Home / Romansa / Jejak Cinta di Pulau Serenova / Bab 4 – Bayu Malam Serenova

Share

Bab 4 – Bayu Malam Serenova

Author: kim sujin
last update Last Updated: 2025-10-10 10:24:39

Angin malam berhembus lembut dari arah laut, menyapu helaian rambut Vennesa yang terurai hingga ke bahunya. Bulan menggantung tinggi, memantulkan cahaya perak di atas ombak yang beralun tenang. Malam itu terasa terlalu indah untuk dihabiskan sendirian. Vennesa menarik nafas panjang, membiarkan udara masin laut memenuhi dadanya.

Namun keheningan itu pecah apabila sepasang tangan tiba-tiba melingkari pinggangnya dari belakang. Sentuhan itu membuat jantungnya berdegup deras. Nafas hangat lelaki itu menyentuh lembut cuping telinganya — membuat tubuhnya kaku, namun tidak ingin menjauh.

“Indah, kan? Laut Serenova waktu malam,” suara bariton yang dalam menyapa lembut di telinganya.

Vennesa mengenali suara itu. Ben. Ada rasa asing menyelinap dalam dadanya.

Dia tidak menoleh, hanya menunduk sedikit, melihat jari-jemari lelaki itu yang erat di pinggangnya. Sentuhan itu tidak kasar, tapi cukup untuk membuat darahnya berdesir aneh.

“Ben...” bisiknya perlahan, hampir seperti takut suaranya sendiri.

Ben tersenyum kecil. “Kamu tak keberatan, kan?”

Vennesa menelan liur. Mungkin kerana alkohol, mungkin juga kerana pesona lelaki itu, fikirannya bercampur aduk. Dia ingin menolak, tetapi tubuhnya seakan tidak mahu mendengar kata hatinya. Angin laut membawa bersama aroma maskulin Ben yang samar — dan entah kenapa, itu membuatnya semakin lemah.

“Kalau pacarmu tahu aku begini, dia pasti marah,” ujar Ben dengan nada menggoda.

“Aku… tak punya pacar,” jawabnya perlahan.

Ben tertawa kecil, suaranya dalam dan bergetar di belakang telinganya. “Kalau begitu aku beruntung malam ini.”

Vennesa memejamkan mata, menahan gelombang debaran yang entah datang dari mana. Tangan Ben perlahan naik ke sisi lengannya, membawa kehangatan yang membuat kulitnya meremang. Hanya itu — tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhnya terasa disambar api halus.

Dia tahu sepatutnya berundur, tapi langkahnya seolah tertambat. Ben terlalu dekat, terlalu berani. Tatkala lelaki itu beralih ke sisi, pandangan mereka bertaut — mata Ben redup, namun tajam. Ada sesuatu di sana: keinginan, tapi juga kekaguman. Entah mengapa dia juga menginginkan lebih dari hanya sentuhan. Vennesa memejamkan matanya sejenak.

Tanpa bicara, Ben mengangkat tangannya, menyelak anak rambut yang menutupi wajah Vennesa. Gerakannya perlahan, seolah-olah dunia di sekeliling berhenti. Dalam jarak sedekat itu, Vennesa dapat mendengar degupan jantungnya sendiri.

“Jangan takut,” bisik Ben. “Aku cuma ingin mengingat malam ini.”

Kata-kata itu membuat dada Vennesa bergetar. Saat Ben mendekat, dia hampir lupa bernafas. Wajah mereka hanya terpisah sejengkal, udara di antara mereka terasa padat, penuh ketegangan yang manis. Entah kenapa vennesa ragu-ragu, dia menatap bibir lelaki dihadapannya ini, terasa ingin mencicipinya. Hatinya bergetar hebat oleh pesona seorang Benjamin Addam.

Namun sebelum bibir mereka benar-benar bersentuhan, Vennesa menarik nafas dalam dan berpaling. “Cukup, Ben...” suaranya serak tapi tegas. Vennesa menelan liur. Mengatur semula pernafasannya kembali tenang.

Ben menatapnya sejenak, kemudian mengangguk perlahan. “Baik. Tapi suatu hari nanti... aku ingin dengar jawapan jujur darimu — apakah kamu benar tak ingin aku dekat?” Tangannya merayap ke bahagian bawah tuduh Vennesa dengan sentuhan yang menggoda.

Vennesa tak menjawab. Dia hanya memandang laut yang bergelora perlahan, menyembunyikan debar di dadanya. Cuba mempertahankan kewarasannya agar tak melangkah melebihi batas seharusnya.

