LOGIN"A-aku baru mau pulang," jawab Alexa cepat, menutup map biru itu, dan memasukkannya ke dalam tas.
"Ini sudah malam." "Masih jam tujuh." Randu melangkah mendekat. "Kau naik apa?" "Bus." "Bus terakhir jam delapan." Randu berhenti di depan mejanya. "Kau tahu itu?" Alexa mengangkat dagu. "Aku tahu." "Bagaimana kalau kau ketinggalan bus?" "Ada ojek online." Randu mendengkus. "Malam-malam naik ojek? Kau tidak takut?" Kenapa ia harus peduli? Alexa menahan diri untuk tidak berteriak. Bukannya tadi Randu bilang ingin mengabaikanku? "Aku sudah dewasa, Ran." Suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan. "Bisa menjaga diri sendiri." Rahang Randu seketika kaku. "Kamu nggak berubah sama sekali, ya. Tetap keras kepala." "Kamu sendiri sama aja. Tetap suka mengatur orang lain." Mereka saling tatap. Udara di antara keduanya terasa panas. Alexa bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Juga napas Randu yang sedikit memburu. Kemudian lelaki itu tertawa. Pelan dan pahit. "Benar," katanya. "Aku memang suka mengatur. Karena dulu, kau membiarkanku melakukan semuanya. Menjagamu. Mengantar pulang. Membayari makan. Menunggu di depan kelas. Kenapa sekarang baru protes?" Alexa membisu. Ia tidak punya jawaban. Randu menatapnya lama, lalu menghela napas. "Aku antar kau pulang." "Nggak usah." "Bukan karena peduli." Randu memotongnya dengan dingin. "Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa di jalan, dan besok kantor kehilangan karyawan baru. Repot." Ia berbohong. Alexa bisa melihatnya. Namun, gadis itu terlalu lelah untuk berdebat. "Baiklah," jawabnya akhirnya. "Biarkan aku naik di belakang." Randu mengangkat bahu. "Terserah." Mereka berjalan ke parkiran bawah tanah. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Hanya suara langkah kaki di lantai beton yang terdengar. Mobilnya hitam, sporty, dan sangat mahal. Randu membuka pintu penumpang. Alexa menggeleng dan membuka pintu belakang sendiri. Lelaki itu mendengkus pelan, tapi tidak berkata apa-apa, bahkan hingga mereka melaju keluar dari parkiran. Jakarta malam tampak gemerlap di balik kaca mobil. Macet di mana-mana. Alexa menatap ke luar jendela, berusaha mengabaikan kehadiran Randu di kursi depan. Namun, itu sulit. Aroma parfumnya, sesuatu yang maskulin dan sedikit manis, terus memenuhi mobil. Mengingatkannya pada dulu. Saat Randu selalu duduk di sampingnya dalam bus, dan Alexa bisa mencium aroma sabun mandi lelaki itu setiap hari. "Kamu masih tinggal di rumah lama?" Randu bertanya tiba-tiba. Suaranya datar. Alexa terkejut. "Bagaimana kau tahu alamat lamaku?" "Karena dulu aku sering mengantarmu, ingat?" "Nggak," jawabnya pelan. "Aku udah pindah. Sekarang di kos-kosan dekat kampus dulu." Randu tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk kecil. Namun, Alexa bisa melihat dari spion tengah, lelaki itu menatapnya. Sebentar. Lalu kembali ke jalan. Mereka tiba di depan kos-kosan Alexandria dalam 30 menit. Rumah petak berwarna krem di jalanan sempit. Jauh dari kata mewah. "Di sini," kata Alexa cepat. "Makasih sudah antar ...." "Al ...." Panggilan itu lagi. Alexa membeku. Tangannya sudah di gagang pintu, tapi ia tidak bisa membukanya. "Maaf soal tadi," kata Randu tanpa menoleh. "Aku terlalu kasar." Alexa membisu. "Aku nggak benci kamu." Suara Randu pelan, nyaris berbisik. "Marah, tapi bukan benci." "Hari ini kau mengatakan banyak hal yang menyakitkan, Ran." "Aku tahu." Randu menoleh. Mata keduanya bertemu. "Kamu juga menyakitiku. Tujuh tahun lalu, dan tidak pernah meminta maaf sampai sekarang." Alexa menunduk. "Aku minta maaf di kantor tadi ...." "Itu hanya karena aku memojokkanmu. Kamu nggak sungguh-sungguh." Randu benar. Alexa tidak bisa memungkiri. Maafnya tadi adalah bentuk defensif, bukan permintaan yang tulus. "A-aku menyesal," kata gadis itu akhirnya. Suaranya bergetar. "Bukan cuma karena hari