Beranda / Romansa / Jejak Cinta di Pulau Serenova / BAB 3 — MALAM DI SERENOVA LOUNGE

Share

BAB 3 — MALAM DI SERENOVA LOUNGE

Penulis: kim sujin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-10 10:20:41

Malam itu, lampu-lampu neon berkelap-kelip di sepanjang jalan utama Pulau Serenova. Deretan kafe dan bar berlampu warna-warni seolah bersaing mencuri perhatian. Tommy memutar setir ke arah bangunan bertuliskan “Serenova Lounge & Bar” — tempat hiburan paling terkenal di pulau itu. Musik berdentum kuat bahkan sebelum mereka sempat keluar dari mobil.

Venesa menatap papan nama kelab itu dengan perasaan campur aduk. Dalam seumur hidupnya, bisa dihitung dengan jari berapa kali ia menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Itu pun hanya karena dibawa mantan kekasihnya dulu, dan setiap kali, ia selalu merasa tak nyaman. Namun malam ini, demi menghormati adiknya dan pacar adiknya, ia ikut juga.

Begitu pintu kelab terbuka, gelombang suara musik menyerbu telinganya. Dentuman bass mengguncang dada, sementara aroma tajam alkohol bercampur parfum mahal membuat hidungnya terasa sesak. Lampu berwarna merah, biru, dan ungu menari-nari di dinding, memantul pada wajah-wajah manusia yang sedang berpesta—tertawa, menari, menenggak minuman, seolah dunia di luar sana tak lagi penting.

Venesa berusaha tersenyum sopan ketika Tommy menyalami beberapa orang di dalam kelab. Ia tampak akrab dengan banyak pengunjung, terutama pelayan dan DJ yang menyapanya hangat.

“Dia kayak kenal semua orang,” bisik Venesa pelan.

“Tommy kan manager hotel terbesar di sini, Kak. Banyak kenalan,” sahut Velery, matanya berbinar. Tak lama, Tommy menggenggam tangan Velery dan menariknya ke lantai dansa. “Ayo, sayang, kita dansa dulu.”

Venesa hanya mengangguk, walau di dalam hati ia merasa sedikit tersisih. Ia duduk di sofa kulit hitam dekat bar, memperhatikan adiknya yang menari dengan riang di tengah kerumunan. Lampu strobo menyorot wajah Velery yang tertawa lepas, memegang segelas minuman di tangan. Venesa terkejut — adiknya minum alkohol? Ia tahu Velery sudah dewasa, tapi tetap saja… itu di luar bayangannya.

Ia menatap gelas itu lama, bibirnya mengerucut. Mungkin selama ini ia terlalu sibuk bekerja sampai melewatkan banyak hal tentang kehidupan adiknya.

Bosan duduk sendiri, Venesa akhirnya melangkah ke arah bar. Ia menarik kursi tinggi dan duduk di depan meja kaca panjang, memerhati bar tender yang tengah sibuk menuang minuman. Matanya tertarik pada satu sosok — seorang pria berkulit sawo matang dengan kemeja hitam lengan digulung. Gerakannya luwes dan percaya diri. Tangannya lihai menggoncang shaker, mencampurkan cairan berwarna dengan presisi yang memukau.

Venesa menelan liur tanpa sadar. Lengan pria itu berurat, kuat tapi elegan. Bayangan nakal melintas di benaknya — tangan itu memeluk pinggangnya, menyentuh pipinya, membelai lehernya. Ia tersenyum kecil pada diri sendiri, malu dengan pikirannya yang tiba-tiba liar. Sudah lebih setahun sejak terakhir kali ia merasakan sentuhan lelaki. Mungkin karena itulah imajinasinya terlalu mudah melayang malam itu.

Tiba-tiba, shaker di tangan bar tender berhenti. Ia menaruh gelas koktel di depan Venesa dengan hentakan lembut. “It’s on me,” katanya dengan suara berat dan rendah. “Try it.”

Venesa tersentak, menatap wajah pria itu untuk pertama kali. Dan detak jantungnya seketika berdebar. Wajahnya tampan — rahang tegas, senyum samar, mata cokelat gelap yang menatap dengan percaya diri.

“Ben. Benjamin Addam. Just call me Ben,” katanya sambil mengulurkan tangan.

Venesa menyambutnya dengan senyum gugup. “Oh… Venesa. Tapi kamu bisa panggil aku Ven.”

Mereka berjabat tangan singkat, tapi cukup untuk membuat dada Venesa bergetar. Ia menyesap minuman biru di depannya perlahan. Rasanya manis, lalu sedikit panas di tenggorokan. Ia berkerut kecil, membuat Ben terkekeh.

“Nice to meet you, Venesa. Baru pertama kali lihat kamu di sini. Wisata, ya? Atau tinggal di pulau ini?”

