共有

Bab 3

作者: NH. Soetardjo
last update 公開日: 2026-07-23 05:50:28

Alexa mengusap matanya dengan punggung tangan. Lalu kembali menatap layar.

Hari pertama kerja. Bosnya adalah mantan ....

Ah, bukan! Mantan apa memangnya? Ia dan Randu tidak pernah pacaran. Namun, perasaan itu, yang tidak pernah ia akui selama SMA, ternyata masih ada. Bahwa Randu adalah orang yang membuatnya merasa aman, diperhatikan, dan dicintai.

Alexa baru menyadarinya sekarang. Saat Randu menatapnya dengan dingin.

***

Jam menunjukkan pukul 15.45. Alexa menyelesaikan proposal tepat waktu. Ia menyimpan file, menekan tombol kirim, dan menunggu.

Lima menit kemudian, pintu ruangan Randu terbuka.

"Alexandria! Masuk!"

Suara itu lagi. Dingin dan memerintah.

Alexa bangkit. Dengan hati berdebar ia melangkah ke ruangan itu. Begitu pintu tertutup, Randu menatapnya dari balik meja.

"Proposalmu bagus," katanya. "Aku tidak menyangka."

Alexa membeku. "Apa maksudnya?"

"Aku pikir kamu akan menyerah, tapi ternyata tidak." Randu berdiri.

Lelaki itu berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Tentu saja sengaja.

"Al ...."

Panggilan itu sudah lama tidak ia dengar. Alexa tak bisa bergerak. Randu berhenti tepat di depannya. Jarak mereka hanya satu lengan.

Lelaki itu menatap Alexa dengan mata yang penuh dengan sesuatu, tapi sulit diartikan. Marah? Rindu? Sakit?

"Apa kamu pikir aku lupa?" bisik Randu. "Tujuh tahun, Al. Selama itu kamu menghilang dari hidupku. Kenapa sekarang muncul di kantorku?"

"Ran, a-aku ...."

"Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu." Randu mundur selangkah. "Kamu bilang kalau jodoh kita akan bertemu lagi. Sekarang sudah bertemu, dan aku akan membuatmu merasakan bagaimana sakitnya diabaikan."

Alexa menggigit bibir. Air matanya mulai menggenang.

"Ran, maaf. Aku tahu udah salah ...."

"Keluar!" Randu menunjuk pintu. "Besok kita harus melanjutkan pekerjaan, tapi ingat! Di sini, aku bosmu. Bukan mantan."

Alexa tidak membantah. Gadis itu berbalik dan berjalan keluar. Begitu pintu tertutup, air mata yang ia tahan akhirnya jatuh.

Tuhan, kenapa ini terasa seperti baru kemarin?

Mengapa kau masih mencintainya, Lex?

Padahal ia sudah membencimu.

***

"Kamu yakin nggak mau pulang bareng? Aku bisa anterin."

Alexa menggeleng lelah pada Farel. Lampu-lampu kantor mulai redup, sebagian besar pegawai sudah pulang. Hanya tersisa beberapa orang yang masih sibuk dengan deadline masing-masing. Termasuk gadis itu.

"Makasih, Rel. Aku masih mau ngerapihin meja dulu."

Farel mengangkat bahu. "Suka-suka kamu, lah. Asal jangan terlalu malam, ya? Besok masih panjang."

Farel melambai dan berjalan menuju lift. Alexa menatap layar komputernya yang sudah mati. Seharusnya ia pulang satu jam lalu. Namun, gadis itu enggan.

Pulang berarti kembali ke kos-kosan sempitnya. Pada kesendirian, dan pikiran-pikiran yang terus berputar tentang hari ini.

Gadis itu membuka laci meja. Ada map biru tua yang diberikan Sari pagi tadi dan berisi profil perusahaan. Namun, Alexa belum membukanya sama sekali. Ia terlalu sibuk dengan proposal.

Kini, dengan rasa penasaran yang menggelitik, Alexa menarik map itu dan membukanya.

Halaman pertama tentang visi misi perusahaan. Yang kedua struktur organisasi. Ketiga, profil pendiri.

Alexa membeku. Ada foto besar di halaman itu. Seorang pria paruh baya dengan jas hitam, berdiri di samping seorang wanita berambut pendek. Di samping mereka ada senyum tipis yang begitu familiar. Randu.

Alexa membaca keterangan di bawahnya.

"Randu Pratama, putra sulung pendiri PT Daneswara Hasta Gemilang. Menjabat sebagai Direktur Kreatif sejak tahun 2023. Lulusan Harvard University dengan predikat cum laude. Belum menikah."

Belum menikah?

Alexandria hampir tertawa pahit. Kenapa dia harus peduli dan kata-kata itu membuat dadanya terasa aneh? Ia tidak punya hak atas Randu. Gadis itu sudah melepaskannya tujuh tahun lalu.

Namun, kenapa hatinya masih sakit?

