mirip dengan kejadian beberapa hari lalu. Randu buru-buru memutar nomor telepon Pak Danu. "Halo, Pak Randu?" "Pak Danu! Tadi jam berapa mengantar Alexa ke

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 26

    Siang itu, matahari merayap di atas langit Jakarta. Udara terang benderang menyinari sebuah restoran mewah bergaya privat di kawasan Senopati. Alexa duduk berhadapan dengan Randu. Di atas meja tertata potongan daging wagyu yang dipanggang sempurna, salad segar, dan dua gelas jus buah. Alexa mengenakan gaun bahan katun berwarna krem lembut. Pakaian yang dibelikan Randu di mal malam itu. Wajahnya dipoles riasan tipis, memancarkan kecantikan yang amat alami. Ada binar hangat di matanya yang tak pernah dilihat Randu sebelumnya. "Kenapa mendadak mengajak makan di sini, Al?" tanya Randu sambil memotong daging di piringnya, senyum tipis terukir di bibir lelaki itu. "Biasanya kamu paling protes kalau diajak ke restoran sekelas ini." Alexa tertawa pelan. Suara tawanya terdengar amat renyah dan indah. "Sekali-kali, Ran. Lagipula, hari ini aku yang akan bayar." Randu menghentikan gerakan sumpitnya, mengangkat alis. "Kamu?" "Iya." Alexa membusungkan dada dengan jenaka. "Aku kan, sudah

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 25

    Seretan sepatu laras polisi di atas lantai semen ruko kawasan industri Jakarta Barat itu, memecah kebisingan mesin server yang meraung. Bau tembakau murah, mi instan basi, dan hawa pengap seketika terdesak keluar saat pintu besi didobrak paksa.Deden tidak sempat melarikan diri. Pria itu masih duduk di depan tiga layar komputer yang berkedip-kedip menayangkan baris kode peretas, dengan cangkir kopi hitam di genggamannya."Jangan bergerak! Angkat tangan!"Dua anggota polisi berpakaian preman langsung memiting kedua tangan Deden ke belakang, menghantamkan dadanya ke atas meja hingga deretan cangkir plastik terguling. Dua peretas bayaran yang duduk di sampingnya hanya bisa mengangkat tangan kaku. Wajah mereka memucat pasi sewaktu personel kepolisian mengamankan barang bukti perangkat keras dan penyimpanan data.Deden menggeram, mencoba meronta saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangannya dengan bunyi klik yang dingin. "Apa-apaan ini? Saya tidak salah apa-apa!"Bima melangkah m

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 24

    Randu seketika menegakkan tubuhnya, raut santainya menghilang dalam sekejap. "Ada apa, Rio?" "Platform novel aplikasi penerbitan terbesar kita diserang hacker sejak sepuluh menit yang lalu!" Alexa ikut berdiri. Jantungnya berdegup kencang melihat kepanikan di wajah orang kepercayaan Randu itu. "Apa maksudmu diserang?" cecar Randu sambil melangkah cepat menuju ruang kerjanya diikuti oleh Alexa dan Rio. "Tampilan utama aplikasi dan website teracak total, Pak! Seluruh banner cerita populer berubah menjadi tautan situs judi online dan konten pornografi!" terang Rio sambil mengoperasikan tablet di tangannya dengan jemari gemetaran. "Sistem pembayaran koin kita diblokir, dan puluhan ribu data pengguna mengalami kerusakan instruksi!" Ruang kerja Randu seketika riuh. Di layar monitor besar milik lelaki itu, tampilan aplikasi yang biasanya menampilkan karya-karya cerita terbaik, kini bertransformasi menjadi kekacauan visual yang mengerikan. Pemberitahuan di media sosial meledak.

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 23

    "Ini uang untuk membayar minum dan ongkos pulangmu hari ini," ucap Randu dengan suara bariton yang begitu dingin dan mematikan. "Dengarkan aku baik-baik, Nyonya Ratih." Irin tertegun menatap Randu. "Mulai detik ini, jika kamu berani menampakkan wajah lagi di depan Alexa, atau mencoba memerasnya dengan alasan hubungan darah," Randu memajukan tubuhnya, menatap Irin dengan iris mata kelam yang penuh intimidasi, "aku memastikan pengacara terbaik akan menyeretmu ke jalur hukum, atas tuduhan penelantaran anak di bawah umur, dan pencemaran nama baik. Percayalah, aku punya uang dan kekuasaan yang cukup untuk membuat sisa hidupmu makin menderita di dalam penjara." Wajah Irin seketika memucat pasi. Ancaman pangeran kaya di depannya bukan gertakan sambal semata. Udara di sekeliling Randu terasa begitu menekan, hingga ibu kandung Alexa itu bahkan tidak sanggup membantah sepatah kata pun. Randu berdiri, lalu menarik tangan Alexa lembut untuk ikut pergi bersamanya. "Ayo pergi, Al," bisik R

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status