Share

Bab 6

Author: NH. Soetardjo
last update publish date: 2026-07-23 06:59:44

Alexa menarik kursi di depannya. Randu berjalan ke balik meja, tapi tidak duduk. Dia bersandar pada dinding di belakangnya.

"Aku sudah pikirkan semuanya semalaman," kata Randu. "Tentang kita."

Kita. Kata itu terasa berat dan ringan sekaligus.

"Lalu?"

"Nggak tahu harus berbuat apa." Randu mengusap wajahnya lelah. "Aku masih marah, tapi mana bisa bisa juga berpura-pura nggak peduli."

Alexandria menunduk. "Aku juga."

"Kau juga apa?"

"Aku juga nggak bisa berpura-pura." Ia mengangkat kepala. "Aku menyesali semuanya, Randu. Setiap hari. Aku mencari tahu kabarmu ke teman-teman, tapi nggak ada yang tahu ke mana kamu pergi."

"Karena aku pergi ke luar," jawab Randu datar. "Papa mengirimku ke Harvard. Katanya aku perlu menjauh dari gangguan. Kau tahu siapa yang dimaksud?"

Alexa menelan ludah. "Aku."

Randu tertawa pahit. "Papa melihat aku hancur setelah hari itu. Dia bilang kamu nggak layak untukku karena selama ini hanya main-main. Sampai sekarang aku nggak percaya."

"Aku nggak main-main, Randu."

"Lalu apa? Kau takut seperti yang dibilang tadi malam? Kenapa nggak bicara padaku dan memilih diam untuk kemudian menyakiti?"

Alexa tidak bisa menjawab. Karena ia juga tidak mengerti dirinya sendiri.

Randu menatapnya lama, lalu berjalan mendekat. Berdiri tepat di depan gadis itu. Alexa bisa mencium aroma kopi dan parfumnya. Jantungnya berdegup kencang.

"Aku nggak akan memaafkanmu begitu saja," bisik Randu pelan. "Bukan berarti aku juga bisa menjauhimu. Jadi, lakukan ini perlahan. Kita bicara, dan kenalan lagi. Seperti orang asing."

"Seperti orang asing?"

"Ya. Karena orang asing tidak punya luka masa lalu." Randu menatap mata Alexa. "Kita mulai dari nol. Setuju?"

Alexa mengangguk. "Setuju."

***

Jam 12 siang, kafe di seberang perusahaan ternyata cukup ramai. Alexa duduk di sudut dengan segelas es teh manis. Menunggu.

Hatinya berdebar tidak karuan. Seperti orang asing. Kita mulai dari nol. Bagaimana mungkin?

Setiap kali melihat Randu, yang terbayang adalah senyumnya dulu. Tawanya. Cara dia memegang tangan Alexa dengan lembut di bus.

"Kau datang lebih awal."

Alexandria menoleh. Randu berdiri dengan nampan berisi dua porsi makanan. Japanese curry rice kesukaannya. Lelaki itu masih ingat.

"I-iya," jawab Alexa dengan gugup.

Randu duduk di hadapannya. Meletakkan satu piring di depan Alexa.

"Ini untukmu."

Alexandria menatapnya heran. "Kau masih ingat menu favoritku?"

"Aku ingat semuanya, Alexa." Randu menyuap makanannya tanpa menatap gadis itu. "Kamu suka Japanese curry rice yang ditambah telur ceplok. Kalau minum es teh, minta gulanya setengah sendok teh aja. Senang duduk di pojok kantin biar bisa lihat semua orang. Kamu ...."

"Cukup." Alexa mengangkat tangan. "Aku mengerti, kamu pengingat yang baik."

Randu tersenyum tipis. "Cuma tentangmu. Karena aku nggak bisa lupain kamu."

Mereka kemudian makan dalam diam, tapi bukan yang canggung. Nyaman. Seperti dulu, ketika mereka menghabiskan waktu di kantin SMA tanpa perlu banyak bicara.

Tiba-tiba ada suara di kejauhan.

"Pak Randu! Ternyata di sini!"

Alexa menoleh. Seorang wanita dengan gaun merah menyala berjalan ke arah mereka. Rambutnya panjang dan bergelombang. Wajahnya bulat dengan riasan sempurna. Di tangannya ada tas branded asli seharga dua ratus juta.

Wanita itu tersenyum lebar, tapi matanya menatap Alexandria dengan sinis.

"Wina," sapa Randu datar. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Wina tertawa kecil. "Ayahmu minta aku mengantarkan dokumen. Selain itu, aku juga mau lihat calon suami yang sedang bekerja."

