LOGINSenja menutup hari dengan langit jingga yang perlahan pudar. Ombak masih berkejaran ke pantai, namun suasana di antara dua beradik itu semakin berat. Vellery duduk bersila di atas pasir, menunduk tanpa kata. Sementara Vennesa berdiri membelakangi laut, cuba menenangkan debaran di dada.
“Vel…” suara Vennesa akhirnya pecah. “Kamu tahu kan, ibu sangat sayang tempat ini. Tanah ini satu-satunya peninggalan yang tersisa. Kakak nggak bisa biarin dijual begitu aja.” “Tapi, kak,” balas Vellery perlahan, “Tommy bukan minta semua. Kami cuma butuh sebagian uangnya buat tambah beli rumah. Rumah yang ada lamannya, tempat anak-anak nanti bisa main. Aku mau hidup sederhana tapi nyaman.” Vennesa menggeleng. “Kalau soal uang, kakak bantu. Kakak masih punya tabungan. Jangan korbankan warisan ibu.” Vellery mendengus kecil, matanya mulai berair. “Aku nggak mau uang kakak lagi. Sudah cukup kakak terus berkorban buat aku sejak dulu. Aku cuma mau hidup dengan caraku sendiri.” “Vel, ini bukan soal uang. Ini soal kenangan, soal maruah keluarga.” Vellery menatap kakaknya dengan pandangan yang sukar dijelaskan — antara marah dan sedih. “Kakak selalu ngomong soal kenangan, soal keluarga, tapi pernah nggak kakak mikir soal aku? Aku juga punya masa depan. Aku ingin bahagia, ingin punya rumah sendiri. Apa salah?” Vennesa menatap wajah adiknya, cuba memahami. Tapi kata-kata Vellery seterusnya membuat dadanya terasa sesak. “Kakak cemburu ya?” suaranya perlahan tapi tajam. “Kakak iri sama aku dan Tommy. Kakak takut aku lebih dulu bahagia. Kakak takut ditinggal sendirian.” “Vel, kamu sadar nggak kamu lagi ngomong apa?” suara Vennesa mulai bergetar. “Aku cuma jujur, kak. Kakak udah tiga puluh tahun, kerja bagus, cantik, tapi kenapa nggak ada satu pun lelaki yang tahan sama kakak? Karena kakak terlalu sibuk! Kakak pikir semua bisa diselesaikan dengan kerja keras dan uang!” Vennesa terdiam. Matanya mulai berkaca. Angin laut meniup rambutnya yang basah, namun hatinya lebih dingin dari air yang mengalir di sekeliling. “Aku… aku cuma mau kamu nggak ulangi kesalahan hidupku, Vel,” katanya perlahan. “Aku kerja keras supaya kamu nggak susah seperti dulu.” “Dulu itu udah lewat, kak. Aku nggak minta semua pengorbanan itu.” “Tapi kakak nggak bisa lupa, Vel! Kamu tahu rasanya waktu kita nggak punya uang untuk makan?” suara Vennesa pecah, akhirnya air matanya jatuh. “Kamu masih kecil waktu itu. Kamu nangis karena lapar. Kakak cuma punya recehan buat beli sebutir telur. Kakak masak untuk kamu, tapi kakak sendiri nggak makan. Kakak pura-pura kenyang biar kamu tenang.” Vellery menatap kakaknya terdiam. Suaranya hilang ditelan ombak. “Setelah itu kakak pinjam uang dari manajer toko buat beli makanan. Kakak janji dalam hati, apa pun yang terjadi, kamu nggak akan kelaparan lagi. Itulah sebabnya kakak kerja tanpa henti. Kakak cuma ingin kamu punya hidup lebih baik…” Hening sejenak. Hanya desiran laut yang bersaksi di antara mereka. Namun entah kenapa, bukannya lembut, wajah Vellery malah mengeras. “Tapi sekarang aku bukan anak kecil, kak. Aku mau menentukan jalan hidupku sendiri. Aku nggak mau terus jadi bayang-bayang pengorbanan kakak.” Vennesa menunduk. Tangannya gemetar menahan perasaan yang berperang dalam dada. “Kalau begitu,” katanya dengan suara serak, “lakukan apa yang kamu mau. Tapi jangan sesali nanti.” Tanpa menunggu jawapan, Vennesa melangkah pergi, meninggalkan pantai yang kini diselimuti senja. Langkahnya berat, seperti setiap butir pasir menarik kakinya untuk tinggal. Setelah beberapa langkah, barulah air matanya tumpah sepenuhnya. Suaranya tenggelam dalam hembusan angin laut yang dingin. Di belakangnya, Vellery hanya memandang. Ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh, tapi egonya terlalu tinggi untuk memanggil semula kakaknya. Dia menggenggam pasir di tangannya, merasai butiran halus itu berderai di antara jari — seperti kasih dua beradik yang kini mulai retak. Malam itu, Vennesa pulang dengan langkah longlai. Televisyen di ruang tamu masih menyala, menayangkan program permainan yang riuh. Tapi hatinya sunyi. Dia rebah di sofa tanpa sempat menukar pakaian, matanya basah tapi lelah. Dalam separuh sedar, kenangan masa lalunya datang silih berganti — wajah kecil Vellery yang dulu selalu lapar, tangisnya, dan tekadnya untuk bertahan hidup. Sebelum terlelap, hanya satu bisikan yang keluar dari bibirnya, “Ibu… apa aku sudah gagal menjaga adikku?” Televisyen terus berbunyi, tapi dunia Vennesa sudah sunyi — tenggelam bersama bunyi ombak dan luka yang belum sempat sembuh.Langit senja di Pulau Serenova dilukis warna keemasan. Ombak memecah perlahan di pantai, membisikkan lagu perpisahan untuk hari yang panjang. Di beranda vila kecil mereka yang menghadap laut, Ben duduk bersila di atas tikar rotan, memangku bayi kecil yang baru berusia dua minggu. Bryan dan Bryden sedang berlarian kecil di halaman rumput, tertawa bersama Edward dan Vellery yang datang menengok keponakan baru mereka. Vellery kini sudah resmi bertunangan, dan wajahnya tak henti tersenyum sejak pagi. Sementara itu, dari dapur, aroma sedap masakan menyapa angin. Vennesa sedang menyendok sup jagung ke mangkuk, rambutnya diikat rapi. Tubuhnya masih lelah pasca melahirkan, namun wajahnya berseri bahagia. Sesekali ia melirik ke luar jendela, memastikan suaminya tidak ‘menggila’ lagi dengan ide nyeleneh seperti mengajarkan anak-anak bermain gitar metal atau menyanyi lagu rock keras sebagai lullaby. Tapi sore ini, Ben terlihat… tenang. Ben mendekap putri kecilnya—mereka menamainya Elora, yan
Beberapa bulan setelah pernikahan Benedict Addam, hari-hari di Velmare kembali berjalan penuh warna. Vellery semakin serius menjalani hubungan dengan Edward. Ia sering berkunjung ke rumah keluarga Edward, dan disambut hangat seperti calon menantu. Sementara itu, bisnis kecil Ben yang dijalankan dari rumah berkembang pesat. Ia tetap mengasuh anak-anak sambil mengelola penjualan daring dari produk-produk custom yang dulu dia rintis secara iseng. Vennesa juga tak kalah bersinar. Ia kini telah dipromosikan menjadi Manajer Senior Strategi Pelaburan di perusahaan besar tempat ia bekerja. Dengan pengalaman dan kerja kerasnya, Vennesa menjadi salah satu figur perempuan muda yang diperhitungkan dalam dunia korporat Velmare. Sore itu, langit cerah, angin sepoi-sepoi meniup dedaunan taman kota yang rindang. Di sebuah taman kecil tak jauh dari gedung perusahaannya, Ben duduk santai bersama kedua anak kembarnya yang kini berusia tiga tahun. Mereka asyik makan es krim—berantakan dan meleleh
