LOGINAngin malam berhembus lembut dari arah laut, menyapu helaian rambut Vennesa yang terurai hingga ke bahunya. Bulan menggantung tinggi, memantulkan cahaya perak di atas ombak yang beralun tenang. Malam itu terasa terlalu indah untuk dihabiskan sendirian. Vennesa menarik nafas panjang, membiarkan udara masin laut memenuhi dadanya.
Namun keheningan itu pecah apabila sepasang tangan tiba-tiba melingkari pinggangnya dari belakang. Sentuhan itu membuat jantungnya berdegup deras. Nafas hangat lelaki itu menyentuh lembut cuping telinganya — membuat tubuhnya kaku, namun tidak ingin menjauh. “Indah, kan? Laut Serenova waktu malam,” suara bariton yang dalam menyapa lembut di telinganya. Vennesa mengenali suara itu. Ben. Ada rasa asing menyelinap dalam dadanya. Dia tidak menoleh, hanya menunduk sedikit, melihat jari-jemari lelaki itu yang erat di pinggangnya. Sentuhan itu tidak kasar, tapi cukup untuk membuat darahnya berdesir aneh. “Ben...” bisiknya perlahan, hampir seperti takut suaranya sendiri. Ben tersenyum kecil. “Kamu tak keberatan, kan?” Vennesa menelan liur. Mungkin kerana alkohol, mungkin juga kerana pesona lelaki itu, fikirannya bercampur aduk. Dia ingin menolak, tetapi tubuhnya seakan tidak mahu mendengar kata hatinya. Angin laut membawa bersama aroma maskulin Ben yang samar — dan entah kenapa, itu membuatnya semakin lemah. “Kalau pacarmu tahu aku begini, dia pasti marah,” ujar Ben dengan nada menggoda. “Aku… tak punya pacar,” jawabnya perlahan. Ben tertawa kecil, suaranya dalam dan bergetar di belakang telinganya. “Kalau begitu aku beruntung malam ini.” Vennesa memejamkan mata, menahan gelombang debaran yang entah datang dari mana. Tangan Ben perlahan naik ke sisi lengannya, membawa kehangatan yang membuat kulitnya meremang. Hanya itu — tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhnya terasa disambar api halus. Dia tahu sepatutnya berundur, tapi langkahnya seolah tertambat. Ben terlalu dekat, terlalu berani. Tatkala lelaki itu beralih ke sisi, pandangan mereka bertaut — mata Ben redup, namun tajam. Ada sesuatu di sana: keinginan, tapi juga kekaguman. Entah mengapa dia juga menginginkan lebih dari hanya sentuhan. Vennesa memejamkan matanya sejenak. Tanpa bicara, Ben mengangkat tangannya, menyelak anak rambut yang menutupi wajah Vennesa. Gerakannya perlahan, seolah-olah dunia di sekeliling berhenti. Dalam jarak sedekat itu, Vennesa dapat mendengar degupan jantungnya sendiri. “Jangan takut,” bisik Ben. “Aku cuma ingin mengingat malam ini.” Kata-kata itu membuat dada Vennesa bergetar. Saat Ben mendekat, dia hampir lupa bernafas. Wajah mereka hanya terpisah sejengkal, udara di antara mereka terasa padat, penuh ketegangan yang manis. Entah kenapa vennesa ragu-ragu, dia menatap bibir lelaki dihadapannya ini, terasa ingin mencicipinya. Hatinya bergetar hebat oleh pesona seorang Benjamin Addam. Namun sebelum bibir mereka benar-benar bersentuhan, Vennesa menarik nafas dalam dan berpaling. “Cukup, Ben...” suaranya serak tapi tegas. Vennesa menelan liur. Mengatur semula pernafasannya kembali tenang. Ben menatapnya sejenak, kemudian mengangguk perlahan. “Baik. Tapi suatu hari nanti... aku ingin dengar jawapan jujur darimu — apakah kamu benar tak ingin aku dekat?” Tangannya merayap ke bahagian bawah tuduh Vennesa dengan sentuhan yang menggoda. Vennesa tak menjawab. Dia hanya memandang laut yang bergelora perlahan, menyembunyikan debar di dadanya. Cuba mempertahankan kewarasannya agar tak melangkah melebihi batas seharusnya. Di seberang jalan, sebuah lampu merah kecil