Alexa menutup mapsehenak, lalu membukanya lagi. Ada halaman lain tentang Randu, pencapaiannya, dan proyek-proyek besar yang ia pimpin. Juga bagaimana lelaki itu membawa perusahaan ke tingkat internasional.

Semua terdengar sempurna. Persis seperti Randu yang dulu. Ambisius, cerdas, dan tidak pernah setengah hati.

Alexa meremas map itu. Kenangan lain menyerbu.

Dulu, saat kelas 3 SMA.

"Alexa! Lihat ini!"

Randu berlari masuk ke kelas Alexa dengan raport di tangan. Matanya berbinar. Senyumnya lebar.

Wajah pemuda itu sedikit berkeringat karena ia berlari dari lantai dua ke tiga. Di tangannya ada nilai sempurna di semua mata pelajaran.

"Aku dapat ranking satu di kelas IPS!" serunya bangga. "Aku janji kan, kalau pasti bisa ngejar ketertinggalan pelajaranku?"

Alexa mengangguk. Sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan ranking. Namun, melihat Randu begitu bahagia dan polos, rasanya hati gadis itu menghangat.

"Bagus, Randu. Kamu hebat."

"Ini semua karena kamu." Randu duduk di sampingnya dan sangat dekat. "Karena kamu selalu ngajarin aku dan pinjemin catatan. Kamu juga ...."

"Randu, jaga jarak." Alexa menepis bahu pemuda itu , tapi tidak dengan tegas.

Randu hanya tertawa. "Aku nggak peduli kamu selalu nolak, Al. Selamanya akan tetap suka sama kamu."

"Kamu gombal." Alexa memalingkan muka, tapi pipinya memerah.

Randu menatapnya dengan mata yang sungguh-sungguh.

"Serius, Al. Dari pertama kali lihat di halte, aku tahu kamu cuma akan jadi satu-satunya. Nggak ada yang lain."

Hatinya berdebar, tapi Alexa tetap diam. Seperti biasa. Sementara Randu tidak pernah menyerah.

Air mata menetes lagi. Alexa segera menyeka dengan lengan bajunya. Kenapa semua kenangan ini muncul sekarang? Ia sudah menguburnya begitu dalam dan telah berhasil melupakan, atau setidaknya berpura-pura lupa.

Namun, di hari pertama bertemu Randu lagi, semua luka itu menganga kembali.

"Masih di sini?"

Alexa hampir melompat karena kaget. Ia menoleh. Di ambang pintu ruang tim kreatif, Randu berdiri dengan jas yang sudah dilepas.

Kemeja putihnya sedikit terbuka sampai ke dada. , Lengan baju lelaki itu digulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan, seperti baru saja diacak dengan frustrasi.

Randu terlihat lelah, tapi tetap tampan. Tuhan, kenapa ia harus masih sangat mempesona?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 28

    Awan putih membentang luas di balik jendela pesawat Boeing 777 yang membelah langit utara. Di ketinggian puluhan ribu kaki, Alexandria Nirmala menatap hamparan samudera biru yang perlahan berganti menjadi daratan semenanjung Korea.Pengalaman pertama terbang ke luar negeri sejujurnya menghadirkan sensasi takjub yang sulit dilukiskan. Selama ini, keindahan musim gugur, jalanan bersih Seoul, dan budaya Negeri Ginseng, hanya bisa ia nikmati dari balik layar ponsel sewaktu mengalihkan sengatan stres usai bekerja. Kini, takdir melemparkannya langsung ke negeri yang sangat terkenal itu.Namun, di balik decak kagumnya, ada rasa hampa yang menghimpit dada."Permisi, mau saya bantu naikkan tasnya ke bagasi atas?"Suara ramah berbahasa Indonesia dari arah samping membuyarkan lamunan wanita itu. Pria muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, dengan kacamata berbingkai hitam dan senyum yang hangat, berdiri di samping deretan kursinya. Lelaki itu baru saja kembali dari toilet dan melihat Alexa

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 27

    Pukul tujuh malam, rapat penting Randu dengan para investor dari Singapura baru saja selesai di ruang konferensi lantai lima. Lelaki itu menjabat tangan para mitra bisnisnya dengan ramah, sebelum mereka meninggalkan ruangan. Sambil melangkah kembali menuju ruang kerjanya untuk mengambil jas dan kunci mobil, Randu merogoh ponsel dari saku celana. Ia ingin mengecek keadaan Alexa di apartemen. Randu membuka aplikasi pemantau smart home dan CCTV apartemennya. Namun, layar ponselnya hanya menampilkan simbol pemuatan data yang berputar tanpa henti, diikuti oleh pemberitahuan merah. Connection Offline - No Signal. Alis Randu menyipit kencang. Jaringan internet di apartemennya sangat jarang mengalami gangguan karena menggunakan jalur serat optik ganda. Perasaan tidak enak seketika merayap di dadanya. Sebuah firasat dingin yang sangat mirip dengan kejadian beberapa hari lalu. Randu buru-buru memutar nomor telepon Pak Danu. "Halo, Pak Randu?" "Pak Danu! Tadi jam berapa mengantar Alexa ke