Calon suami?

Alexa merasakan dadanya hancur. Ia menatap Randu. Lelaki itu juga memandangnya. Tanpa ada ekspresi.

"Wina," kata Randu pelan. "Ini bukan waktu dan tempat yang tepat."

"Kenapa? Karena kau sedang makan dengan karyawan?" Wina menatap Alexa dengan senyum manis tapi mata menyipit tajam. "Halo, aku Wina. Tunangan Randu."

Dunia Alexa berputar. Tunangan?

"Wina, jangan ...."

"Kami akan menikah tahun depan," potong Wina. "Pernikahan bisnis, tentu saja, tapi aku suka Randu. Dia pria yang baik. Kamu ini siapa?"

Alexa tidak bisa bicara. Kata-kata macet di tenggorokannya. Ia hanya bisa menatap Randu yang kini tampak pucat.

"Ini Alexa," jawab Randu akhirnya. "Karyawan baru."

Wina mengangkat alis.

"Oh, karyawan baru. Senang bertemu denganmu."

Wanita beralis tipis itu mengulurkan tangan. Alexa menjabatnya dengan keringat dingin.

"Aku harap kau betah di sini. Randu memang bos yang baik. Terkadang sedikit dingin, tapi itu karena dia perfeksionis."

Alexa menarik tangannya, lalu berdiri.

"Maaf, saya harus kembali ke kantor. Ada pekerjaan yang belum selesai."

"Al ...." Randu memanggil, tapi Alexa sudah berjalan sangat cepat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 7

    Ia tidak menoleh. Enggan melihat Randu. Air sudah menggenang di matanya.Randu punya tunangan, tapi dia tidak pernah bilang.Sampai di meja kerjanya, Alexa langsung duduk diam. Laptop terbuka di depannya, tapi gadis itu tidak melihat apa-apa. Hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya."Aku Wina, tunangan Randu.""Kau baik-baik saja?"Alexandria menoleh. Farel berdiri di sampingnya dengan ekspresi khawatir."Kau pucat," lanjut Farel. "Apa kau sakit?""Aku baik-baik saja." Suara Alexa datar. "Cuma sedikit pusing.""Mau aku ambilkan air minum?""Nggak usah.""Siapa cewek tadi?"Alexa membeku. "Cewek yang mana?""Di kafe. Wanita berbaju merah." Farel menarik kursi di samping Alexa, lalu duduk dengan nyaman. "Aku lihat dari kejauhan. Dia kayak kenal dekat sama Pak Randu.""Ya." Alexa menelan ludah karena tidak menduga Farel melihat adegan di kafe. "Dia tunangannya.""Tunangan?" Farel terkejut. "Tunggu. Pak Randu tunangan? Aku nggak pernah dengar!"Alexa menatapnya. "Kamu nggak tahu?""

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 6

    Alexa menarik kursi di depannya. Randu berjalan ke balik meja, tapi tidak duduk. Dia bersandar pada dinding di belakangnya."Aku sudah pikirkan semuanya semalaman," kata Randu. "Tentang kita."Kita. Kata itu terasa berat dan ringan sekaligus."Lalu?""Nggak tahu harus berbuat apa." Randu mengusap wajahnya lelah. "Aku masih marah, tapi mana bisa bisa juga berpura-pura nggak peduli."Alexandria menunduk. "Aku juga.""Kau juga apa?""Aku juga nggak bisa berpura-pura." Ia mengangkat kepala. "Aku menyesali semuanya, Randu. Setiap hari. Aku mencari tahu kabarmu ke teman-teman, tapi nggak ada yang tahu ke mana kamu pergi.""Karena aku pergi ke luar," jawab Randu datar. "Papa mengirimku ke Harvard. Katanya aku perlu menjauh dari gangguan. Kau tahu siapa yang dimaksud?"Alexa menelan ludah. "Aku."Randu tertawa pahit. "Papa melihat aku hancur setelah hari itu. Dia bilang kamu nggak layak untukku karena selama ini hanya main-main. Sampai sekarang aku nggak percaya.""Aku nggak main-main, Randu.