berkelip—seolah-olah sedang mengamati mangsanya yang perlahan jatuh ke dalam perangkap. Beberapa minit kemudian, dia kembali ke dalam bar. Tommy dan Vellery sudah selesai berdansa; mereka berdua ketawa kecil sambil bersandar di sofa, gelas di tangan. Tommy senpat melirik ke arah balkon dari arah Vennesa muncul. Dia sempat tersenyum miring matanya liar mencari sosok yang dia kenal di kelab itu. “Hai, kak. Ke mana aja? Dari tadi aku cari,” sapa Vellery sambil tersenyum. “Oh, kakak cuma ambil angin di balkon. Lautnya indah banget malam ini,” jawab Vennesa, membalas senyuman. Tapi di balik wajah tenangnya, hatinya masih bergoncang. Angin malam, sentuhan Ben yang memabukkan, dan tatapan matanya yang mempersona — semuanya masih terasa, seolah belum benar-benar pergi. Rasa panas masih lagi menyelubungi dirinya. Dan entah kenapa... ia membuat Vennesa takut. Bukan pada Ben — tapi pada dirinya sendiri. Tapi hati kecilnya turut mengingkan sentuhan Ben. Dari sudut gelap kelab, seseorang diam-diam mengangkat ponselnya. Lensa kamera itu menyorot ke arah Venesa, Velery, dan Tommy — tanpa mereka sadari.Langit senja di Pulau Serenova dilukis warna keemasan. Ombak memecah perlahan di pantai, membisikkan lagu perpisahan untuk hari yang panjang. Di beranda vila kecil mereka yang menghadap laut, Ben duduk bersila di atas tikar rotan, memangku bayi kecil yang baru berusia dua minggu. Bryan dan Bryden sedang berlarian kecil di halaman rumput, tertawa bersama Edward dan Vellery yang datang menengok keponakan baru mereka. Vellery kini sudah resmi bertunangan, dan wajahnya tak henti tersenyum sejak pagi. Sementara itu, dari dapur, aroma sedap masakan menyapa angin. Vennesa sedang menyendok sup jagung ke mangkuk, rambutnya diikat rapi. Tubuhnya masih lelah pasca melahirkan, namun wajahnya berseri bahagia. Sesekali ia melirik ke luar jendela, memastikan suaminya tidak ‘menggila’ lagi dengan ide nyeleneh seperti mengajarkan anak-anak bermain gitar metal atau menyanyi lagu rock keras sebagai lullaby. Tapi sore ini, Ben terlihat… tenang. Ben mendekap putri kecilnya—mereka menamainya Elora, yan
Beberapa bulan setelah pernikahan Benedict Addam, hari-hari di Velmare kembali berjalan penuh warna. Vellery semakin serius menjalani hubungan dengan Edward. Ia sering berkunjung ke rumah keluarga Edward, dan disambut hangat seperti calon menantu. Sementara itu, bisnis kecil Ben yang dijalankan dari rumah berkembang pesat. Ia tetap mengasuh anak-anak sambil mengelola penjualan daring dari produk-produk custom yang dulu dia rintis secara iseng. Vennesa juga tak kalah bersinar. Ia kini telah dipromosikan menjadi Manajer Senior Strategi Pelaburan di perusahaan besar tempat ia bekerja. Dengan pengalaman dan kerja kerasnya, Vennesa menjadi salah satu figur perempuan muda yang diperhitungkan dalam dunia korporat Velmare. Sore itu, langit cerah, angin sepoi-sepoi meniup dedaunan taman kota yang rindang. Di sebuah taman kecil tak jauh dari gedung perusahaannya, Ben duduk santai bersama kedua anak kembarnya yang kini berusia tiga tahun. Mereka asyik makan es krim—berantakan dan meleleh