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 26

    Siang itu, matahari merayap di atas langit Jakarta. Udara terang benderang menyinari sebuah restoran mewah bergaya privat di kawasan Senopati. Alexa duduk berhadapan dengan Randu. Di atas meja tertata potongan daging wagyu yang dipanggang sempurna, salad segar, dan dua gelas jus buah. Alexa mengenakan gaun bahan katun berwarna krem lembut. Pakaian yang dibelikan Randu di mal malam itu. Wajahnya dipoles riasan tipis, memancarkan kecantikan yang amat alami. Ada binar hangat di matanya yang tak pernah dilihat Randu sebelumnya. "Kenapa mendadak mengajak makan di sini, Al?" tanya Randu sambil memotong daging di piringnya, senyum tipis terukir di bibir lelaki itu. "Biasanya kamu paling protes kalau diajak ke restoran sekelas ini." Alexa tertawa pelan. Suara tawanya terdengar amat renyah dan indah. "Sekali-kali, Ran. Lagipula, hari ini aku yang akan bayar." Randu menghentikan gerakan sumpitnya, mengangkat alis. "Kamu?" "Iya." Alexa membusungkan dada dengan jenaka. "Aku kan, sudah

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 25

    Seretan sepatu laras polisi di atas lantai semen ruko kawasan industri Jakarta Barat itu, memecah kebisingan mesin server yang meraung. Bau tembakau murah, mi instan basi, dan hawa pengap seketika terdesak keluar saat pintu besi didobrak paksa.Deden tidak sempat melarikan diri. Pria itu masih duduk di depan tiga layar komputer yang berkedip-kedip menayangkan baris kode peretas, dengan cangkir kopi hitam di genggamannya."Jangan bergerak! Angkat tangan!"Dua anggota polisi berpakaian preman langsung memiting kedua tangan Deden ke belakang, menghantamkan dadanya ke atas meja hingga deretan cangkir plastik terguling. Dua peretas bayaran yang duduk di sampingnya hanya bisa mengangkat tangan kaku. Wajah mereka memucat pasi sewaktu personel kepolisian mengamankan barang bukti perangkat keras dan penyimpanan data.Deden menggeram, mencoba meronta saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangannya dengan bunyi klik yang dingin. "Apa-apaan ini? Saya tidak salah apa-apa!"Bima melangkah m

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 24

    Randu seketika menegakkan tubuhnya, raut santainya menghilang dalam sekejap. "Ada apa, Rio?" "Platform novel aplikasi penerbitan terbesar kita diserang hacker sejak sepuluh menit yang lalu!" Alexa ikut berdiri. Jantungnya berdegup kencang melihat kepanikan di wajah orang kepercayaan Randu itu. "Apa maksudmu diserang?" cecar Randu sambil melangkah cepat menuju ruang kerjanya diikuti oleh Alexa dan Rio. "Tampilan utama aplikasi dan website teracak total, Pak! Seluruh banner cerita populer berubah menjadi tautan situs judi online dan konten pornografi!" terang Rio sambil mengoperasikan tablet di tangannya dengan jemari gemetaran. "Sistem pembayaran koin kita diblokir, dan puluhan ribu data pengguna mengalami kerusakan instruksi!" Ruang kerja Randu seketika riuh. Di layar monitor besar milik lelaki itu, tampilan aplikasi yang biasanya menampilkan karya-karya cerita terbaik, kini bertransformasi menjadi kekacauan visual yang mengerikan. Pemberitahuan di media sosial meledak.

  • Jawaban yang Terlambat   Bab 23

    "Ini uang untuk membayar minum dan ongkos pulangmu hari ini," ucap Randu dengan suara bariton yang begitu dingin dan mematikan. "Dengarkan aku baik-baik, Nyonya Ratih." Irin tertegun menatap Randu. "Mulai detik ini, jika kamu berani menampakkan wajah lagi di depan Alexa, atau mencoba memerasnya dengan alasan hubungan darah," Randu memajukan tubuhnya, menatap Irin dengan iris mata kelam yang penuh intimidasi, "aku memastikan pengacara terbaik akan menyeretmu ke jalur hukum, atas tuduhan penelantaran anak di bawah umur, dan pencemaran nama baik. Percayalah, aku punya uang dan kekuasaan yang cukup untuk membuat sisa hidupmu makin menderita di dalam penjara." Wajah Irin seketika memucat pasi. Ancaman pangeran kaya di depannya bukan gertakan sambal semata. Udara di sekeliling Randu terasa begitu menekan, hingga ibu kandung Alexa itu bahkan tidak sanggup membantah sepatah kata pun. Randu berdiri, lalu menarik tangan Alexa lembut untuk ikut pergi bersamanya. "Ayo pergi, Al," bisik R

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status