“Baru pertama kali datang, Sama adik dan pacarnya,” jawab Venesa, melirik sekilas ke lantai dansa. “Mereka lagi sibuk sendiri.”

Ben mengangguk. “Aku kenal sebagian besar yang datang ke sini. Tapi wajahmu baru. Cantik, susah dilupain,” katanya ringan.

Venesa tertawa kecil, mencoba mengalihkan topik. “Kamu kenal Tommy Hellfiger?”

Ben mengerutkan dahi sejenak. “Emm… iya, kenal. Dia sering nongkrong di sini. Kenapa?”

“Dia pacar adikku,” jawab Venesa perlahan. “Adikku kuliah di Serenova Maritime College. Ini pertama kalinya aku benar-benar datang ke pulau ini. Dulu cuma sempat sehari waktu daftar kuliah, habis itu langsung terbang lagi ke New York karena urusan kerja.”

“Sayang banget,” ujar Ben sambil menyandarkan siku di meja. “Pulau ini terlalu indah buat dilewati begitu aja. Banyak sisi Serenova yang belum kamu lihat.”

Venesa hanya tersenyum samar, menatap sisa minumannya yang hampir habis. Ia berdiri pelan, merasa sedikit pening oleh campuran alkohol dan udara sesak dalam ruangan.

“Aku keluar bentar, mau ambil udara segar,” katanya.

Ben hanya mengangguk sambil matanya mengikuti langkah itu hingga lenyap dari pandangan. Senyum licik pun muncul di sudut bibirnya — cepat, namun cukup untuk menunjukkan niat yang disembunyikan.

Venesa melangkah ke balkon terbuka di lantai dua. Angin laut malam menyapa wajahnya lembut. Di depan sana, laut Serenova terhampar luas, berkilau diterpa cahaya bulan. Ombak bergulung pelan, mencium batu-batu besar di tepi pantai.

Ia bersandar pada pagar balkon, menutup mata sejenak. Hatinya tenang, tapi entah kenapa, jauh di dalam dadanya muncul rasa aneh — seperti firasat. Malam yang indah ini seakan menyimpan sesuatu yang akan mengubah hidupnya… selamanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 113 — Senyum di Antara Ribuan Tatapan

    Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai apartemen, membangunkan Ben yang masih terbaring di sisi Venesa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membuka mata dengan tenang — tanpa rasa takut, tanpa mimpi buruk. Di sebelahnya, Venesa sudah duduk bersandar sambil mengusap perutnya yang besar dengan lembut. “Bangun, ayah dari dua calon malaikat kecil,” ujarnya manja. Ben tersenyum kecil, meraih tangannya lalu mengecupnya. “Sudah waktunya ke klinik, ya?” Venesa mengangguk. “Kita janji dengan dokter pukul sepuluh.” Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di ruang tunggu klinik bersalin terkenal di pusat kota Valmere. Ben mengenakan kemeja biru muda dan celana panjang hitam — sederhana, tapi cukup membuat beberapa orang di sekitar melirik. Sementara Venesa tampak anggun dengan gaun hamil berwarna pastel. Sambil menunggu nomor giliran, mereka duduk berdekatan. Ben tak berhenti menatap Venesa, seolah ingin mengabadikan setiap detik bersama wanita itu. Di

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 112 – Kebenaran yang Tersingkap

    Beberapa hari setelah operasi penangkapan besar-besaran yang dipimpin oleh Kapten Renz, media seluruh Valmere akhirnya menyiarkan berita yang menggemparkan. “Dua Suspek Sindiket Penipuan Hartanah Pulau Serenova Ditangkap – Kisah Ben Sanders Mengejutkan Negara.” Dalam siaran berita itu, terpampang jelas foto Jesica dan Grayson yang digiring keluar dari bangunan penyiasatan dengan tangan bergari. Lampu kamera berkelip-kelip, mikrofon diarahkan ke wajah mereka yang tertunduk tanpa sepatah kata. Para wartawan bersorak, menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Serenova. Laporan polis menyebutkan, kedua-duanya bukan hanya terlibat dalam penipuan hartanah bernilai jutaan dolar, tetapi juga dalam penyekapan terhadap Benjamin Addam, seorang warga awam yang turut membantu siasatan rahsia di pulau tersebut lima bulan lalu. Rakaman CCTV lama kini menjadi bukti utama: memperlihatkan Ben berlari menyeberangi dermaga malam itu, berusaha menyelamatkan fail penting sebel

