Home / Romansa / Jejak Cinta di Pulau Serenova / Bab 6 — Luka di Antara Ombak

Share

Bab 6 — Luka di Antara Ombak

Author: kim sujin
last update Last Updated: 2025-10-10 10:36:51

Senja menutup hari dengan langit jingga yang perlahan pudar. Ombak masih berkejaran ke pantai, namun suasana di antara dua beradik itu semakin berat. Vellery duduk bersila di atas pasir, menunduk tanpa kata. Sementara Vennesa berdiri membelakangi laut, cuba menenangkan debaran di dada.

“Vel…” suara Vennesa akhirnya pecah. “Kamu tahu kan, ibu sangat sayang tempat ini. Tanah ini satu-satunya peninggalan yang tersisa. Kakak nggak bisa biarin dijual begitu aja.”

“Tapi, kak,” balas Vellery perlahan, “Tommy bukan minta semua. Kami cuma butuh sebagian uangnya buat tambah beli rumah. Rumah yang ada lamannya, tempat anak-anak nanti bisa main. Aku mau hidup sederhana tapi nyaman.”

Vennesa menggeleng. “Kalau soal uang, kakak bantu. Kakak masih punya tabungan. Jangan korbankan warisan ibu.”

Vellery mendengus kecil, matanya mulai berair. “Aku nggak mau uang kakak lagi. Sudah cukup kakak terus berkorban buat aku sejak dulu. Aku cuma mau hidup dengan caraku sendiri.”

“Vel, ini bukan soal uang. Ini soal kenangan, soal maruah keluarga.”

Vellery menatap kakaknya dengan pandangan yang sukar dijelaskan — antara marah dan sedih. “Kakak selalu ngomong soal kenangan, soal keluarga, tapi pernah nggak kakak mikir soal aku? Aku juga punya masa depan. Aku ingin bahagia, ingin punya rumah sendiri. Apa salah?”

Vennesa menatap wajah adiknya, cuba memahami. Tapi kata-kata Vellery seterusnya membuat dadanya terasa sesak.

“Kakak cemburu ya?” suaranya perlahan tapi tajam. “Kakak iri sama aku dan Tommy. Kakak takut aku lebih dulu bahagia. Kakak takut ditinggal sendirian.”

“Vel, kamu sadar nggak kamu lagi ngomong apa?” suara Vennesa mulai bergetar.

“Aku cuma jujur, kak. Kakak udah tiga puluh tahun, kerja bagus, cantik, tapi kenapa nggak ada satu pun lelaki yang tahan sama kakak? Karena kakak terlalu sibuk! Kakak pikir semua bisa diselesaikan dengan kerja keras dan uang!”

Vennesa terdiam. Matanya mulai berkaca. Angin laut meniup rambutnya yang basah, namun hatinya lebih dingin dari air yang mengalir di sekeliling.

“Aku… aku cuma mau kamu nggak ulangi kesalahan hidupku, Vel,” katanya perlahan. “Aku kerja keras supaya kamu nggak susah seperti dulu.”

“Dulu itu udah lewat, kak. Aku nggak minta semua pengorbanan itu.”

“Tapi kakak nggak bisa lupa, Vel! Kamu tahu rasanya waktu kita nggak punya uang untuk makan?” suara Vennesa pecah, akhirnya air matanya jatuh. “Kamu masih kecil waktu itu. Kamu nangis karena lapar. Kakak cuma punya recehan buat beli sebutir telur. Kakak masak untuk kamu, tapi kakak sendiri nggak makan. Kakak pura-pura kenyang biar kamu tenang.”

Vellery menatap kakaknya terdiam. Suaranya hilang ditelan ombak.

“Setelah itu kakak pinjam uang dari manajer toko buat beli makanan. Kakak janji dalam hati, apa pun yang terjadi, kamu nggak akan kelaparan lagi. Itulah sebabnya kakak kerja tanpa henti. Kakak cuma ingin kamu punya hidup lebih baik…”

Hening sejenak. Hanya desiran laut yang bersaksi di antara mereka.

Namun entah kenapa, bukannya lembut, wajah Vellery malah mengeras. “Tapi sekarang aku bukan anak kecil, kak. Aku mau menentukan jalan hidupku sendiri. Aku nggak mau terus jadi bayang-bayang pengorbanan kakak.”

Vennesa menunduk. Tangannya gemetar menahan perasaan yang berperang dalam dada.