ini, tapi dulu juga. Karena aku mengusirmu dan bilang kita tidak punya status. Aku ...." "Kenapa kau melakukan itu?" Randu memotong. Matanya tajam. "Aku nggak pernah mengerti, Al. Aku selalu di sampingmu dan melakukan segalanya, tapi kamu bilang kita bahkan nggak punya status. Apa maksudnya?" Alexa menggigit bibir. Bagaimana menjelaskan kalau ia sendiri tidak mengerti perasaannya saat itu? "Aku takut kalau mengakui perasaan, semuanya akan berubah. Aku takut kehilangan, jadi berpikir lebih baik menjauh." Randu terdiam sejenak, lalu dia tertawa. Bukan yang terdengar bahagia, tapi getir. Penuh luka. "Kau takut kehilangan, tapi memilih kehilangan itu sendiri?" Randu menggeleng. "Itu tidak masuk akal, Al." "Aku tahu. Memang bodoh." "Kamu selalu bodoh kalau soal perasaan." Alexa tidak bisa menahan tangisnya. Air mata gadis itu jatuh. Ia segera menunduk. Malu. Randu menghela napas panjang, lalu turun dari mobil. Ia membuka pintu belakang, dan duduk di samping Alexa. "Jangan nangis," katanya pelan. "Aku bukan anak SMA yang mudah terharu melihat cewek cengeng." "Kamu dulu selalu panik kalau aku nangis." Alexa mendengkus di antara isakan. "Itu dulu. Sekarang aku lebih kuat." Namun, tangan Randu mengusap air mata di pipi. Ia tidak sekuat yang diucapkan. Tangannya gemetar. Alexa merasakan sentuhan hangat di bahunya kini. Tubuh gadis itu bergetar. "Ran ...." "Aku masih marah, tapi lelah, Al." Ia menatap Alexa. Tatapan masih sama seperti dulu. Penuh. Dalam. Juga menyeluruh. "Aku tidak bisa melupakanmu," bisik Randu. "Percaya atau nggak, selama tujuh tahun aku udah coba pacaran sama orang lain? Nggak bisa, Al. Aku bahkan nggak pernah mau. Karena setiap kali lihat cewek lain, yang terbayang adalah wajahmu." Alexa terisak. "Ran ...." "Diam. Aku belum selesai." Randu menggenggam tangannya. "Aku membencimu karena memilih pergi, tapi juga ...."Ia tidak menoleh. Enggan melihat Randu. Air sudah menggenang di matanya.Randu punya tunangan, tapi dia tidak pernah bilang.Sampai di meja kerjanya, Alexa langsung duduk diam. Laptop terbuka di depannya, tapi gadis itu tidak melihat apa-apa. Hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya."Aku Wina, tunangan Randu.""Kau baik-baik saja?"Alexandria menoleh. Farel berdiri di sampingnya dengan ekspresi khawatir."Kau pucat," lanjut Farel. "Apa kau sakit?""Aku baik-baik saja." Suara Alexa datar. "Cuma sedikit pusing.""Mau aku ambilkan air minum?""Nggak usah.""Siapa cewek tadi?"Alexa membeku. "Cewek yang mana?""Di kafe. Wanita berbaju merah." Farel menarik kursi di samping Alexa, lalu duduk dengan nyaman. "Aku lihat dari kejauhan. Dia kayak kenal dekat sama Pak Randu.""Ya." Alexa menelan ludah karena tidak menduga Farel melihat adegan di kafe. "Dia tunangannya.""Tunangan?" Farel terkejut. "Tunggu. Pak Randu tunangan? Aku nggak pernah dengar!"Alexa menatapnya. "Kamu nggak tahu?""
Alexa menarik kursi di depannya. Randu berjalan ke balik meja, tapi tidak duduk. Dia bersandar pada dinding di belakangnya."Aku sudah pikirkan semuanya semalaman," kata Randu. "Tentang kita."Kita. Kata itu terasa berat dan ringan sekaligus."Lalu?""Nggak tahu harus berbuat apa." Randu mengusap wajahnya lelah. "Aku masih marah, tapi mana bisa bisa juga berpura-pura nggak peduli."Alexandria menunduk. "Aku juga.""Kau juga apa?""Aku juga nggak bisa berpura-pura." Ia mengangkat kepala. "Aku menyesali semuanya, Randu. Setiap hari. Aku mencari tahu kabarmu ke teman-teman, tapi nggak ada yang tahu ke mana kamu pergi.""Karena aku pergi ke luar," jawab Randu datar. "Papa mengirimku ke Harvard. Katanya aku perlu menjauh dari gangguan. Kau tahu siapa yang dimaksud?"Alexa menelan ludah. "Aku."Randu tertawa pahit. "Papa melihat aku hancur setelah hari itu. Dia bilang kamu nggak layak untukku karena selama ini hanya main-main. Sampai sekarang aku nggak percaya.""Aku nggak main-main, Randu.
