Beranda / Romansa / Jejak Cinta di Pulau Serenova / Bab 5 — Warisan di Tanah Tinggi

Share

Bab 5 — Warisan di Tanah Tinggi

Penulis: kim sujin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-10 10:31:42

Keesokan harinya, Vellery membawa Vennesa berjalan-jalan di tanah lapang berhampiran laut. Tanah tinggi itu terbentang luas, dikelilingi angin lembut dan aroma garam laut yang menusuk manja ke hidung. Dari atas bukit, laut biru kelihatan berkilau di bawah cahaya mentari pagi. Tak jauh dari situ, berdiri runtuhan rumah lama — hanya tersisa dinding batu yang diselimuti lumut dan rumput liar.

“Itu rumah ibu,” bisik Vellery perlahan, matanya redup menatap sisa kenangan yang masih berdiri degil di tengah semak.

Vennesa melangkah mendekat, menyentuh permukaan dinding yang kasar. “Rumah ini tempat ibu lahir dan dibesarkan,” katanya perlahan. “Nenek pernah bilang, ibu dulu suka duduk di tangga kayu depan rumah ni, sambil tunggu kakek pulang dari laut.”

Mereka berdiri di situ agak lama, membiarkan angin membawa kenangan yang tersisa.

Rumah itu memang sudah lama ditinggalkan, tapi tanahnya masih luas — sebidang tanah yang kini bernilai jutaan dolar jika dijual. Namun bagi Vennesa, nilainya lebih dari itu. Ia warisan hati, bukan sekadar angka di pasaran.

“Bayangkan,” kata Vennesa sambil tersenyum kecil. “Ibu tumbuh di tempat seindah ini. Pasti bahagia, ya?”

Vellery mengangguk. “Kakek dulu komander tentera, kan? Nenek pula suri rumah. Ibu anak tunggal mereka. Tapi tetap diajar berdikari. Mungkin sebab itu dia kuat, macam kakak.”

“Macam kakak, maksudnya,” balas Vennesa sambil ketawa kecil. Mereka berdua tertawa, suasana terasa ringan seketika.

Selepas puas berbual, Vellery tiba-tiba menarik tangan kakaknya.

“Ayo, ikut aku!”

“Eh, mau ke mana?”

“Terjun!”

Belum sempat Vennesa bertanya, Vellery sudah melompat dari tebing rendah ke laut, menarik tangan kakaknya bersamanya. Percikan air menutup jeritan kecil mereka. Saat muncul ke permukaan, Vennesa sempat menengking kecil.

“Kamu gila! Bahaya, tahu?”

“Ngaklah, kak! Aku udah sering. Dulu aku ke sini sama Tommy. Dia yang ngajarin aku terjun!”

“Oh ya? Jadi Tommy tahu tempat ini milik ibu?”

“Iya, aku yang kasih tahu. Aku cuma mau dia tahu kisah hidup kita.”

Mereka berenang ke tepi pantai, duduk di atas pasir yang lembap. Angin laut menyapu rambut mereka yang basah. Seketika, Vennesa menatap adiknya. Ada sesuatu dalam cara Vellery berbicara yang terasa lebih dalam hari itu.

“Kak…” suara Vellery lembut.

“Ya, kenapa?”

“Aku dan Tommy rencana mau nikah.”

Vennesa tersenyum kecil. “iya? Kakak senang dengar. Kamu berhak bahagia. Asalkan kalian sudah bersedia mental dan finansial. Hidup tak selalu menjanjikan cerah. Tapi asalkan hati tak akan menyerah kalian pasti biasa lewati apapun juga rintangannya.”

"Tapi.. Vellery menggigit bibirnya, ragu- ragu mau melanjutkan kata-kata. Tapi, rumah Tommy yang sekarang kecil, tak ada lamannya. Kami mau beli rumah yang lebih besar… dan aku mau buka kafe di sini. sehabis kulaih. Menikmati hari-hari indah di pulau ini. Aku mau membangun kehidupan keluarga disini kak” wajah vellery ceria membayangkan amgan-anganya.

“Oh? Wah, bagus idenya.”

“Tapi tabungan Tommy belum cukup,” sambung Vellery ragu-ragu. “Jadi… kami rencana jual tanah warisan ibu.” Jelas Vellery, suaranya sedikit perlahan, ada keraguan dibalik suaranya.

Wajah Vennesa berubah. Air laut di sekeliling mereka seakan menjadi dingin seketika.

“Vel… kamu bercanda, kan?” suara Vennesa naik satu oktaf.