Dua tahun telah berlalu. Pagi itu, cahaya matahari menari lembut di sela-sela tirai kamar, menyapa wajah Vennesa yang tengah merapikan riasannya di hadapan meja rias. Hembusan angin laut membawa aroma segar yang menerobos celah jendela, membuat helaian rambutnya yang digerai beralun tampak hidup, menari mengikuti irama alam. Dress labuh berwarna biru lembut membalut tubuhnya dengan anggun. Potongannya sederhana, namun begitu serasi dengan keanggunan alaminya. Sentuhan riasan di wajahnya tak mencolok, tapi cukup menonjolkan sisi manis dan dewasa seorang istri, seorang ibu, seorang wanita yang telah tumbuh bersama cinta dan ujian hidup. “Ben! Ben!” panggilnya dari dalam kamar. Tak lama, Ben muncul di ambang pintu, mengenakan kemeja linen putih dan celana panjang coklat muda. Wajahnya berseri saat memandang istrinya. “Kamu cantik sekali, Sayang,” katanya tulus, seolah baru pertama kali melihat wanita itu. Vennesa tersenyum malu, pipinya merona. “Anak-anak sudah siap?” “Sudah, Saya
Petang itu, matahari mulai turun perlahan di ufuk barat ketika Ben dan Vennesa melambaikan tangan kepada Edward dan Vellery yang hendak kembali ke kota Velmare. Koper mereka sudah tersusun rapi di bagasi taksi yang menunggu di depan vila. Setelah pelukan singkat dan kata perpisahan, taksi meluncur pergi, meninggalkan jejak kenangan yang hangat. Ben masuk lebih dulu ke dalam rumah. Di ruang tamu, kedua anak kembar mereka tengah merangkak lincah, tertawa dan mengejar bayang-bayang sendiri di bawah cahaya sore yang masuk dari jendela besar. Sementara itu, Vennesa melangkah keluar untuk mengunci pagar. Ketika hendak menutup pintu besi itu, pandangannya tertumbuk pada sesosok pria tua berdiri tak jauh di seberang jalan. Tubuhnya sedikit membongkok, matanya penuh ragu, namun tatapannya tertuju tepat ke arah vila mereka. "Pak?" sapa Vennesa, pelan namun ramah. Pria itu tersenyum kaku. "Saya hanya mau lihat dari jauh..." “Masuklah. Kami di rumah,” ajaknya lembut, lalu membukakan paga
“Jadi… kau mau aku lanjutkan?” tanya Ben lirih. Vennesa mendongakkan kepalanya dari dada Ben, menatap matanya yang mulai tenang meski masih menyimpan kelelahan emosional. Ia menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. “Mungkin lain kali,” ucapnya lembut. “Maaf ya, Sayang… aku keterlaluan. Egois. Harusnya aku nggak memaksa kamu buka luka lama.” Ben menggeleng, tangannya membelai pipi Vennesa dengan penuh kasih. “Enggak, Sayang… kamu nggak salah. Aku yang harusnya minta maaf. Aku… bukan lelaki yang baik buat kamu. Masa laluku terlalu kelam.” Vennesa menatapnya dalam-dalam. Kali ini matanya tak lagi bingung atau ragu—melainkan penuh keteguhan. “Kamu baik kok,” katanya dengan suara mantap. “Kamu orang baik… cuma pernah ketemu orang yang salah. Dan itu bukan salahmu.” Ben menunduk, matanya memerah. “Kamu berubah, Ben. Dan itu yang penting. Kamu sudah memilih jalan yang benar. Kita bisa tinggalkan semua masa lalu itu… kita bisa mulai hidup baru. Bersih. Tenang. Bersama.” Ben mengangg
“Aku dibawa ke vila mewah milik Mr. John,” lanjut Ben, suaranya kini sedikit lebih tenang, namun matanya masih memandang kosong pada kenangan yang jelas belum pernah ia bagi kepada siapa pun. “Dan di sanalah… aku bertemu Monica.”Vennesa mengerutkan dahi, lalu perlahan menutup mulutnya yang terbuka lebar, matanya membesar. “Maksud kamu… Mr. John itu ayah tiri Monica?”Ben hanya mengangguk pelan. Wajahnya datar, tapi jelas tersimpan beban.“Ibu Monica… mantan istri Mr. John, meninggal karena sakit parah. Setelah itu, Monica dibolehkan tetap tinggal di vila. Mr. John bilang dia sudah seperti anak sendiri.” Vennesa masih diam. Hatinya mulai terasa tidak enak, tapi ia menahan diri. Ia tahu, Ben belum selesai. “Awalnya… aku pikir Mr. John itu malaikat,” Ben melanjutkan, nadanya pahit. “Dia selamatkan aku dari jalanan, kasih tempat tinggal, kasih makanan, ajarin aku banyak hal. Tapi semua berubah… malam itu.” Ben menunduk, menatap jemarinya yang kini menggenggam erat helaian ram







