เข้าสู่ระบบButuh waktu yang cukup lama hingga akhirnya badannya yang kelelahan secara emosional menyerah pada rasa kantuk. Blaire benar-benar terlelap, tenggelam dalam tidur yang lelap tanpa mimpi. Tubuhnya rupanya memang sudah berada di titik nadir, menuntut haknya untuk beristirahat setelah berhari-hari didera stres akibat pernikahan ibunya. Kelelahan itu membuatnya tidur begitu dalam, mengisolasi dirinya dari rotasi dunia luar, sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa sang waktu telah bergulir dengan kecepatan yang menakutkan.
Hingga akhirnya, saat malam telah mencapai puncaknya—di jam-jam krusial di mana dunia luar telah sepenuhnya mati dan membeku—kedua kelopak mata Blaire mulai bergerak gelisah. Kesadarannya tipis-tipis mulai kembali ke permukaan. Meskipun matanya masih enggan terbuka karena kelopak yang terasa seberat timah, ada satu rasa tidak nyaman yang memaksanya keluar dari zona nyaman rasa haus yang membakar. Kerongkongannya terasa sekering gurun, perih dan menuntut untuk segera dialiri air.
Dengan erangan pelan yang tertahan di tenggorokan, Blaire memaksa diri untuk membuka mata. Kamarnya kini sudah gelap gulita karena lampu chandelier tampaknya telah mati otomatis. Dia menyibak selimut tebalnya, membiarkan udara malam yang dingin langsung menusuk kulitnya yang hanya terbalut gaun tidur tipis. Kedua kakinya diturunkan ke lantai, meraba-raba sejenak sebelum menemukan sandal tidurnya yang empuk.
Dia berdiri dengan tubuh yang agak limbung, berjalan mendekati nakas di samping ranjang. Tangan kanannya meraba permukaan kayu mahal itu, mencari teko kaca yang biasanya ada di sana. Nihil. Dia baru ingat bahwa gelas dan teko di kamarnya belum sempat diisi ulang oleh pelayan karena dia buru-buru mengunci diri tadi malam. Dengan helaan napas berat penuh kekesalan, Blaire terpaksa melangkah menuju pintu. Dia harus turun ke dapur utama jika tidak ingin mati dehidrasi sebelum pagi.
Ketika pintu kamar dibuka, koridor panjang mansion itu menyambutnya dengan keheningan yang mencekam. Blaire melangkah perlahan, menuruni anak tangga marmer satu demi satu. Keadaan rumah sudah sepi total. Kemeriahan pesta yang beberapa jam lalu memekakkan telinga kini menguap tanpa bekas, menyisakan keheningan absolut yang agak mengintimidasi. Tampaknya after party itu memang selesai tepat waktu, tidak sampai larut dini hari seperti pesta liar kaum sosialita pada umumnya. Para pelayan juga pasti sudah kembali ke paviliun mereka, beristirahat setelah seharian penuh diperas tenaganya. Di tengah arsitektur gotik modern yang megah ini, Blaire merasa seperti satu-satunya jiwa yang tersisa.
Langkahnya menuju dapur terasa gontai, tubuhnya loyo dengan sisa-sisa kantuk yang masih menggelayuti sudut matanya. Pandangannya agak buram, membuatnya harus ekstra hati-hati. Beruntung insting tubuhnya masih bekerja dengan baik; dia tidak tersandung karpet mahal atau terpeleset di anak tangga yang licin tadi.
Begitu menginjakkan kaki di area dapur bersih yang didominasi warna hitam dan marmer abu-abu, Blaire segera menyalakan lampu kecil di sudut konter. Dia mengambil sebuah gelas kaca tinggi, membukanya ke dispenser, dan mengisinya dengan air dingin hingga penuh. Tanpa menunggu lama, dia langsung meneguknya. Air dingin itu mengalir melewati kerongkongannya, menyiram rasa dahaga dan seketika mengirimkan sinyal kesegaran yang mengejutkan saraf-saraf tubuhnya.
Selesai dengan urusan tenggorokan, Blaire meletakkan gelasnya yang kini tinggal terisi setengah di atas meja konter. Alih-alih langsung kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya, sebersit ide muncul di kepalanya. Rasa kantuknya kini telah sepenuhnya menguap, terusir oleh siraman air dingin dan atmosfer malam yang sunyi. Tidur berjam-jam tadi rupanya sudah cukup mengisi ulang energinya. Hanya saja, tubuhnya masih menyisakan sensasi aneh—seperti mayat hidup yang berjalan dengan kesadaran yang belum sinkron sepenuhnya. Dia butuh udara segar untuk menenangkan kepalanya yang mulai kembali memikirkan hal-hal rumit.
Blaire memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Dia melangkah melewati koridor dapur, berniat menuju halaman samping yang berbatasan langsung dengan area olahraga pribadi dan taman dalam. Dia tidak memiliki tujuan spesifik yang mendesak, hanya membiarkan kedua kakinya yang telanjang di dalam sandal beludru itu menuntun kemana pun mereka mau.