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 111 — Operasi Senyap

    Malam itu kota Valmere tenang. Tapi di markas unit khusus di pinggir kota, Kapten Renz menatap layar besar dengan tatapan fokus. Di depan layar itu, peta digital terpampang — menandai titik merah di koordinat selatan, tepat di tepi kawasan gudang lama. “Target sudah berpindah ke lokasi cadangan,” ujar salah satu petugas. Kapten Renz berdiri, menarik napas perlahan. “Pastikan perimeter terkunci. Tak ada jalan keluar.” Beberapa anggota bersenjata ringan segera bergerak. Helikopter tanpa suara berangkat dari atap bangunan, meluncur ke arah laut dengan lampu redup. Jesica dan Grayson tak menyadari apa pun. Mereka sedang duduk di ruang bawah tanah villa mewah milik Grayson — tempat persembunyian yang mereka anggap aman. Di meja, laptop terbuka, menampilkan daftar nama dan beberapa file transaksi. Jesica bersandar di kursi, meneguk wine dengan ekspresi puas. “Ben mungkin sudah kabur,” kata Grayson santai. “Tapi dia takkan sempat jauh. Kita punya koneksi di setiap pelabuhan.” Jesica te

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 110 — Bayangan Lama

    Pagi itu, aroma kopi memenuhi ruang tamu apartemen. Cahaya matahari menembus jendela besar, memantulkan cahaya lembut di dinding. Tapi suasana di dalam ruangan tetap berat.Ben duduk di sofa, mengenakan kemeja bersih pinjaman Vellery. Wajahnya sudah bercukur, namun masih tampak lelah. Di meja, Kapten Renz menatap layar tabletnya — menelusuri data yang tampak rumit. Vennesa meletakkan secangkir kopi di depan Ben, lalu duduk di sampingnya. “Kau tidur sedikit saja,” katanya lembut. “Aku tak bisa,” jawab Ben. “Masih terlalu banyak yang harus kupahami.” Kapten Renz akhirnya menutup tabletnya, lalu menatap keduanya. “Memang banyak hal yang belum kalian tahu. Terutama soal Jesica.” Ben menghela napas pelan. “Apa maksudmu?” Renz menyandarkan punggungnya ke kursi. “Jesica memang orang yang menyiapkan penyekapan itu. Tapi dia tidak bertindak sendiri. Ada seseorang di belakangnya — seseorang yang memberi izin, dana, dan akses.” Vennesa menatapnya bingung. “Siapa?” Renz menatap

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 109 – Dua Detak Dalam Satu Rindu

    Malam di Valmere terasa lebih lembut dari biasanya. Udara dingin yang biasanya menusuk kini seolah jinak, membelai pelan kaca jendela kamar dengan embun tipis. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan, seperti bintang-bintang kecil yang jatuh dan menetap di bumi, memantulkan cahaya ke dinding kamar yang kini kembali berisi dua jiwa yang pernah dipisahkan oleh waktu, jarak, dan ketakutan akan kehilangan.Ben berbaring di samping Vennesa, memeluknya dengan lengan yang terasa lebih kuat dari sebelumnya—seolah pelukan itu adalah sumpah bisu bahwa ia tak akan melepaskan wanita itu lagi. Hangat tubuh Vennesa, aroma kulitnya yang begitu dikenalnya, detak jantungnya yang stabil di bawah telinga Ben, semuanya membuat pria itu merasa benar-benar pulang. Bukan sekadar pulang ke kota atau kamar ini, melainkan pulang ke hidupnya sendiri.Vennesa masih terisak kecil di dadanya. Ia berusaha menahan tangis, menelan sesak di tenggorokan, tapi setiap kali Ben membelai rambutnya dengan lembut, air mata

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 108 — Luka yang Belum Sembuh

    Pelukan itu berlangsung lama. Vennesa memeluk Ben erat-erat, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar nyata di hadapannya. Air matanya menetes deras, membasahi bahu Ben. “Kenapa begitu lama, Ben…” suaranya serak. “Aku hampir gila menunggumu.” Ben mengusap pipinya lembut, bibirnya menempel di kening wanita itu. “Sst… aku sudah di sini, Ven. Aku pulang,” ucapnya pelan. “Jangan menangis lagi, sayang. Aku janji, aku tak akan pergi lagi.” Vennesa terisak. “Kau tahu betapa aku takut kehilanganmu…” Ben menatapnya dalam-dalam. “Aku tahu. Dan aku minta maaf… untuk segalanya.” Beberapa saat kemudian, mereka berpindah ke ruang tamu. Vellery membawa minuman hangat, meletakkannya di meja. Ia duduk di sisi lain, matanya masih sembab menahan haru. Kapten Renz mengambil tempat berseberangan, sikapnya tenang tapi wajahnya menyimpan sesuatu yang serius. “Baik,” ujar Kapten Renz membuka percakapan, suaranya mantap. “Sekarang saatnya kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ben menunduk. Ia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status