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 5

    Ia berhenti. Menelan ludah. "Aku juga masih menyukaimu, dan itu menyebalkan, Alexandria."Alexa selalu ingat, Randu akan menyebut namanya dengan utuh saat marah. Bukan Al atau Alexa. Lelaki itu melepaskan tangannya. Berdiri. Kemudian keluar dan berjalan kembali ke kursi depan."Besok kau tetap harus bekerja," katanya tanpa menoleh. "Aku juga akan tetap menjadi bos yang menyebalkan. Setidaknya sekarang ...." Randu menoleh sekilas. Matanya sayu. "Aku nggak perlu berpura-pura belum pernah kenal sebelumnya."Alexa menatap lelaki itu. Hatinya berdesir. Untuk pertama kalinya hari ini, senyum kecil muncul di bibir gadis itu."Oke.""Sekarang masuklah. Aku akan tunggu sampai lampu kamarmu menyala."Alexa turun dari mobil. Ia melangkah ke kosnya. Begitu sampai di kamar, gadis itu menyalakan lampu.Mobil Randu masih di bawah. Sampai sepuluh menit berikutnya sebelum melaju perlahan.Alexa menatap kepergiannya. Di dada gadis itu, ada sesuatu yang lama terkubur dan mulai bangkit kembali.Peras

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 4

    "A-aku baru mau pulang," jawab Alexa cepat, menutup map biru itu, dan memasukkannya ke dalam tas."Ini sudah malam.""Masih jam tujuh."Randu melangkah mendekat. "Kau naik apa?""Bus.""Bus terakhir jam delapan." Randu berhenti di depan mejanya. "Kau tahu itu?"Alexa mengangkat dagu. "Aku tahu.""Bagaimana kalau kau ketinggalan bus?""Ada ojek online."Randu mendengkus. "Malam-malam naik ojek? Kau tidak takut?"Kenapa ia harus peduli? Alexa menahan diri untuk tidak berteriak. Bukannya tadi Randu bilang ingin mengabaikanku?"Aku sudah dewasa, Ran." Suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan. "Bisa menjaga diri sendiri."Rahang Randu seketika kaku. "Kamu nggak berubah sama sekali, ya. Tetap keras kepala.""Kamu sendiri sama aja. Tetap suka mengatur orang lain."Mereka saling tatap. Udara di antara keduanya terasa panas. Alexa bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Juga napas Randu yang sedikit memburu.Kemudian lelaki itu tertawa. Pelan dan pahit."Benar," katanya. "Aku memang

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 3

    Alexa mengusap matanya dengan punggung tangan. Lalu kembali menatap layar.Hari pertama kerja. Bosnya adalah mantan ....Ah, bukan! Mantan apa memangnya? Ia dan Randu tidak pernah pacaran. Namun, perasaan itu, yang tidak pernah ia akui selama SMA, ternyata masih ada. Bahwa Randu adalah orang yang membuatnya merasa aman, diperhatikan, dan dicintai.Alexa baru menyadarinya sekarang. Saat Randu menatapnya dengan dingin.***Jam menunjukkan pukul 15.45. Alexa menyelesaikan proposal tepat waktu. Ia menyimpan file, menekan tombol kirim, dan menunggu.Lima menit kemudian, pintu ruangan Randu terbuka."Alexandria! Masuk!"Suara itu lagi. Dingin dan memerintah.Alexa bangkit. Dengan hati berdebar ia melangkah ke ruangan itu. Begitu pintu tertutup, Randu menatapnya dari balik meja."Proposalmu bagus," katanya. "Aku tidak menyangka."Alexa membeku. "Apa maksudnya?""Aku pikir kamu akan menyerah, tapi ternyata tidak." Randu berdiri.Lelaki itu berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Tentu saja senga

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 2

    "Kamu yakin nggak kenal Pak Randu?" Sari berbisik. "Dia aneh banget tadi. Biasanya kalau terima karyawan baru selalu ramah."Alexandria menggeleng. "Mung-mungkin dia sedang sibuk."Padahal di dalam hatinya, Alexa tahu itu bukan alasan. Dulu, di SMA. "Hei! Alexa! Tunggu!"Alexa baru saja turun dari bus ketika suara itu memanggilnya. Ia menoleh. Seorang siswa baru dengan rambut acak-acakan berlari ke arahnya. Ransel birunya terayun-ayun di punggung. Matanya bersinar seperti menemukan harta karun."Kamu siapa?" tanya Alexa bingung.Cowok itu berhenti tepat di depannya, dengan napas tersengal. Ia lebih tinggi dari kebanyakan murid laki-laki. Dengan kulit cerah dan senyum yang harus Alexa akui, sangat indah."Aku Randu. Murid baru, pindahan dari Singapura." Ia mengulurkan tangan. "Aku suka sama kamu sejak pertama kali lihat di halte tadi. Mau jadi pacarku?"Alexa tercengang. "What?""Aku serius." Randu menatapnya dengan mata jujur. "Aku belum kenal siapa pun di sini, tapi udah yakin kala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status