Namun, langkah kaki Blaire mendadak terkunci di lantai marmer ketika maniknya menangkap seberkas cahaya terang dari arah ruang kebugaran privat di sayap bangunan tersebut. Di sana, di balik kegelapan lorong, ada sebuah ruangan yang lampunya masih menyala benderang.
Awalnya, dia berniat untuk mengabaikannya dan berbalik arah. Dia tidak ingin dituduh sebagai pengintip malam. Namun, arsitektur ruangan itu seolah sengaja dirancang untuk menjebaknya. Dinding ruangan tersebut nyaris sepenuhnya terbuat dari kaca transparan tebal dari lantai hingga langit-langit, dan malam ini, seluruh tirai otomatisnya sama sekali tidak ditutup, memamerkan dengan jelas apa pun yang ada di dalam.
Glek.
Blaire menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Tenggorokannya yang baru saja diguyur air dingin mendadak kembali terasa kering dan panas. Tanpa sadar, tangannya bergerak mengambil kembali gelas yang sejak tadi dipegangnya, lalu meneguk sisa air di dalamnya hingga tandas, berharap tindakan itu bisa meredam debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu abnormal.
Kedua matanya seolah dipaku pada posisinya. Otaknya yang rasional sudah berteriak, memerintahkan kakinya untuk segera berbalik, berlari kembali ke kamarnya, dan mengunci pintu rapat-rapat. Namun, ego dan rasa penasarannya bertindak sebagai jangkar yang menahannya di tempat. Sialan, Blaire terpaksa mengakui dalam hati dengan sisa harga dirinya yang terluka—pemandangan di dalam sana terlalu... mengintimidasi sekaligus indah.
Di bawah siraman lampu sorot ruangan yang terang, seorang pria sedang bergerak membelakanginya, melakukan latihan pull-up pada palang besi dengan ritme yang konstan dan terkontrol. Itu Ben.
Keributan kecil yang terjadi di meja mereka jelas mulai menarik perhatian beberapa pengunjung kafe dan staf yang ada di sekitar sana. Tatapan-tatapan penasaran mulai tertuju pada mereka, dan Blaire merasa sangat, sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian atas drama picisan seperti ini.“Fine! Tunggu aku membereskan barang-barangku dulu!” kata Blaire pada akhirnya. Dia menyerah kalah, mengalah secara terpaksa demi menghentikan kegilaan ini meski dadanya bergemuruh menahan kekesalan yang membakar.Axelo tampak sangat kaget mendengar ucapan pasrah dari perempuan itu. “Blaire, kau tidak harus—”“Axelo, maafkan aku. Tapi aku memang harus pulang sekarang juga,” sela Blaire memotong ucapan Axelo. Dia sengaja menekankan dua kata terakhirnya sembari melemparkan tatapan penuh penyesalan pada laki-laki itu.“Ah... okay kalau memang begitu...” Axelo menghela napas pasrah, mendadak bingung dan kehilangan kata-kata harus bereaksi seperti apa lagi.Set
Axelo memilih sebuah kafe yang lokasinya terbilang cukup jauh dari area lingkungan kampus. Namun, begitu mereka sampai, pilihan tempatnya terbukti sangat luar biasa. Kafe tersebut mengusung gaya estetika retro yang hangat, dengan letak bangunan yang persis berada di tepi jembatan kota. Dengan kata lain, salah satu sisi kafe yang berdinding kaca transparan itu menyajikan pemandangan spektakuler berupa hamparan sungai jernih yang airnya mengalir deras di bawah terpaan sinar sore.Sesuai dengan agenda awal mereka, begitu berhasil mendapatkan meja kosong yang nyaman di sudut ruangan, berbagai peralatan belajar langsung dikeluarkan dari dalam tas. Untungnya, permukaan meja kayu tempat mereka duduk cukup lebar dan lapang, sehingga mereka bisa leluasa menata MacBook, buku-buku referensi tebal, buku catatan, pulpen, dan barang lainnya. Tentu saja, sebelum mulai sibuk, Blaire dan Axelo sudah lebih dulu memesan beberapa menu makanan ringan dan minuman hangat.Seharusnya, agenda
Blaire mengangguk setuju. “Boleh. Perutku juga belum terisi dari tadi pagi.”Atas ide tersebut, keduanya segera membereskan sisa barang di meja dan melangkah meninggalkan keheningan perpustakaan. Begitu memijak koridor luar, mereka mulai mengobrol dengan lebih bebas dan santai sembari berjalan berdampingan menuju kafetaria kampus.Sejujurnya, Blaire tergolong jarang sekali menyantap sarapan di area kampus. Dia jauh lebih terbiasa makan di rumah sebelum berangkat. Namun, karena pagi ini dia sengaja melewatkan ritual sarapan keluarga akibat suasana hatinya yang memburuk, keputusan untuk menyantap sarapan bersama Axelo rasanya bukan ide yang buruk sama sekali.Tak berapa lama, mereka telah duduk berhadapan di salah satu meja kosong di sudut kafetaria. Di hadapan masing-masing sudah tersedia menu sarapan hangat beserta minuman yang tadi mereka pesan. Tanpa banyak mengulur waktu, mereka mulai menikmati makanan tersebut.“Sepertinya semester ini kita bakal makin dipadatkan sama tugas-tugas