“Tommy cuma usul, kak. Aku juga pikir, kalau usulan Tommy itu wajar kak. Lagian cuma dijual sebagian aja—”

“Tidak!” suara Vennesa meninggi tanpa sedar. “Tanah ini peninggalan ibu. Nilainya bukan untuk dibagi begitu saja.” Vennesa menunjukkan wajah yang serius. Seolah isu tanah ini benar-benar menyentuh titik sensitifnya.

Vellery menunduk, menggenggam pasir di antara jari-jarinya. “Aku cuma mau hidupku berjalan, kak. Aku ingin mulai sesuatu yang baru. Aku mau bahagia.” pekik Vellery.

Vennesa menarik nafas panjang. “Kakak juga mau kamu bahagia. Tapi jangan dengan cara ini.”

Masih banyak cara lain lagi kan? Kenapa harus menyentuh tanah ini. Vel.. ini bukan hanya sekadar tanah warisan. Tapi maknanya jauh lebih besar dari yg kamu pikirkan." Nada suara Vennesa mulai melunak.

Suasana kembali senyap. Hanya bunyi ombak memukul pantai, menemani dua jiwa yang terpisah oleh pendirian.

Langit mula berwarna jingga, tanda senja datang perlahan.

Vennesa bangkit berdiri, memandang laut lepas. Hatinya bergetar — antara kasih seorang kakak dan rasa kehilangan yang perlahan menjalar di dada.

Di kejauhan, angin membawa harum laut dan bisikan kenangan — seolah-olah suara ibu mereka masih bergaung lembut di tepi tebing:

“Jagalah satu sama lain, jangan biar dunia memisahkan kalian.”

Namun tampa mereka sedari dari kejauhan ada mata yang sedang memerhatikan mereka. Senyum kecil terukir sudut bibirnya. Matanya menyipit. Tangannya memegang kamera lensa besar dan panjang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 115 - wanita paling tangguh

    Matahari mulai meninggi, menembus jendela kamar VIP rumah sakit dengan sinar hangat yang menenangkan. Ben duduk di sisi ranjang, masih merasa takjub melihat Vennesa yang menyandar dengan lemah namun anggun, memeluk kedua malaikat kecil mereka. Meski wajahnya masih pucat akibat kelelahan melahirkan, kecantikan Vennesa tetap terpancar. Senyum lembutnya menebarkan aura keibuan yang hangat dan menenangkan. Ben tidak bisa menahan rasa kagumnya. Ia mengeluarkan ponsel dan mulai mengambil beberapa foto Vennesa bersama bayi-bayi mereka. Setiap jepretan terasa istimewa, menangkap momen kebahagiaan yang begitu murni. Vennesa menatap Ben dengan mata berbinar, senyumnya menenangkan hati Ben yang selama ini penuh gelisah. Tak lama kemudian, Vennesa dengan hati-hati memuat naik salah satu foto itu ke akun media sosialnya. Foto itu menampilkan Vennesa duduk dengan lembut di ranjang, kedua bayi laki-laki kembar yang menggemaskan di pangkuannya. Seperti biasa, unggahan itu langsung mendapat

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 114 - dua malaikat kecil

    Menjelang tengah malam, Vennesa mulai merasakan sakit kontraksi. Ben yang awalnya duduk di sebelahnya akhirnya tertidur nyenyak, lelah setelah seharian menemani istrinya. Pada mulanya, sakit itu terasa ringan, hanya seperti kram biasa, tapi seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu semakin kerap dan jauh lebih tajam. Napas Vennesa mulai memburu, dan tubuhnya menegang menahan nyeri yang datang bergelombang. “Ben… Ben… bangun!” teriaknya tiba-tiba, membuat Ben terjaga dengan panik. Ia membuka matanya yang masih setengah ngantuk, melihat Vennesa yang menahan sakit di sampingnya. Panik, Ben bangkit dan mulai mondar-mandir, tidak tahu harus berbuat apa. Tangan Ben gemetar, jantungnya berdetak kencang, dan wajahnya pucat. “Tenang, sayang… tarik napas dalam-dalam,” ucap Vennesa berusaha menenangkan. Ia menuntun Ben untuk mengambil tas perlengkapan bayi yang sebelumnya sudah ia siapkan di dekat pintu. Dengan suara yang sedikit tegang tapi tegas, Vennesa menginstruksikan Ben untuk se

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 113 — Senyum di Antara Ribuan Tatapan

    Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai apartemen, membangunkan Ben yang masih terbaring di sisi Venesa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membuka mata dengan tenang — tanpa rasa takut, tanpa mimpi buruk. Di sebelahnya, Venesa sudah duduk bersandar sambil mengusap perutnya yang besar dengan lembut. “Bangun, ayah dari dua calon malaikat kecil,” ujarnya manja. Ben tersenyum kecil, meraih tangannya lalu mengecupnya. “Sudah waktunya ke klinik, ya?” Venesa mengangguk. “Kita janji dengan dokter pukul sepuluh.” Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di ruang tunggu klinik bersalin terkenal di pusat kota Valmere. Ben mengenakan kemeja biru muda dan celana panjang hitam — sederhana, tapi cukup membuat beberapa orang di sekitar melirik. Sementara Venesa tampak anggun dengan gaun hamil berwarna pastel. Sambil menunggu nomor giliran, mereka duduk berdekatan. Ben tak berhenti menatap Venesa, seolah ingin mengabadikan setiap detik bersama wanita itu. Di

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 112 – Kebenaran yang Tersingkap

    Beberapa hari setelah operasi penangkapan besar-besaran yang dipimpin oleh Kapten Renz, media seluruh Valmere akhirnya menyiarkan berita yang menggemparkan. “Dua Suspek Sindiket Penipuan Hartanah Pulau Serenova Ditangkap – Kisah Ben Sanders Mengejutkan Negara.” Dalam siaran berita itu, terpampang jelas foto Jesica dan Grayson yang digiring keluar dari bangunan penyiasatan dengan tangan bergari. Lampu kamera berkelip-kelip, mikrofon diarahkan ke wajah mereka yang tertunduk tanpa sepatah kata. Para wartawan bersorak, menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Serenova. Laporan polis menyebutkan, kedua-duanya bukan hanya terlibat dalam penipuan hartanah bernilai jutaan dolar, tetapi juga dalam penyekapan terhadap Benjamin Addam, seorang warga awam yang turut membantu siasatan rahsia di pulau tersebut lima bulan lalu. Rakaman CCTV lama kini menjadi bukti utama: memperlihatkan Ben berlari menyeberangi dermaga malam itu, berusaha menyelamatkan fail penting sebel

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 111 — Operasi Senyap

    Malam itu kota Valmere tenang. Tapi di markas unit khusus di pinggir kota, Kapten Renz menatap layar besar dengan tatapan fokus. Di depan layar itu, peta digital terpampang — menandai titik merah di koordinat selatan, tepat di tepi kawasan gudang lama. “Target sudah berpindah ke lokasi cadangan,” ujar salah satu petugas. Kapten Renz berdiri, menarik napas perlahan. “Pastikan perimeter terkunci. Tak ada jalan keluar.” Beberapa anggota bersenjata ringan segera bergerak. Helikopter tanpa suara berangkat dari atap bangunan, meluncur ke arah laut dengan lampu redup. Jesica dan Grayson tak menyadari apa pun. Mereka sedang duduk di ruang bawah tanah villa mewah milik Grayson — tempat persembunyian yang mereka anggap aman. Di meja, laptop terbuka, menampilkan daftar nama dan beberapa file transaksi. Jesica bersandar di kursi, meneguk wine dengan ekspresi puas. “Ben mungkin sudah kabur,” kata Grayson santai. “Tapi dia takkan sempat jauh. Kita punya koneksi di setiap pelabuhan.” Jesica te

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 110 — Bayangan Lama

    Pagi itu, aroma kopi memenuhi ruang tamu apartemen. Cahaya matahari menembus jendela besar, memantulkan cahaya lembut di dinding. Tapi suasana di dalam ruangan tetap berat.Ben duduk di sofa, mengenakan kemeja bersih pinjaman Vellery. Wajahnya sudah bercukur, namun masih tampak lelah. Di meja, Kapten Renz menatap layar tabletnya — menelusuri data yang tampak rumit. Vennesa meletakkan secangkir kopi di depan Ben, lalu duduk di sampingnya. “Kau tidur sedikit saja,” katanya lembut. “Aku tak bisa,” jawab Ben. “Masih terlalu banyak yang harus kupahami.” Kapten Renz akhirnya menutup tabletnya, lalu menatap keduanya. “Memang banyak hal yang belum kalian tahu. Terutama soal Jesica.” Ben menghela napas pelan. “Apa maksudmu?” Renz menyandarkan punggungnya ke kursi. “Jesica memang orang yang menyiapkan penyekapan itu. Tapi dia tidak bertindak sendiri. Ada seseorang di belakangnya — seseorang yang memberi izin, dana, dan akses.” Vennesa menatapnya bingung. “Siapa?” Renz menatap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status