“Kalau begitu,” katanya dengan suara serak, “lakukan apa yang kamu mau. Tapi jangan sesali nanti.”

Tanpa menunggu jawapan, Vennesa melangkah pergi, meninggalkan pantai yang kini diselimuti senja. Langkahnya berat, seperti setiap butir pasir menarik kakinya untuk tinggal.

Setelah beberapa langkah, barulah air matanya tumpah sepenuhnya. Suaranya tenggelam dalam hembusan angin laut yang dingin.

Di belakangnya, Vellery hanya memandang. Ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh, tapi egonya terlalu tinggi untuk memanggil semula kakaknya.

Dia menggenggam pasir di tangannya, merasai butiran halus itu berderai di antara jari — seperti kasih dua beradik yang kini mulai retak.

Malam itu, Vennesa pulang dengan langkah longlai. Televisyen di ruang tamu masih menyala, menayangkan program permainan yang riuh. Tapi hatinya sunyi. Dia rebah di sofa tanpa sempat menukar pakaian, matanya basah tapi lelah.

Dalam separuh sedar, kenangan masa lalunya datang silih berganti — wajah kecil Vellery yang dulu selalu lapar, tangisnya, dan tekadnya untuk bertahan hidup.

Sebelum terlelap, hanya satu bisikan yang keluar dari bibirnya, “Ibu… apa aku sudah gagal menjaga adikku?”

Televisyen terus berbunyi, tapi dunia Vennesa sudah sunyi — tenggelam bersama bunyi ombak dan luka yang belum sempat sembuh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 109 – Dua Detak Dalam Satu Rindu

    Malam di Valmere terasa lebih lembut dari biasanya. Udara dingin yang biasanya menusuk kini seolah jinak, membelai pelan kaca jendela kamar dengan embun tipis. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan, seperti bintang-bintang kecil yang jatuh dan menetap di bumi, memantulkan cahaya ke dinding kamar yang kini kembali berisi dua jiwa yang pernah dipisahkan oleh waktu, jarak, dan ketakutan akan kehilangan.Ben berbaring di samping Vennesa, memeluknya dengan lengan yang terasa lebih kuat dari sebelumnya—seolah pelukan itu adalah sumpah bisu bahwa ia tak akan melepaskan wanita itu lagi. Hangat tubuh Vennesa, aroma kulitnya yang begitu dikenalnya, detak jantungnya yang stabil di bawah telinga Ben, semuanya membuat pria itu merasa benar-benar pulang. Bukan sekadar pulang ke kota atau kamar ini, melainkan pulang ke hidupnya sendiri.Vennesa masih terisak kecil di dadanya. Ia berusaha menahan tangis, menelan sesak di tenggorokan, tapi setiap kali Ben membelai rambutnya dengan lembut, air mata

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 108 — Luka yang Belum Sembuh

    Pelukan itu berlangsung lama. Vennesa memeluk Ben erat-erat, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar nyata di hadapannya. Air matanya menetes deras, membasahi bahu Ben. “Kenapa begitu lama, Ben…” suaranya serak. “Aku hampir gila menunggumu.” Ben mengusap pipinya lembut, bibirnya menempel di kening wanita itu. “Sst… aku sudah di sini, Ven. Aku pulang,” ucapnya pelan. “Jangan menangis lagi, sayang. Aku janji, aku tak akan pergi lagi.” Vennesa terisak. “Kau tahu betapa aku takut kehilanganmu…” Ben menatapnya dalam-dalam. “Aku tahu. Dan aku minta maaf… untuk segalanya.” Beberapa saat kemudian, mereka berpindah ke ruang tamu. Vellery membawa minuman hangat, meletakkannya di meja. Ia duduk di sisi lain, matanya masih sembab menahan haru. Kapten Renz mengambil tempat berseberangan, sikapnya tenang tapi wajahnya menyimpan sesuatu yang serius. “Baik,” ujar Kapten Renz membuka percakapan, suaranya mantap. “Sekarang saatnya kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ben menunduk. Ia