Dua tahun telah berlalu. Pagi itu, cahaya matahari menari lembut di sela-sela tirai kamar, menyapa wajah Vennesa yang tengah merapikan riasannya di hadapan meja rias. Hembusan angin laut membawa aroma segar yang menerobos celah jendela, membuat helaian rambutnya yang digerai beralun tampak hidup, menari mengikuti irama alam. Dress labuh berwarna biru lembut membalut tubuhnya dengan anggun. Potongannya sederhana, namun begitu serasi dengan keanggunan alaminya. Sentuhan riasan di wajahnya tak mencolok, tapi cukup menonjolkan sisi manis dan dewasa seorang istri, seorang ibu, seorang wanita yang telah tumbuh bersama cinta dan ujian hidup. “Ben! Ben!” panggilnya dari dalam kamar. Tak lama, Ben muncul di ambang pintu, mengenakan kemeja linen putih dan celana panjang coklat muda. Wajahnya berseri saat memandang istrinya. “Kamu cantik sekali, Sayang,” katanya tulus, seolah baru pertama kali melihat wanita itu. Vennesa tersenyum malu, pipinya merona. “Anak-anak sudah siap?” “Sudah, Saya
Petang itu, matahari mulai turun perlahan di ufuk barat ketika Ben dan Vennesa melambaikan tangan kepada Edward dan Vellery yang hendak kembali ke kota Velmare. Koper mereka sudah tersusun rapi di bagasi taksi yang menunggu di depan vila. Setelah pelukan singkat dan kata perpisahan, taksi meluncur pergi, meninggalkan jejak kenangan yang hangat. Ben masuk lebih dulu ke dalam rumah. Di ruang tamu, kedua anak kembar mereka tengah merangkak lincah, tertawa dan mengejar bayang-bayang sendiri di bawah cahaya sore yang masuk dari jendela besar. Sementara itu, Vennesa melangkah keluar untuk mengunci pagar. Ketika hendak menutup pintu besi itu, pandangannya tertumbuk pada sesosok pria tua berdiri tak jauh di seberang jalan. Tubuhnya sedikit membongkok, matanya penuh ragu, namun tatapannya tertuju tepat ke arah vila mereka. "Pak?" sapa Vennesa, pelan namun ramah. Pria itu tersenyum kaku. "Saya hanya mau lihat dari jauh..." “Masuklah. Kami di rumah,” ajaknya lembut, lalu membukakan paga
“Jadi… kau mau aku lanjutkan?” tanya Ben lirih. Vennesa mendongakkan kepalanya dari dada Ben, menatap matanya yang mulai tenang meski masih menyimpan kelelahan emosional. Ia menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. “Mungkin lain kali,” ucapnya lembut. “Maaf ya, Sayang… aku keterlaluan. Egois. Harusnya aku nggak memaksa kamu buka luka lama.” Ben menggeleng, tangannya membelai pipi Vennesa dengan penuh kasih. “Enggak, Sayang… kamu nggak salah. Aku yang harusnya minta maaf. Aku… bukan lelaki yang baik buat kamu. Masa laluku terlalu kelam.” Vennesa menatapnya dalam-dalam. Kali ini matanya tak lagi bingung atau ragu—melainkan penuh keteguhan. “Kamu baik kok,” katanya dengan suara mantap. “Kamu orang baik… cuma pernah ketemu orang yang salah. Dan itu bukan salahmu.” Ben menunduk, matanya memerah. “Kamu berubah, Ben. Dan itu yang penting. Kamu sudah memilih jalan yang benar. Kita bisa tinggalkan semua masa lalu itu… kita bisa mulai hidup baru. Bersih. Tenang. Bersama.” Ben mengangg
“Aku dibawa ke vila mewah milik Mr. John,” lanjut Ben, suaranya kini sedikit lebih tenang, namun matanya masih memandang kosong pada kenangan yang jelas belum pernah ia bagi kepada siapa pun. “Dan di sanalah… aku bertemu Monica.”Vennesa mengerutkan dahi, lalu perlahan menutup mulutnya yang terbuka lebar, matanya membesar. “Maksud kamu… Mr. John itu ayah tiri Monica?”Ben hanya mengangguk pelan. Wajahnya datar, tapi jelas tersimpan beban.“Ibu Monica… mantan istri Mr. John, meninggal karena sakit parah. Setelah itu, Monica dibolehkan tetap tinggal di vila. Mr. John bilang dia sudah seperti anak sendiri.” Vennesa masih diam. Hatinya mulai terasa tidak enak, tapi ia menahan diri. Ia tahu, Ben belum selesai. “Awalnya… aku pikir Mr. John itu malaikat,” Ben melanjutkan, nadanya pahit. “Dia selamatkan aku dari jalanan, kasih tempat tinggal, kasih makanan, ajarin aku banyak hal. Tapi semua berubah… malam itu.” Ben menunduk, menatap jemarinya yang kini menggenggam erat helaian ram