Di seberang jalan, sebuah lampu merah kecil berkelip—seolah-olah sedang mengamati mangsanya yang perlahan jatuh ke dalam perangkap.

Beberapa minit kemudian, dia kembali ke dalam bar. Tommy dan Vellery sudah selesai berdansa; mereka berdua ketawa kecil sambil bersandar di sofa, gelas di tangan. Tommy senpat melirik ke arah balkon dari arah Vennesa muncul. Dia sempat tersenyum miring matanya liar mencari sosok yang dia kenal di kelab itu.

“Hai, kak. Ke mana aja? Dari tadi aku cari,” sapa Vellery sambil tersenyum.

“Oh, kakak cuma ambil angin di balkon. Lautnya indah banget malam ini,” jawab Vennesa, membalas senyuman.

Tapi di balik wajah tenangnya, hatinya masih bergoncang. Angin malam, sentuhan Ben yang memabukkan, dan tatapan matanya yang mempersona — semuanya masih terasa, seolah belum benar-benar pergi. Rasa panas masih lagi menyelubungi dirinya.

Dan entah kenapa... ia membuat Vennesa takut.

Bukan pada Ben — tapi pada dirinya sendiri. Tapi hati kecilnya turut mengingkan sentuhan Ben.

Dari sudut gelap kelab, seseorang diam-diam mengangkat ponselnya. Lensa kamera itu menyorot ke arah Venesa, Velery, dan Tommy — tanpa mereka sadari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jeo Anne
nih ceritanya bakal rumit kyknya awal bab udh byk yg mencurigakan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 111 — Operasi Senyap

    Malam itu kota Valmere tenang. Tapi di markas unit khusus di pinggir kota, Kapten Renz menatap layar besar dengan tatapan fokus. Di depan layar itu, peta digital terpampang — menandai titik merah di koordinat selatan, tepat di tepi kawasan gudang lama. “Target sudah berpindah ke lokasi cadangan,” ujar salah satu petugas. Kapten Renz berdiri, menarik napas perlahan. “Pastikan perimeter terkunci. Tak ada jalan keluar.” Beberapa anggota bersenjata ringan segera bergerak. Helikopter tanpa suara berangkat dari atap bangunan, meluncur ke arah laut dengan lampu redup. Jesica dan Grayson tak menyadari apa pun. Mereka sedang duduk di ruang bawah tanah villa mewah milik Grayson — tempat persembunyian yang mereka anggap aman. Di meja, laptop terbuka, menampilkan daftar nama dan beberapa file transaksi. Jesica bersandar di kursi, meneguk wine dengan ekspresi puas. “Ben mungkin sudah kabur,” kata Grayson santai. “Tapi dia takkan sempat jauh. Kita punya koneksi di setiap pelabuhan.” Jesica te

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 110 — Bayangan Lama

    Pagi itu, aroma kopi memenuhi ruang tamu apartemen. Cahaya matahari menembus jendela besar, memantulkan cahaya lembut di dinding. Tapi suasana di dalam ruangan tetap berat.Ben duduk di sofa, mengenakan kemeja bersih pinjaman Vellery. Wajahnya sudah bercukur, namun masih tampak lelah. Di meja, Kapten Renz menatap layar tabletnya — menelusuri data yang tampak rumit. Vennesa meletakkan secangkir kopi di depan Ben, lalu duduk di sampingnya. “Kau tidur sedikit saja,” katanya lembut. “Aku tak bisa,” jawab Ben. “Masih terlalu banyak yang harus kupahami.” Kapten Renz akhirnya menutup tabletnya, lalu menatap keduanya. “Memang banyak hal yang belum kalian tahu. Terutama soal Jesica.” Ben menghela napas pelan. “Apa maksudmu?” Renz menyandarkan punggungnya ke kursi. “Jesica memang orang yang menyiapkan penyekapan itu. Tapi dia tidak bertindak sendiri. Ada seseorang di belakangnya — seseorang yang memberi izin, dana, dan akses.” Vennesa menatapnya bingung. “Siapa?” Renz menatap

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 109 – Dua Detak Dalam Satu Rindu