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 107 — Di Pintu yang Sama

    Lift berhenti di tingkat dua puluh tujuh dengan bunyi dengung pelan yang terasa terlalu keras bagi Ben. Pintu logam itu terbuka perlahan, memperlihatkan lorong apartmen yang sunyi dan bersih — seolah dunia di baliknya tak pernah mengenal kekacauan yang baru saja ia lewati.Ben berdiri kaku. Dadanya naik turun tidak teratur, jantungnya berdentum keras seperti hendak memecah tulang rusuk. Lima bulan dalam kurungan gelap, interogasi tanpa wajah, dan malam-malam tanpa waktu telah mengikis keberaniannya. Kini, hanya beberapa langkah dari kebebasan yang nyata, tubuhnya justru terasa asing.Di sampingnya, Kapten Renz melirik singkat, lalu menepuk bahu Ben dengan telapak tangan yang mantap.“Tenangkan diri, Ben,” ucapnya rendah namun tegas. “Dia masih di sini. Dia menunggu.”Ben mengangguk perlahan. Tenggorokannya kering. Tangannya dingin, jari-jarinya gemetar halus. Ia hampir lupa bagaimana rasanya berdiri tanpa borgol, bernapas tanpa rasa takut.Mereka melangkah keluar. Lorong itu ditera

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 106 - Menuju Venessa

    Pagi itu, dua pengawal baru tiba untuk menggantikan shift malam. Mereka menapaki lorong bawah tanah yang lembap, membawa senter dan senjata di tangan. Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat jeruji sel terakhir terbuka. Rantai pengikatnya terlepas, dan hanya ada mangkuk logam tergeletak di lantai kosong. “Dia… kabur?” suara salah satunya bergetar. Yang lain segera menekan alat komunikasi. “Cari dia! Cepat! Jangan biarkan tahanan itu lolos dari area markas!” Mereka berlari keluar menuju koridor sempit di ujung barak. Tanah di dekat pintu darurat masih basah oleh jejak kaki. Sementara itu, di sisi lain hutan, Ben terus berlari di antara akar pohon dan batu lembap. Napasnya berat, namun langkahnya mantap. Setiap suara di belakangnya membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Sudah lima bulan ia bertahan di tempat itu, menunggu kesempatan sekecil apa pun — dan kini, inilah waktunya. Tiba-tiba, suara ranting patah terdengar di belakang. Dua pengawal muncul dari arah berlawanan

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 105 - menemukan jalan keluar

    Malam itu, Ben duduk di sudut sel dengan pandangan kosong. Dinding beton di sekelilingnya dingin dan lembap, udara pengap membuat napasnya terasa berat. Tak ada suara selain detak jam tua di lorong — satu-satunya penanda waktu yang membuatnya tahu malam belum berakhir. Sudah lima bulan ia di tempat ini. Lima bulan tanpa tahu di mana ia berada, tanpa tahu siapa yang benar-benar mengawasinya. Tapi malam ini berbeda. Video itu — wajah Vennesa yang jujur dan penuh air mata — masih berputar di kepalanya. Kata-kata terakhir wanita itu terus terngiang: “Aku akan tetap menunggunya… sampai kapan pun.” Kalimat itu menyalakan sesuatu yang selama ini padam dalam dirinya: harapan. Ben mulai memperhatikan kembali setiap detail di sekitarnya. Letak kamera kecil di sudut dinding. Langkah penjaga yang selalu melewati pintu pada jam yang sama. Suara kunci yang beradu logam setiap kali shift berganti. Semuanya ia hafal satu per satu — seperti pola napas musuh yang menunggu untuk diserang. Ia t

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 104 – Cahaya di Balik Jeruji

    Keesokan harinya, suara engsel tua kembali berderit panjang. Pintu besi berat itu terbuka perlahan, menimbulkan gema yang tajam dan dingin di dalam ruang sempit. Ben yang duduk bersandar di dinding hanya menoleh sedikit. Ia sudah hafal bunyi langkah itu — langkah angkuh dengan dentingan halus dari tumit tinggi. Wanita itu datang lagi. Jessica. Namun kali ini ekspresinya berbeda. Tak ada senyum menggoda, tak ada ejekan licik. Tatapannya datar, namun ada kepuasan di balik mata tajamnya — seperti seseorang yang baru menang taruhan setelah lama menunggu. “Masih kepikiran soal wanita itu?” tanyanya lembut, seolah menabur garam di luka yang baru saja mulai tertutup. Ben tak menjawab. Ia hanya menatap lantai di hadapannya, berusaha tidak terpancing. Tapi jantungnya berdegup cepat. Ia tahu — setiap kedatangan Jessica selalu membawa sesuatu. Dan sesuatu itu tak pernah baik. Wanita itu menatap layar kecil di tangannya, lalu memutar sesuatu tanpa banyak bicara. Suara lembut mengalun dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status