Pagi ini cuaca kota sedang amat cerah. Langit membentang bak kain biru bersih tanpa cela, hanya dihiasi segelintir gumpalan awan putih tipis yang berarak perlahan terdorong angin. Matahari menyiramkan sinar hangatnya, yang lambat laun beranjak kian terik seiring detik yang bergerak menuju siang. Di atas sana, gerombolan burung gereja sesekali terbang melintas membentuk formasi, bersahut-sahutan di antara pepohonan kampus. Dari kejauhan, deru lalu lintas jalan raya dan riuk rendah hiruk-pikuk perkotaan menyajikan ritme pemandangan yang teramat biasa bagi siapa pun yang melintas.Namun, Blaire kembali gagal memulai harinya dengan suasana hati yang baik.Kejadian serba canggung dan kacau semalam benar-benar memengaruhi kewarasannya. Bayangan-bayangan yang seharusnya tidak hadir terus berputar tanpa permisi di kepalanya, memburu hingga ke sela-sela napas. Untuk alasan itu pula, pagi ini dia sengaja melewatkan sarapan di meja makan rumah, sengaja menghindari tatapan siapa pun, dan memilih
Kalimat sumpah serapah itu kembali lenyap di udara ketika Ben menunduk, melumat bibirnya lebih dalam dan menyambung kembali momen panas yang memabukkan tersebut.Pada mulanya, Blaire masih mencoba menolak. Bagaimanapun, ingatan tentang Ben yang mencium perempuan lain kembali membayangi kepalanya setiap kali sentuhan laki-laki itu merayapi kulitnya. Rasa hina itu membakar martabatnya.Namun sialnya, kenyataan pahit yang diucapkan Ben terbukti benar. Bibirnya boleh saja terus merangkai kalimat pedas, pikirannya boleh berontak mati-matian, dan hatinya boleh menolak dengan keras. Sayangnya, tubuh wanita itu menyerah pada biologisnya sendiri.Tubuhnya bergetar, memberi respons penuh pasrah atas setiap sentuhan Ben. Dan entah bagaimana, tiap remasan, gesekan, dan usapan jemari Ben menciptakan letupan rangsangan baru yang asing sekaligus adiktif. Seakan-akan Blaire sedang ditarik lepas dari pijakan bumi, dibawa terbang melayang dan ditenggelamkan dalam sensasi baru yan
Suara bisikan sarat bisa itu meluncur mulus dari bibir Blaire. Dan tepat di detik kalimat itu selesai diucapkan, raut dingin yang membeku di wajah Ben akhirnya retak. Topeng tenangnya runtuh seketika, berganti dengan gulungan emosi gelap yang mendadak menyeruak ke permukaan. Sepasang mata gelap laki-laki itu kini menampakkan kobaran emosi yang berbahaya.“Jijik?” Satu kata itu dilontarkan Ben dengan kekehan sinis, disertai senyum miring yang terukir samar di sudut bibirnya.“Ya. Kau. Menjijikkan,” desis Blaire tanpa keraguan sedikit pun, penuh nada permusuhan. Di balik binar matanya yang menyorot tajam, ada kebencian mendalam yang merambat naik mencapai puncaknya.Harga diri Ben jelas terhentak keras. Kata pendek itu telak mengenai egonya, terlebih karena Ben tahu betul Blaire tidak sedang bergurau. Lagi pula, sejarah di antara mereka tidak pernah menyisakan ruang untuk gurauan hangat. Sebaliknya, atmosfer di antara mereka selalu diselimu
Suasana meja makan terasa lebih mendebarkan pagi itu. Agenda sarapan yang harusnya berlalu dengan kehangatan, mendadak berubah arah sesaat setelah Marcel bersuara.“Ben, Blaire, ada yang ingin Dad katakan pada kalian. Mungkin sebelumnya kalian sudah mendengar ini, baik dari Dad atau Mom. Dad hanya
Setelah melalui banyak drama pagi ini, akhirnya Blaire bisa tiba di sebuah rumah megah. Taksi yang mengantarnya berhenti dengan mulus di depan gerbang. Kemudian, Blaire turun dari mobil dan segera melangkah cepat.Ini bukan rumahnya atau rumah ibunya, melainkan rumah calon suami baru ibunya. Alias,
Mimpi itu terasa terlalu nyata, tetapi jika kenyataan justru itu terasa seperti mimpi. Cukup lama Blaire terjebak dalam buaian mimpi hingga akhirnya dia berhasil perlahan-lahan meraih kesadaran.Kedua matanya mulai bergerak-gerak sebelum perlahan-lahan membuka penuh. Hal pertama yang dia lihat adal
“Blaire, kau sepertinya butuh bantuan,” ucap suara familier itu. Blaire mengenali pria itu sebagai kakkak sahabatnya. “Ayolah. Apakah kau akan pergi sebelum bersenang-senang denganku?”Blaire menggelengkan kepala, mencoba fokus. Kesadarannya nyaris menguap sepenuhnya, dan sialnya, dia mulai merasak