    Malam di Valmere terasa lebih lembut dari biasanya. Udara dingin yang biasanya menusuk kini seolah jinak, membelai pelan kaca jendela kamar dengan embun tipis. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan, seperti bintang-bintang kecil yang jatuh dan menetap di bumi, memantulkan cahaya ke dinding kamar yang kini kembali berisi dua jiwa yang pernah dipisahkan oleh waktu, jarak, dan ketakutan akan kehilangan.Ben berbaring di samping Vennesa, memeluknya dengan lengan yang terasa lebih kuat dari sebelumnya—seolah pelukan itu adalah sumpah bisu bahwa ia tak akan melepaskan wanita itu lagi. Hangat tubuh Vennesa, aroma kulitnya yang begitu dikenalnya, detak jantungnya yang stabil di bawah telinga Ben, semuanya membuat pria itu merasa benar-benar pulang. Bukan sekadar pulang ke kota atau kamar ini, melainkan pulang ke hidupnya sendiri.Vennesa masih terisak kecil di dadanya. Ia berusaha menahan tangis, menelan sesak di tenggorokan, tapi setiap kali Ben membelai rambutnya dengan lembut, air mata

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 108 — Luka yang Belum Sembuh

    Pelukan itu berlangsung lama. Vennesa memeluk Ben erat-erat, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar nyata di hadapannya. Air matanya menetes deras, membasahi bahu Ben. “Kenapa begitu lama, Ben…” suaranya serak. “Aku hampir gila menunggumu.” Ben mengusap pipinya lembut, bibirnya menempel di kening wanita itu. “Sst… aku sudah di sini, Ven. Aku pulang,” ucapnya pelan. “Jangan menangis lagi, sayang. Aku janji, aku tak akan pergi lagi.” Vennesa terisak. “Kau tahu betapa aku takut kehilanganmu…” Ben menatapnya dalam-dalam. “Aku tahu. Dan aku minta maaf… untuk segalanya.” Beberapa saat kemudian, mereka berpindah ke ruang tamu. Vellery membawa minuman hangat, meletakkannya di meja. Ia duduk di sisi lain, matanya masih sembab menahan haru. Kapten Renz mengambil tempat berseberangan, sikapnya tenang tapi wajahnya menyimpan sesuatu yang serius. “Baik,” ujar Kapten Renz membuka percakapan, suaranya mantap. “Sekarang saatnya kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ben menunduk. Ia

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 107 — Di Pintu yang Sama

    Lift berhenti di tingkat dua puluh tujuh dengan bunyi dengung pelan yang terasa terlalu keras bagi Ben. Pintu logam itu terbuka perlahan, memperlihatkan lorong apartmen yang sunyi dan bersih — seolah dunia di baliknya tak pernah mengenal kekacauan yang baru saja ia lewati.Ben berdiri kaku. Dadanya naik turun tidak teratur, jantungnya berdentum keras seperti hendak memecah tulang rusuk. Lima bulan dalam kurungan gelap, interogasi tanpa wajah, dan malam-malam tanpa waktu telah mengikis keberaniannya. Kini, hanya beberapa langkah dari kebebasan yang nyata, tubuhnya justru terasa asing.Di sampingnya, Kapten Renz melirik singkat, lalu menepuk bahu Ben dengan telapak tangan yang mantap.“Tenangkan diri, Ben,” ucapnya rendah namun tegas. “Dia masih di sini. Dia menunggu.”Ben mengangguk perlahan. Tenggorokannya kering. Tangannya dingin, jari-jarinya gemetar halus. Ia hampir lupa bagaimana rasanya berdiri tanpa borgol, bernapas tanpa rasa takut.Mereka melangkah keluar. Lorong itu ditera

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 106 - Menuju Venessa

    Pagi itu, dua pengawal baru tiba untuk menggantikan shift malam. Mereka menapaki lorong bawah tanah yang lembap, membawa senter dan senjata di tangan. Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat jeruji sel terakhir terbuka. Rantai pengikatnya terlepas, dan hanya ada mangkuk logam tergeletak di lantai kosong. “Dia… kabur?” suara salah satunya bergetar. Yang lain segera menekan alat komunikasi. “Cari dia! Cepat! Jangan biarkan tahanan itu lolos dari area markas!” Mereka berlari keluar menuju koridor sempit di ujung barak. Tanah di dekat pintu darurat masih basah oleh jejak kaki. Sementara itu, di sisi lain hutan, Ben terus berlari di antara akar pohon dan batu lembap. Napasnya berat, namun langkahnya mantap. Setiap suara di belakangnya membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Sudah lima bulan ia bertahan di tempat itu, menunggu kesempatan sekecil apa pun — dan kini, inilah waktunya. Tiba-tiba, suara ranting patah terdengar di belakang. Dua pengawal muncul dari arah berlawanan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status