Ia berhenti. Menelan ludah. "Aku juga masih menyukaimu, dan itu menyebalkan, Alexandria."Alexa selalu ingat, Randu akan menyebut namanya dengan utuh saat marah. Bukan Al atau Alexa. Lelaki itu melepaskan tangannya. Berdiri. Kemudian keluar dan berjalan kembali ke kursi depan."Besok kau tetap harus bekerja," katanya tanpa menoleh. "Aku juga akan tetap menjadi bos yang menyebalkan. Setidaknya sekarang ...." Randu menoleh sekilas. Matanya sayu. "Aku nggak perlu berpura-pura belum pernah kenal sebelumnya."Alexa menatap lelaki itu. Hatinya berdesir. Untuk pertama kalinya hari ini, senyum kecil muncul di bibir gadis itu."Oke.""Sekarang masuklah. Aku akan tunggu sampai lampu kamarmu menyala."Alexa turun dari mobil. Ia melangkah ke kosnya. Begitu sampai di kamar, gadis itu menyalakan lampu.Mobil Randu masih di bawah. Sampai sepuluh menit berikutnya sebelum melaju perlahan.Alexa menatap kepergiannya. Di dada gadis itu, ada sesuatu yang lama terkubur dan mulai bangkit kembali.Peras
"A-aku baru mau pulang," jawab Alexa cepat, menutup map biru itu, dan memasukkannya ke dalam tas."Ini sudah malam.""Masih jam tujuh."Randu melangkah mendekat. "Kau naik apa?""Bus.""Bus terakhir jam delapan." Randu berhenti di depan mejanya. "Kau tahu itu?"Alexa mengangkat dagu. "Aku tahu.""Bagaimana kalau kau ketinggalan bus?""Ada ojek online."Randu mendengkus. "Malam-malam naik ojek? Kau tidak takut?"Kenapa ia harus peduli? Alexa menahan diri untuk tidak berteriak. Bukannya tadi Randu bilang ingin mengabaikanku?"Aku sudah dewasa, Ran." Suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan. "Bisa menjaga diri sendiri."Rahang Randu seketika kaku. "Kamu nggak berubah sama sekali, ya. Tetap keras kepala.""Kamu sendiri sama aja. Tetap suka mengatur orang lain."Mereka saling tatap. Udara di antara keduanya terasa panas. Alexa bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Juga napas Randu yang sedikit memburu.Kemudian lelaki itu tertawa. Pelan dan pahit."Benar," katanya. "Aku memang
Alexa mengusap matanya dengan punggung tangan. Lalu kembali menatap layar.Hari pertama kerja. Bosnya adalah mantan ....Ah, bukan! Mantan apa memangnya? Ia dan Randu tidak pernah pacaran. Namun, perasaan itu, yang tidak pernah ia akui selama SMA, ternyata masih ada. Bahwa Randu adalah orang yang membuatnya merasa aman, diperhatikan, dan dicintai.Alexa baru menyadarinya sekarang. Saat Randu menatapnya dengan dingin.***Jam menunjukkan pukul 15.45. Alexa menyelesaikan proposal tepat waktu. Ia menyimpan file, menekan tombol kirim, dan menunggu.Lima menit kemudian, pintu ruangan Randu terbuka."Alexandria! Masuk!"Suara itu lagi. Dingin dan memerintah.Alexa bangkit. Dengan hati berdebar ia melangkah ke ruangan itu. Begitu pintu tertutup, Randu menatapnya dari balik meja."Proposalmu bagus," katanya. "Aku tidak menyangka."Alexa membeku. "Apa maksudnya?""Aku pikir kamu akan menyerah, tapi ternyata tidak." Randu berdiri.Lelaki itu berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Tentu saja senga
"Kamu yakin nggak kenal Pak Randu?" Sari berbisik. "Dia aneh banget tadi. Biasanya kalau terima karyawan baru selalu ramah."Alexandria menggeleng. "Mung-mungkin dia sedang sibuk."Padahal di dalam hatinya, Alexa tahu itu bukan alasan. Dulu, di SMA. "Hei! Alexa! Tunggu!"Alexa baru saja turun dari bus ketika suara itu memanggilnya. Ia menoleh. Seorang siswa baru dengan rambut acak-acakan berlari ke arahnya. Ransel birunya terayun-ayun di punggung. Matanya bersinar seperti menemukan harta karun."Kamu siapa?" tanya Alexa bingung.Cowok itu berhenti tepat di depannya, dengan napas tersengal. Ia lebih tinggi dari kebanyakan murid laki-laki. Dengan kulit cerah dan senyum yang harus Alexa akui, sangat indah."Aku Randu. Murid baru, pindahan dari Singapura." Ia mengulurkan tangan. "Aku suka sama kamu sejak pertama kali lihat di halte tadi. Mau jadi pacarku?"Alexa tercengang. "What?""Aku serius." Randu menatapnya dengan mata jujur. "Aku belum kenal siapa pun di sini, tapi udah yakin kala







